Hati Naomi hancur saat suaminya Zayn, tega menceraikannya karena dirinya melahirkan bayi sumbing. Padahal Zayn dan keluarganya adalah keluarga dokter, mereka harusnya lebih mengerti dari orang lain.
Setelah pulih dari pasca persalinan, Naomi diusir dari keluarga Hartanto. Ia mengurus bayinya yang sumbing sendirian. Naomi bekerja banting tulang demi kebutuhan anaknya. Seiring berjalannya waktu, bayi Naomi yang diberi nama Davin itu terus tumbuh, ia bahkan mendapatkan operasi yang membuatnya bisa tumbuh seperti anak normal lain. Bibir Davin tak lagi sumbing, dia bahkan terbilang punya wajah tampan. Selain itu Davin juga menjadi anak yang sangat jenius! Mendapat banyak prestasi dan selalu membuat Naomi bangga. Saat itulah Zayn tiba-tiba kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 7 - Sakit Banget
Tiga hari berlalu sejak Naomi dan Davin meninggalkan rumah sakit. Hari-hari itu terasa panjang, tapi juga penuh makna.
Setiap pagi dimulai dengan tangisan kecil Davin. Naomi akan segera bangun, meski tubuhnya masih sering terasa lelah. Dengan hati-hati, dia mengambil alat feeding yang diajarkan oleh perawat, lalu mulai memberi ASI yang sebelumnya sudah dirinya pompa.
Awalnya sulit. Beberapa kali tangannya gemetar. Beberapa kali dia panik saat Davin terlihat tidak nyaman. Namun perlahan dia belajar. Ia mulai mengenali kapan Davin lapar, kapan hanya rewel, kapan merasa tidak nyaman.
Di sela-sela itu, Naomi juga belajar memompa ASI secara rutin. Suara mesin pompa yang monoton kini menjadi bagian dari hidupnya. Kadang melelahkan. Kadang menyakitkan. Tapi setiap kali dia melihat Davin tertidur dengan tenang setelah kenyang, semua itu terasa sepadan.
Jihan juga tidak tinggal diam. Meski sibuk dengan kliniknya, ia selalu menyempatkan waktu untuk membantu. Kadang membelikan kebutuhan bayi. Kadang sekadar duduk menemani Naomi sambil mengobrol ringan. Kadang mengeluh panjang lebar tentang pasiennya yang “ribet tapi maunya instan.” Entah bagaimana, semua itu membuat suasana jadi lebih hidup.
Malam itu, apartemen terasa lebih tenang dari biasanya. Davin sudah tertidur pulas di dalam kamar. Lampu kamar diredupkan, hanya menyisakan cahaya lembut dari lampu tidur.
Naomi duduk di tepi ranjang, memandangi anaknya dalam diam. Wajah kecil itu tampak damai. Berbanding terbalik dengan dunia yang menyambutnya.
Naomi menghela napas pelan. Lalu tangannya meraih sesuatu dari meja kecil di samping tempat tidur.
Sebuah kartu nama. Kartu yang diberikan Zayn. Nama dokter bedah plastik terkenal tertera di sana, lengkap dengan alamat klinik dan nomor kontak.
Naomi menatapnya lama. Namun entah kenapa ada perasaan yang mengganjal di hatinya. Ia tidak nyaman. Bukan karena dokternya tidak kompeten. Tapi karena itu datang dari Zayn. Pria yang menyebut anaknya “rusak”.
Naomi menggeleng pelan. “Tidak…” bisiknya. Ia meletakkan kartu itu kembali.
“Aku akan pilih sendiri.”
Dengan keputusan itu, Naomi meraih ponselnya. Ia mulai mencari. Mengetik berbagai kata kunci.
Dokter bedah plastik terbaik. Spesialis bibir sumbing. Rekonstruksi wajah anak.
Artikel demi artikel ia baca. Nama demi nama ia perhatikan. Hingga satu nama mulai sering muncul. Junie Andreas.
Naomi berhenti sejenak. Ia membuka salah satu artikel. Membaca profilnya. Semakin dia membaca semakin tertarik.
Dokter bedah plastik ternama. Pengalaman internasional. Pernah menangani berbagai kasus kompleks. Dan yang paling membuat hatinya tersentuh, program operasi gratis untuk anak-anak dengan bibir sumbing.
Naomi menatap layar ponselnya. Matanya perlahan berkaca-kaca.
“Seperti… harapan,” bisiknya pelan.
Tok tok!
Suara pintu apartemen dibuka dari luar.
“NAOMIII! AKU DATANG BAWA KEBAHAGIAAN!”
Suara khas Jihan langsung memenuhi ruangan. Naomi tersenyum kecil, lalu keluar dari kamar.
Jihan masuk dengan kantong besar di tangannya. “Martabak!” katanya bangga. “Coklat kacang keju. Obat segala kesedihan.”
Naomi tertawa pelan. “Kamu memang penyelamat.”
“Jelas,” jawab Jihan santai sambil menaruh makanan di meja. “Sekarang, duduk. Kita makan.”
Mereka duduk di sofa kecil. Jihan langsung membuka kotak martabak dengan semangat.
“Ayo cerita. Hari ini kamu ngapain saja?”
