NovelToon NovelToon
GOMA: THE REBORN

GOMA: THE REBORN

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Sistem / Action
Popularitas:426
Nilai: 5
Nama Author: By Magus

Mati di puncak gunung Goma justru terbangun di dasar neraka sebagai tengkorak rapuh tanpa daging. Demi kembali ke panti asuhan tempat ia dibesarkan Goma mulai membantai iblis dan memangsa tubuh mereka. Setiap nyawa yang ia telan menumbuhkan otot serta kulit baru di atas tulangnya. Ini bukan hanya tentang bertahan hidup namun tentang pendakian berdarah dari dasar jurang menuju singgasana para dewa yang telah menghina takdirnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By Magus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jalur Sunyi Dibalik Akar Tulang

Episode 33

Langkah kakiku terus berayun dengan ritme yang sangat stabil menyapu permukaan tanah yang kini mulai kehilangan lapisan kristal ungunya. Setiap sentuhan telapak kakiku pada pasir abu abu yang kembali mendingin menghasilkan suara desis halus seolah olah tanah ini sedang berbisik kepadaku tentang rahasia lama yang terkubur di bawahnya. Aku merasakan bagaimana otot otot betis dan pahaku bekerja secara harmonis menyerap setiap guncangan dari medan yang tidak rata ini. Jantung esensi ku yang kini berada dalam kondisi prima terus memompa aliran energi yang sangat bersih ke seluruh penjuru tubuhku memastikan bahwa suhu kulit metalik ku tetap terjaga meskipun udara di sekitarku terasa semakin menusuk syaraf.

Dug... dug... dug...

Aku menarik napas panjang melalui paru paru semu ku merasakan aroma sumsum purba yang mulai menguap dari celah celah tanah yang retak. Sebagai seorang pendaki aku sudah terbiasa untuk mengenali perubahan tekstur udara yang menandakan adanya sebuah gua atau lubang besar di dekatku. Udara di depan sana terasa sedikit lebih lembap serta memiliki aliran tekanan yang berbeda menunjukkan adanya sebuah ruang kosong yang sangat luas di bawah permukaan tanah Gehenna ini. Aku meraba kantong senjata di paha kananku memastikan sepuluh duri kalsium yang tadi kuambil masih tersusun rapi serta tidak menghambat gerak kakiku saat aku harus berlari cepat nanti.

"Goma kita sudah sangat dekat dengan koordinat yang diberikan oleh sistem tadi. Lihatlah ke arah tumpukan akar tulang raksasa yang melilit di depan sana. Itu adalah Akar Kematian yang menjaga pintu masuk ke labirin bawah tanah," bisik Kharis yang kini melayang rendah dengan posisi sangat dekat di telingaku agar suaranya tidak terbawa oleh sisa angin badai.

Aku menghentikan langkahku sejenak kemudian memfokuskan pandangan mataku yang kuning keemasan. Eyes of the Abyss mulai melakukan pemindaian visual secara otomatis menembus kabut tipis yang menyelimuti area tersebut. Di depanku berdiri sebuah struktur organik yang sangat luar biasa besar menyerupai akar pohon raksasa namun terbuat dari material tulang yang dipenuhi oleh urat urat syaraf yang masih berdenyut dengan warna merah redup. Akar akar itu saling melilit membentuk sebuah dinding melingkar yang tingginya mencapai tiga puluh meter.

[ SISTEM: TUJUAN TERDETEKSI: PINTU MASUK LABIRIN SUMSUM ]

[ SISTEM: STATUS KEAMANAN: TERKUNCI OLEH SEGEL ORGANIK ]

[ SISTEM: ANALISIS: AKAR TERSEBUT MEMILIKI KEMAMPUAN MENJERAT MAHLUK DENGAN ENERGI JIWA TINGGI ]

[ SISTEM: REKOMENDASI: GUNAKAN KEMAMPUAN SHADOW VEIL UNTUK MENYAMARKAN KEBERADAAN JIWA ]

Segel organik. Jadi tempat ini bukan hanya sekadar lubang di tanah namun ia adalah mahluk hidup yang berfungsi sebagai gerbang pelindung. Jika aku mendekat dengan kondisi energi jantung yang meluap seperti ini maka akar akar itu akan langsung melilit ku hingga hancur.

