NovelToon NovelToon
Duda Menikahi Gadis Polos

Duda Menikahi Gadis Polos

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / CEO / Duda
Popularitas:7.6k
Nilai: 5
Nama Author: Fega Meilyana

"Jadi Om mau menerima perjodohan kita?"
"Kenapa tidak?"
"Aku akuin Om ganteng tapi seleraku bukan duda Om."
"Memangnya kenapa dengan duda?"
"Ya jelas duda itu sudah tidak perawan, saya hanya mau menikah dengan orang yang masih merawan. Saya aja masih perawan."
Rajendra menahan tawanya karena Cya benar-benar polos.

***
"Kenapa sih pernikahan kita gak dibatalin aja? kalau kita menikah pasti Om akan menyesal dan tidak akan bahagia. Saya akan membuat Om kesal setiap harinya."
"Saya juga bisa membuat kamu kesal."
"Ck, terserah deh"
***
Orangtua Rajendra menjodohkan putranya dengan putri dari rekan kerjanya. Rajendra adalah seorang duda yang ditinggal mati oleh istri pertamanya di hari pernikahannya.
Rajendra belum bisa melupakan sang istri namun entah mengapa hatinya ingin menerima perjodohan dari orangtuanya.
Namun siapa sangka, bahwa istri pertama Rajendra telah membuat rencana bahwa sebenarnya ia tidak mengalami kecelakaan.
Jadi bagaimana kisahnya? Yuk ikuti.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Anak Nakal Harus Dihukum

“Astaga, Cya… kamu ke mana sih?”

Rajendra menggerutu sambil mondar-mandir di teras rumah.

Kepalanya dipenuhi berbagai kemungkinan buruk.

Tiba-tiba—ponselnya berdering.

Dengan cepat ia merogoh saku celananya. Harapan langsung muncul—siapa tau itu Cya.

Namun begitu melihat layar, raut wajahnya langsung berubah.

Danish.

Rajendra tetap mengangkatnya. “Halo.”

“Lo ke mana sih? Setengah jam lagi kita ada meeting sama klien penting!” suara Danish terdengar tegas dari seberang.

Rajendra mengusap wajahnya kasar. “Lo handle aja. Gue gak bisa ikut.”

“Loh, kenapa? Kliennya minta lo yang pimpin meeting kali ini.”

Rajendra terdiam sejenak, lalu menjawab dengan nada serius. “Istri gue gak ada di rumah.”

Danish langsung menangkap maksudnya. “Maksud lo… Cya hilang?”

“Gue gak tau dia cuma pergi atau kenapa. Gue udah nelpon berkali-kali, gak diangkat. Pas gue pulang, pintu rumah juga gak dikunci. Dan dia gak ada di dalam.”

Nada suara Rajendra jelas dipenuhi kecemasan.

Danish mencoba menenangkan. “Lo jangan panik dulu. Coba tanya tetangga. Siapa tahu ada yang lihat.”

Rajendra menggeleng, meski Danish tidak bisa melihatnya.

“Mana ada yang di rumah jam segini. Pasti pada kerja.”

Danish berpikir cepat.

“Kalau gitu, coba lo tanya satpam kompleks. Siapa tau dia lihat Cya keluar.”

Rajendra langsung terdiam sejenak.

Saran itu masuk akal.

“Oke.”

“Apa perlu gue ke sana bantu lo cari?” tanya Danish lagi.

“Gak usah. Lo pimpin aja meeting hari ini.”

“Oke. Tapi kabarin gue kalau udah ada kabar tentang Cya.”

“Iya.”

Meski ada sedikit rasa tidak nyaman melihat perhatian Danish pada Cya, Rajendra tetap mengiyakan.

Telepon pun terputus.

Tanpa membuang waktu—Rajendra langsung menuju pos keamanan kompleks.

Ia turun dari mobilnya dengan langkah cepat.

“Pak, saya mau tanya,” ucapnya sedikit terengah.

Satpam itu menoleh. “Mau tanya apa, Mas?”

“Bapak lihat istri saya lewat sini tadi?” tanya Rajendra, nada suaranya masih tegang.

Satpam itu mengernyit. “Maaf, istri Mas yang mana ya?”

Wajar saja.

Rajendra dan Cya memang baru beberapa hari tinggal di sana.