Naomi mengambil potongan kecil. “Seperti biasa. Urus Davin.”
Jihan mengangguk. “Tapi?” tanyanya curiga.
Naomi menatapnya. “Aku tadi… cari-cari dokter bedah plastik.”
Jihan langsung berhenti makan. Serius seketika. “Bagus,” katanya. “Itu memang harus mulai dipikirkan.”
Naomi mengangguk. “Aku nggak mau asal pilih.”
“Dan kamu benar,” jawab Jihan cepat. “Untuk kasus seperti Davin, harus yang benar-benar ahli.”
Naomi ragu sejenak. “Ji… kamu tahu dokter yang bagus?”
Jihan langsung tersenyum lebar. “Perfect timing!”
Naomi mengernyit. “Kenapa?”
Jihan langsung meraih ponselnya. “Tadi di grup chat aku, grup dokter estetika, lagi heboh banget.” Ia mulai scrolling cepat.
“Ini dia!” katanya sambil menunjukkan layar.
Naomi mendekat.
“Dokter Junie Andreas,” baca Jihan dengan penuh gaya. “Sang legenda bedah plastik.”
Naomi sedikit terkejut. “Itu yang tadi aku lihat juga…”
“Ya jelas!” sahut Jihan. “Dia memang top banget. Bahkan aku sering dengar cerita dari senior-senior.”
Jihan mulai semangat bercerita. “Dia itu bukan cuma jago. Tapi juga detail banget. Perfeksionis dalam arti positif. Dan yang paling penting, dia punya hati.”
Naomi terdiam mendengarkan.
“Dia sering buka program amal buat anak-anak sumbing,” lanjut Jihan. “Dan yang hebatnya lagi… itu bukan sekadar formalitas. Dia benar-benar turun tangan langsung.”
Mata Naomi mulai berbinar. “Serius?”
“Serius banget,” jawab Jihan. “Dan kebetulan…”
Ia menunjuk layar ponselnya. “Beberapa hari lagi dia buka program itu lagi.”
Naomi langsung menatapnya. Seolah tidak percaya.
“Ji…”
“Iya, kamu harus daftar,” potong Jihan cepat. “Ini kesempatan bagus.”
Hati Naomi berdebar. Harapan yang tadi kecil, kini terasa lebih nyata. “Aku… mau coba,” katanya pelan.
Jihan tersenyum puas. “Nah gitu. Itu Naomi yang aku kenal.”
Namun tiba-tiba, wajah Jihan berubah. Alisnya berkerut. Matanya membesar.
“Loh… ini apa?” gumamnya.
Naomi menoleh. “Ada apa?”
Jihan membaca sesuatu di layar ponselnya. Ekspresinya terlihat tidak bagus.
“Ji?” panggil Naomi pelan.
Jihan menatapnya ragu. “Sebaiknya kamu duduk dulu,” katanya pelan.
Jantung Naomi langsung berdegup cepat. “Ada apa?” ulangnya.
Jihan menarik napas panjang. “Ini… dari teman aku,” katanya pelan. “Dia kirim berita.”
Naomi merasa dingin. “Berita apa?”
Jihan menggigit bibirnya. Lalu menunjukkan layar ponselnya.
Naomi melihat. Dunia seolah kembali runtuh untuk kedua kalinya. Judulnya besar dan menyakitkan. Istri Dokter Terkenal Digugat Cerai Karena Perselingkuhan. Nama Naomi disebut. Nama Zayn disebut. Dan yang paling kejam, dia dituduh berselingkuh hingga hamil.
Tubuh Naomi langsung kaku. Matanya membesar. Napasnya tercekat.
“Aku… tidak…” suaranya nyaris tak keluar. Tangannya gemetar. Ponsel itu hampir jatuh. Air mata langsung mengalir.
“Ini… bohong…” lirihnya.
Jihan langsung emosi. “Gila!” katanya keras. “Ini pasti kerjaan keluarga itu!”
Naomi menggeleng. Berulang kali.
“Kenapa…” suaranya pecah. “Kenapa mereka jahat sekali...”
Air matanya jatuh tanpa henti. Baru saja dia mencoba bangkit. Baru saja ia menemukan sedikit harapan. Sekarang mereka menghancurkannya lagi.
Namun kali ini Jihan tidak diam. “Cukup,” katanya tegas.
Naomi menatapnya. “Ini sudah keterlaluan.”
Ada sesuatu yang berbeda di mata Jihan sekarang. Bukan sekadar emosi. Tapi kemarahan yang siap meledak.
"Kau harus tuntut mereka, Na! HARUS! Ini jelas fitnah!" geram Jihan. Ia sampai melempar martabak yang tadi hendak dirinya makan.
Naomi tak menjawab. Dia hanya menangis pilu. Ia merasa hatinya diremas sampai terasa sesak. Hingga dia menangis sampai sesegukan. Seketika Jihan langsung memeluknya.
"Sakit banget, Ji... Hatiku sakit banget..." isak Naomi.
bahkan aq baca dri awal sampai sekarang sering nangesss,
😭😭 soalnya gak gampang ngurus bayi seperti Davin..
semngatt kak dan sukses selalu novelmu 🥰🥰😘😘