Matteo Adrian Reins Smith kembali ke Seoul bukan sebagai pecundang, melainkan sebagai pemimpin industri yang ia bangun dari rasa iri dan ambisi untuk melampaui bayang-bayang ayahnya dan keraguan kakaknya. Namun, di balik kemegahan takhtanya, hati Matteo kosong. Ia dihantui memori Manila—tentang Sheena yang tak lain adalah adik iparnya sendiri.
Di sisi lain kota Seoul, Park Chae-young hidup dalam bayang-bayang masa lalu yang traumatis. Lima tahun lalu, sebuah pengkhianatan cinta membawanya ke sebuah bar, dan ia terbangun dengan hidup yang hancur. Ayahnya meninggal karena terkejut, meninggalkan Chae-young hamil di usia muda. Kini, di usia 28 tahun, ia adalah desainer hantu di balik brand ‘Forever-young’ yang viral. Ia membesarkan sepasang anak kembar yang menjadi satu-satunya alasan ia bertahan hidup.
Akankah takdir mempertemukan mereka kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26: Jebakan Realita
Malam di Seongbuk-dong terasa begitu sunyi, hanya menyisakan suara jangkrik dari arah taman luas yang tertutup kabun tipis. Chae-young terbangun karena tenggorokannya terasa kering kerontang. Ia meraih botol air di nakas, namun hanya menemukan tetesan terakhir.
Dengan langkah pelan agar tidak membangunkan si kembar yang tidur pulas di kamar sebelah, ia keluar menuju dapur lantai bawah. Namun, saat melewati koridor menuju tangga, langkahnya terhenti. Pintu kaca menuju balkon lantai dua terbuka sedikit, membiarkan angin malam yang dingin menyusup masuk.
Di sana, membelakangi lampu ruangan, sosok Matteo berdiri tegak.
Pria itu hanya mengenakan kaus hitam polos dan celana rumah, namun bahunya yang lebar tampak begitu kokoh di bawah siraman cahaya bulan. Di tangan kanannya, sebatang cerutu menyala, asapnya mengepul tipis dan tertiup angin ke arah taman. Matteo tampak begitu tenggelam dalam pikirannya, menatap kosong ke arah kegelapan taman bawah seolah sedang menyusun strategi perang yang paling rumit dalam hidupnya.
Chae-young terdiam sejenak. Ada sesuatu dari punggung pria itu yang tampak lelah. Bukan lelah fisik, tapi beban berat yang ia pikul untuk melindungi benteng ini sendirian.
Entah dorongan dari mana, Chae-young tidak jadi turun. Ia melangkah mendekat, suaranya sangat pelan namun terdengar jelas di keheningan malam.
"Kenapa belum tidur? Ini sudah hampir jam dua pagi."
Matteo tidak terkejut. Ia tidak menoleh, seolah sudah tahu kehadiran Chae-young dari aroma vanila dan deterjen lembut yang menguar dari piyama wanita itu. Ia menyesap cerutunya sekali lagi, lalu menghembuskannya perlahan.
"Pikiran terkadang tidak bisa diajak kompromi dengan jam tidur, Chae-young-ah," suara Matteo terdengar serak, lebih berat dari biasanya.
Chae-young berdiri di sampingnya, meski tetap menjaga jarak satu lengan. Ia menatap profil samping wajah Matteo yang diterangi cahaya bulan. Rahangnya yang tegas tampak mengeras.
"Apa karena kejadian di sekolah tadi siang?" tanya Chae-young lembut. "Kepala sekolah menelponku. Katanya kau mengancam akan membeli sekolah itu."
Matteo terkekeh sinis, akhirnya menoleh sedikit ke arah Chae-young. "Itu bukan ancaman. Itu pilihan jika mereka masih membiarkan orang lain seenaknya bicara kotor pada anak-anakku."
Keheningan kembali menyelimuti mereka. Chae-young menatap taman, merasa hatinya sedikit bergetar mendengar Matteo menyebut si kembar sebagai anak-anakku dengan nada begitu protektif.
Tiba-tiba, Matteo mematikan cerutunya di asbak marmer. Ia berbalik sepenuhnya, menghadap Chae-young. Matanya yang ice blue menatap langsung ke dalam manik mata Chae-young, sangat intens hingga Chae-young merasa sulit bernapas.
"Apa tidak sebaiknya kita menikah saja?"
Kalimat itu keluar begitu saja. Tanpa persiapan, tanpa bunga, tanpa latar belakang musik romantis. Hanya ada suara angin malam dan detak jantung Chae-young yang tiba-tiba berpacu gila.
