NovelToon NovelToon
Ketika Sinta Memilih Rahwana

Ketika Sinta Memilih Rahwana

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Perjodohan
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Rani

Hari penentuan tanggal pernikahan, Sinta memilih Wana untuk dijadikan suaminya. Semua itu bukan tanpa sebab. Melainkan, karena hati yang sudah lelah untuk berharap. Hati yang sudah sering terluka oleh sikap Rama yang mementingkan teman barunya.

Bagaimana jadinya saat Rama tahu, Sinta ternyata tidak memilih dia sebagai suami? Yuk! Ikuti kisah mereka di sini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 7

Pada akhirnya, rasa penasaran itu dia kuburkan dalam hati. Baginya, kenapa kakaknya muncul di sini, itu tidak cukup penting. Karena si kakak pasti datang hanya untuk melaporkan prihal pekerjaan.

Tepatnya, kantor pusat selalu di pimpin oleh kakaknya sebagai pewaris utama. Meskipun, kakaknya punya kekurangan fisik. Tapi tetap saja, dalam daftar pewaris, si kakak adalah pewaris utama. Sedangkan dirinya, hanya ahli waris kedua. Lagipula, dalam surat wasiat yang neneknya buat, sudah tertulis dengan sangat jelas akan hal itu. Kakaknya adalah pemilik utama dari perusahaan keluarga Hermawan yang terkenal.

"Kak Wana pasti ingin bicara soal pekerjaan sama papa."

"Huh ... semoga saja mama dan papa tidak mengungkit soal pernikahan ku pada kakak. Jika tidak, hari-hariku kedepannya pasti akan sulit jika ingin bertemu dengan kakak."

Rama pergi setelah berharap sambil melihat ke arah kediaman mewah milik Hermawan. Dia beranjak dengan cepat. Tujuannya tak lain adalah, kediaman Wijaya. Kediaman keluarga Sinta.

Sementara itu, di kediaman Hermawan setelah Rama tinggalkan, kedua orang tuanya kembali membahas perihal pernikahan. Andai saja Rama memilih untuk menghampiri kediaman itu lagi tadi, maka dia akan tahu, siapa yang akan Sinta nikahi.

"Wana, kamu beneran bersedia menikah dengan Sinta?" Sang mama malah mempertanyakan lagi kesiapan anak pertamanya ini dengan wajah sungguh-sungguh.

Tanpa menatap, Wana menjawab. "Memangnya, aku kelihatan main-main, Ma?"

"Wan, bukan begitu. Sinta sudah lama ingin menikah dengan Rama. Mungkin saja permintaan pernikahannya waktu itu hanya permintaan untuk melepaskan amarahnya saja," kata papanya ikut bicara.

"Permintaan untuk melepaskan amarah?"

Mamanya mengangguk cepat. "Iya, Wan. Beberapa bulan yang lalu, Rama punya teman cewek. Mungkin karena itu, Sinta kesal."

"Lalu?" Wana bertanya dengan nada datar.

"Iya ... iya pahami sajalah sendiri, Wana. Apa yang papa dan mama maksudkan. Apa pula yang kami takutkan, Nak."

Wana terdiam sejenak. Akhirnya, dia kembali mengangkat wajah sebelum berucap. "Jika itu memang candaan, aku tidak keberatan. Tapi, aku akan tetap mempersiapkan pernikahan. Aku hanya ingin memenuhi apa yang dia minta. Itu saja."

Kedua orang tuanya pun langsung bertukar pandang. Mereka cukup cemas sebenarnya. Karena pernikahan ini, tidak hanya menyangkut satu anak saja. Melainkan, kedua anaknya sekaligus. Siapapun nanti yang akan menikah dengan Sinta, pasti akan ada yang terluka.

Hembusan napas berat terdengar.

"Heh ... ya sudah kalo itu yang kamu katakan, Wana. Mama dan papa akan ikut saja. Persiapan akan dilaksanakan."

"Hm."

Di sisi lain, Rama sudah tiba di depan kediaman Wijaya. Kedatangannya di sambut baik oleh bibi yang ada di depan rumah.

"Den Rama."

"Bi Diah, di mana Sinta?"

"Ada di dalam, Den. Masuk saja."

"Gak usah. Tolong panggilkan saja Sinta untukku, Bik. Ada yang ingin aku bicarakan dengannya."

"Ah ... baiklah. Tunggu sebentar, Den."

"Hm."

Si bibi dengan wajah agak bingung langsung beranjak masuk untuk memanggil Sinta. Tak lama kemudian, si bibi keluar lagi sendirian.

"Anu, Den Rama. Non Sinta bilang, tidak ada yang perlu dibicarakan lagi katanya. Semua sudah jelas."

Rama kembali naik tensi. Dia genggam erat satu tangan. "Bi Diah, om dan tante ada di rumah?"

"Ah, tuan dan nyonya gak ada, Den. Mereka pergi acara tadi."

"Oh, kalau begitu, saya masuk saja sendiri jika Sinta tidak ingin keluar. Karena apa yang ingin saya bicarakan dengannya, itu sangat penting."

Setelah berucap, Rama langsung beranjak. Tentu saja tanpa menunggu bi Diah menjawab terlebih dahulu apa yang sudah dia katakan sebelumnya. Sedangkan si bibi yang makin lama makin bingung dengan sikap Rama dan Sinta, hanya bisa menatap kepergian Rama tanpa bisa berucap.

"Sebenarnya, apa yang sedang terjadi dengan mereka berdua?"

"Ah, mungkin saja mereka sedang mengalami cobaan menuju pelaminan." Si bibi langsung tersenyum kecil.

