NovelToon NovelToon
ZHARA MEMUTAR DIMENSI WAKTU

ZHARA MEMUTAR DIMENSI WAKTU

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Time Travel / Balas Dendam
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Luh Belong

No Plagiat ❌



Namanya Zhara Chandrawinata, gadis berusia 20 tahun. Ia punya mimpi hidup tenang, bahagia, dan kaya raya.

Di balik senyumnya yang manis, Zhara tumbuh dari kluarga broken home, ia tidak menyangka hidupnya akan berjalan sulit, mimpi yang ia bangun, keputusan yang di ambil, kisah cintanya, selalu terbentur masalah.

Tahun demi tahun berlalu, Zhara mulai kehilangan arah. Pikirannya lelah, hatinya terluka, pada akhirnya tubuhnya menyerah. Zhara akhirnya meninggal karena Asam Lambung GERD yang ia derita.

Dewa kematian berkata. Jiwanya tidak dapat menyebrang, karena ada seseorang yang menukar jiwanya, agar Zhara hidup kembali.

Dalam gelap Zhara mendengar ada yang manggil namanya, “Zhaa.. bangun.. Jangan tidur dikelas! ” Zhara terbangun di ruang kelas dan melihat Tiara menggoyangkan lengannya.

Zhara kembali hidup dan siapa yang telah menukar jiwanya?
mengapa dewa kematian masih mengikutinya?
Apakah pertukaran jiwa itu tidak sempurna?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luh Belong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Masih memikirkan mu

...Dengan kondisi setengah mabuk, Alvaro masuk ke dalam rumahnya. Pikirannya masih tertinggal di rumah sakit pada pemandangan tangan Zhara yang digenggam pria lain. Bayangan itu terus berputar di kepalanya, mengusik, menusuk, seolah tidak memberi ruang untuk bernapas....

...Ia juga masih teringat interogasi Bibi Widya yang terasa menyesakkan. Setiap pertanyaan seperti mengadili kesalahannya satu per satu. Semua terjadi karena ulah Viona, yang datang mempermalukan Zhara di tempat kerja....

...Alvaro tidak ingin menyakiti Zhara. Tapi kehadirannya hanya akan menambah luka baru....

... Di sisi lain, ia juga tidak rela melihat Zhara dekat dengan pria lain namun kini, ia bukan siapa-siapa lagi....

...Ada rasa sakit yang menjalar di dadanya setiap kali ia membayangkan Zhara tersenyum untuk pria lain, disentuh oleh seseorang yang bukan dirinya....

...Ia masih mencintai Zhara. Perasaan itu tidak pernah benar-benar hilang, meski kini tidak lagi memiliki tempat untuk kembali. Ia masih mengingat saat mereka bersama—perhatian tulus Zhara, tawa hangatnya, cara gadis itu menatapnya seolah dunia hanya milik mereka berdua....

...“Argh… brengsek…” Alvaro terlihat frustasi. “Sialan... arghh...”...

...Alvaro membanting pintu dengan keras. Suaranya menggema memenuhi ruangan....

...Ia mengamuk. Satu per satu perabotan di ruang tamu dibanting tanpa arah. Meja ditendang hingga terbalik, apa pun yang dijangkau tangannya dilempar begitu saja....

...Lalu ia terhenti. Tubuhnya jatuh ke tepi sofa, napasnya tersengal. Tangannya yang tadi penuh amarah kini terkulai lemah, seolah kehilangan tenaga....

...“Zhara… apa kamu berniat balas dendam padaku?” gumamnya kosong menatap lantai yang berantakan. “Baru beberapa bulan kita putus… kamu sudah punya penggantiku, secepat itu kah Zhara?”...

...“Di sini aku menderita dengan hubungan kita yang sudah hancur…” air matanya jatuh tanpa ia sadari. “Tapi aku tidak menyangka… satu tahun kita bersama, bisa begitu mudah tergantikan oleh pria lain, bahkan pria itu keponakan seorang dokter?…”...

...“Zhara… aku tidak sanggup melihatnya… aku belum siap,” lirihnya, suaranya retak....

...Kepalanya tertunduk dalam. Air mata yang sejak tadi ditahan akhirnya jatuh tanpa bisa dibendung....

