Arka Danadyaksa adalah direktur korporat yang melihat dunia hanya sebagai angka dan lahan. Namun, langkahnya terhenti di sebuah kedai tua milik Senja, wanita keras kepala yang memilih bertahan demi sebuah warisan rindu.
Berawal dari rencana penggusuran yang kejam, takdir justru menyeduh rasa yang tak terduga di antara mereka. Di tengah intrik kekuasaan, pengkhianatan keluarga, dan runtuhnya sebuah imperium, Arka harus memilih: tetap menjadi raja di menara yang hampa, atau kehilangan segalanya demi menemukan "rumah" di bawah cahaya senja yang abadi.
Pahitnya kejujuran, manisnya pengampunan, dan rindu yang akhirnya menemukan jalan pulang.
Genre: Romantis, Drama, Kehidupan Sehari-hari (Slice of Life.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Bukan Sekadar Makan Malam
Tepat pukul delapan malam, rolling door Kedai Kala Senja kututup rapat. Suara besi berderit itu biasanya memberiku rasa lega setelah seharian bekerja, tapi malam ini, suaranya justru membuat perutku semakin mulas.
Aku berdiri di teras kedai dengan perasaan campur aduk yang tidak keruan. Tanganku yang sedikit berkeringat meremas tali sling bag kecilku.
Setengah jam yang lalu, aku sempat panik membongkar seisi lemari kosan karena tidak tahu harus berdandan seperti apa. Pada akhirnya, karena tidak punya gaun mewah, aku memutuskan untuk tetap menjadi diriku sendiri. Aku mengenakan blouse putih berbahan flowy yang kubeli diskonan bulan lalu, celana jeans biru muda yang pas di badan, dan sepasang sneakers putih kesayanganku yang sudah kucuci bersih tadi pagi. Rambutku yang biasanya kuikat cepol asal-asalan, kini kugerai bebas membingkai wajah, hanya dengan pulasan makeup tipis.
Ini kencan pertamaku sejak bertahun-tahun lalu. Dan pria yang menjemputku adalah seorang direktur properti. Ya Tuhan, Senja, kau pasti kelihatan seperti anak magang yang salah kostum, rutukku dalam hati.
Lamunanku pecah saat sebuah mobil BMW seri terbaru berwarna hitam mengilap merapat dan berhenti tepat di depan kedai. Kaca jendela penumpang perlahan turun dengan suara mesin yang nyaris tak terdengar.
Di balik kemudi, wajah Arka tampak luar biasa menawan diterpa cahaya kekuningan dari lampu jalan. Pria itu menoleh. Tatapannya langsung mengunciku, menyapu pelan dari ujung kepalaku hingga ujung sepatuku.
Ada jeda sesaat yang terasa seperti keabadian. Hening. Arka tidak mengatakan apa-apa, membuat nyaliku mendadak ciut.
"Gue... terlalu santai ya bajunya?" tanyaku kikuk. Aku buru-buru membuka pintu mobil dan duduk di kursi penumpang, membawa serta aroma sabun mandi melati murahan yang mendadak terasa sangat tidak pantas di tengah interior mobil mewah beraroma leather ini. Jujur saja setelah Aku duduk di mobil mewah ini, Aku agak minder dengan pakaian yang kukenakan. Ini"Lo kan direktur, biasanya pasti makan di tempat yang wajib pakai dress atau apalah itu. Kalau menurut stellan gue ga cocok mending gue ganti baju dulu deh."
Arka tertawa pelan. Tawanya terdengar sangat renyah dan dalam, memenuhi kabin mobil yang kedap suara ini.
"Nggak," ucap Arka lembut. Ia mencondongkan tubuhnya sedikit ke arahku, tatapannya melembut. "Lo cantik."
Deg.
Dua kata. Hanya dua kata, diucapkan dengan intonasi kasual, tapi dampaknya sukses meledakkan pabrik kembang api di dalam dadaku. Wajahku pasti sudah merah padam sekarang. Aku buru-buru pura-pura sibuk memasang sabuk pengaman untuk menyembunyikan senyum yang tertahan.