"Kan, cobaan menuju hari pernikahan itu adalah hal yang biasa."

Wanita paruh baya itupun lalu mengabaikan kebingungan yang awalnya telah memberatkan pikirannya. Lalu, ia pun melanjutkan pekerjaannya kembali.

Di dalam rumah, Rama yang sesaat setelah masuk langsung menemukan Sinta yang masih duduk di sofa ruang tamu, sambil sibuk dengan ponsel di depan mata. Sesaat menatap, Rama langsung mendekat.

"Sinta. Ayo bicara!"

Sinta mengalihkan pandangannya dengan malas. "Tidak ada yang perlu dibicarakan. Aku rasa, semuanya sudah jelas, jadi tidak perlu lagi bicara."

Rama yang kesal langsung meraih tangan Sinta. "Sinta!"

Sinta langsung bangkit dari duduknya akibat ulah Rama barusan. Gadis cantik itupun berusaha keras untuk melepaskan cengkraman tangan Rama.

"Rama. Lepaskan!"

"Sinta, kamu! Aku sungguh bingung dengan sikapmu sekarang. Kau terasa asing bagi ku, Sin."

Sinta menatap Rama dengan tatapan lekat.

"Yang harusnya bicara begitu aku, Rama. Bukan kamu."

"Sejak kamu kenal dengannya, aku merasa, kamu bukan lagi Rama yang dulu. Kamu bukan Rama yang aku kenal lagi."

"Kamu saja yang punya pikiran dan hati yang sempit, Sinta. Kamu terlalu banyak cemburu. Kau suka mengekang. Makanya kamu merasa hal itu."

"Ap-- apa?"

Sungguh, Sinta benar-benar tak habis pikir dengan apa yang baru saja telinganya dengar. Rama mengatakan bahwa dirinya punya pikiran sempit dan terlalu cemburu. Bahkan, pria itu mengatakan kalau dirinya suka mengekang. Sungguh, kata-kata itu menyakitkan. Membuat hati yang luka, tak tertolong lagi.

"Kau keterlaluan, Sinta. Manja mu itu kelewat batas. Kau memang putri satu-satunya. Tapi dunia ini, tak hanya ada kita berdua saja. Masih banyak orang lain juga."

"Iya." Sinta berucap dengan nada datar. "Aku tahu, dunia ini tidak hanya ada kita berdua saja. Untuk itu aku putuskan, kita berdua harusnya tidak perlu bersama."

"Sinta!" Suara Rama melengking. Matanya ikut membulat.

"Pergilah dari rumah ku sekarang juga."

"Kapan kau akan berubah, ha?"

"Aku sudah berubah," ucap Sinta dengan nada yang lebih tinggi dari sebelumnya.

"Berubah? Apa yang kamu ubah. Caramu menatapku? Atau ... caramu memperlakukan temanku."

"Aku mengubah segalanya, Rama. Segalanya. Segala yang berkaitan dengan kamu. Jadi sekarang, tolong pergi dari rumah ku. Pergi, dan jangan pernah kembali lagi."

"Sinta."

"Rama! Pergi!"

"Bi Diah!" Panggil Sinta dengan nada lantang. "Usir tamu dari rumah. Dan jangan biarkan dia masuk sembarangan lain kali."

"Sinta kamu keterlaluan," ucap Rama kesal.

"Iya. Aku keterlaluan, dan sekarang pergilah. Jangan pernah datang lagi. Aku sudah sangat lelah."

Pada akhirnya, Rama memilih untuk langsung menjauh. Dia meninggalkan Sinta yang terlihat benar-benar berbeda dari yang biasanya. Rama meninggalkan kediaman Wijaya dengan hati dan pikiran yang berkecamuk.

"Tunggu. Yang harusnya marah itu bukankah aku? Tapi sekarang, kenapa jadi dia yang marah padaku?"

Rama menepikan mobilnya di pinggir jalan. Benaknya sedang berpikir keras akan apa yang baru saja dia lewati.

1
Dew666
😍😍😍😍
Soraya
lanjut
Anonim
Ayo dong thor buat sinta tau kalau wana sebenar nya udah suka dia dari dulu buat mereka benar benar bersatu,jangan biarin rama nanti ganggu sinta lagi
Anonim
Ayo dong sinta buat rahwana g merasa minder ayo buka topeng nya liat ketampanan nya
Patrick Khan
cuaca panas gerah ya wana😄😄
Patrick Khan
sah sahhhhhh
Anonim
Yah payah ni wana,sinta ngomong donk kalau kamu gapapa tidur sekasur
Anonim
Up lagi donk thor jangan kelamaan
Dew666
💎💎💎💎
Soraya
irit bgt ya thor lanjut
Anonim
Pelit banget sih thor up nya tambah donk
Soraya
Rama otaknya labil
Anonim
Lanjut up thor,semangat
Esti 523
harus lanjut ka jgn mamgkrak lho
Rani: eh, hehehe....
total 1 replies
falea sezi
😒 lama amat sinta nikah ma awan😒
perahu kertas
semangat terus ya kak
perahu kertas
Damn, Risa Risa ada ada saja akal bulus mu
ini juga satu dokter nya di byar brpa kmu sma Risa🙂‍↔️🙂‍↔️
Dew666
🪭🪭🪭🪭
Anonim
Lama banget sih up date nya thor,kapan sinta nikah sama ka awan thor jangan lama lama keburu rama sadar
Rani: sabar ya... sabar. aku up pelan. lagi gak fit soalnya.
total 1 replies
Dew666
🍭🍭🍭🍭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!