NovelToon NovelToon
Obsesi Sang Guru Misterius

Obsesi Sang Guru Misterius

Status: sedang berlangsung
Genre:Action
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: who i am?

Sinopsis / Deskripsi
Adella hanyalah seorang perempuan sederhana yang menjalani hidup dengan ritme yang tenang—mungkin terlalu tenang hingga terasa hampa. Kesehariannya berubah ketika ia bertemu dengan sosok pendidik yang karismatik, seseorang yang menawarkan "kehangatan" dan perhatian yang belum pernah Adella rasakan sebelumnya.
Bagi Adella, guru ini adalah pelindung, tempatnya bersandar dari kerasnya dunia. Namun, di balik tutur kata yang lembut dan tatapan yang menenangkan, tersimpan rahasia gelap yang tersusun rapi di balik dinding rumahnya yang sunyi.
Satu per satu kejanggalan mulai muncul. Perhatian yang semula terasa manis perlahan berubah menjadi obsesi yang menyesakkan. Adella segera menyadari bahwa kehangatan yang ia dambakan bukanlah sebuah pelukan, melainkan sebuah jerat. Di dunia yang penuh intrik ini, Adella harus memilih: tetap terbuai dalam kenyamanan yang semu, atau melarikan diri sebelum ia menjadi bagian dari koleksi rahasia sang guru.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon who i am?, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20

Gaun satin berwarna biru dongker itu terasa seperti kulit kedua yang dingin di tubuh Adella. Viona benar-benar memilihkan sesuatu yang tidak mencolok namun mematikan; potongan backless yang elegan menyembunyikan memar kecil yang masih tersisa di bahunya, sementara kainnya yang jatuh sempurna memberikan kesan mahasiswi elit yang kaya raya. Di balik lipatan kain di pahanya, Adella menyematkan pulpen tajam milik Pak Adwan—sebuah jimat dari masa lalu yang kini menjadi senjata rahasia.

Kediaman Dr. Julian Mahendra tidak semegah benteng Baron, namun jauh lebih menyesakkan. Rumah bergaya minimalis modern itu didominasi kaca dan baja, terletak di atas bukit yang menghadap langsung ke kerlip lampu kota. Setiap sudutnya diterangi lampu kuning redup, menciptakan suasana perjamuan yang intim namun penuh dengan bisikan konspirasi.

Ingat, Adella," suara Viona terdengar melalui earpiece kecil yang tersembunyi di balik helai rambut Adella. "Brankas itu ada di ruang kerja lantai dua, tepat di belakang lukisan abstrak berwarna merah. Kamu hanya punya waktu sepuluh menit saat Julian memberikan pidato sambutan."

Adella menarik napas panjang, melangkah keluar dari taksi dan menyerahkan undangannya kepada petugas keamanan bermuka beton di gerbang depan. Ia melangkah masuk ke dalam aula utama yang sudah dipenuhi oleh para petinggi universitas, politisi muda, dan tentu saja, Baron Adwan yang duduk di kursi kebesarannya di pojok ruangan, dikelilingi oleh para pengagumnya.

"Adella Putri. Senang melihatmu memenuhi undangan saya."

Suara bariton itu muncul dari arah belakang. Adella berbalik perlahan. Dr. Julian berdiri di sana, memegang segelas champagne. Ia tampak sangat tampan dalam balutan tuxedo hitam, namun matanya tetap sedingin es.

"Rumah yang indah, Pak Dokter," ujar Adella dengan senyum sopan yang paling sempurna yang bisa ia bentuk. "Saya tidak menyangka seorang dosen muda memiliki selera setinggi ini."

"Seni dan hukum memiliki satu kesamaan, Adella: keduanya membutuhkan ketelitian untuk melihat apa yang tersembunyi," Julian mendekat, aroma parfum kayu cendana dan tembakau mahal menguar darinya. "Kamu tampak tidak nyaman. Apakah kamu merindukan 'perpustakaan' lamamu?"