Aku melepaskan sedikit ketegangan pada otot ototku mencoba untuk merilekskan seluruh sistem syaraf perasa ku. Aku memerintahkan jantung esensi ku untuk menurunkan frekuensi detaknya hingga ke titik minimal. Aku merasakan bagaimana aliran darah hitamku melambat menciptakan rasa dingin yang menjalar dari ujung jari tangan hingga ke ujung jari kakiku. Ini adalah teknik meditasi pendaki yang biasa ku gunakan untuk menghemat energi saat terjebak di tengah badai salju.

"Kharis tetaplah diam di dalam sakuku. Jangan mengeluarkan energi sedikit pun atau kau akan memancing akar itu untuk bergerak," perintahku melalui transmisi pikiran yang sangat lemah.

Aku mengaktifkan kemampuan Shadow Veil secara perlahan lahan. Tubuhku yang tadinya terlihat memiliki kilauan metalik kini mulai memudar menjadi bayangan transparan yang kelabu. Aku merasa seolah olah berat tubuhku menghilang digantikan oleh sensasi melayang yang aneh. Aku mulai melangkah mendekati celah kecil di antara lilitan akar tulang tersebut.

Satu langkah... dua langkah... tetap fokus Goma...

Setiap kali telapak kakiku menyentuh tanah aku memastikan bahwa tekanan yang kuberikan sangat halus agar tidak menimbulkan getaran frekuensi yang bisa dideteksi oleh urat syaraf akar tersebut. Aku bisa melihat bagaimana urat merah pada akar akar itu bergerak gerak kecil seolah olah mereka sedang mengendus keberadaan mahluk hidup di sekitarnya. Aku merayap di antara celah celah tulang yang sempit menggunakan teknik daki tebing horizontal guna menghindari kontak langsung dengan bagian akar yang paling sensitif.

[ SISTEM: KONSUMSI ENERGI SHADOW VEIL: 1 PERSEN PER LIMA DETIK ]

[ SISTEM: JARAK KE TITIK MASUK: 5 METER ]

[ SISTEM: PERINGATAN: TERDETEKSI PENURUNAN STABILITAS JIWA AKIBAT TEKANAN SEGEL ]

Aku merasakan kepalaku sedikit pening seolah olah ada ribuan suara bisikan yang mencoba masuk ke dalam pusat kesadaranku. Ini adalah efek samping dari mendekati segel organik yang memiliki kesadaran kolektif dari jiwa jiwa yang pernah tertangkap olehnya. Aku menggertakkan gigi bawahku mencoba untuk tetap fokus pada satu titik lubang gelap yang ada di tengah tengah dinding akar tersebut.

Jangan dengarkan mereka Goma. Ingat wajah Ibu Widya. Ingat rumahmu. Kau adalah seorang pendaki serta tidak ada gunung yang bisa menghentikan langkahmu.

Aku mencapai bibir lubang tersebut. Lubang itu diameternya hanya sekitar satu meter dengan dinding yang dilapisi oleh cairan sumsum yang sangat licin. Bau amis dan busuk yang keluar dari dalam sana sangat luar biasa kuat hingga sempat membuatku ingin muntah. Namun aku segera menahannya dengan mengunci otot kerongkonganku. Aku meluncurkan tubuhku masuk ke dalam kegelapan lubang tersebut dengan posisi kepala terlebih dahulu layaknya seorang penyelam.

Sret!

Aku meluncur di dalam terowongan yang meliuk liuk tersebut selama beberapa detik. Dinding terowongan ini terasa kenyal serta sesekali berdenyut memberikan dorongan tambahan bagi pergerakanku. Akhirnya aku mendarat di sebuah ruangan bawah tanah yang sangat luas yang lantainya terdiri dari tumpukan tulang belulang yang sudah hancur menjadi debu putih yang halus.

[ SISTEM: ANDA TELAH MEMASUKI: JALUR BAWAH TANAH HUTAN RUSUK ]

[ SISTEM: STATUS LINGKUNGAN: OKSIGEN ESENSI RENDAH SUHU STABIL ]

[ SISTEM: PENGLIHATAN JARAK JAUH TERBATAS OLEH KABUT SUMSUM ]

Aku berdiri perlahan lahan kemudian menonaktifkan kemampuan Shadow Veil. Tubuhku kembali menjadi nyata serta aku bisa merasakan berat badanku kembali menapak di atas debu tulang. Aku menyeka cairan lengket yang menempel di wajahku menggunakan lengan jubah pelayanku yang kini sudah benar benar kotor. Aku melihat ke sekeliling menggunakan Eyes of the Abyss.

