Catherina Lawrence (24 tahun) mengira pernikahannya dengan Adrian Mettond, senior di kampusnya dulu, adalah pelabuhan tenang setelah badai masa lalu yang kelam. Namun, belum genap satu tahun berjalan, kenyataan pahit menghantamnya. Adrian ternyata tidak siap menjadi ayah bagi putra mereka, Liam, dan sang ibu mertua terus memperlakukannya layaknya orang asing yang tak diinginkan.
Di tengah dinginnya sikap Adrian, Catherina dihantui oleh bayang-bayang Everest Cavanaught—mantan kekasih sekaligus "pangeran berandalan" dari masa Lalunya. Hubungan Empat tahun itu berakhir karena keegoisan Catherina, meninggalkan luka yang belum sembuh. Ironisnya, semakin Liam tumbuh, wajah sang bayi justru semakin menyerupai Everest, bukan Adrian.
Terjebak dalam rumah tangga yang hampa dan penuh tuntutan, Catherina mulai mempertanyakan segalanya.
Apakah Adrian benar-benar mencintainya?
.
.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#20
Mansion keluarga Cavanaugh berdiri tegak dengan kemegahan yang mengintimidasi siapa pun yang melintasi gerbang besinya. Bagi Catherina, setiap langkah yang ia ambil di atas lantai marmer Italia ini terasa seperti berjalan di atas hamparan duri. Ia, yang biasanya tenang dan cakap saat berkomunikasi dengan kolega bisnis Adrian Mettond, kini mendadak kelu. Lidahnya seolah membeku, dan jemarinya meremas kain gaunnya dengan cemas.
Di hadapannya, berdiri Tuan Cavanaugh—sang kaisar bisnis yang namanya digetarkan oleh bursa saham dunia. Pria itu berdiri dengan tangan di belakang punggung, menatap Catherina dengan tatapan yang sangat tajam, seolah sedang membedah isi kepala dan kejujuran di hati wanita itu.
"Dad, jangan lihat istriku seperti itu. Kau membuatnya takut," suara bariton Everest memecah ketegangan. Ia melangkah maju, merangkul pinggang Catherina dengan protektif, memberikan kehangatan yang sangat dibutuhkan wanita itu.
Istri?
Catherina tersentak kecil mendengar kata itu. Ia menatap siluet profil Everest dari samping—rahang yang kokoh, tatapan yang penuh keyakinan, dan cara pria itu menggenggamnya seolah ia adalah harta yang paling berharga.
Bagaimana mungkin aku bisa begitu jahat padamu dulu, Everest? Bagaimana bisa aku meninggalkan ketulusan ini demi sebuah obat yang salah? batinnya perih.
Keheningan yang mencekam itu tidak berlangsung lama.
"Oh, ya ampun! Berikan bayi itu pada Mommy!" seru Nyonya Cavanaugh tiba-kira, memecah suasana kaku dengan antusiasme yang meledak-ledak.
"Tidak, Mom! Aku duluan yang ingin menggendong keponakanku!" Stefhanie ikut berlari kecil, mengabaikan tata krama elegan yang biasanya ia tunjukkan.
Catherina terpana. Drama keluarga yang ada di bayangannya—dimana ia akan dilempar dengan cek atau diusir dengan makian—sama sekali tidak terjadi. Nyonya Cavanaugh dan Stefhanie kini justru berebut untuk menatap wajah Liam yang terlelap dalam gendongan Catherina.
"Lihat hidungnya! Ini benar-benar hidung Everest saat bayi," gumam Nyonya Cavanaugh dengan mata berkaca-kaca. "Selamat datang di rumah, Sayang."
Meski suasana mulai mencair, Catherina tetap tidak bisa melepaskan pandangannya dari Tuan Cavanaugh. Pria itu masih diam, wajahnya sedingin es, sangat mirip dengan wajah Everest saat sedang berada di puncak kemarahannya. Catherina merasa diadili oleh kehadiran pria itu.
