NovelToon NovelToon
NEW SAGA WARISAN PRIMORDIAL

NEW SAGA WARISAN PRIMORDIAL

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Anak Genius
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Abai Shaden

Ribuan tahun setelah Kaisar Primordial Wang Tian menghilang ke dalam keheningan dimensi untuk menjaga keseimbangan alam, silsilah darahnya telah bercabang menjadi klan-klan besar yang menguasai berbagai penjuru dunia.

​Istri pertama, Lin Xuelan, melahirkan garis keturunan Penjaga Samudra. Istri ketiga, Mora, melahirkan klan Bayangan Langit. Istri keempat, Lin Xia (setelah menjadi manusia sepenuhnya), melahirkan garis Pedang Dewa. Namun, cerita kita kali ini bermula dari garis keturunan istri kedua, Sui Ren, Sang Permaisuri Angin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abai Shaden, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13: Mandi Darah di Kaki Puncak Pembuangan

Langit di atas Puncak Pembuangan yang biasanya kelam kini memerah, bukan karena cahaya matahari, melainkan karena refleksi dari ribuan jubah perang **Klan Wang-Sui** dan **Klan Wang-Xuelan** yang telah mengepung seluruh area kaki gunung. Bunyi genderang perang dari kulit naga bergema, menciptakan getaran yang mengganggu frekuensi udara.

Di tengah kepungan tersebut, **Wang Jian** berdiri tegak. Di belakangnya, **Lin Meiling** menggenggam erat tas alkimianya, wajahnya pucat namun tatapannya tak gentar. Jian menatap ke arah kerumunan di depannya—lebih dari seribu kultivator, mulai dari prajurit elit Ranah Pembersihan Tubuh hingga sepuluh penatua yang telah mencapai **Ranah Kristalisasi Inti**.

"Wang Jian! Kau telah mencuri warisan terlarang dan bersekutu dengan naga-naga buangan! Hukumannya adalah kematian tanpa liang lahat!" suara **Penatua Wang Ruo-shan** menggelegar, jubah biru tuanya berkibar tertiup angin es yang ia ciptakan sendiri.

Wang Jian meludah ke samping, darah yang tersisa dari latihan intensifnya masih terasa pahit. "Hukuman? Kalian yang membuang warisan ini ke tempat sampah, dan sekarang saat aku mengambilnya kembali, kalian menyebutnya pencurian? Munafik!"

### **Badai yang Meledak: Awal dari Pembantaian**

Tanpa peringatan, Wang Jian menghentakkan kakinya. Tanah logam di bawahnya retak seketika saat ia menggunakan **Putaran 4: Kompresi Atmosfer**. Ia melesat seperti meteor hitam menuju barisan depan pasukan.

*BOOOMM!*

Benturan pertama menciptakan gelombang kejut yang menerbangkan selusin prajurit terdepan. Tombak hitam di tangan Jian berputar seperti baling-baling maut, diselimuti oleh kombinasi petir biru dan api hitam yang ia serap dari puncak. Setiap tebasan tidak hanya memotong daging, tapi meledakkan energi internal lawan dari dalam melalui manipulasi tekanan udara.

"Serang serentak! Jangan biarkan dia membangun momentum!" teriak **Wang Feng**. Pemuda jenius itu melesat maju, pedang esnya memancarkan hawa dingin yang mampu membekukan darah.

Wang Jian menyeringai dingin. Saat sepuluh pedang hampir menyentuh tubuhnya secara bersamaan, ia mengaktifkan **Putaran 5: Tubuh Tanpa Bentuk**. Serangan-serangan itu seolah-olah melewati tubuh Jian tanpa mengenai sasaran, seakan-akan tubuhnya telah berubah menjadi udara tipis.

*SLASH!*

Jian membalas dengan satu putaran horizontal. Lima kepala melayang di udara sebelum tubuh mereka sempat menyadari bahwa mereka telah mati. Darah menyemprot, membasahi wajah Jian yang kini tampak seperti iblis dari neraka.

### **Pengepungan Seribu Pedang**

Namun, jumlah lawan terlalu banyak. Para penatua mulai menggunakan **Formasi Penekan Langit**. Sembilan pilar cahaya es turun dari langit, mengunci ruang di sekitar Jian dan Meiling. Gravitasi di area tersebut mendadak melonjak hingga seratus kali lipat.

"Uhukk!" Meiling terjatuh, tulang-tulangnya mulai berderit di bawah tekanan formasi tersebut.

