Di usia 23 tahun, Laras harus memikul beban berat sebagai istri Kepala Desa yang disegani. Di balik potret keluarga harmonis, ia berjuang sendirian mengurus rumah dan dua balita yang masih menyusu, sementara perutnya kian membesar dengan anak ketiga.
Sebagai anak tunggal, sang suami menuntut Laras terus melahirkan demi garis keturunan, tanpa peduli pada raga Laras yang remuk karena kelelahan. Di siang hari ia menjadi pengabdi warga, dan di malam hari ia dipaksa tetap "siaga" melayani suami. Laras terjebak dalam pengabdian yang membunuh perlahan: antara cinta, tuntutan tradisi, dan batas akhir kekuatannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 18
***
Ruang tengah itu mendadak terasa seperti medan perang yang baru saja usai, menyisakan reruntuhan emosi yang berserakan di antara mainan anak-anak. Laras masih terduduk lemas di lantai, tubuhnya terguncang oleh isak tangis yang begitu menyayat hati. Napasnya tersengal, dadanya naik-turun dengan cepat, seolah paru-parunya tak lagi sanggup menampung udara di ruangan yang mendadak terasa sangat sempit itu.
Bagas tidak memaksakan diri untuk menyentuh Laras. Ia tahu, tangannya yang selama lima tahun ini dianggap Laras sebagai tangan "penguasa" mungkin akan terasa seperti duri jika ia memaksakan pelukan sekarang. Bagas perlahan menurunkan tubuhnya, duduk bersila di depan istrinya dengan kepala tertunduk dalam.
Tetesan air mata jatuh dari pelupuk mata Bagas, membasahi karpet. Untuk pertama kalinya, sang Kepala Desa yang disegani, pria yang selalu tampil tegak dan tak tergoyahkan, menangis di depan istrinya.
"Ras..." suara Bagas pecah, sangat parau dan sarat akan penyesalan. "Mas minta maaf. Mas juga... Mas juga sebenarnya tersesat dalam semua ini. Mas ini anak tunggal, semua beban keluarga ditaruh di pundak Mas sejak kecil. Mas harus jadi sarjana, Mas harus jadi pemimpin desa, Mas harus punya keluarga yang sempurna tanpa cela di depan warga."
Bagas mengusap wajahnya yang basah dengan kasar. "Mas terlalu fokus mengejar angka, mengejar citra, sampai Mas lupa kalau di samping Mas ada manusia. Mas lupa kalau kamu bukan sekadar gelar 'Ibu Kades'. Mas terlalu bebal untuk mengerti bahwa kamu itu Laras, perempuan muda yang punya hati, bukan cuma mesin yang Mas harapkan bisa mengisi kekosongan hidup Mas yang yatim piatu ini."
Laras mendongak dengan wajah sembab, sorot matanya masih penuh dengan kepedihan yang dalam. "Kalau Mas tahu Mas tersesat, kenapa Mas biarkan Laras ikut hilang? Kenapa Mas biarkan Laras hancur sendirian sementara Mas sibuk dipuja-puja warga?"
"Mas pengecut, Ras. Mas takut kalau Mas mengakui kelemahan Mas, Mas bukan lagi pemimpin yang hebat di mata orang-orang. Mas jadikan kepatuhanmu sebagai tameng rasa aman Mas," jawab Bagas jujur, sebuah kejujuran yang terasa sangat pedih karena baru diucapkan setelah semuanya hancur.
Di tengah suasana yang sangat emosional itu, tiba-tiba Laras memegangi perut besarnya dengan kuat. Wajahnya yang tadi merah karena tangis seketika berubah pucat pasi. Ia meringis kencang, giginya bergeletuk menahan sesuatu yang luar biasa menyakitkan.
"Aakhhh... nggghhh... Mas..." rintih Laras tertahan. Tubuhnya melengkung, tangannya mencengkeram karpet hingga kukunya memutih.
"Ras! Kenapa?!" Bagas panik, ia segera merangkak mendekat dan menyangga bahu Laras.
"Sa-sakit... perutku kencang sekali... ahh!" Laras terengah-engah. Stres yang memuncak sejak semalam rupanya memicu kontraksi dini. Kontraksi ini jauh lebih hebat dari biasanya, seolah-olah bayi di dalam rahimnya ikut protes karena badai emosi sang ibu.
Bagas gemetar hebat. Ketakutan paling nyata menghantamnya: ia takut kehilangan keduanya. "Kita ke bidan ya? Mas ambil kunci motor, kita ke Puskesmas!"
"Enggak... ahhh... jangan. Mas... bawa aku ke kamar saja. Aku nggak mau warga lihat aku seperti ini. Jangan bawa aku keluar..." rintih Laras di sela-sela napasnya yang memburu.
Dalam kondisi hancur begini, ia masih memikirkan citra yang selama ini memenjarakannya.
Bagas tidak punya pilihan. Dengan tenaga sisa, ia menggendong Laras dengan sangat hati-hati, membawa tubuh istrinya yang terasa sangat berat karena kehamilan tua itu menuju kamar utama. Ia merebahkan Laras di atas ranjang, menyangga punggungnya dengan tumpukan bantal agar napas Laras lebih lega.