"Kita nggak bakal makan di tempat yang pakai aturan table manner kaku, Senja," lanjut Arka sambil memutar kemudi, membawa mobil membelah jalanan malam Jakarta. "Gue udah muak sama tempat kayak gitu."...
Dan Arka membuktikan ucapannya. Tiga puluh menit kemudian, kami tidak berhenti di depan lobi hotel bintang lima atau restoran fine dining di SCBD. Arka justru memarkirkan BMW-nya di sebuah lahan parkir sempit, lalu mengajakku berjalan kaki menyusuri gang kecil di kawasan Blok M.
Kami tiba di sebuah kedai Izakaya Jepang yang tersembunyi. Tempatnya sangat kecil, sedikit berasap, dan berisik oleh obrolan pengunjung. Namun, aroma daging panggang dan saus teriyaki yang menguar di udara seketika membuat perutku berbunyi. Nuansa kayu hangat dan lentera lampion di sana entah bagaimana mengingatkanku pada kedai milikku sendiri. Tempat ini terasa membumi.
Kami duduk berhadapan di meja bilik kayu yang cukup privat di sudut ruangan.
Setelah pelayan mengantarkan pesanan kami berupa set yakitori, semangkuk besar gyudon, dan dua gelas ocha dingin pemandangan yang selanjutnya kulihat membuatku tertegun.
Arka melepas jam tangan mahalnya, menggulung lengan kemejanya hingga siku, mematahkan sumpit bambu, dan langsung menyuap makanannya dengan sangat lahap. Tidak ada jaim. Tidak ada basa-basi atau etiket makan ala orang kaya. Pria di hadapanku ini terlihat seperti pekerja kantoran biasa yang sedang kelaparan setelah disiksa lembur seharian.
"Gue kira orang tajir melintir kayak lo alergi makan di tempat nyempil dan berasap begini," ledekku spontan sambil mengunyah daging ayam panggang.
Arka mendengus pelan, menelan makanannya sebelum menjawab. "Gue emang lahir di keluarga berada, Nja. Dari kecil difasilitasi. Tapi percayalah, makan malam di rumah gue itu lebih mirip sidang pengadilan paripurna daripada kumpul keluarga,"jawab Arka di iringi tawa ringan.
Arka mengambil tusuk yakitori kedua. Matanya menatap bara api panggangan di dapur terbuka di seberang kami. "Bokap gue... dia bisa ngomongin margin profit, ekspansi bisnis, dan akuisisi lahan sambil ngunyah steak wagyu seharga jutaan. Nggak ada obrolan soal 'gimana harimu?' atau 'kamu capek nggak?'. Di meja makan rumah gue, kalau lo nggak ngomongin duit, lo dianggap nggak berguna."
Aku menghentikan kunyahanku. Nafsu makanku mendadak menguap, digantikan oleh rasa iba yang mencubit dadaku. Aku melihat sorot mata Arka meredup drastis saat ia menyinggung ayahnya.
"Bokap lo... emangnya sekeras itu ya, Ka?" tanyaku hati-hati.
Arka tersenyum getir, jari telunjuknya memutar-mutar gelas ocha yang mengembun. "Yah begitulah...,Pak Handoko itu nggak kenal kata 'keluarga' kalau udah masuk urusan bisnis. Bagi dia, gue ini cuma aset perusahaan. Mesin pencetak uang yang disiapkan buat mewarisi jabatannya."
Arka menarik napas panjang, seolah kalimat berikutnya sangat berat untuk diucapkan. "Makanya, waktu gue mutusin buat merombak desain mall demi selamatin kedai lo... dia hampir coret nama gue dari Kartu Keluarga."
Aku terkesiap. Mencoret dari KK? Hanya karena sepetak kedai kopi?
Arka menatapku lekat-lekat, menelusuri wajahku mencari reaksi. "Gue sampai bikin taruhan jabatan sama dia, Nja."
"T-taruhan jabatan gimana maksudnya?!" suaraku mulai bergetar. Firasat buruk menyergapku.
