(GERHANA SEMBILAN LANGIT SEASON 3)
Setelah menaklukkan Benua Kuno, Han Luo dan Long Tian bertujuan menginjakkan kaki di Cakrawala Suci—pusat dunia kultivasi yang sesungguhnya.
Di benua super-masif ini, kekuatan Jiwa Baru Lahir hanyalah prajurit biasa, dan para dewa Pemutus Roh menguasai langit. Menjadi buronan faksi raksasa akibat kematian Jian Wuji, Han Luo terpaksa menyembunyikan taringnya.
Dan saat rahasia sebenarnya di balik 'Dao Langit' dan Penjara Benua Kuno mulai terkuak, Han Luo bersiap menyalakan api pemberontakan terbesarnya. Di negeri para dewa, gerhana akan membuktikan bahwa ia mampu menelan matahari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kokop Gann, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Badai Pendakian
Lantai Kedua Menara Ujian Langit adalah kebalikan mutlak dari lantai pertama.
Jika Lantai Pertama menekan fisik dengan gravitasi bumi yang brutal, Lantai Kedua membakar jiwa. Saat Han Luo dan Long Tian melangkah keluar dari tangga, mereka disambut oleh padang lahar yang mendidih. Udara di sini bergetar karena panas yang ekstrem, dan langit-langit menara memancarkan hujan api.
Hukum Dao Api.
"Ugh..." Long Tian langsung berkeringat deras. Zirah hitamnya memanas.
Di kejauhan, belasan jenius yang berhasil lolos dari Lantai Pertama sedang duduk bersila di atas batu-batu apung di tengah lahar. Wajah mereka merah padam, menahan rasa sakit saat mereka mencoba menyerap Fragmen Dao Api yang melayang-layang seperti kunang-kunang merah di udara.
Salah satu dari mereka, seorang pemuda jenius dari Klan Matahari Ungu, sedang berada di titik kritis pencerahannya. Dia telah bermeditasi selama dua jam penuh untuk menarik satu fragmen api ke dalam Dantiannya.
"Sedikit lagi..." gumam pemuda itu, senyum kemenangan mulai mengembang di bibirnya.
Namun, senyum itu lenyap dalam sedetik.
WUUUSSHH!
Sebuah gaya tarik yang luar biasa kuat tiba-tiba menyapu seluruh Lantai Kedua. Pemuda itu membelalakkan matanya saat melihat fragmen api yang sudah berada tepat di depan hidungnya... berbelok tajam dan terbang menjauh.
Bukan hanya satu fragmen. Ratusan Fragmen Dao Api di seluruh padang lahar itu tersedot layaknya debu yang ditarik ke dalam corong angin puting beliung.
"A-Apa yang terjadi?!" teriak para jenius, melompat berdiri dengan panik.
Mereka menoleh ke arah pintu masuk.
Di sana, Han Luo (dalam wujud kakek tua Xie Yan) sedang berjalan dengan santai, bersandar pada tongkat kayunya. Dia membuka mulutnya sedikit, dan sebuah pusaran hitam tak kasat mata di dalam Dantiannya menelan semua ratusan fragmen api itu sekaligus.
"Hmm," Han Luo membatukkan sedikit asap panas dari mulutnya. "Rasanya seperti menelan lada kualitas rendah. Agak gatal di tenggorokan, tapi nutrisinya lumayan."
KRAK!
Sama seperti di Lantai Pertama, dinding energi yang menghalangi tangga menuju Lantai Ketiga hancur berkeping-keping karena kehabisan sumber daya.
Han Luo tidak berhenti. Dia langsung melangkah menaiki tangga.
"Hei Mian, ayo. Api di sini sudah habis."
Long Tian menelan ludah, buru-buru mengikuti di belakangnya.
Meninggalkan belasan jenius yang berdiri terpaku dengan rahang jatuh menyentuh dada.
"K-Kakek itu... dia baru saja memakan seluruh hukum api di lantai ini?!" jerit salah satu dari mereka, akal sehatnya benar-benar hancur. "Monster dari sekte mana dia?!"
