Shafiya Elara Hanum, namanya. Ia tidak pernah menyangka hidupnya akan berakhir dalam sebuah pernikahan dengan pria yang tak pernah benar-benar menjadi suaminya.
Ia adalah putri seorang kiai.
Dibesarkan dengan kehormatan dan batasan.
Namun satu kesalahan yang tidak ia lakukan, telah merenggut segalanya. Pernikahannya batal. Nama baik keluarganya ikut hancur, dan ia pun terseret ke dalam ikatan dengan SAGARA ADINATA.
Pewaris tunggal keluarga Adinata.
Seorang pria yang dingin. Tegas. Dan tidak percaya pada pernikahan.
Mereka menikah tanpa cinta.
Tanpa keinginan. Tanpa sentuhan.
Namun satu hal mengikat mereka--Seorang anak yang tumbuh di rahim Shafiya…
anak yang bahkan tidak pernah mereka rencanakan.
Di balik hubungan yang datar dan penuh jarak, rahasia demi rahasia mulai terkuak.
Dan perlahan, batas yang mereka jaga mulai goyah.
Mampukah mereka bertahan dalam pernikahan yang bukan hanya sekedar kesepakatan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon najwa aini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 Ketika Dia Memberi Pilihan
Mendapati Sagara masih ada di rumahnya pada jam 8 pagi, itu adalah hal yang langka.
Dan hal langka itu terjadi hari ini.
Ia baru turun dari lantai atas. Tidak dengan atribut kerja yang lengkap. Hanya kemeja lengan panjang dipadu celana bahan. Tak ada jas. Tak ada dasi.
Langkahnya langsung ke ruang utama, dimana dua orang sudah menunggunya.
Agam dan dokter Raka.
Sagara mengambil tempat duduk paling ujung. Agam yang sejak tadi berdiri langsung ikut duduk di sisi lain, sementara dokter Raka membuka beberapa berkas yang sudah disiapkan di atas meja.
Suasana masih tenang. Pagi bahkan belum benar-benar sibuk. Namun pembicaraan mereka sudah langsung masuk pada inti persoalan.
"Rapat dewan AMC nanti sore, terkait RS Brawijaya. CEO Adinata dijadwalkan hadir." Dokter Raka memulai.
"Belum kuputuskan," kata Sagara. Dan itu membuat Agam mengernyit.
Jadwal Sagara selalu tertata, bahkan sejak beberapa hari sebelumnya. Jika tiba-tiba ia belum memutuskan suatu hal dalam hitungan jam, maka berarti ia punya rencana lain.
"Karena itu aku datang lebih awal." Dokter Raka menanggapi.
Terdengar langkah mendekat. Dan itu membuat mereka menahan pembicaraan.
Ratri yang muncul. Langsung laporan.
"Tuan, hari ini nona ingin berangkat kontrol lebih awal."
Sagara diam sejenak. Seperti menimbang.
"Semuanya sudah siap?"
"Siap, Tuan."
Sagara mengangguk.
Langkah lain terdengar mendekat.
Winda muncul bersama Shafiya.
Sagara bangkit, menatap wajah Shafiya lebih lama. Bukan karena sedang mengagumi kecantikannya.
Shafiya selalu cantik sekalipun dengan tampilan yang natural.
Yang dicari Sagara di wajah itu adalah sisa-sisa ketaknyamanan yang mungkin masih tinggal. Setelah perempuan itu mengalami mual semalam.
"Sudah siap?"
"Iya."
"Saya yang antar... atau Agam?"
Kali ini Shafiya benar-benar mendongak. Sedikit terkejut. Namun hanya sebentar sebelum ekspresinya kembali tenang.
“Mas memberikan tawaran ini ke saya?”
“Iya.”
Sunyi singkat jatuh di antara mereka.
“Kalau begitu, saya mau diantar Mas Agam.”
Jawaban itu keluar tanpa ragu.
Agam sampai mengernyit kecil. Ia sudah cukup terkejut dengan tawaran Sagara. Dan kini, lebih terkejut lagi karena Shafiya benar-benar memilih.
