Dave yakin guru tk para keponakannya adalah perempuan yang menjadikannya sebagai sasaran kekalahannya dalam permainan true or dare dua malam yang lalu.
Bisa bisanya perempuan yang suka clubbing jadi guru tk. Bagaimana nanti masa depan keponakan keponakannya?
Semoga suka♡♡♡
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma AR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pergi
Sejak kakaknya Vidya menikah dua tahun yang lalu, hidup Rhea mulai ngga tenang. Baru setahun dia pulang dari kuliah masternya, dia sudah disibukkan dengan rencana papa dan tantenya soal perjodohan.
Mungkin karena perjodohan kakaknya yang berhasil, jadi sekarang mau diterapkan untuknya juga.
Sayangnya Rhea berbeda dari Vidya-kakaknya. Kakaknya sangat penurut hingga perjodohan yang sudah diatur bisa berjalan sukses.
Sedangkan Rhea menolak dengan lantang. Malah dia mengatakan kalo tidak bisa menemukan laki laki yang dia cintai dan juga mencintai dia, Rhea memutuskan akan menjadi seperti tantenya yang hidup melajang.
Rhea juga bekerja di perusahaan papanya, tapi malamnya dia akan pergi bersama ketiga temannya. Dia dan ketiga temannya sudah akrab sejak.SMA. Bahkan mereka kuliah bareng di jurusan yang sama, begitu juga saaat mengambil master. Mereka juga sampai saat ini belum.ada yang menikah.
Mungkin salahnya yang terlalu boros tapi dia beruntung punya kakak perempuan yang selalu mendukung keuangannya kalo lagi seret.
Rhea menghembuskan nafas kesal sambil menatap koper yang sudah dia keluarkan dari dalam lemari.
Apakah dia sudah sangat menyusahkan sampai papanya meminta tante atau suaminya nanti saja yang mengurusnya?
D@da Rhea sesak tiap mengingat sentilan pedas papanya tadi.
Perhatiannya teralihkan pada ponselnya yang bergetar.
Jani is calling
"Udah sampai di rumah, kan?" Nada suara Jani terdengar khawatir.
"Udah."
"Syukurlah."
Rhea ngga menjawab lagi hingga suasana terasa hening. Dia menatap kopernya lagi dengan isi kepala berputar putar membuatnya ngga bisa konsentrasi.
"Rhe..... Ada yang mau aku ceritakan." Suara Jani terdengar ragu.
Hening.
"Rhe....."
Senyap.
"Rhe.....!" Jani memanggil lagi dengan suara yang agak ditekankan.
"Eh, iya, sorry, ada apa?" Lamunan Rhea jadi buyar.
"Kamu lagi ngapain, sih," kesal Jani. Momen seriusnya jadi hilang karena pengabaian Rhea tadi.
Baru Rhea bisa memperdengarkan tawa sesaatnya.
"Iya, sorry, sorry."
"Hemm..... Jangan cuekin aku lagi," ancam Jani.
"Iyaaa.... Jani...."
Jani batuk batuk sebentar
"Kita dibohongi Talisha. Bukan hanya kamu."
"Sudahlah. Udah kejadian juga." Rhea sudah ngga mau memgingat ingat lagi kejadian yang sangat memalukan dirinya.
"Dengar dulu," interupsi Jani ngga mau di sela.
"Talisha masih marah soal Baskara."
"Baskara lagi," keluh Rhea. Dia bosan membahas Baskara yang jadi idaman Talisha.
"Justru itu. Dia masih cemburu karena melihat Baskara ngomong berdua sama kamu."
Rhea jadi emosi mendengarnya.
"Berdua bagaimana? Itu, kan, di parkiran. Lagi pula aku udah jelasin ke Talisha, kalo aku sudah nolak ajakan pulang bareng Baskara. Katanya ngga apa apa." Tapi hatinya merasa aneh karena sekarang dia mulai tidak mempercayai yang dia ucapkan.
