NovelToon NovelToon
Saya Jokernya

Saya Jokernya

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Anak Genius / Tamat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Sepuluh tahun lalu, keluarga Arlan hancur dalam semalam karena konspirasi korporasi besar "Vanguard Group". Orang tuanya dijebak sebagai pengkhianat negara dan tewas dalam kecelakaan yang diatur. Arlan kembali dengan identitas baru, "Joker"—seorang manipulator bayangan yang tidak membunuh dengan peluru, melainkan dengan menghancurkan reputasi dan mental musuhnya.
Di sisi lain, Elara, putri dari CEO Vanguard Group, adalah seorang detektif cerdas yang mencoba membersihkan nama kepolisian. Dia mulai mengejar Joker, tanpa menyadari bahwa pria yang dia cintai di kehidupan normal adalah sosok di balik topeng yang ingin menghancurkan ayahnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32: Kilas Balik yang Menyakitkan

​Layar laptop di atas meja kayu itu terus memancarkan cahaya kebiruan, memutar rekaman bisu dari ruang kerja Darmawan Salim.

​Di dalam kotak piksel berukuran empat belas inci itu, pria yang selama sepuluh tahun kupanggil 'Ayah' sedang menghancurkan ruangannya sendiri. Ia menendang kursi mahoninya hingga terbalik, menyapu tumpukan dokumen dari atas meja dengan raungan tanpa suara, dan mencengkeram rambutnya yang mulai memutih. Kepanikan dan paranoia telah merobek topeng dewa yang selama ini ia kenakan.

​Namun, mataku perlahan berhenti melihat layar itu.

​Fokusku menembus kaca layarnya, masuk jauh ke dalam ruang gelap di kepalaku sendiri. Suara napas Arlan yang berdiri di belakangku, suara gemuruh kendaraan dari jalanan Kota Tua di luar sana... semuanya perlahan meredup.

​Udara pengap di dalam ruko ini mendadak terasa dingin dan berbau sangat tajam. Bukan bau debu atau kabel terbakar, melainkan bau yang sangat spesifik.

​Bau bunga lili putih yang layu, bercampur dengan aroma tanah basah galian baru dan menyengatnya cairan pengawet jenazah.

​Tiba-tiba, aku tidak lagi berdiri di depan meja kerja Arlan. Aku kembali menjadi seorang gadis remaja berusia lima belas tahun, berdiri gemetar di bawah tenda terpal berwarna hijau di pemakaman umum Jeruk Purut.

​Hujan turun rintik-rintik hari itu, persis seperti malam ini. Di depanku, sebuah peti mati kayu jati yang diselimuti bendera merah putih perlahan diturunkan ke dalam liang lahat. Ibuku berdiri di sampingku, tubuhnya sangat kurus, bersandar padaku sambil menangis histeris hingga suaranya habis.

​Itu adalah hari pemakaman Detektif Arya. Ayah kandungku. Pria yang mengajariku membedakan mana yang benar dan yang salah. Pria yang selalu wangi sabun mandi murah dan kopi saset setiap kali memelukku sepulang kerja.

​Kepolisian memberinya upacara penghormatan militer. Komandan divisinya memberikan pidato yang berapi-api, menyebut ayahku sebagai pahlawan yang gugur dalam tugas mulia saat mencoba menggagalkan perampokan bank. Tepuk tangan dan tembakan salvo ke udara menutup kepergiannya.

​Saat itu, aku mempercayai setiap kata-kata mereka. Aku menangis karena bangga sekaligus hancur.

​Namun, memori itu kini berputar dan memperlihatkan detail yang dulu terlewatkan oleh mata remajaku.

​Setelah para pelayat mulai meninggalkan makam, seorang pria paruh baya dengan setelan jas hitam bespoke yang sangat mahal berjalan mendekati kami. Sepatu kulitnya yang mengilap menginjak tanah becek tanpa ragu. Aroma parfum cedarwood dan tembakau cerutu Kuba langsung menyelimuti penciumanku, mengusir bau tanah makam.

​Darmawan Salim.

​Ia tidak membawa payung. Ia membiarkan gerimis membasahi jas mahalnya, menciptakan ilusi simpati yang luar biasa meyakinkan. Ia berdiri di hadapanku dan ibuku, menatap nisan kayu ayahku dengan sorot mata yang terlihat begitu berduka.

