NovelToon NovelToon
God Killer

God Killer

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Balas Dendam
Popularitas:521
Nilai: 5
Nama Author: Franzzz

Para dewa tidak membawa kedamaian-mereka membawa penindasan.

Di bawah kekuasaan Vasilias, langit menginjak manusia tanpa ampun. Ketika Dewa Matahari sejati dijatuhkan dan seorang wanita manusia dibunuh demi menjaga "kemurnian", seorang anak lahir dari pengkhianatan.

Setengah dewa. Setengah manusia.
Dan penuh dendam.

Dengan api matahari dalam darahnya, ia bangkit untuk memburu para dewa-termasuk pewaris palsu langit, Filius.

Namun semakin dekat pada balas dendam, ia mulai menyadari:

Tidak semua dewa layak dibunuh.
Dan tidak semua manusia layak diselamatkan.

Ketika langit mulai retak, satu pertanyaan tersisa-

Apakah ia akan menghancurkan para dewa...
atau menjadi yang paling kejam di antara mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Franzzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 18

Langkah kaki terdengar pelan di jalan tanah.

Grachius berjalan menjauh dari Kota Heimdall.

Belum terlalu jauh.

Gerbang kota masih bisa terlihat samar di belakangnya.

Namun—

ia tidak menoleh.

Jalan di depannya terbuka lebar.

Berbeda dengan hutan tempat ia dibesarkan.

Tidak ada pepohonan rapat.

Tidak ada bayangan gelap.

Hanya jalan panjang.

Dan langit luas.

Angin berhembus pelan.

Grachius berjalan dengan ritme stabil.

Langkah demi langkah.

Tanpa ragu.

Beberapa saat—

suara lain mulai terdengar.

Bukan angin.

Bukan langkahnya sendiri.

Roda.

Derit kayu.

Dan suara orang.

Grachius mengangkat pandangannya sedikit.

Di kejauhan—

sebuah karavan mendekat.

Beberapa kereta kayu.

Ditarik oleh hewan.

Pedagang.

Mereka bergerak perlahan di jalan yang sama.

Grachius tidak berhenti.

Namun saat jarak semakin dekat—

salah satu dari mereka meliriknya.

“Sendirian?”

Grachius menjawab singkat.

“…ya.”

Pria itu tertawa kecil.

“Berani juga.”

Kereta berjalan lebih lambat saat sejajar dengannya.

“Dari mana?”

“…dari kota.”

Grachius tidak menyebut nama.

Namun pria itu langsung mengerti.

“Heimdall, ya?”

Grachius tidak menjawab.

Namun itu cukup sebagai jawaban.

Pria itu mengangguk.

“Jalan ini panjang.”

Ia melirik ke depan.

“Kalau kau terus ke timur…”

“…kau akan sampai ke Skullcrack.”

Grachius mendengarkan.

“Dari sana…”

Pria itu tersenyum tipis.

“…seterusnya adalah Hutan Alfheim.”

Sunyi sejenak.

“Tujuanmu?”

Grachius berjalan tanpa mengubah ritme.

“…timur.”

Jawaban itu sederhana.

Namun jelas.

Pria itu tertawa kecil lagi.

“Semua orang ke timur sekarang.”

Ia tidak menjelaskan lebih lanjut.

Namun nadanya…

mengandung sesuatu.

Kereta mulai bergerak lebih cepat.

“Kalau butuh tumpangan—”

Ia menunjuk ke arah kereta.

“…kami tidak keberatan.”

Grachius melirik sebentar.

Lalu—

menggeleng pelan.

“…aku berjalan.”

Pria itu mengangkat bahu.

“Baiklah.”

Karavan itu mulai menjauh.

Roda berderit.

Suara percakapan memudar.

Namun sebelum benar-benar jauh—

“Hey!”

Pria itu berteriak.

Grachius tidak berhenti.

Namun mendengar.

“Jangan mati di jalan!”

Sunyi sejenak.

Grachius tetap berjalan.

Lalu—

“…tidak akan.”

Jawabannya pelan.

Hampir seperti bisikan.

Karavan itu akhirnya menghilang di kejauhan.

Dan jalan kembali sunyi.

Hanya Grachius.

Dan langkahnya.

Namun kali ini—

dunia terasa sedikit lebih luas.

Dan di depan—

perjalanan yang sebenarnya…

baru saja dimulai.

...----------------...

...----------------...

Sore perlahan bergeser menuju malam.

Langit berubah warna.

Dari biru—

menjadi jingga—

lalu semakin gelap.

Setelah perjalanan panjang—

sekitar dua puluh lima kilometer dari Kota Heimdall—

Grachius akhirnya sampai.

Di hadapannya—

terbentang sebuah ngarai besar.

Skullcrack.

Batu-batu tinggi menjulang.

Tajam.

Retakan di tanah terlihat seperti luka yang menganga.

Angin yang melewati celah-celahnya—

mengeluarkan suara aneh.

Seperti bisikan.

Atau jeritan jauh.

Grachius berhenti sejenak.

Menatap ke depan.

“…tempat yang bagus untuk bersembunyi.”