Chae-young membeku. "Matteo, apa kau bercanda?"
"Aku tidak pernah bercanda soal komitmen," Matteo melangkah satu kaki lebih dekat, memperpendek jarak di antara mereka. "Kasihan anak-anak, Chae-young-ah. Mereka butuh status yang legal agar tidak ada lagi mulut kotor yang berani menyebut mereka anak tanpa ayah atau ibu mereka seorang penipu."
"Tapi kita... kita bahkan belum benar-benar memulai hubungan yang normal," bisik Chae-young, tangannya meremas pinggiran balkon.
"Kita bisa memulainya setelah menikah. Aku akan memberimu waktu, aku akan memberimu ruang," Matteo menatapnya dengan tatapan yang sangat jujur, sesuatu yang jarang ia perlihatkan.
"Aku hanya tidak ingin melihat Chae-rin menangis lagi karena dihina, atau melihat Chan-yeol harus main tangan karena ingin melindungi ibunya sendirian. Dan aku butuh kau untuk mengizinkanku.."
Chae-young terdiam. Logikanya berteriak bahwa ini terlalu cepat, bahwa ia masih ragu dengan masa lalu Matteo. Namun, saat membayangkan wajah sembap Chae-rin tadi siang dan bagaimana Chan-yeol harus menahan marah sendirian, hatinya mulai goyah.
"Aku tidak butuh hartamu, Matteo," ucap Chae-young parau.
"Aku tahu. Kau sudah membuktikannya selama lima tahun ini," Matteo meraih tangan Chae-young, memegangnya dengan lembut namun protektif. "Aku hanya menawarkan perlindungan. Dan mungkin, ini kesempatan bagiku untuk belajar menjadi sesuatu yang pantas untukmu."
Malam itu, di balkon yang dingin, Chae-young tidak memberikan jawaban ya secara langsung. Namun, ia juga tidak melepaskan tangan Matteo. Di bawah langit Seoul, kesepakatan tanpa kata mulai terbentuk, membawa keluarga kecil itu selangkah lebih dekat menuju babak baru yang penuh dengan risiko sekaligus harapan.
Seminggu telah berlalu sejak malam di balkon itu, namun Chae-young masih bersikap seolah-olah percakapan itu tidak pernah terjadi. Ia membisu, mengunci rapat jawabannya di balik bibir yang terkatup rapat. Di rumah, ia tetap menyiapkan keperluan anak-anak, namun matanya selalu menghindari tatapan intens Matteo yang seolah terus menagih janji.
Kondisi di luar memang tampak tenang. Berkat gertakan maut Matteo di sekolah tempo hari, tidak ada lagi orang tua murid yang berani berbisik miring. Si kembar pun sudah mulai ceria kembali, berangkat sekolah dengan pengawalan yang ketat namun tidak mencolok.
Namun, Chae-young tetaplah Chae-young. Jiwa pemberontaknya merasa sesak terus-menerus berada di dalam benteng Seongbuk-dong. Ia merasa ngeyel—ia harus membuktikan pada dirinya sendiri bahwa dunianya, butiknya, dan kemandiriannya masih ada.
"Aku hanya pergi sebentar, Song-min bilang ada kain yang harus diperiksa," gumamnya pada dirinya sendiri saat menyelinap keluar pagi itu, memanfaatkan celah waktu saat Matteo sedang ada rapat penting di M-Nexus.
Sepanjang siang di butik Forever-Young, Chae-young merasa semuanya aman-aman saja. Ia menenggelamkan diri dalam tumpukan sutra dan desain terbaru. Tidak ada gangguan, tidak ada kamera. Ia merasa menang. Ia merasa perlindungan Matteo yang berlebihan itu hanya paranoid belaka.
Namun, sore harinya, saat matahari mulai condong ke barat dan Chae-young bersiap untuk pulang, Song-min masuk ke ruangannya dengan wajah pucat pasi.
"Nona... jangan keluar lewat pintu depan," bisik Song-min, tangannya gemetar menunjuk ke arah jendela besar yang tertutup tirai tipis.
Chae-young mengerutkan dahi, ia melangkah menuju jendela dan menyibak sedikit tirainya. Jantungnya seolah berhenti berdetak.
Di depan butiknya, trotoar yang biasanya tenang kini dipenuhi oleh kerumunan orang. Puluhan wartawan dengan kamera berlensa panjang dan mikrofon yang siap menerkam sudah berdiri di sana. Mereka seperti serigala kelaparan yang sedang menunggu mangsa keluar dari sarangnya.