Tanpa menunggu lama—Rajendra langsung mengeluarkan ponselnya. Ia membuka satu-satunya foto yang ia punya.

Foto pernikahannya dengan Cya.

Tangannya sedikit gemetar saat memperlihatkannya. “Ini, Pak… istri saya.”

“Aduh, maaf, Mas… saya gak lihat,” ucap satpam itu setelah memperhatikan foto di ponsel Rajendra.

Ia lalu menoleh ke rekannya. “Kamu lihat gak?”

Satpam yang satu lagi menggeleng. “Enggak juga.”

Jantung Rajendra seperti semakin tertekan.

Ia mengusap pelipisnya, mencoba meredam kepanikan yang mulai menguasai.

“Kalau nanti Bapak lihat dia… tolong kabari saya, ya,” ucapnya, suaranya terdengar lebih pelan dari sebelumnya.

Ia segera mengeluarkan kartu nama dari dompetnya, lalu menyodorkannya. “Ini nomor saya.”

Satpam itu menerima kartu tersebut dan mengangguk. “Iya, Mas. Nanti kalau lihat, langsung saya kabari.”

Rajendra hanya mengangguk singkat.

***

Setelah selesai makan siang, Serena mengajak Cya dan Bela untuk melaksanakan salat dzuhur.

Di tempat itu ternyata tersedia ruangan khusus untuk salat.

Namun sayangnya, mereka harus mengantre.

Tempatnya tidak terlalu luas, sementara hampir semua orang di sana ingin menunaikan kewajibannya.

“Kalian aja yang salat. Gue tunggu di sini,” ucap Cya santai. “Soalnya gue lagi halangan.”

“Oh ya udah. Bela, kita berdua aja,” ujar Serena sambil menggenggam tangan Bela, bersiap menariknya.

Namun Bela tiba-tiba menahan. “Gue juga gak salat,” katanya.

Serena langsung berhenti. “Lo halangan juga?”

Bela menggeleng. “Enggak sih… cuma tempatnya sempit banget. Nanti gue salat di rumah aja.”

Serena mengernyit. “Bel, kita di sini bisa sampai malam. Masa iya lo mau nunda sampai rumah?”

“Iya, mending lo salat di sini aja bareng Serena,” timpal Cya.

“Iya, ayo,” bujuk Serena lagi.

Namun Bela tetap menggeleng. “Lo aja deh yang salat.”

Serena menghela napas pelan. “Hm… oke deh.”

Ia tidak ingin memaksa.

Yang penting, ia sudah mengajak.

Serena pun akhirnya pergi sendiri ke tempat salat.

Begitu Serena menjauh— “Cya, gue pengen ke toilet,” ujar Bela pelan.

“Ya udah, ikut gue,” jawab Cya.

Cya langsung berjalan lebih dulu, diikuti Bela menuju toilet.

Sesampainya di depan pintu—

Bela berhenti dan menoleh.

“Lo jangan ke mana-mana ya,” pesannya, sedikit khawatir.

“Iya,” jawab Cya singkat.

Begitu Bela masuk ke dalam toilet, ia langsung mengeluarkan ponselnya dari tas selempangnya.

Matanya membelalak. “Ya ampun… banyak banget!” Ia refleks membekap mulutnya saat melihat puluhan panggilan tak terjawab dari Rajendra.

Belum sempat ia mencerna semuanya—ponselnya kembali berdering.

Nama yang sama.

Kali ini, tanpa ragu, ia langsung mengangkatnya. “Halo, Om…”

Di seberang sana, suara Rajendra terdengar tegang.

“Halo, Cya. Kenapa kamu baru angkat? Saya cari kamu di rumah, tapi kamu gak ada.”

Cya menelan ludah. “Saya memang lagi gak di rumah, Om. Tadi… saya gak dengar HP saya bunyi.”

“Kamu bikin orang pusing aja,” jawab Rajendra.

Kalimat itu membuat Cya sedikit mengernyit.

Mungkin kalau Rajendra mengatakan kamu bikin orang khawatir saja, Cya akan tersentuh. Tapi masalahnya Rajendra malah mengatakan Cya membuatnya pusing.

“Maaf, Om… tapi kenapa juga Om pulang cepat dan langsung cari saya?”