Namun Sagara hanya mengangguk pelan. Tatapannya bergeser ke Agam. Tidak ada perintah. Tidak juga teguran. Tapi cukup jelas untuk dipahami.
Agam akhirnya bangkit.
“Mari, Nona. Saya antar.”
Sagara kembali duduk. Langkah mereka menjauh dan hilang di balik koridor yang menuju ruang depan.
Raka menatap Sagara sejenak--seolah memastikan. "Biasanya... selalu dengan kendali. Sekarang mulai memberi pilihan."
Raka tersenyum samar.
"Ada apa? Ini bukan kebiasaan Sagara Adinata."
Sagara tak langsung menjawab. Tatapannya masih lurus. Dan...
"Sedikit keluar dari kebiasaan... bukan hal yang salah."
"Benar." Raka mengangguk.
"Tapi, tidak tanpa alasan."
"Aku sedang memberi ruang." Sagara diam sejenak. "Bukan melempar tanggung jawab."
Raka mengangguk.
"Tapi mungkin nona Shafiya menangkap lain. Merasa kamu... benar-benar tidak ingin terlibat."
“Bisa jadi.”
Jawaban Sagara tenang. Tidak menyangkal.
Raka menatapnya, menunggu lanjutan.
“Dia terlalu lama menghadapi semuanya sendiri.” Sagara menyandarkan tubuhnya pelan. “Orang yang terbiasa sendiri… kadang tidak langsung percaya saat ada orang lain yang mulai ikut masuk.”
Kalimatnya kali ini lebih terasa sebagai pemahaman daripada analisa.
Raka mengangguk kecil.
“Dan kamu?”
“Aku juga tidak terbiasa melibatkan diri terlalu jauh.”
Kalimat sederhana. Tapi cukup menjelaskan banyak hal.
“Jadi kalau sekarang arahnya masih sering berlawanan…” ia berhenti sejenak. “Itu bukan sesuatu yang aneh.”
Sagara kemudian kembali duduk tegak. "Ini." Tatapannya jatuh pada berkas di atas meja.
"Lanjut?" Raka paham arahnya.
Sagara mengangguk.
"Aman?" Yang dimaksud Raka tentu yang di dalam. Perasaan. Pikiran.
"Seperti baru kenal denganku."
Raka tersenyum. Ia membuka berkas itu kembali. Pembicaraan pun langsung ke inti.
“Tim audit internal selesai semalam, dan hasilnya lebih buruk dari perkiraan.”
Sagara tidak terlihat terkejut. Seolah memang sudah menduga.
Rumah Sakit Brawijaya yang baru beberapa waktu lalu diambil alih Adinata Medical Center ternyata menyimpan terlalu banyak masalah. Bukan hanya kerugian operasional. Tapi juga kekacauan sistem medis yang sudah berjalan bertahun-tahun.
Data pasien tidak terintegrasi sempurna. Jalur distribusi obat bermasalah. Beberapa alat medis tercatat tidak sesuai dengan pengadaan awal. Bahkan ada tindakan medis yang lolos tanpa pengawasan prosedur yang benar.
Dan itu baru permukaan.
“Beberapa dokter senior mulai mengundurkan diri,” lanjut dokter Raka. “Mereka tahu sistem lama tidak akan bisa dipertahankan lagi.”
“Biarkan,” sahut Sagara singkat.
Nada datarnya membuat Raka melirik sebentar. Karena ia tahu, ketika Sagara sudah bicara sesingkat itu, berarti keputusan di kepalanya sudah selesai.
Raka mengangguk pelan sebelum kembali membuka lembar berikutnya.
“Kalau memang akan difokuskan jadi rumah sakit paru di bawah AMC, kita harus renovasi total beberapa lantai. ICU perlu diperbesar. Laboratorium patologi dan bronkoskopi juga harus dibangun ulang.”
"Infonya, Kerja sama alat medis dari Singapura juga sudah siap. Tinggal finalisasi.”