Ruangan ini sepertinya adalah sebuah persimpangan besar dari berbagai macam jalur terowongan yang membentang ke segala arah. Di langit langit ruangan terdapat kristal kristal kecil yang memancarkan cahaya biru redup memberikan suasana yang sangat tenang namun penuh dengan misteri. Aku bisa merasakan getaran energi yang jauh lebih stabil di sini dibandingkan dengan di permukaan tanah tadi.

"Kita berhasil masuk Goma. Tempat ini adalah Jalur Sutra Neraka. Dahulu kala mahluk mahluk pedagang esensi menggunakan jalur ini untuk menghindari pajak dari para bangsawan kota," ucap Kharis yang kini keluar dari jubahku dengan wajah yang tampak sangat bersemangat melihat cahaya kristal biru di atas.

"Jika ini adalah jalur pedagang maka seharusnya ada petunjuk arah atau peta yang tertinggal di sini bukan," tanyaku sambil mulai berjalan menelusuri dinding ruangan.

Aku menemukan sebuah ukiran kuno pada salah satu pilar tulang yang menopang atap ruangan. Ukiran itu menunjukkan gambar empat arah utama dengan simbol simbol yang mewakili setiap wilayah di Gehenna. Aku memfokuskan pandanganku pada simbol bergambar api yang berada di arah paling selatan.

[ SISTEM: MENERJEMAHKAN SIMBOL NAVIGASI KUNO ]

[ SISTEM: SIMBOL API: LEMBAH API ABADI ]

[ SISTEM: ESTIMASI JARAK MELALUI JALUR BAWAH TANAH: 15 KILOMETER ]

[ SISTEM: KONDISI JALUR: TERDETEKSI ADANYA SUMBATAN ENERGI PADA SEKTOR TENGAH ]

Lima belas kilometer. Di dalam terowongan yang sempit seperti ini perjalanan itu akan memakan waktu yang cukup lama. Namun ini jauh lebih aman daripada harus berhadapan dengan pasukan Lord Valos di atas sana.

Aku mulai melangkah masuk ke salah satu terowongan yang menuju ke arah selatan. Setiap langkah yang kuambil kini diiringi oleh suara gema yang memantul di dinding dinding terowongan yang sempit. Aku merasakan ketenangan yang aneh menyelimuti jiwaku. Di tempat yang sepi seperti ini aku bisa lebih fokus mendengarkan detak jantung esensi ku serta memantau proses deskripsi peta dimensi yang masih berjalan di latar belakang pikiranku.

Ibu Widya penantianmu akan segera berakhir. Aku sudah berada di bawah tanah serta aku sedang berlari menuju arah cahaya yang akan membawaku pulang. Tidak ada yang bisa menghentikan seorang pendaki yang sudah melihat puncak tujuannya.

Aku mempercepat langkahku menjadi lari kecil yang teratur. Aku tidak ingin membuang waktu lebih lama lagi. Rasa haus akan kebebasan serta api dendam di dalam jiwaku menjadi bahan bakar utama yang tidak akan pernah habis. Goma sang pendaki kini telah memasuki labirin sumsum serta ia siap untuk menghadapi apa pun yang bersembunyi di balik kegelapan jalur bawah tanah ini.

Perjalananku menuju selatan terus berlanjut di bawah tanah Gehenna yang dingin serta sunyi. Aku adalah bayangan yang bergerak di antara tulang tulang sejarah serta aku akan menuliskan sejarahku sendiri dengan darah musuh musuhku yang berani menghalangi jalanku.

1
diy
hadir thor🤭
diy
tetap semangat 💪
M Agus Salim: siap💪
total 1 replies
diy
hmmm menarik☕
M Agus Salim: terima kasih sudah mampir untuk membaca karya novelku 🙏
total 1 replies
diy
semakin menarik ☕
M Agus Salim: terima kasih sudah mampir untuk membaca karya novelku 🙏
total 1 replies
diy
dibanyakin dong bab nya hehe 🤭
diy
semangat author💪
M Agus Salim: selalu 💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!