Gumamnya pelan.

Lalu ia melangkah masuk.

Langkahnya hati-hati.

Namun tidak ragu.

Ia melihat sekeliling.

Mencari tempat—

untuk beristirahat malam ini.

Sebuah celah batu.

Atau dataran yang cukup aman.

Namun saat ia berjalan—

suara lain terdengar.

Lemah.

Seperti sesuatu… kesakitan.

Grachius berhenti.

Kepalanya sedikit miring.

Ia mendengar lagi.

Dari balik batu.

Ia mendekat.

Pelan.

Dan di sana—

seekor rubah.

Tergeletak.

Tubuhnya kotor.

Napasnya lemah.

Grachius menatapnya.

Beberapa detik.

Lalu ia berjongkok.

Tangannya sedikit terangkat—

seolah ingin memeriksa.

Namun—

sesuatu berubah.

Dalam sekejap—

rubah itu bergerak.

Tubuhnya memutar.

Dan—

berubah.

Menjadi seorang wanita.

Dengan telinga dan ekor rubah.

Wajahnya cantik.

Senyumnya tipis.

“…akhirnya ada juga yang lewat.”

Suaranya lembut.

Ia mendekat.

Terlalu dekat.

Tangannya menyentuh dada Grachius.

Perlahan.

“…kau terlihat… kuat.”

Grachius tidak bergerak.

Tidak mundur.

Tidak bereaksi.

Hanya diam.

Wanita itu tersenyum lebih lebar.

Tangannya mulai bergerak.

Menyentuh bahu.

Turun perlahan.

“…aku bisa membuatmu merasa… lebih baik.”

Bisikannya pelan.

Namun Grachius—

tetap diam.

Matanya datar.

Tidak terpengaruh.

Wanita itu sedikit mengernyit.

Namun tidak berhenti.

Ia mendekatkan wajahnya.

Sangat dekat.

“…atau mungkin…”

Napasnya terasa di wajah Grachius.

“…aku ambil saja… milikmu.”

Ia mendekat—

hampir menyentuh bibir Grachius.

Namun—

Grachius bergerak.

Bukan mundur.

Namun—

menatap.

Tatapan tajam.

Dan—

aura itu keluar.

Sunyi.

Namun terasa.

Berat.

Panas.

“…kalau kau lanjut…”

Suaranya rendah.

“…kau mati.”

Seketika—

mata wanita itu melebar.

Tubuhnya gemetar.

Seolah sesuatu menekan dirinya.

Napasnya tersendat.

Ia mundur.

Tergesa.

Jatuh terduduk di tanah.

“…apa…”

Suaranya bergetar.

“…apa kau ini…”

Grachius berdiri.

Menatapnya.

Tanpa emosi.

Tidak marah.

Tidak kasihan.

Hanya… menilai.

Beberapa detik.

Lalu—

ia berbalik.

Pergi.

Meninggalkan wanita itu.

Ia berjalan beberapa langkah.

Lalu duduk di atas sebuah batu.

Tidak jauh.

Tenang.

Seolah tidak terjadi apa-apa.

Sementara itu—

wanita rubah itu masih terduduk.

Tubuhnya masih gemetar.

Matanya tidak lepas dari Grachius.

“…monster…”

Bisiknya pelan.

Namun tidak ada kebencian.

Hanya ketakutan.

Dan sesuatu yang lain.

Rasa… tidak mengerti.

Angin malam kembali berhembus.

Di antara batu-batu tajam Skullcrack—

dua makhluk duduk dalam jarak yang tidak jauh.

Namun—

dunia mereka terasa berbeda.

Dan untuk pertama kalinya—

sesuatu di luar para dewa—

mulai menyadari—

bahwa sesuatu yang lain…

telah muncul.

...----------------...

...----------------...

Malam semakin dalam di Skullcrack.

Angin berhembus dingin.

Grachius masih duduk di atas batu.

Diam.

Tatapannya mengarah ke tanah.

Tidak bergerak.

Tidak berbicara.

Seolah dunia di sekitarnya… tidak ada.

Di sisi lain—

wanita rubah itu menelan ludah.

Tubuhnya masih tegang.

Namun perlahan—

ia berdiri.

Langkahnya hati-hati.

Mendekat.

Sedikit demi sedikit.

Hingga akhirnya—

ia berhenti.

Tidak terlalu dekat.

Namun tidak jauh.

Ia duduk perlahan.

Menjaga jarak.

Matanya tetap tertuju pada Grachius.

“…kau…”

Suaranya masih ragu.

“…siapa sebenarnya?”

Sunyi.

Tidak ada jawaban.

Grachius tidak bergerak.

Beberapa detik berlalu.

Wanita itu mengernyit sedikit.

Namun tidak berani mendesak.

Lalu—

Grachius berdiri.

Sekejap—

tubuh wanita itu menegang.

Matanya melebar.

Ia tidak bergerak.

Tidak berani.

Namun—

Grachius tidak mendekatinya.

Ia berjalan ke arah lain.

Ke sebuah pohon mati.

Batangnya kering.

Retak.

Grachius menarik pedangnya.