​Lalu, ia berjongkok di depanku. Tangan kanannya yang besar dan hangat bertumpu di bahuku. Sentuhan itu... sentuhan yang selama sepuluh tahun ini kuanggap sebagai jangkar keselamatanku.

​"Ayahmu adalah pria yang sangat berani, Elara," suara Darmawan mengalun berat dan empuk di telinga remajaku saat itu. "Dia mengorbankan nyawanya demi kota ini. Dan sebagai warga kota yang berutang budi padanya, aku tidak akan membiarkan pengorbanannya sia-sia. Mulai hari ini, kau tidak perlu khawatir tentang apa pun. Aku akan menjagamu dan ibumu, seolah kau adalah darah dagingku sendiri."

​Aku mengingat bagaimana aku mengangguk pelan, air mata menetes dari daguku, merasa bersyukur bahwa di tengah kegelapan ini, ada seorang malaikat pelindung yang bersedia menopang keluarga kami yang hancur.

​CRACK!

​Ilusi itu pecah berkeping-keping. Dinding ruko tua kembali mengelilingiku. Bau bunga lili menghilang, digantikan oleh bau keringatku sendiri.

​Aku terhuyung mundur hingga punggungku menabrak rak besi. Tanganku secara refleks mencengkeram kerah jaket kulitku, berusaha melonggarkannya karena udara di paru-paruku terasa tidak cukup. Rasa mual yang sangat luar biasa meninju ulu hatiku. Aku membungkuk, terbatuk keras hingga cairan asam lambung naik ke kerongkonganku.

​"Elara," Arlan mengambil satu langkah mendekat, suaranya dipenuhi kehati-hatian.

​Aku mengangkat tangan kiriku, menahannya agar tidak mendekat. Napasku memburu pendek-pendek.

​Darmawan Salim...

​Pria itu datang ke pemakaman ayahku. Ia menatap nisan pria yang baru saja ia perintahkan untuk dibunuh. Ia menatap mata janda dan anak yatim piatu yang nasibnya baru saja ia hancurkan demi menutupi jejak uang kotornya. Dan di atas tanah yang masih basah oleh darah korban konspirasinya, ia tersenyum dan berjanji untuk merawatku.

​Ia tidak membiayai pengobatan ibuku yang sakit keras setahun kemudian karena ia peduli; ia membiarkan ibuku mati perlahan karena depresi yang diciptakannya. Ia tidak menyekolahkanku ke akademi kepolisian untuk membuatku menjadi detektif yang hebat; ia mencuci otakku, menempatkanku di dalam radarnya, menjadikanku pion yang bisa ia pantau agar aku tidak pernah mengendus kebenaran tentang Detektif Arya.

​Ia mengubahku menjadi anjing penjaga untuk rumah jagal miliknya sendiri.

​Setiap pelukan yang kuterima darinya selama ini... setiap pujian saat aku berhasil menangkap pembunuh di jalanan... semuanya adalah ejekan yang sangat menjijikkan. Ia memeliharaku sebagai piala kemenangan atas ayah kandungku.

​Pistol Glock-19 yang tadi kujatuhkan tergeletak di lantai kayu, hanya berjarak satu langkah dari kakiku. Logam hitamnya memantulkan cahaya redup dari layar laptop.

​Aku menatap senjata itu cukup lama. Setengah jam yang lalu, aku mengangkat senjata itu untuk menembak kepala Arlan karena merasa dikhianati oleh permainannya. Namun sekarang, setelah melihat ke dasar jurang masa laluku sendiri, kemarahan terhadap Arlan terasa begitu kecil dan kerdil.

​Arlan memang memanipulasi pertemuanku. Ia mengintaiku dan menjadikanku bidak catur. Ia adalah pria yang rusak.

​Tapi Darmawan Salim... Darmawan Salim tidak hanya merusak hidupku. Ia menelan jiwaku utuh-utuh dan memaksaku berterima kasih padanya.

​Aku membungkuk, memungut pistol itu dari lantai. Rasa dingin logamnya kembali merayapi telapak tanganku. Kali ini, tanganku tidak bergetar. Keringat dingin di pelipisku telah mengering. Rasa sakit dan syok yang tadi melumpuhkanku telah mengeras, membeku menjadi sebuah ketegasan yang belum pernah kurasakan seumur hidupku.