"Kalau dalam waktu satu tahun mall itu nggak untung secara revenue gara-gara keberadaan kedai lo di tengahnya... gue...,"Arka terlihat ragu untuk menjelaskan.
"Gue gue kenapa?!,"tanyaku tegas.
"Gue...bakal ditendang dari kursi direktur. Dan bokap gue bakal ambil alih semua sisa saham gue di proyek itu."
Aku meletakkan sumpitku dengan kasar ke atas meja. Mataku membulat sempurna, napasku memburu. Jantungku serasa dihantam palu godam.
Ya Tuhan. Pria ini gila. Benar-benar gila!, seluruh raga dan batinku tak percaya.
"Lo serius, Ka?!" seruku, nyaris tak peduli jika pengunjung bilik sebelah mendengar. "Kenapa lo nggak pernah bilang sama gue? Gila ya lo! Jabatan lo, karier yang lo bangun mati-matian, harta lo... lo pertaruhkan, itu semua cuma buat warung kopi reot gue?! Kenapa lo seceroboh itu?!"
Aku mulai panik. Rasa bersalah menghantamku bertubi-tubi. Kalau sampai Arka kehilangan segalanya karena keegoisanku mempertahankan Kedai Kala Senja, aku tidak akan pernah bisa memaafkan diriku sendiri.
"Karena gue percaya sama insting gue," jawab Arka. Suaranya terdengar luar biasa tenang, sangat kontras dengan kepanikanku.
Ia mencondongkan tubuhnya melintasi meja kayu kecil di antara kami. Tangan kirinya bergerak perlahan, melewati deretan mangkuk, lalu menyentuh punggung tangan kananku yang sedari tadi terkepal di atas meja.
Aku tersentak pelan. Sentuhannya sangat hangat, sedikit kasar, tapi luar biasa lembut. Sentuhan itu menjalar seperti aliran listrik statis yang langsung melumpuhkan syaraf-syaraf kepanikanku.
"Dan karena gue tahu," lanjut Arka, suaranya merendah, menembus bisingnya kedai dan langsung menyentuh relung hatiku. "Tempat yang punya nyawa kayak kedai lo, selalu punya cara buat narik orang untuk kembali pulang."
Ibu jari Arka mengusap lembut punggung tanganku, memberikan afirmasi dari setiap kata yang ia ucapkan. Matanya mengunci mataku,dengan tatapan optimis.
"Gue... salah satunya, Nja," bisik Arka parau.
Aku tidak menarik tanganku. Duniaku seakan berhenti berputar di detik itu juga.
Di bawah cahaya lentera yang temaram, menembus kepulan asap daging panggang, aku menatap ke dalam mata kelam pria itu. Aku tidak lagi melihat seorang direktur kejam berpayung hitam yang datang membawa amplop ancaman. Yang kulihat saat ini hanyalah seorang pria yang sangat lelah, pria yang mendambakan 'rumah', dan pria yang rela mengorbankan kerajaannya demi mempertahankan tempatku bernapas.
Tenggorokanku tercekat. Pertahanan yang selama berbulan-bulan ini kubangun tinggi-tinggi dengan batu bata keangkuhan, akhirnya runtuh total hingga menjadi debu.
Sial !sial!sial!, batinku menyerah dalam keheningan. Aku sudah kalah.
Malam itu, di tengah alunan musik Jepang yang sayup-sayup dan tangan yang masih bertaut di atas meja, aku menyadari satu hal yang tak bisa kusangkal lagi, sekuat apa pun aku berbohong pada diriku sendiri.
Aku telah jatuh cinta. Jatuh cinta sedalam-dalamnya pada pria arogan berpayung hitam yang dulu sangat kubenci setengah mati ini.
Cinta perjuangan n pengorbanan ...
Ea.....🤭🤭
emak emak baperan ini jd ikut guling2 saking so sweetnyaaaa....
Tp q rasa perjalananya akan sangat sulit/Whimper//Whimper/
Deg Degkan tp jg sambil senyum senyum gak jelas😍😍