Beruntung, ada dua pria berbadan tegap dengan setelan hitam—keamanan yang dikirim Matteo tanpa sepengetahuan Chae-young—berdiri kokoh di depan pintu kaca, menghalangi siapa pun yang mencoba menerobos masuk. Namun, kilatan lampu flash kamera yang terus menyambar-nyambar membuat suasana terasa sangat mencekam.
"Nona, mereka sudah di sana sejak satu jam lalu. Mereka menunggu Anda memberikan konfirmasi soal Anak Rahasia Smith itu," lapor Song-min panik.
Chae-young menyandarkan punggungnya di tembok. Ia merasa bodoh. Ternyata benar kata Matteo, lalat-lalat itu tidak pergi, mereka hanya bersembunyi menunggu celah. Dan celah itu adalah sifat keras kepalanya hari ini.
Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang sangat ia kenal.
"Taksi cadanganmu tidak akan bisa menembus kerumunan itu, Chae-young-ah. Tunggu di dalam. Aku akan menjemputmu. - M"
Chae-young memejamkan mata. Ia merasa sangat tidak berdaya. Semua logikanya tentang "hidup mandiri" dan "tidak butuh pria" seolah runtuh melihat kenyataan di depan matanya. Tanpa nama Smith, ia hanyalah sasaran empuk bagi dunia yang kejam. Tanpa perlindungan Matteo, masa depan anak-anaknya akan terus dipertanyakan.
Sepuluh menit kemudian, suara deru mesin mobil mewah yang berat terdengar dari luar. Kerumunan wartawan mendadak ricuh. Sebuah SUV hitam lapis baja berhenti tepat di depan pintu butik, membelah kerumunan wartawan seperti pisau membelah mentega.
Pintu terbuka, dan Matteo keluar. Kali ini ia mengenakan jas lengkap, tampak sangat berwibawa dan mengintimidasi. Ia tidak memakai kacamata hitam, ia membiarkan matanya yang tajam menyapu kerumunan wartawan, membuat beberapa dari mereka spontan menurunkan kamera karena takut.
Matteo masuk ke dalam butik. Begitu melihat Chae-young yang berdiri mematung di sudut ruangan, ia tidak marah. Ia justru berjalan mendekat dan melepaskan jasnya, lalu menyampirkannya di bahu Chae-young.
"Sudah puas mengecek suasananya?" tanya Matteo, suaranya rendah namun tidak mengandung nada ejekan. Hanya ada nada protektif yang sangat dalam.
Chae-young hanya menunduk, merapatkan jas Matteo yang terasa hangat di tubuhnya. "Aku... aku tidak menyangka mereka akan sebanyak itu."
"Dunia tidak akan membiarkanmu tenang, kecuali kau punya perisai yang sah," ucap Matteo pelan di telinganya. "Ayo pulang. Anak-anak menunggumu untuk makan malam."
Matteo merangkul bahu Chae-young dengan protektif, membimbingnya keluar menembus hujan kilatan kamera. Wartawan mencoba berteriak melontarkan pertanyaan, namun Matteo hanya diam, wajahnya mengeras seperti batu karang, menjaga Chae-young tetap aman di dalam dekapan lengannya sampai mereka masuk ke dalam mobil.
Di dalam mobil yang kedap suara, suasana mendadak sunyi. Chae-young menatap ke arah luar, ke arah kerumunan wartawan yang masih mengejar mobil mereka. Ia menyadari satu hal: tembok yang ia bangun untuk menolak Matteo kini sudah runtuh total.
"Matteo..." panggil Chae-young pelan, masih menatap jendela.
"Hmm?"
"Soal pertanyaanmu di balkon malam itu..." Chae-young menarik napas panjang, lalu menoleh menatap Matteo yang sedang menatapnya dengan penuh harap. "Mari kita lakukan. Mari kita menikah. Demi anak-anak dan demi ketenanganku."
Matteo tidak bersorak. Ia hanya tersenyum tipis—senyuman yang paling tulus yang pernah Chae-young lihat. Ia meraih tangan Chae-young dan mencium punggung tangannya dengan lembut.
"Terima kasih karena sudah mempercayaimu, Chae-young-ah. Aku berjanji, mulai besok, tidak akan ada satu pun kamera yang berani menyentuh wajahmu lagi."
Chae-young akhirnya menyerah. Bukan karena ia kalah, tapi karena ia sadar bahwa dalam perang ini, ia butuh seorang sekutu yang hebat. Dan pria aneh di sampingnya ini, adalah satu-satunya orang yang siap menghancurkan dunia demi melindunginya.