​Bunyi klik mekanis terdengar nyaring saat aku memasukkan kembali senjata itu ke dalam sarung di pinggangku.

​Aku berdiri tegak, memutar tubuhku menghadap Arlan.

​Pria itu berdiri di dekat meja kerjanya. Darah dari pelipisnya akibat hantaman laras senjataku tadi sudah mulai mengering, meninggalkan noda merah gelap di wajahnya yang lelah. Ia tidak mencoba meminta maaf lagi. Ia menunggu pukulanku berikutnya.

​"Kau benar, Arlan," suaraku memecah keheningan. Nadanya tidak lagi bergetar. Begitu datar, begitu mematikan, hingga membuatku sendiri merinding mendengarnya. "Jika aku menarik pelatuk itu tadi... jika aku membunuhmu... aku hanya akan menjalankan peran sebagai anjing penjaga Darmawan Salim yang sempurna. Itulah yang dia inginkan. Dia membesarkanku untuk mematikan ancaman-ancamannya."

​Aku melangkah maju mendekatinya. Mataku menatap lurus ke dalam pupil matanya yang gelap.

​"Kau menjadikanku pionmu," lanjutku, berhenti tepat satu jengkal di hadapannya. "Kau ingin aku menjadi pisau eksekusi yang akan menembus jantungnya dari dalam, karena kau tahu dia tidak memiliki pertahanan terhadapku."

​"Itu adalah rencanaku sebelum dia mencoba membakarmu malam ini," Arlan membalas tatapanku, suaranya sama rendahnya denganku. "Sekarang, kau sudah mati di mata dunia. Pion itu sudah keluar dari papan catur."

​"Tidak," aku menggeleng perlahan. "Pion itu tidak keluar dari papan catur. Pion itu baru saja menyeberangi papan dan berubah menjadi Ratu."

​Arlan memicingkan matanya. Ada kilatan kekaguman yang samar di balik sorot kewaspadaannya. Ia bisa melihat perubahan di wajahku. Elara Salim, detektif polisi yang idealis dan penuh keraguan moral, telah mati di Gudang Marunda semalam. Wanita yang berdiri di depannya saat ini adalah anak kandung Detektif Arya yang datang untuk menagih utang darah.

​"Lencana ini," aku menepuk saku jaketku, tempat di mana tidak ada lagi lencana kuningan kepolisian yang biasanya bertengger di sana. "Ternyata selama sepuluh tahun ini aku tidak melindungi kota. Aku hanya melindungi kebohongan."

​Aku memutar tubuhku, berjalan mendekati papan gabus raksasa yang dipenuhi foto-foto pilar Vanguard. Mataku langsung tertuju pada dua foto terakhir di barisan tengah. Surya Kusuma sang Jaksa, dan Hendrikus sang Walikota.

​"Surya Kusuma sudah menyerahkan diri malam ini. Dia hancur karena paranoia," aku menganalisis papan itu dengan suara keras. "Target selanjutnya adalah Walikota Hendrikus. Jika pria ini jatuh, Darmawan tidak akan memiliki perlindungan politik apa pun untuk menutup jejak bisnis gelapnya di pelabuhan utara. Pintu masuk logistik haramnya akan tersegel selamanya."

​Aku menoleh menatap Arlan kembali.

​"Kau bilang kau memata-mataiku selama lima tahun. Itu berarti kau juga tahu rutinitasku, kau tahu sandi aksesku, dan kau tahu tingkat otoritas yang kumiliki di kepolisian sebelum berita kematianku tersebar."

​"Aku tahu semuanya," Arlan mengangguk pelan. "Kartu aksesmu ke markas besar divisi pembunuhan, password server forensik tingkat dua, dan jadwal pergantian penjaga di lobi."

​"Bagus," aku menyunggingkan sebuah senyum tipis. Senyum yang tidak memiliki kebahagiaan sama sekali, senyum yang kubayangkan akan menghiasi wajah topeng porselen putih itu. "Darmawan mengira dia berhasil memalsukan kematianku. Dia menyuap kepala forensik untuk merilis DNA palsuku pagi ini. Besok, dia akan menggelar konferensi pers untuk memainkan peran sebagai ayah yang berduka."