Jian menggertakkan gigi hingga berdarah. Ia harus melindungi Meiling. Ia menarik seluruh energi dari **Inti Primordial Ganda**-nya, memaksa tubuhnya berdiri tegak melawan hukum alam.

"Kalian ingin bermain dengan tekanan?!" raung Jian. Ia melepaskan teknik **Pelahap Badai**. Segala serangan *Qi* es yang ditembakkan ke arahnya bukannya meledak, malah terserap ke dalam pusaran vakum yang ia ciptakan di telapak tangannya.

"Balikkan... seratus kali lipat!"

Jian melepaskan kembali energi yang ia serap dalam bentuk ledakan radial. *KRAAAAK!* Formasi Penekan Langit retak berkeping-keping. Ledakan itu membunuh ratusan prajurit seketika, namun itu juga menguras hampir setengah dari cadangan energinya.

### **Momen Kritis: Pertempuran Berdarah**

Melihat formasinya hancur, Penatua Ruo-shan kehilangan kesabaran. Ia melesat secara pribadi, telapak tangannya memancarkan cahaya biru pekat—**Teknik Telapak Penghancur Jiwa**.

Jian mencoba menangkis, namun ia sudah terlalu lelah. Di saat yang sama, Wang Feng menusukkan pedang esnya dari arah belakang.

*JLEB!*

Pedang es Wang Feng menembus bahu kanan Jian, sementara telapak tangan Ruo-shan menghantam dada kirinya.

Suara tulang patah terdengar sangat nyaring. Wang Jian terlempar ratusan meter, menghantam dinding batu Puncak Pembuangan. Ia memuntahkan gumpalan darah yang sangat besar. Dadanya amblas, dan lengan kanannya lunglai tak berdaya.

"JIANNN!" Meiling menjerit. Ia melemparkan puluhan **Bom Alkimia Asap Beracun** untuk menghalangi pandangan musuh, lalu berlari menuju tubuh Jian yang bersimbah darah.

Jian mencoba bangkit, namun pandangannya kabur. Seluruh dunia terasa berputar. Salah satu matanya tertutup oleh darah yang mengalir dari dahi. Tulang-tulang yang selama ini ia banggakan kini retak di ratusan titik. Ini adalah luka paling parah yang pernah ia alami—hampir mati.

"Jangan... jangan menyerah..." bisik Meiling sambil menyumbatkan **Pil Penjaga Jantung** yang paling berharga ke mulut Jian. "Kita harus pergi dari sini!"

### **Pelarian Maut ke Dalam Kabut**

Para penatua tidak memberikan mereka waktu. Mereka mulai menghujani area asap dengan serangan jarak jauh.

"Bocah itu sudah sekarat! Jangan biarkan dia lolos!" teriak Ruo-shan yang juga menderita luka dalam akibat ledakan tadi.

Dalam kondisi antara hidup dan mati, insting bertahan hidup Wang Jian mencapai puncaknya. Ia menggunakan sisa-sisa energi terakhirnya untuk memicu ledakan petir statis di kakinya. Dengan gerakan putus asa, ia memeluk Meiling dan melompat ke arah jurang yang diselimuti oleh **Kabut Arwah Terlupakan** di sisi lain puncak.

"Mereka melompat ke Jurang Arwah! Mereka pasti mati!" teriak salah satu prajurit.

Wang Feng menatap ke dalam jurang yang gelap dan dipenuhi gas beracun itu dengan tatapan benci. "Tidak ada yang bisa bertahan hidup di sana. Meskipun ia memiliki sembilan nyawa, luka dari Penatua Ruo-shan akan menghancurkan organ dalamnya dalam satu jam."

Para pasukan klan tetap mengepung area tersebut selama tiga hari, namun tidak ada tanda-tanda kehidupan yang keluar dari jurang tersebut. Akhirnya, mereka mundur dengan anggapan bahwa Wang Jian, sang pemberontak, telah tewas bersama warisan terlarang tersebut.

### **Bersembunyi di Dalam Kegelapan**

Jauh di dasar jurang, di dalam sebuah ceruk gua yang lembap dan tersembunyi di balik tumpukan tulang naga purba, Wang Jian tergeletak tak sadarkan diri. Tubuhnya dingin, denyut nadinya sangat lemah, hampir tidak terdeteksi.