Ini bukanlah sebuah ujian bagi Sang Dalang. Ini adalah penjarahan prasmanan tanpa batas.
Lantai Ketiga: Hukum Angin. Badai pisau angin yang merobek kulit. Han Luo mengaktifkan Domain Hampa, menetralisir semua angin, lalu menyedot inti badainya dalam sepuluh detik.
Lantai Keempat: Hukum Air. Lautan tekanan bawah air. Han Luo menggunakan Sutra Hati Es Abadi untuk membekukan lautan itu, lalu menghancurkan dan menyerap fragmennya.
Lantai Kelima, Keenam, hingga Kesembilan...
Bagi kultivator elit Cakrawala Suci, melewati satu lantai membutuhkan waktu minimal satu hari penuh. Mereka harus memahami hukum, menyelaraskan Dantian mereka, dan membuktikan kelayakan mereka pada sisa kehendak dewa di menara.
Han Luo dan Long Tian mencapai Lantai Kesepuluh dalam waktu kurang dari tiga puluh menit.
Setiap kali mereka naik, lantai di bawah mereka ditinggalkan dalam keadaan "mati". Tanpa fragmen Dao, menara itu hanya menjadi tumpukan batu bata kosong yang tidak memiliki fungsi ujian lagi.
Di dalam Dantian Han Luo, perubahan besar sedang terjadi.
Inti Emas Gerhana-nya, yang sudah berada di ambang batas mutlak, kini mulai memadat dan berubah bentuk. Fragmen-fragmen hukum (Tanah, Api, Angin, Air) yang dia rampok sedang dilebur oleh pusaran kekosongan, membentuk sebuah cangkang yang menyerupai telur emas kehitaman.
"Sempurna," batin Han Luo. "Untuk mencapai Ranah Pemutus Roh, aku butuh pemahaman Dao yang komprehensif. Menara ini secara harfiah menyuapiku dengan semua kunci jawaban ujian alam semesta."
TAP.
Han Luo melangkahkan kakinya ke Lantai Kesepuluh.
Suasana di sini berubah drastis. Tidak ada lagi elemen liar yang mengamuk. Lantai Kesepuluh adalah sebuah ruangan tanpa batas yang lantainya terbuat dari cermin air yang sangat tenang. Di langit-langit, tidak ada apa pun kecuali kehampaan yang memancarkan cahaya keperakan.
Hukum Ruang.
Di tengah hamparan cermin air itu, terdapat sebuah pulau teratai putih.
Di atas pulau itu, tidak ada sembarang orang. Hanya ada tiga pemuda dan satu wanita yang sedang duduk bermeditasi dalam segitiga sempurna. Mereka memancarkan aura yang membuat udara di sekitar mereka terdistorsi.
Keempatnya berada di Ranah Jiwa Baru Lahir Awal. Mereka adalah puncak dari rantai makanan generasi muda Cakrawala Suci.
Saat Han Luo dan Long Tian masuk, salah satu dari mereka—seorang pemuda dengan jubah emas bersulam naga—membuka matanya dengan tajam.
[Yan Kuang - Pewaris Pertama Klan Api Suci]
"Siapa yang berani mengganggu ketenangan Lantai Kesepuluh?" suara Yan Kuang bergema, penuh dengan otoritas dan arogansi yang hanya dimiliki oleh mereka yang lahir di atas awan.
Yan Kuang menatap Han Luo yang bungkuk dan batuk-batuk, lalu menatap Long Tian yang berdiri kaku di belakangnya.
"Seorang kakek tua yang nyaris mati dan pengawalnya? Bagaimana kalian bisa sampai ke lantai ini begitu cepat?" Yan Kuang mengerutkan kening.
Seorang wanita cantik di sebelahnya, Dewi Es dari Istana Bulan Biru, ikut membuka matanya. Dia mendengus sinis. "Mungkin mereka menemukan jalan pintas atau menggunakan artefak pelarian. Sangat mengganggu. Singkirkan mereka, Kuang. Kita sedang berada di titik krusial Pencerahan Ruang."