Sagara mendengarkan tanpa memotong. Tatapannya turun pada berkas di depannya. Membaca cepat. Teratur.
“Tenaga spesialis bagaimana?"
“Kita masih kurang,” jawab dokter Raka jujur. “Terutama pulmonologi dan thoracic surgery. Kalau targetnya jadi center terbesar di wilayah timur, kita harus tarik beberapa nama besar.”
“Ambil." Jawaban Sagara cepat.
“Termasuk dari luar negeri kalau perlu.”
Dokter Raka mengangguk. Langsung menandai satu catatan.
“Lalu untuk sistem lama bagaimana?” tanyanya kemudian.
Sagara akhirnya mengangkat pandangan.
“Putus semuanya.”
Keputusan yang diucapkan tidak dengan nada keras. Tapi cukup membuat ruangan itu hening beberapa detik.
“Orang-orang yang terlibat dalam jalur lama jangan dipakai lagi. Aku tidak mau sistem rusak dipindahkan ke bangunan baru.”
Sagara menjelaskan alasannya.
Raka bersandar pelan. “Berarti bersih total.”
Dan itu bukan pekerjaan gampang.
“Memang harus.”
Sagara menutup berkas di depannya. Keputusan itu terdengar sederhana saat keluar darinya. Namun dokter Raka tahu, perubahan sebesar itu akan mengguncang banyak pihak di internal AMC.
Namun seperti biasa, Sagara tidak pernah mengambil keputusan setengah-setengah.
Kalau sudah dibongkar, maka semuanya akan dibangun ulang dari dasar.
Cara Sagara yang demikian dalam mengambil keputusan sangat dipahami oleh dokter Raka. Juga Agam.
Agam yang saat ini berada di tempat lain juga masih memikirkan itu. Mencoba menggabungkan keputusan Sagara tadi, dengan caranya selama ini dalam menentukan sesuatu.
..
"Nona." Agam mendekati Shafiya yang baru keluar dari ruangan dokter Zulaika.
"Sudah selesai?"
"Iya." Shafiya mengangguk.
"Ada hal yang perlu diperhatikan lebih lanjut?"
"Ada. Tetap sama. Jaga pola makan. Istirahat." Shafiya berhenti.
"Dan pola pikir," lanjut Agam.
"Iya." Shafiya mengangguk. Tersenyum tipis.
"Bisa saya bicara sebentar?" Agam menatap lebih lurus.
"Tentu, Mas Agam. Ada apa?"
"Sagara." Agam langsung ke inti. "Dia tidak terbiasa dengan memberi pilihan. Ia selalu pegang kendali."
Kalimatnya berhenti di sana. Ia memperhatikan ekspresi Shafiya lebih dulu.
Tidak banyak berubah.
Tapi jelas menyimak.
"Ketika ia memberi pilihan. Itu bukan keputusan asal. Jadi kalau bisa, jawab dengan yang paling sesuai."
Shafiya terdiam beberapa saat. Seperti masih memahami isi pikirannya sendiri.
"Keputusan saya memilih diantar mas Agam, itu yang paling sesuai," katanya akhirnya. "Untuk saat ini."
Agam menatapnya. Tanpa menyela.
"Saya ingin pergi ke pondok itu lagi. Besok harlah pondok. Saya ingin memberi sedikit hadiah untuk teman-teman saya yang masih mengajar di sana."
Tatapan Shafiya turun sesaat, sebelum kembali terangkat.
"Mungkin rencana ini, tidak akan terlaksana jika Mas Sagara yang mengantar."
Agam mengangguk.
"Baiklah. Kita jalankan sesuai rencana, Nona."
"Terima kasih, Mas Agam." Dengan senyum berbinar.
Eeeeee Panassss sagara awas lo cemburu 🤣
Ayok mas Agam pelet trus ning cantik
Masih bnyak yg nunggu jandanya😍
Semoga Sagara & Ning Shafiya sukses menaklukan retensi dari 20 bab sampai 100 bab, aamiin.
Semangat & semoga sukses, Ning Najwa ♥️
Semoga update nya lebih sering