Lin Meiling bekerja dengan tangan gemetar. Ia menggunakan cahaya kecil dari kristal bercahaya untuk melihat luka-luka Jian. Pemandangannya mengerikan: bahu Jian berlubang, tulang dadanya hancur hingga hampir menusuk jantung, dan meridiannya dalam keadaan kacau balau karena serangan es yang membekukan aliran *Qi*-nya.

"Kau tidak boleh mati... kau berjanji akan menaklukkan langit denganku..." Meiling terisak pelan sambil menjahit luka-luka besar di tubuh Jian menggunakan benang sutra naga yang ia simpan.

Selama tujuh hari pertama, Jian berada dalam kondisi koma. Meiling tidak tidur, ia terus-menerus meracik ramuan dari sisa-sisa bahan yang ia miliki dan akar-akar aneh yang ia temukan di dasar jurang. Ia bahkan terpaksa menggunakan darahnya sendiri yang telah tercampur dengan esensi obat untuk membantu menstabilkan suhu tubuh Jian yang terus menurun.

### **Koma dan Pemulihan yang Menyakitkan**

Di dalam kegelapan batinnya, Wang Jian merasa seperti tenggelam di samudra hitam yang tak berujung. Setiap kali ia mencoba bergerak, rasa sakit yang membakar jiwanya menariknya kembali ke bawah.

Namun, di tengah kegelapan itu, teknik **Sembilan Putaran Angin** tahap kedua yang baru ia pelajari mulai bereaksi secara otomatis. Tubuhnya yang dalam kondisi "Mati Suri" secara tidak sadar mulai menerapkan **Putaran 6: Pelahap Badai**—bukan untuk menyerang, melainkan untuk melahap energi alam yang ada di sekitarnya guna memperbaiki diri.

Dasar jurang ini ternyata dipenuhi oleh **Energi Yin** yang sangat pekat. Energi ini biasanya beracun, namun bagi Jian yang memiliki **Inti Primordial Ganda**, energi ini justru menjadi bahan bakar untuk rekonstruksi.

Pada hari kesepuluh, mata Jian terbuka sedikit. Hal pertama yang ia lihat adalah wajah Meiling yang tampak sangat kurus dan lelah, tertidur sambil memegang botol obat di sampingnya.

Jian mencoba mengeluarkan suara, namun hanya erangan lemah yang keluar. Ia merasa tubuhnya seperti terbuat dari kaca yang pecah dan disatukan kembali secara kasar. Namun, ada yang aneh. Ia merasakan getaran di sumsum tulangnya. Luka-lukanya yang sembuh kini meninggalkan bekas garis perak-hitam—tanda bahwa tulangnya telah menyatu dengan energi api hitam dan gas beracun jurang.

"Mei... ling..." bisiknya sangat parau.

Meiling tersentak bangun, air mata langsung mengalir di pipinya saat melihat Jian sadar. "Jian! Jangan bergerak! Tulang dadamu baru saja mulai menyatu!"

Wang Jian memejamkan mata kembali, merasakan kehangatan dari tangan Meiling. Ia tahu ia belum bisa kembali bertarung. Ia butuh waktu berbulan-bulan untuk memulihkan kekuatannya.

"Mereka... mereka akan membayar ini," batin Jian dengan tekad yang lebih tajam dari pedang mana pun. "Klan Wang-Sui, Ruo-shan, Wang Feng... saat aku keluar dari kegelapan ini, aku bukan lagi sekadar angin. Aku akan menjadi badai yang akan menghapus nama kalian dari sejarah."

### **Keadaan Wang Jian di Akhir Bab 13:**

* **Kondisi Fisik:** Luka Parah (Dalam masa pemulihan kritis).

* **Ranah:** Terkunci sementara (Karena meridian rusak).

* **Lokasi:** Dasar Jurang Arwah (Bersembunyi).

* **Status Mental:** Dendam yang mendalam dan tekad yang meluap.

1
evelyn Syaquita
new saga
adalah bacaan wajib bagi penggemar genre kultivasi yang mencari cerita dengan kedalaman emosional dan aksi yang memukau. Meskipun memiliki beberapa kiasan (tropes) klasik genre Xianxia, eksekusinya tetap terasa segar dan membuat ketagihan.
evelyn Syaquita
Tahapan dari Qi Condensation hingga [Tahap Tertinggi] dijelaskan dengan detail yang memuaskan, membuat pembaca ikut merasakan jerih payah sang protagonis dalam bermeditasi dan menerjang kesengsaraan langit (Heavenly Tribulation).😍😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!