Yan Kuang mengangguk. Dia bahkan tidak berdiri. Dia hanya menjentikkan jarinya ke arah Han Luo.
ZING!
Sebuah bilah ruang—hukum Dao yang baru saja dipelajarinya dari lantai ini—melesat dengan kecepatan suara, berniat memotong kepala "kakek tua" itu menjadi dua tanpa peringatan. Pembunuhan di dalam Menara tidak dilarang; ini adalah seleksi alam.
Namun...
KLANG!
Bilah ruang itu hancur berkeping-keping.
Bukan Han Luo yang bergerak. Long Tian telah melangkah maju, memukul hancur bilah tak kasat mata itu hanya dengan punggung pedang raksasanya. Kekuatan fisik Long Tian yang telah dilatih secara brutal oleh tekanan gravitasi lantai-lantai sebelumnya kini meledak keluar.
"Kau berani menyerang Tuan-ku?" geram Long Tian, matanya yang keemasan menyala di balik topeng besinya. "Kalianlah yang akan disingkirkan!"
Yan Kuang terbelalak. Serangannya dipatahkan dengan kekuatan fisik murni?!
"Pengawal yang lumayan," Yan Kuang akhirnya berdiri. "Tapi anjing yang menggigit terlalu keras harus dicabut giginya."
Di belakang Long Tian, Han Luo terbatuk pelan ke saputangannya.
"Hei Mian... jangan terlalu kasar," suara Han Luo bergetar, memerankan kakek tuanya dengan sempurna. "Mereka sedang belajar. Kita tidak boleh mengganggu anak-anak yang sedang mengerjakan pekerjaan rumah."
Han Luo berjalan pelan melewati Long Tian.
"Kita ambil saja apa yang kita butuhkan dan pergi."
Han Luo menatap ke atas, ke arah sebuah kristal perak berbentuk belah ketupat yang melayang di tengah pulau teratai. Itu adalah Inti Hukum Ruang Lantai Kesepuluh.
Han Luo tidak berniat belajar. Dia berniat memakan bukunya.
Han Luo mengulurkan tangan kanannya yang keriput.
Domain Hampa: Tarikan Gerhana.
BZZZZZT!
Seluruh cermin air di lantai itu tiba-tiba bergetar hebat. Ruang di Lantai Kesepuluh seolah-olah ditarik paksa ke satu titik.
Di depan mata Yan Kuang dan ketiga jenius elit lainnya yang membelalak ngeri, Kristal Inti Hukum Ruang itu bergetar keras, lalu melesat turun dari langit dan... masuk lurus ke dalam telapak tangan Kakek Tua itu!
SLURP.
Kristal itu hilang. Ditelan tanpa sisa.
Seketika itu juga, cahaya perak di Lantai Kesepuluh padam total. Pencerahan spasial yang mereka nikmati lenyap seperti lilin yang ditiup angin kencang.
"B-Barang itu... dia memakannya?!" jerit Dewi Es dari Istana Bulan Biru, kehilangan seluruh keanggunannya.
"KAU MENCURI INTI LANTAI INI?!" Yan Kuang murka hingga wajahnya merah padam. "KEMBALIKAN! ITU MILIK KAMI!"
Keempat jenius elit Jiwa Baru Lahir itu serentak meledakkan aura mereka, bersiap mencincang kakek tua itu menjadi bubur.
Han Luo berbalik membelakangi mereka, berjalan santai menuju tangga menuju Lantai Sebelas yang dinding energinya baru saja hancur karena intinya dia telan.
"Hei Mian," Han Luo berbicara tanpa menoleh. "Tahan mereka sebentar. Jika mereka terlalu berisik... pastikan mereka tidak bisa bicara lagi."
"Siap, Tuan!"
Long Tian memutar lehernya hingga berbunyi krek. Dia mengangkat pedang besarnya, sendirian memblokir jalan keempat jenius terkuat Cakrawala Suci.
"Kalian dengar Tuan-ku," Long Tian menyeringai buas di balik topengnya. "Waktu belajar kalian sudah habis."
bukankah mereka masuk secara bersamaan ?