Enjin.

Dalam satu gerakan—

SHRAK.

Pohon itu terpotong.

Bukan hanya jatuh—

namun hancur.

Menjadi potongan-potongan kecil.

Wanita itu menatap.

Diam.

“…apa…”

Grachius mengumpulkan potongan kayu itu.

Mengangkatnya dengan tenang.

Lalu kembali ke tempat semula.

Ia menumpuknya.

Rapi.

Seperti sudah biasa.

Kemudian—

tangan kanannya bergerak.

Membentuk segel.

Jari telunjuk dan tengah terbuka.

Yang lain ditekuk.

Segel Hitsuji.

Sunyi.

Lalu—

WOOSH.

Api muncul.

Kayu-kayu itu langsung terbakar.

Cahaya api menerangi wajah mereka berdua.

Hangat.

Berbeda dengan angin dingin di sekitar.

Grachius duduk kembali.

Beberapa detik—

ia hanya melihat api.

Lalu—

“…Grachius.”

Akhirnya ia menjawab.

Sederhana.

Namun terlambat.

Wanita itu berkedip.

“…hah?”

Ekspresinya berubah.

Sedikit heran.

"Cukup lama juga untuk menjawab…"

Namun ia tidak mengatakannya keras.

Ia menatap Grachius lagi.

Lebih hati-hati.

Lalu—

“…Daji.”

Ia memperkenalkan diri.

Matanya sedikit menyipit.

“…The Tempter Fox.”

Ekor rubahnya bergerak pelan di belakang.

“…siluman rubah.”

Sunyi.

Api terus menyala.

Cahayanya menari di antara batu-batu Skullcrack.

Malam terasa lebih hidup.

Namun tetap sunyi.

Grachius duduk diam.

Menatap api.

Sementara di seberangnya—

Daji mulai sedikit tenang.

Napasnya sudah lebih stabil.

Namun matanya masih waspada.

“…kau…”

Ia membuka suara lagi.

“…tidak terpengaruh sama sekali.”

Grachius tidak menjawab.

Daji menyilangkan kakinya.

Ekor rubahnya bergerak pelan.

“…itu jarang terjadi.”

Ia menatap Grachius lebih dalam.

“…bahkan manusia kuat pun…”

Ia tersenyum tipis.

“…biasanya tetap jatuh.”

Sunyi.

Grachius tetap diam.

Daji menghela napas pelan.

“…oleh ‘Chains of Desire’.”

Ia mengangkat tangannya sedikit.

“…sihirku.”

Api memantulkan cahaya di matanya.

“…aku tidak perlu memaksa.”

Suaranya lembut.

“…mereka yang mendekat sendiri.”

Ia menatap tangannya.

“…keinginan mereka… yang mengikat mereka.”

Sunyi.

“…tapi kau…”

Ia kembali menatap Grachius.

“…tidak punya itu.”

Beberapa detik berlalu.

“…atau…”

Matanya menyipit sedikit.

“…kau menekannya terlalu dalam.”

Grachius akhirnya berbicara.

“…tidak penting.”

Jawaban singkat.

Namun cukup.

Daji tertawa kecil.

“…menarik.”

Ia memiringkan kepalanya.

“…aku belum pernah lihat manusia seperti ini.”

Sunyi.

“…atau kau bukan manusia?”

Grachius tidak menjawab.

Api terus menyala.

Daji menatapnya beberapa saat.

Lalu—

“…aku hampir mati tadi.”

Nada suaranya berubah.

Tidak lagi menggoda.

Lebih jujur.

“…kau serius akan membunuhku.”

Grachius tidak membantah.

“…kalau perlu.”

Jawaban datar.

Daji tersenyum tipis.

“…jujur.”

Ia menatap ke arah api.

“…aku suka itu.”

Sunyi.

Beberapa detik berlalu tanpa kata.

Hanya suara api.

Dan angin malam.

Lalu—

“…kau menuju ke mana?”

Pertanyaan itu keluar pelan.

Grachius tidak langsung menjawab.

Namun akhirnya—

“…timur.”

Jawaban yang sama.

Namun kali ini—

lebih berat.

Daji menatapnya.

“Kau tidak mau mengatakan tujuan mu dengan jelas ya.”

Sunyi.

Grachius tidak menyangkal.

Itu cukup sebagai jawaban.

Daji tersenyum.

Namun kali ini—

bukan menggoda.

“Baiklah. Jika kau tidak mengatakannya.”

Ia menyandarkan tubuhnya sedikit ke belakang.

“Tapi aku tahu. Orang sepertimu pasti memiliki tujuan besar.”

Api berkedip pelan.

“Karena orang kuat sepertimu tidak mungkin membuang waktu untuk tujuan kecil.”

Sunyi.

Grachius tidak menanggapi.

Namun—

ia tidak membantah.

Dan di antara mereka—

percakapan yang aneh itu terus mengalir.

Bukan sebagai musuh.

Belum sebagai teman.

Namun—

sesuatu di antaranya.

Dan malam itu—

di tengah ngarai yang sunyi—

dua jalan berbeda…

mulai bersinggungan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!