Adella merasakan jantungnya berdegup kencang. Julian sedang bermain-main dengannya, mengingatkannya pada Pak Adwan tanpa menyebutkan namanya. "Saya lebih suka ruang terbuka sekarang, Pak. Udara di sini... sedikit lebih jujur."

Julian tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sangat tulus namun penuh tipu daya. "Nikmatilah pestanya. Sebentar lagi saya akan memberikan sambutan singkat. Jangan pergi terlalu jauh."

Saat Julian melangkah menuju podium kecil di tengah ruangan, Adella memanfaatkan momen itu. Ia bergerak perlahan menuju tangga samping, menghindari kontak mata dengan Baron Adwan yang tampaknya sedang sibuk berbicara dengan seorang senator.

Lantai dua rumah itu sunyi senyap, sangat kontras dengan denting gelas dan gelak tawa di bawah. Adella menyusuri lorong berlantai kayu jati hingga menemukan pintu ruang kerja Julian. Ia menempelkan kartu emas lamanya ke sensor pintu.

Klik.

Masih berfungsi. Baron mungkin sudah memblokir akses finansial kartu ini, namun ia tampaknya lupa menghapus akses fisik untuk properti keluarga yang belum diperbarui sistemnya.

Di dalam, ruangan itu sangat rapi. Adella segera menuju ke balik meja kerja besar dan menemukan lukisan abstrak berwarna merah yang disebutkan Viona. Dengan tangan gemetar, ia menggeser bingkai berat itu ke samping. Sebuah brankas digital modern muncul di baliknya.

"Viona, aku sudah di depan brankas. Apa kodenya?" bisik Adella ke mikrofon kecilnya.

"Coba tanggal lahir Pak Adwan dikombinasikan dengan nomor seri kartu emasmu. Julian sangat membenci kakaknya, tapi dia menggunakan data kakaknya untuk hal-hal yang tidak ingin dia ingat," sahut Viona di seberang sana.

Adella memasukkan deretan angka tersebut.

Pip. Pip. Pip. Ceklek.

Pintu baja kecil itu terbuka. Di dalamnya terdapat tumpukan dokumen rapi. Adella segera mencari kontrak atas nama ayahnya. Ia menemukannya—sebuah map cokelat berisi surat utang dan perjanjian penyerahan hak asuh yang ditandatangani ayahnya dalam keadaan mabuk atau tertekan.

Namun, saat ia hendak menutup brankas, matanya tertuju pada sebuah amplop biru tua yang terselip di bagian paling bawah. Di atasnya tertulis: "FILE 01 - PROYEK ORIGIN (IBU)."

Tangan Adella membeku. Selama ini ia hanya tahu ibunya adalah wanita biasa yang ketakutan. Ia tidak pernah tahu bahwa ibunya memiliki keterkaitan dengan keluarga Adwan di luar urusan utang ayahnya. Ia membuka amplop itu dengan terburu-buru.

Di dalamnya terdapat sebuah foto lama seorang wanita muda yang sangat mirip dengannya—ibunya saat masih muda—sedang berdiri di depan gedung yayasan yang sama dengan tempat Pak Adwan dulu mengajar. Namun yang paling mengejutkan adalah sebuah akta kelahiran asli yang mencantumkan nama Adella, tetapi kolom nama ayah... bukan nama ayahnya yang sekarang.

Nama yang tertera di sana adalah Baron Adwan.

Darah Adella seolah berhenti mengalir. Ia bukan sekadar "koleksi" atau "mahakarya". Ia adalah rahasia keluarga yang berjalan. Ia adalah darah daging dari pria tua yang baru saja ia ancam di Bab 18. Pak Adwan bukan hanya gurunya yang gila; dia adalah kakak tirinya.

"Sekarang kamu tahu kenapa kakakku begitu terobsesi padamu, Adella."