​Aku berjalan mendekati meja kerja Arlan, mengambil sebuah spidol merah dari sana. Aku kembali ke papan gabus, lalu menarik sebuah garis tebal yang sangat panjang dari foto Darmawan Salim, turun lurus ke bagian bawah papan yang kosong.

​Aku menulis namaku sendiri dengan huruf kapital besar di ujung garis itu: ELARA. Lalu aku menggambar sebuah cermin di sebelahnya.

​"Malam ini, kita tidak akan mengincar sang Walikota terlebih dahulu," ucapku, melempar spidol merah itu ke atas meja. "Jika kita menyerang Walikota sekarang, Darmawan akan tahu bahwa itu adalah ulahmu, dan dia akan terus menyembunyikan diri di balik pengawalan ketatnya."

​Arlan mengerutkan dahi, namun ia mendengarkan dengan penuh perhatian. "Lalu apa yang kau inginkan?"

​"Darmawan mengira paranoia sedang menyiksanya karena kehilangan kendali atas jejakku," balasku dingin. "Mari kita tunjukkan padanya bentuk paranoia yang sesungguhnya. Mari kita tunjukkan padanya bahwa orang mati bisa menggigit lebih keras daripada orang hidup."

​Aku menatap Arlan, mengajukan tantangan yang mengubah dinamika kami selamanya. Ia bukan lagi sang dalang yang memegang seluruh kendali, dan aku bukan lagi bidak yang digerakkan di atas papan. Kami adalah dua predator yang mengincar mangsa yang sama.

​"Kau ahli dalam membobol sistem elektronik dan memanipulasi pikiran musuhmu di lapangan. Tapi aku memiliki akses ingatan pada setiap titik lemah fisik markas kepolisian dan sistem keamanan Menara Vanguard," aku mengajukan tawaranku. "Kita akan menghancurkan kebohongan forensik itu dari dalam, sebelum konferensi pers ayahku dimulai besok pagi. Kita akan membuat seluruh negeri melihat bahwa Darmawan Salim baru saja membunuh putrinya yang... ternyata tidak mati."

​Arlan terdiam cukup lama. Ia menatap garis merah dan namaku di papan gabus itu. Pria yang terbiasa bekerja sendirian di dalam kegelapan ini sedang mengevaluasi sekutu baru yang baru saja lahir dari abu kehancuran yang ia ciptakan sendiri.

​Perlahan, sebuah tarikan napas panjang keluar dari hidungnya.

​"Kau tahu risiko yang kau ambil, Elara," suara Arlan merendah menjadi bisikan berat. "Begitu kau melewati batas ini... begitu kau membantu sang Joker menyerang markas kepolisianmu sendiri... tidak akan ada jalan kembali. Seragammu, masa lalumu, kehormatanmu di mata hukum... semuanya akan terbakar habis. Kau akan menjadi buronan yang sama sepertiku."

​Aku tidak membuang pandanganku sedetik pun. Hantu masa remajaku di pemakaman Jeruk Purut tadi telah menghanguskan sisa-sisa keraguan di dalam jiwaku.

​"Aku tidak butuh kehormatan di mata hukum yang buta, Arlan," jawabku mantap. "Aku hanya butuh keadilan untuk ayahku."

​Aku berjalan menghampiri meja kerja, mengambil topeng porselen putih yang tergeletak di samping laptop. Topeng dengan senyum asimetris dan retakan memanjang di pipi kirinya.

​Aku memegang topeng itu, merasakan hawa dingin dari permukaannya, lalu menyodorkannya ke arah dada Arlan.

​"Darmawan mengira hantu dari masa lalunya menakutkan," bisikku, mataku memancarkan api kebencian yang akhirnya menemukan fokusnya.

​Arlan menerima topeng itu dari tanganku. Jari-jari kami bersentuhan sejenak. Sentuhan dua manusia yang jiwanya sama-sama telah dikoyak oleh predator yang sama.

​"Mari kita beri dia satu hantu lagi untuk ditakuti malam ini."

1
Emi Widyawati
bagus bangeeetttt. cerita beda dengan yang lainnya. baca novel tapi serasa liat film. bagus banget Thor. lup u sak kebon 😘
Misterios_Man: banyakin likesnya dong biar popularitasnya naik, gratis kok hehehe.
total 2 replies
Ainun masruroh
semangat 💪
Misterios_Man: Ok kak nice dream ya,, jangan lupa ikuti novelnya heheh.
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!