“Saya lupa kasih kamu uang jajan, makanya saya pulang. Tapi pas saya sampai… kamu gak ada. Buang-buang waktu saya aja.”

Nada bicara itu langsung menyulut emosi Cya.

“Kalau buang-buang waktu, ngapain Om pulang? Saya juga gak minta, kok,” balasnya sewot.

Rajendra menghela napas, menahan diri. “Saya suami kamu. Memberi kamu uang jajan itu tanggung jawab saya. Sekarang kamu di mana? Lagi ngapain?”

Pertanyaan bertubi-tubi itu membuat Cya menggigit bibir bawahnya.

Ia tidak mungkin jujur.

“Di rumah teman, Om…”

“Teman kamu di mana? Dan kamu ngapain di sana?”

“Gak ngapa-ngapain. Cuma main aja.”

“Kalau cuma main, kenapa susah banget angkat telepon saya?”

“Saya kan udah bilang, gak dengar kalau HP saya bunyi, Om…”

Suara Rajendra mulai berubah tegas. “Saya sudah bilang, jangan keluar rumah tanpa izin saya. Kenapa kamu pergi tanpa bilang?”

Cya mengecil. “Saya… lupa, Om…”

“Sekarang kirim alamatnya. Saya jemput kamu.”

“Jangan, Om. Saya bisa pulang sendiri.”

“Saya tau. Tapi lebih aman kalau saya yang jemput.”

“Gak usah. Nanti saya mau mampir ke rumah papi dan mami.”

“Saya juga bisa antar kamu ke sana.”

Cya mulai kesal. “Gak usah, Om. Ada teman saya yang bisa nganter.”

Tanpa ia sadari—Bela sudah keluar dari toilet sejak tadi.

Gadis itu berdiri diam di belakangnya, memperhatikan.

“Cya,” suara Rajendra terdengar lebih rendah, tapi penuh tekanan, “kamu itu tanggung jawab saya. Saya harus pastikan kamu pulang dengan selamat. Kalau kamu dianter teman, saya gak tau dia nyetirnya gimana.”

Sulit bagi Rajendra mengakui—bahwa ia sebenarnya khawatir.

Sangat khawatir.

Sejak tadi ia mencari ke mana-mana.

Bahkan sempat menghubungi mertuanya. Siapa tau Pak Adit mengetahui tempat mana saja yang biasa Cya kunjungi agar Rajendra bisa menyusul. Namun Pak Adit mengatakan, untuk Rajendra tenang dulu sebab Cya memang suka pergi tanpa pamit.

Namun tetap saja—ia belum tenang sebelum tau Cya benar-benar baik-baik saja.

“Tenang aja, Om. Teman saya gak akan ngebut,” jawab Cya, berusaha terdengar santai.

“Cya, jangan seperti ini…” Nada suara Rajendra kembali gelisah.

Namun Cya sudah lelah. “Pokoknya Om, tenang aja, ya.”

Dan tanpa menunggu balasan—ia langsung memutus sambungan telepon.

Sunyi.

Cya memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas.

“Siapa?” suara Bela terdengar dari belakang.

Cya langsung menoleh, sedikit kaget. “Eh, kamu udah selesai?”

“Udah. Tadi… siapa yang nelepon?”

Cya menjawab santai, seolah itu hal biasa. “Suami aku.”

Bela terdiam sejenak. “Dia nyuruh kamu pulang?”

“Iya. Tapi aku gak mungkin pulang sebelum Serena selesai tanding.”

“Kalau dia marah gimana?”

Cya tersenyum tipis, meski ada keraguan di dalamnya. “Gak kok… dia gak akan marah.”

Namun jauh di dalam hatinya—ia sendiri tidak sepenuhnya yakin.

“Memangnya suami kamu tau kamu ke sini?” tanya Bela lagi.

Cya menggeleng ringan. “Enggak sih… tapi ya udahlah. Dia juga mana peduli."

Bela tidak langsung menjawab.

Sementara itu—di tempat lain, ada seseorang yang justru sedang kalang kabut mencarinya.

Dan orang itu…sangat peduli.

***

Sejak siang tadi, Rajendra tidak berhenti mondar-mandir di teras rumahnya.

Langkahnya gelisah.

Tatapannya sesekali mengarah ke gerbang, berharap sosok itu muncul.

