NovelToon NovelToon
Cincin Di Balik Almamater

Cincin Di Balik Almamater

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Ketos / Nikahmuda
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: iinayah

Di SMA Garuda, Arkananta Dewa adalah personifikasi dari aturan itu sendiri. Sebagai Ketua OSIS yang perfeksionis, ia adalah matahari yang ditakuti sekaligus dikagumi. Di sisi lain, Ziva Clarissa adalah anomali; siswi jurnalisme yang vokal, ceroboh, dan pembenci birokrasi. Mereka adalah dua kutub yang seharusnya tidak pernah bertemu dalam satu garis takdir.
​Namun, sebuah perjodohan bisnis yang dipaksakan oleh kedua orang tua mereka mengubah segalanya dalam semalam. Tanpa cinta, tanpa persiapan, mereka diikat dalam pernikahan siri yang sah di mata agama dan keluarga, namun terlarang di mata sekolah.
​Keduanya sepakat pada satu hal: Rahasia ini harus mati bersama mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon iinayah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tamu Tak Diundang di Wilayah Terlarang

​​Seminggu telah berlalu sejak akad nikah yang sunyi itu. Apartemen 402 kini memiliki pembatas yang tak terlihat namun sangat nyata: garis imajiner yang membelah ruang tamu. Ziva tetap teguh pada pendiriannya—mendiami Arkan adalah cara terbaik untuk tetap waras. Ia berangkat sekolah lebih awal, pulang dengan ojek daring, dan langsung mengunci diri di kamar.

​Arkan, di sisi lain, mulai merasa seperti hantu di rumahnya sendiri. Ia yang terbiasa memegang kendali atas ribuan siswa di SMA Garuda, kini tak berdaya menghadapi pintu kayu kamar Ziva yang selalu tertutup rapat.

​Namun, ketenangan itu hancur berantakan saat Pak Danu, guru sosiologi sekaligus pembina OSIS, memberikan pengumuman di kelas.

​"Untuk tugas riset dinamika sosial, saya sudah membagi kalian ke dalam kelompok kecil. Arkan, karena kamu ketua kelas sekaligus Ketos, kamu akan satu kelompok dengan Gibran, Sisil, dan... Ziva," ujar Pak Danu sambil membetulkan kacamatanya.

​Ziva yang sedang asyik mencoret-coret buku jurnalisme langsung membeku. Sisil menyenggol lengannya dengan semangat. "Gila! Satu kelompok sama duo maut OSIS. Ziv, ini kesempatan lo buat balikin martabat lo di depan Arkan!"

​Ziva melirik ke arah Arkan di baris depan. Laki-laki itu hanya terdiam, namun punggungnya tampak menegang. Gibran menoleh ke belakang, memberi jempol pada Ziva sambil tersenyum lebar. "Wah, bakal seru nih. Kita kerjain di mana? Cafe depan sekolah?"

​"Jangan di cafe," sahut Sisil cepat. "Lagi tanggal tua nih, uang saku gue dipotong nyokap. Gimana kalau di rumah salah satu dari kita aja? Rumah Ziva?"

​"Nggak bisa!" teriak Ziva sedikit terlalu kencang, membuat seisi kelas menoleh. "Maksud gue... rumah gue lagi direnovasi. Debu di mana-mana."

​"Rumah Arkan?" tanya Gibran polos.

​Arkan berdehem, suaranya terdengar agak serak.

"Rumahku... ada acara keluarga besar. Tidak kondusif."

​"Yah, rumah gue juga nggak mungkin, bokap lagi sakit," keluh Sisil. Ia kemudian teringat sesuatu. "Eh, Ar, denger-denger lo baru aja dapet fasilitas apartemen dari bokap lo buat persiapan kuliah nanti? Kenapa nggak di sana aja? Pasti keren dan tenang banget!"

​Jantung Ziva seolah merosot ke lambung. Ia menatap Arkan dengan tatapan "tolak-sekarang-atau-kita-mati". Namun, Arkan justru melihat ini sebagai celah. Jika ia menolak terlalu keras, Gibran yang cerdas akan mulai curiga.

​"Boleh," jawab Arkan pendek.

"Sabtu jam sepuluh pagi. Aku kasih alamatnya di grup."

​Ziva nyaris pingsan di tempat.

​Persiapan Operasi Penyamaran

​Jumat malam di Apartemen 402 berubah menjadi zona perang domestik. Ziva yang selama seminggu ini diam, akhirnya keluar dari kamarnya dengan wajah merah padam.

​"Lo gila ya?!" Ziva memaki Arkan yang sedang mencuci piring. "Lo biarin Sisil sama Gibran ke sini? Lo mau kita ketahuan besok?"

​Arkan mematikan keran air, lalu berbalik perlahan. "Kalau aku menolak, Gibran akan bertanya kenapa. Dia tahu aku tidak pernah keberatan kerja kelompok. Lagi pula, kalau kita bersikap biasa saja, mereka tidak akan curiga."

​"Biasa saja gimana? Lihat ini!" Ziva menunjuk ke arah rak sepatu. Ada sepatu sekolah perempuan dan laki-laki yang berjejer rapi. Ia lari ke kamar mandi. "Sikat gigi kita sebelahan! Handuk lo warna biru, punya gue pink! Sisil itu detektif gosip, Arkan! Dia bisa tahu lo pakai merk sabun apa cuma dari baunya!"