Namun, Everest membisikkan sesuatu di telinganya. "Jangan takut pada Daddy. Dia memang memiliki wajah sedingin kutub, tapi hatinya jauh lebih hangat dari yang kau bayangkan. Dia hanya sedang berusaha terlihat berwibawa di depan menantu cantiknya."
Tuan Cavanaught berdehem keras, membuat seisi ruangan kembali sunyi. Ia melangkah mendekat, berdiri tepat di depan Everest dan Catherina.
"Pastikan pernikahan putraku, Everest Cavanaugh, berjalan lancar besok," titahnya dengan suara berat yang memenuhi ruangan. "Aku tidak ingin ada kesalahan sekecil apa pun."
Catherina membelalakkan mata. Besok?
"Dan pastikan undangan kita sampai pada semua relasi dan kolega bisnis kita," lanjut Tuan Cavanaugh tanpa memberi ruang untuk interupsi. "Dan jangan lupakan... siapkan undangan mewah khusus untuk keluarga Mettond. Kita harus berterima kasih karena mereka sudah 'menampung' menantu dan cucu kita selama ini. Biarkan mereka tahu siapa pemilik asli dari apa yang mereka buang."
"Sampaikan pada media," Tuan Cavanaugh menatap lurus ke arah Everest dengan senyum tipis yang sarat akan kemenangan. "Bahwa pewaris tunggal keluarga Cavanaugh, Liam Cavanaugh, hari ini resmi diperkenalkan kepada dunia. Usianya satu bulan."
Titah itu mutlak. Sebuah proklamasi perang sekaligus pengakuan kedaulatan bagi Liam. Tuan Cavanaugh tidak hanya menerima Liam; ia sedang memasang perisai baja di sekeliling bayi itu, memastikan tidak ada lagi yang berani menyebutnya 'anak haram'.
Everest tersenyum lebar, ia menoleh ke arah Catherina yang masih tampak linglung. "Kenapa tidak dari lama kau datang ke mansion ini, Cathe? Jika kau jujur sedari awal, mungkin saja sekarang kakaknya Liam sudah berlarian kesana kemari di mansion ini," goda Everest dengan nada yang menyembunyikan rasa sesal di dalamnya.
Catherina menunduk, air matanya jatuh tanpa bisa dibendung lagi. Rasa bersalah itu menghimpit dadanya. "Aku yang salah, Everest. Aku yang jahat karena meragukanmu dan melarikan diri ke pelukan pria lain. Maafkan aku... maafkan aku karena telah membuatmu melewati tahun-tahun yang menyakitkan."
Everest menarik Catherina ke dalam pelukannya, mencium puncak kepalanya dengan penuh perasaan. "Maafkan aku juga, Cathe. Maaf karena aku terlalu pengecut untuk mengejarmu. Maaf karena membiarkanmu menghadapi neraka sendirian."
Di tengah kemegahan mansion Cavanaugh, di bawah pengawasan sang Kaisar yang ternyata sangat menyayangi cucunya, Catherina menyadari bahwa badai benar-benar telah berlalu. Besok, ia tidak akan lagi dikenal sebagai janda Mettond yang terhina. Besok, ia akan berdiri di samping pria yang seharusnya tidak pernah ia tinggalkan, membawa Liam menuju masa depan yang telah dipersiapkan dengan cinta dan kekuasaan mutlak keluarga Cavanaugh.
"Terima kasih, Everest," bisiknya di dada pria itu.
"Jangan berterima kasih sekarang, Sayang. Simpan tenagamu untuk pernikahan megah kita besok," Everest berbisik nakal, membuat Catherina tersenyum di balik tangisnya.
Malam itu, di bawah atap kediaman Cavanaugh, Liam tidak hanya mendapatkan sebuah nama belakang yang agung, tapi ia mendapatkan sebuah keluarga yang siap membakar dunia demi melindunginya. Dan bagi Adrian Mettond, undangan yang akan sampai ke tangannya besok pagi akan menjadi tamparan paling keras yang pernah ia terima seumur hidupnya.