"Dia masih cemburu, Rhe. Tau sendirikan, dia ngejar Baskara dari jaman SMA. Sampai akhirnya berhasil jadi sekretaris Baskara. Tapi Baskara malah mau ngantar kamu pulang," tukas Jani dengan intonasi naik turun.
Rhea menghela nafas panjang. Jadi karena itu dia sampai mendapat peleceh@n? Hatinya jadi gusar.
"Trus, salah aku kalo Baskara yang ngajak aku pulang, bukan ngajak dia," nyolot Rhea mangkel.
Hening.
"Kamu tau, ngga, Jan. Laki laki itu nganggap aku ani ani. Selain nyi-um, dia juga ........ Ah, gitulah." Rhea ngga jadi menyelesaikan ucapannya. Dia malu sekarang kalo harus mengatakannya yang sebenarnya terjadi.
"Maaf, Rhe....."
Rhea melakukan inhale dan exhale untuk menenangkan dirinya. Tadi dia sempat kebawa emosi. Tapi mendadak.dia teringat sesuatu.
"Jani, kamu tau ngga siapa yang foto-in aku waktu lagi ci-um@n?"
"Haah.... Memangnya ada fotonya?"
Dari nada suaranya Rhea yakin bukan Jani pelakunya.
"Ada. Sudah sampai di orang tuaku. Teganya. Untung papa.dan mama ngga kena serangan jantung."
"Astaga! Bukan aku atau Moli." Jani terdiam. Dia kemudian teringat waktu itu Talisha mengeluarkan kameranya.
"Jangan difoto, Lis," larang Moli kaget.
"Iya. Buat apa kamu foto yang begitu." Jani ikut melarang. Tapi terlambat, sepertinya kamera itu telanjur dijepret.
"Buat koleksi. Nanti kita tunjukin ke Rhea," kekeh Talisha.
"Ngawur. Hapus, Lis." protes Jani.
"Nanti setelah aku tunjukin ke Rhea baru aku hapus," ngeyel Talisha.
"Aku tau," jawab Rhea getir.
"Talisha yang foto. Aku sama Moli udah larang, tapi katanya akan dihapus setelah ngelihatin ke kamu. Ternyata dia kirim ke orang tua kamu? Ya, ampuuun, Talisha. Udah gila, tuh, anak. Cemburu sampai segitunya."
Rhea hanya menghembuskan nafas panjang mendengar ungkapan marah Jani untuk Talisha.
*
"
*
Hari sudah menjelang subuh. Rhea melangkah pelan menuju dapur. Dia haus. Bibiknya lupa menaruh minuman di dalam kamarnya. Mungkin juga beliau ngga berani mengetuk pintu setelah mendengar suara kemarahan majikannya.
Langkahnya terhenti di depan kamar orang tuanya.yang pintunya sedikit terbuka. Dia mendengar perdebatan papa dan mamanya. Tubuhnya makin dirapatkan agar bisa mendengar lebih jelas.
"Kita tidak perlu memaksakan Rhea untuk menikah juga, kan, kalo dia tidak menyukai calon suaminya." Arsati-mamanya mencoba membujuk.
"Apalagi kalo yang ngirim foto itu sampai nyebarin. Ngga akan ada laki laki yang benar benar tulus mau sama Rhea," sambung Arsati lagi.
"Jadi maksud kamu, Rhea dinikahkan sama laki laki brengsek itu. Rhea aja ngga tau siapa dia. Bagaimana kita bisa mencarinya, sayang," sanggah Nazar kesal.
Arsati menghela nafas panjang.
"Aku hanya ngga mau anak kita disia siakan nantinya." Suara Arsati terdengar lirih.
"Kalo sudah mengenal Rhea, pasti laki laki yang jadi suaminya akan bisa mencintainya. Aku percaya Nara pasti sudah nyari yang terbaik."
"Buat dirinya aja dia belum bisa," gumam istrinya pelan, mengata-i adik suaminya.
Rhea yang ikut mendengarnya juga langsung setuju.
Nyari calon sendiri sana aja dulu, batin Rhea ikut mengejek tantenya.