Namun—waktu terus berjalan.

Langit yang tadinya terang kini telah berubah gelap.

Bahkan azan maghrib sudah lama berlalu. Tapi Cya…masih belum pulang.

Rajendra kembali meraih ponselnya. Untuk kesekian kalinya, ia mencoba menghubungi nomor Cya.

Hening.

Lalu—nomor yang Anda tuju tidak dapat dihubungi.

Rahangnya mengeras. “Sial!” umpatnya pelan, namun penuh emosi.

Tangannya mengepal kuat.

Ia ingin marah.

Ingin meluapkan semuanya.

Tapi di sana—tidak ada siapa pun.

Hanya dirinya sendiri… dan rasa khawatir yang semakin membesar. Dengan napas yang mulai tak beraturan, Rajendra mencoba lagi.

Sekali lagi.

Dan lagi.

Namun hasilnya tetap sama.

Nomor itu… tidak aktif.

***

“Bel, kamu gapapa pulang malam?” tanya Cya begitu mereka sudah duduk di dalam taksi online yang ia pesan.

“Gapapa sih… cuma capek aja,” jawab Bela sambil menyandarkan kepalanya ke kursi.

“Maaf ya…” ucap Cya pelan.

Bela melirik sekilas. “It’s okay. Tapi besok-besok kalau kamu mau ke tempat itu lagi, aku gak mau ikut.”

Cya tersenyum tipis. “Iya, iya…”

Sejujurnya, ia juga tidak berniat mengajak Bela lagi. Pengalaman tadi sudah cukup membuatnya jera.

“Ini nanti berhenti di depan rumah aku dulu atau rumah kamu?” tanya Bela.

“Di depan rumah aku aja.”

“Oke.”

Tak lama kemudian, mobil yang mereka tumpangi melambat dan berhenti tepat di depan rumah Cya.

Lampu teras menyala terang.

Dan—m ada seseorang yang sudah berdiri di sana.

Menunggu.

“Kamu mau mampir dulu?” tanya Cya, tangannya sudah membuka pintu.

Bela menggeleng. “Gak usah deh. Aku mau langsung istirahat.”

“Oke… hati-hati ya.”

“Iya.”

Cya turun dari mobil sambil melambaikan tangan.

“Bye…”

“Bye.”

Begitu pintu mobil terbuka—Bela langsung memalingkan wajahnya ke arah berlawanan.

Ia sengaja tidak ingin terlihat.

Sehingga sosok laki-laki yang berdiri di teras rumah itu—

tidak sempat melihat wajahnya.

Pintu kembali tertutup. “Jalan, Pak,” ucap Bela singkat.

Mobil itu pun kembali melaju—meninggalkan Cya yang kini berdiri sendiri di depan rumahnya.

Dan juga seseorang yang sejak tadi… menunggunya dengan penuh emosi.

Cya langsung melangkah memasuki pekarangan rumahnya.

Baru beberapa langkah—Rajendra yang sejak tadi menunggu di teras, turun dengan langkah lebar menghampirinya.

Langkahnya cepat. Tegas.

Membuat Cya refleks berhenti.

Ia menelan ludahnya kasar saat jarak di antara mereka semakin dekat… hingga akhirnya mereka berdiri saling berhadapan.

“Kenapa kamu pulang?” suara Rajendra rendah, namun tajam. “Kenapa gak sekalian aja kamu gak usah pulang?”

Rahangnya mengeras.

Jelas sekali—ia sedang menahan amarah yang sejak tadi dipendam.

Cya menundukkan kepala. Biasanya… ia memang sering dimarahi saat pulang malam oleh orangtuanya. Tapi kali ini berbeda. Ada sesuatu dalam cara Rajendra menatapnya—

yang membuatnya benar-benar takut. Dada laki-laki itu naik turun, berusaha mengendalikan emosinya.

Namun tetap saja… suasana terasa mencekam.

“Masuk!” sentaknya tiba-tiba.

Tubuh Cya sedikit tersentak. “Maaf, Om…” ucapnya lirih.

Ia tau dirinya salah.

Tapi tetap saja—hatinya terasa perih mendengar nada bicara Rajendra yang begitu keras.