...****************...
Catherina berbaring di atas ranjang king size yang dilapisi sprei sutra murni di salah satu kamar termewah di mansion Cavanaugh. Namun, matanya tetap terjaga, menatap langit-langit kamar yang dihiasi ukiran gypsum bernilai seni tinggi. Pikirannya benar-benar kacau.
Bagaimana mungkin keluarga ini berfungsi dengan kecepatan seperti itu? Catherina teringat saat pernikahannya dengan Adrian dulu. Persiapan membutuhkan waktu satu bulan penuh, mulai dari pemilihan katering, daftar tamu, hingga fitting gaun yang berkali-kali. Namun keluarga Cavanaugh? Mereka seperti pesulap. Hanya dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam setelah titah Tuan Cavanaugh keluar, segala sesuatu untuk pernikahan megah besok sudah hampir rampung.
Everest benar-benar memegang kendali atas segalanya. Dari desainer kelas dunia yang dikirim langsung ke kamar ini untuk mengukur tubuhnya, hingga koki bintang lima yang sudah sibuk di dapur bawah.
Tiba-tiba, pintu kamar terbuka perlahan. Siluet Everest muncul dengan Liam yang tertidur dengan sangat tenang di gendongannya. Everest tidak memakai jasnya, hanya kemeja hitam dengan dua kancing teratas terbuka, memberikan kesan santai namun tetap berbahaya bagi jantung Catherina.
"Kenapa belum tidur, Cathe?" suara berat Everest memecah kesunyian malam.
Everest melangkah mendekat, lalu duduk di tepi ranjang. Ia menatap Catherina dengan tatapan yang sangat dalam, sementara tangannya tetap stabil menyangga tubuh kecil Liam.
"Aku... aku hanya gugup, Everest. Semuanya terasa begitu cepat. Apa ini nyata?" bisik Catherina.
"Ini nyata, dan ini sudah seharusnya terjadi sejak lama," Everest mengulurkan satu tangannya yang bebas untuk mengusap pipi Catherina. "Tidurlah. Jangan sampai matamu menghitam karena begadang. Aku ingin kau menjadi pengantin yang paling bercahaya besok pagi."
Catherina tersenyum tipis, merasakan kehangatan jemari Everest. "Aku tidak tahu apakah penata rias bisa menutupi kecemasanku."
Everest terkekeh rendah, suara tawanya terdengar sangat seksi di tengah malam yang sunyi. "Aku juga tidak mau penata riasmu besok menuduhku yang bukan-bukan. Aku tidak mau dia mengira aku tidak membiarkanmu tidur karena kita menghabiskan malam yang panjang untuk 'merayakan' kembalinya kita."
Mata Catherina membelalak, ia segera menarik selimut hingga menutupi separuh wajahnya yang mendadak panas. "Everest! Kau benar-benar mesum!"
Everest tidak membantah, ia justru mendekatkan wajahnya ke arah Catherina, mencium keningnya dengan penuh penekanan, lalu membisikkan sesuatu yang membuat Catherina hampir kehilangan napas.
"Aku mesum hanya padamu, Sayang. Selamanya hanya padamu. Jadi sekarang, tutup matamu, atau aku benar-benar akan membuktikan ucapan penata riasmu besok."
Catherina segera memejamkan matanya rapat-rapat, jantungnya berdegup kencang. Ia mendengar Everest beranjak menuju boks bayi di sudut kamar untuk meletakkan Liam, lalu ia merasakan sisi ranjang di sebelahnya sedikit melesak saat Everest memutuskan untuk ikut berbaring di sana, menjaganya hingga fajar tiba.
Di balik kelopak matanya yang terpejam, Catherina tahu bahwa esok bukan sekadar pernikahan, melainkan sebuah penobatan bahwa ia telah kembali ke tempat yang paling aman di dunia ini: pelukan Everest Cavanaugh.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading Dear😍