Suara Julian terdengar dari ambang pintu. Pria itu berdiri di sana, bersandar pada kusen pintu dengan tangan terlipat di dada. Ia tidak tampak marah; ia justru tampak puas, seolah ia baru saja menyelesaikan sebuah teka-teki besar di depan matanya.

"Kamu adalah satu-satunya kesalahan yang dibuat ayahku di masa mudanya," Julian melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya. "Nadia dan gadis-gadis lainnya... mereka hanya pengalihan. Kakakku, Adwan, dia tahu siapa kamu. Dia ingin 'memilikimu' agar dia punya kendali atas warisan kakek—maksudku, ayah kita."

Adella mencengkeram akta kelahiran itu hingga kertasnya remas. "Kalian semua... monster."

"Jangan samakan aku dengan pria gila di bawah tanah itu, Adella," Julian berhenti tepat di depan meja. "Aku tidak ingin mengurungmu. Aku ingin menggunakanmu. Jika kamu muncul di depan publik sebagai ahli waris sah keluarga Adwan yang terbuang, kita bisa menggulingkan Baron malam ini juga. Kita bisa mengambil alih yayasan, bank, dan semua kekuasaan itu."

"Dan menjadi monster baru sepertimu?" desis Adella.

"Dunia ini tidak butuh orang baik, Adella. Dunia ini butuh orang yang memegang kendali," Julian menyodorkan tangannya. "Ikutlah denganku ke bawah sekarang. Kita umumkan identitasmu. Ayahmu—maksudku, pria yang membesarkanmu—akan dibebaskan dalam hitungan jam jika kamu setuju."

Adella menatap tangan Julian, lalu menatap dokumen di tangannya. Di bawah sana, ia bisa mendengar suara tawa Baron Adwan yang menggelegar. Pria tua itu tertawa di atas penderitaan ibunya, di atas kehancuran masa kecilnya, dan di atas nyawa gadis-gadis yang telah dikorbankan demi menutupi obsesi anak-anaknya.

"Adella, jangan dengarkan dia! Keluar dari sana!" suara Viona berteriak di telinganya. "Penjaga Julian sedang bergerak ke atas!"

Adella menatap Julian dengan tatapan yang paling dingin yang pernah ia miliki. "Kamu benar, Julian. Dunia ini butuh orang yang memegang kendali."

Tanpa diduga, Adella tidak menyambut tangan Julian. Ia justru mengambil pulpen tajam di pahanya dan menusukkannya langsung ke pergelangan tangan Julian yang sedang terulur.

"Argh!" Julian memekik, mundur sambil memegang tangannya yang berdarah.

Adella tidak membuang waktu. Ia menyambar map cokelat dan amplop biru itu, lalu berlari menuju jendela ruang kerja yang menghadap ke arah kolam renang di lantai bawah.

"Viona, jemput aku di pintu belakang sekarang! Aku punya sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar kontrak!" teriak Adella.

Adella melompat keluar jendela, mendarat di atas kanopi balkon lantai satu sebelum berguling ke rumput yang basah. Di belakangnya, ia mendengar suara teriakan Julian yang memerintahkan penjaga untuk menangkapnya hidup-hidup.

Ia berlari menembus kegelapan taman, melewati patung-patung marmer yang kini tampak seperti hantu-hantu masa lalunya. Ia bukan lagi Adella si mahasiswi Hukum. Ia adalah pemegang kunci kehancuran dinasti Adwan.

Saat ia melompat ke dalam mobil yang dikemudikan Viona yang sudah menunggu di balik pagar tanaman, Adella menatap Menara Adwan di kejauhan.

"Viona," ujar Adella dengan napas tersenggal. "Kita tidak akan menghancurkan mereka dari luar. Kita akan menghancurkan mereka dari dalam darah mereka sendiri."

Bab 20 berakhir dengan Adella yang menatap akta kelahirannya di bawah lampu kabin mobil yang remang-remang. Perang ini baru saja berubah dari pelarian menjadi perebutan takhta yang berdarah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!