“Masuk, Cya.” Kali ini suara Rajendra terdengar jauh lebih rendah. Tidak lagi membentak seperti tadi.

Cya tetap berdiri di tempatnya. “Maafin saya dulu, Om…”

Rajendra menarik napas dalam, lalu menghembuskannya perlahan.

Ia tidak menjawab.

Tiba-tiba—Rajendra langsung mengangkat tubuh Cya, menggendongnya begitu saja seperti karung beras.

“Om! Turunin… saya bisa jalan sendiri!” Cya meronta kecil, kakinya bergerak gelisah.

“Berhenti panggil saya ‘Om’!” tegas Rajendra.

Dengan satu gerakan, ia mendorong pintu hingga terbuka, lalu masuk ke dalam rumah. Cya masih berusaha melepaskan diri, tapi sia-sia.

Beberapa detik kemudian—Rajendra menjatuhkan Cya ke atas sofa. Beruntung sofanya empuk.

“Sakit, Om!” protes Cya, meski sebenarnya tidak terlalu sakit.

“Itu hukuman buat anak nakal seperti kamu,” balas Rajendra dingin.

Cya langsung diam.

Dadanya terasa sesak.

Anak nakal…

Begitu kah dia di mata Rajendra?

Beberapa menit hening—Cya baru berani menatap lagi.

Namun napasnya langsung tertahan.

Rajendra kini berdiri sangat dekat. Ia melonggarkan dasinya.

Tangannya bertumpu di kanan-kiri sofa, mengurung Cya di antara tubuhnya.

“Om… ngapain?” suara Cya mengecil.

Ia ingin mundur— tapi tidak ada ruang.

“Kamu harus dihukum,” ucap Rajendra pelan, namun penuh tekanan.

Wajahnya semakin mendekat.

“Jangan dekat-dekat, Om… saya bau, saya belum—”

Ucapan Cya terhenti.

Rajendra sudah lebih dulu menutupnya dengan ciuman singkat yang membuat Cya terdiam.

Cya terkejut.

Tubuhnya menegang.

"Mphhh..." Cya ingin protes tapi ia tidak bisa karena Rajendra sudah mulai melakukan pergerakan.

1
aku
plot twist cya udh nyiapin bukti cctv dr awal ortu aurel pindah buat jd pisah sm jendra. mampusss 🙏🙏
Nifatul Masruro Hikari Masaru
cya kok gak mau sih diajak pindah
Aidil Kenzie Zie
ngapain pulang sih Cya biar Jendra pusing nyari kamu
Aidil Kenzie Zie
Cya minggat aja kerumah ortumu dari pada nggak dianggap
Nifatul Masruro Hikari Masaru
di rekam aja cya biar ada bukti
Adinda
pergi cya buat apa juga bertahan kalau gak dihargai
Fegajon
tenang... masih ada bu kiran, mertuanya cya. tunggu aja 😍
Nifatul Masruro Hikari Masaru
duh. pulang aja kerumah sendiri cya daripada sakit hati
Aidil Kenzie Zie
jangan dikasih dulu Cya sampai bisa terima pernikahan ini tanpa bayangan masa lalunya lagi
Aidil Kenzie Zie
betul nggak sih kalo Bela itu Aurel
Fegajon: bener gak yaaa😛
total 1 replies
anakkeren
jujur,lebih suka kalo authornya buat cerita bertema pesantren.tapi cerita ini bagus juga kok
Aidil Kenzie Zie
kok kamar yang ditempati sama Aurel tor bukannya mereka belum pernah tinggal disana
Fegajon: iya. itu rencana saat masih proses pengerjaan rumah Rajendra.
total 1 replies
Aidil Kenzie Zie
si mama egois
apa Bela itu sebenarnya Aurel
Aidil Kenzie Zie
ngapa nggak delivery aja Cya
Aidil Kenzie Zie
Rajendra udah tua masak nggak bisa hargai perasaan Cya dikit-dikit Aurel
Buddy Aprilianto
kedepannya bisa lebih menarik alur cerita nya 🙏
Fegajon: iya kak terimakasih masukannya🙂
total 1 replies
just a grandma
aku ska karakter cya
cutegirl
semangat berkarya
Anak manis
lucu ceritanya
Anak manis
kasian rajendra🤣
Buddy Aprilianto: masih iman nya kuat💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!