Bagas berlari ke dapur, mengambil air hangat dan handuk kecil. Ia kembali ke kamar, mulai mengompres dahi Laras dan mengoleskan minyak kayu putih ke perut istrinya yang terus mengeras.
"Istighfar, Ras... sabar ya. Mas di sini. Maafin Mas... Mas mohon, jangan begini," Bagas terus membisikkan doa, air matanya tak berhenti mengalir saat melihat Laras berjuang antara nyeri fisik dan luka batin.
Bagas duduk di pinggir ranjang, memijat kaki Laras yang bengkak dengan tangan yang masih gemetar. Ia mencoba menyalurkan ketenangan yang ia sendiri tidak miliki. Hampir satu jam ia merawat Laras dalam diam, hanya suara desis napas Laras dan isak tangis tertahan yang mengisi kamar itu.
Pelan-pelan, kontraksi itu mulai mereda, meski wajah Laras masih tampak sangat letih.
Setelah napas Laras mulai teratur, suasana kembali menjadi kaku. Luka batin itu ternyata tidak sembuh hanya karena Bagas baru saja merawatnya. Begitu rasa sakit fisiknya sedikit berkurang, Laras menatap Bagas dengan pandangan yang dingin.
"Mas... antarkan aku pulang ke rumah orang tuaku. Sekarang," ucap Laras datar.
Bagas tersentak, jantungnya seolah berhenti berdetak. "Apa? Pulang? Ras, dalam keadaan seperti ini?"
"Aku sudah nggak sanggup, Mas. Berada di rumah ini rasanya seperti dikuliti perlahan-lahan. Aku mau pulang. Aku mau jadi Laras saja, bukan Ibu Kades yang harus pura-pura bahagia," suara Laras kembali bergetar.
"Enggak, Laras! Kamu nggak boleh pergi ke mana pun!" Bagas berdiri, suaranya kembali meninggi karena rasa takut kehilangan.
"Anak-anak butuh kamu. Gilang dan Arka... apa kamu tega meninggalkan mereka?"
Laras menatap suaminya dengan sorot mata yang menantang. "Siapa bilang aku meninggalkan mereka? Mereka akan ikut aku, Mas. Mereka anak-anakku."
"Enggak bisa! Kamu itu istri aku!" Bagas berteriak frustrasi, egonya kembali muncul sebagai bentuk pertahanan diri. "Kamu tidak boleh pergi dalam keadaan seperti ini, Laras! Usia kandunganmu delapan bulan, sebentar lagi kamu akan melahirkan. Kamu mau warga desa berpikir apa kalau mereka tahu Ibu Kades kabur dari rumah?"
Laras tertawa getir, tawa yang penuh dengan penghinaan pada dirinya sendiri. "Lihat? Masih soal warga desa. Masih soal apa kata orang. Mas benar-benar egois, Mas!"
Laras berusaha bangkit berdiri meski kakinya masih lemas. "Mas pikir aku ini apa? Tahanan? Mas pikir Mas bisa mengunci aku di sini selamanya hanya karena aku mengandung anak Mas?"
"Laras, aku cuma mau melindungi kamu dan keluarga kita!"
"Melindungi atau memenjarakan, Mas? Mas memaksa aku tinggal bukan karena Mas sayang padaku, tapi karena Mas takut reputasimu hancur! Mas takut nggak ada yang mengurus anak-anak dan kebutuhanmu!" Laras berteriak tepat di depan wajah Bagas.
Bagas terdiam, napasnya memburu. Ia ingin membantah, tapi ia sadar bahwa sebagian kecil dari apa yang dikatakan Laras adalah benar. Ketakutannya akan kehancuran "citra sempurna" itu memang masih ada.
"Aku nggak akan pergi ke mana-mana kalau Mas nggak mau antar. Tapi jangan harap aku akan bicara lagi sama Mas," ucap Laras pedih.
Laras berjalan tertatih menuju pintu kamar. "Mas keluar. Aku mau sendiri."
"Ras, tolong jangan begini..."
"KELUAR, MAS!" teriak Laras histeris.
Bagas terpaksa melangkah keluar dengan bahu merosot. Begitu Bagas keluar, Laras langsung menutup pintu kayu jati yang berat itu.
Klik! Klik!
Suara kunci yang diputar dua kali itu terdengar sangat jelas di telinga Bagas. Ia berdiri mematung di depan pintu kamar, sementara dari dalam, ia bisa mendengar Laras kembali menangis hebat sambil memukuli bantal.
Di ruang tengah, matahari sore mulai tenggelam, membawa bayangan panjang yang memenuhi rumah besar itu. Bagas menyadari satu hal: ia memiliki rumah ini, ia memiliki jabatan, ia memiliki anak-anak, tapi ia tidak lagi memiliki hati wanita di balik pintu yang terkunci itu. Dan yang paling menyakitkan adalah ia tahu bahwa dialah yang membangun penjara itu sendiri.
***
Bersambung....