​Arkan memijat pangkal hidungnya. "Maka dari itu, kita punya waktu lima jam sebelum tidur untuk menyembunyikan semua jejak 'pernikahan' ini. Pindahkan semua barangmu ke kamarmu. Pastikan tidak ada helai rambut panjang di lantai ruang tamu. Dan yang paling penting..."

​Arkan melangkah mendekati Ziva, membuat gadis itu mundur hingga terpentok meja makan.

​"Lepas cincin itu dan simpan di tempat paling dalam di lemarimu," bisik Arkan.

​Ziva menelan ludah. Jarak mereka begitu dekat hingga ia bisa mencium aroma sabun mandi Arkan yang maskulin—aroma yang selama ini diam-diam membuatnya merasa aman di malam hari, meski ia membencinya.

​"Oke," jawab Ziva lirih. "Tapi kalau sampai ketahuan, gue bakal bilang lo yang maksa gue tinggal di sini sebagai asisten rumah tangga lo."

​Arkan mendengus. "Lakukan saja tugasmu, Ziva."

​Sabtu Pukul 10.00: Ujian Nyata

​Bel apartemen berbunyi. Ziva sudah duduk manis di sofa dengan buku sosiologi di depannya. Ia memakai kaos longgar dan celana kulot, berusaha terlihat seperti "tamu" yang baru sampai. Arkan membuka pintu.

​"Wih! Gila, Ar! Mewah banget tempat lo!" seru Gibran sambil masuk dan melempar tasnya ke lantai.

​Sisil menyusul di belakang, matanya langsung berputar bak radar pemindai. "Apartemen Ketos emang beda ya. Rapih banget, kayak nggak ada kehidupan."

​Ziva berusaha tersenyum natural. "Eh, Sil, Gib. Kalian udah sampai?"

​Sisil menyipitkan mata. "Lo kok udah di sini, Ziv? Perasaan tadi gue chat lo baru mau berangkat?"

​Ziva berkeringat dingin. "Oh... itu... tadi gue dapet tebengan ojek yang ngebut banget. Iya, ngebut."

​"Oh gitu," Sisil duduk di sebelah Ziva. Tiba-tiba, ia mengendus udara. "Eh, kok baunya familiar ya? Kayak parfum yang lo pakai setiap hari, Ziv?"

​"Masa sih? Mungkin parfum ruangan kali," sahut Arkan cepat sambil meletakkan empat gelas sirup di meja.

​Mereka mulai bekerja. Gibran dan Arkan sibuk dengan laptop, sementara Ziva dan Sisil menyusun kuesioner. Segalanya berjalan lancar selama satu jam, sampai Sisil merasa haus dan berjalan ke dapur untuk mengambil air lagi.

​"Ar, gue minta air dingin ya—" Sisil membuka kulkas. Ia terdiam.

​Ziva dan Arkan saling pandang. Jantung mereka berdegup kencang. Di dalam kulkas itu, ada sisa cokelat kemasan yang ada tulisan tangan Ziva: "Punya Ziva, jangan dimakan, Bot!"

(Bot adalah ejekan Ziva untuk Arkan si robot).

​Sisil mengambil cokelat itu. "Punya Ziva? Bot?"

​Gibran ikut menoleh. "Ziv, lo naruh cokelat di kulkas Arkan?"

​Ziva merasa dunianya berhenti berputar. Arkan segera berdiri, wajahnya tetap datar namun otaknya bekerja secepat kilat.

​"Oh, itu," ucap Arkan tenang. "Ziva tadi datang awal dan minta izin naruh cokelatnya karena takut meleleh. Dia emang suka kasih label aneh ke barang-barangnya. 'Bot' itu maksudnya... Robot? Karena dia bilang apartemenku dingin kayak gudang robot."

​Sisil tertawa terbahak-bahak. "Hahaha! Bener banget! Emang cocok lo dibilang robot, Ar. Ziva, lo ada-ada aja."

​Ziva menghembuskan napas lega yang sangat panjang. Ia menatap Arkan, dan untuk pertama kalinya dalam seminggu, ia memberikan tatapan "terima kasih" yang tulus.

​Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Saat Sisil hendak kembali ke sofa, ia tidak sengaja menyenggol sebuah kotak kecil di atas rak buku. Kotak itu jatuh dan isinya terpental keluar.

​Sebuah foto kecil dari dompet Arkan yang terjatuh. Foto itu bukan foto keluarga, melainkan foto candid Ziva yang sedang tertidur di kelas jurnalisme—foto yang diambil Arkan secara diam-diam saat ia sedang patroli kelas sebulan lalu, jauh sebelum perjodohan itu ada.

​Gibran memungut foto itu sebelum Arkan sempat bereaksi.

​"Ar..." Gibran menatap foto itu, lalu menatap Arkan dan Ziva bergantian. "Lo... sejak kapan lo punya foto Ziva?"

​Suasana di ruangan itu mendadak lebih dingin daripada suhu di dalam kulkas. Rahasia mereka kini berada di ujung tanduk, bukan karena status pernikahan, tapi karena perasaan tersembunyi yang bahkan Arkan sendiri belum berani mengakuinya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!