"Adikku itu memang ngga mau nyari buat dirinya. Bukan karena ngga bisa," sanggah Nazar membela adiknya. Suaranya mulai naik satu oktaf.
Arsati menghela nafas pelan.
"Kalo dia masih di sini, kita ngga bisa mencegah pergaulan bebasnya." Nazar menurunkan nada suaranya. Dia menggusar rambutnya. Pusing memikirkan putri bungsunya.
Rhea yang sudah cukup lama mencuri dengar percakapan orang tuanya, ingin melangkah memasuki kamar orang tuanya. Dia ngga terima dibilang ikut pergaulan bebas.
Tapi langkahnya tertahan. Dia menoleh karena ada yang memegang lengannya.
"Kak Vidya?" bisiknya.
"Ssttt...."
Kak Vidya mengangguk seolah mengajaknya pergi diam diam. Walau agak bingung Rhea menurut.
Vidya membawanya ke kamarnya. Suaminya masih berada di luar kota. Jadi dia menginap di rumah orang tua mereka.
Rhea bingung begitu sampai di kamar kakaknya. Di atas ranjang kakaknya ada tas ransel kecil.
"Kakak mau pergi nyusul mas Jay?"
Vidya menggeleng.
"Buat kamu."
"Buat aku?" Rhea menatap kakaknya bingung. Dia baru bangun tidur setelah hanya beberapa jam saja terlelap. Otaknya masih belum loading.
Kak Vidya menggeleng sambil membuka tali yang mengikat bagian atas tas ransel kecil itu. Memperlihatkan isinya.
Rhea kaget melihat ada beberapa bundelan uang sepuluh juta di dalam tasnya.
"Kamu pergi ke alamat ini. Ini rumah teman mama di Jakarta." Kakaknya menunjukkan kartu nama yang ada di sana.
"Tadi aku ke kamar kamu, tapi kamu malah nguping di sini," ucap Vidya sambil menyimpan lagi kartu nama itu ke dalam tas kecilnya.
"Ini ponsel buat kamu. Udah aku aktifkan. Nomernya baru. Hanya ada nomor aku dan mama. Ini tiket kereta eksekutif. Mang Jali akan ngantar kamu sekarang pake motor. "
Rhea masih mematung. Sementara kakaknya sudah memakaikan tas ransel itu di punggungnya.
"Kak, aku belum ganti baju." Rhea menatap dres yang tadi malan dikenakan, belum dia ganti.
Vidya mengambil cardigannya dan memakaikannya di bahu adiknya.
"Non."
Bik Ratmi masuk sambil membawa dompet. Wajahnya tampak tegang.
Rhea mengenalinya sebagai dompetnya.
Vidya segera membukanya dan mengambil kartu identitasnya saja dari dalam dompet itu.
"Ini ktp kamu." Kemudian Vidya menyimpankannya di dalam saku tas ranselnya. Di dekat tiket kereta yang sudah dia cetak.
"Pergi sekarang. Mama sedang mengalihkan perhatian papa."
gimana yah.. rasanya tuh kaya digerogoti rayap hari ke hari yg hidupnya berkoloni utk menumbangkan kayu yg kokoh menunggu kayu itu keropos sampai tumbang..
kalau rayapnya sendirian mah gak ngeri. Yg ngeri itu kalau udah 1 koloni.
sama kayak orang toxic yg ngegennk..
Mereka tuh kuat karena rame.
Satu jd kompor, yg lain kipas-kipas. Targetnya ya "kayu kokoh" = orang yg kerja bener/jujur/gak ikut arus mereka...
Abaikan aja Rhe, anggep aja angin lalu, dia belum tau aja siapa kamu sebenernya..
faktanya kalau mereka tau kamu dr keluarga mana, mungkin mereka seperti kucing basah kena air hujan "Menggigil"
😂🤣
belum tau aja di jidat Rhea itu sudah ada marker nya "Belong to Dave" dan hanya org beriman aja yg bs liat mark itu wkwkkk