...Tiba-tiba terdengar langkah kaki dari lantai atas. Suara itu memecah kesunyian yang hanya diisi isak tangis Alvaro. Setiap langkah terdengar jelas, mendekat, hingga berhenti tak jauh darinya....

...“Sudah kubilang… Zhara tidak tulus cintanya padamu,” ucap Viona ringan, namun tajam “Hanya aku yang tulus mencintaimu, Alvaro Jarene, coba sadarlah,” lanjutnya....

...“Cukup!” Alvaro menatap Viona dengan penuh kebencian. “Kenapa kamu berani datang ke sini?”...

...“Ini rumah hadiah pernikahan nanti, yang seharusnya aku dan kamu yang menempati, bukan rumah untuk Zhara wanita sok menderita itu,” suara Viona meninggi....

...Alvaro bangkit perlahan. Langkahnya mendekat, pelan, namun penuh tekanan....

...“Kamu tidak punya hak… bicara buruk tentang Zhara,” ucapnya dingin. Matanya merah menahan amarah....

...“Tidak berhak?” Viona menunjuk dirinya sendiri. “Aku ini calon istrimu… aku sedang mengandung anakmu, dan sebentar lagi kita akan menikah.”...

...“Kamu selalu diam-diam menemui wanita sialan itu… padahal kita sebentar lagi akan menikah,” ucapnya dengan suara bergetar penuh amarah. “Kamu ayah dari janin ini! sadar lah Alvaro.”...

...“Sebentar lagi menikah, katamu? Keluargamu saja tidak merestui pernikahan itu,” Alvaro tertawa pendek tanpa rasa. “Aku dianggap merusak masa depan anak mereka, padahal jelas aku yang jadi korban, aku korbannya!”...

...“Anaknya yang menjebakku saat mabuk, lalu terus-menerus selalu datang setiap saat,” suara Alvaro semakin berat, dipenuhi amarah yang lama ia tahan. “Kamu bilang aku hanya tidur denganmu untuk menikmati masa muda yang bebas, lalu setelahnya tidak masalah menikah dengan Zhara,” ...

...“Aku selalu memastikan kamu minum obatnya. Lalu kenapa kamu hamil anak itu? Mengapa kamu menghancurkan hubunganku dengan Zhara?” Matanya menatap Viona tanpa sisa kehangatan....

...“Aku sudah minum obat itu di depanmu. Mengapa aku hamil?” Viona menatap Alvaro tajam. “Mungkin karena kita terlalu sering melakukannya. Atau kamu mulai nyaman denganku. Dan kamu hanya tidak berani mengakuinya.”...

...“Jangan berpikir hanya aku yang jahat disini!” lanjutnya rendah namun menusuk. “Setelah tidur denganku, apa kamu masih menganggap dirimu manusia suci? Apa masih pantas menjadi calon suami Zhara?”...

...Tatapan Viona dingin. Setiap kata seperti tamparan. Ia melangkah mendekat hingga jarak mereka hampir tidak tersisa....

...“Kalau aku tidak mengaku hamil… apa kamu masih merasa pantas merayakannya dengan Zhara?” suaranya melemah, tapi justru lebih menekan. “Di belakangnya kamu bermesraan denganku, menikmati setiap sentuhan itu. Dari awal kamu sudah tahu semua ini salah, tapi kamu tetap melakukannya.”...

...Alvaro terdiam....

...Untuk pertama kalinya, ia benar-benar kehilangan kata-kata. Ucapan itu menghantamnya keras, bukan karena tidak benar, tapi karena terlalu benar untuk disangkal sepenuhnya....

...“Tapi bukan berarti kamu bebas mengusik, dan mengganggu hidupnya…” akhirnya ia bicara, suaranya berat. “Apa kamu tidak puas sudah merusak hidupku, sampai harus muncul di hadapannya juga?”...

...“Aku tidak akan mengganggunya kalau wanita itu tidak masuk ke hubungan kita, Alvaro!” Viona meninggi “Apa kamu tidak bisa melihat? Dia hanya berpura-pura lemah agar kamu simpati dengannya.”...

...“Cukup! Apa kamu tidak pernah berkaca, Viona? Kamu yang masuk ke dalam hubungan kami. Jangan lupa, kamu juga yang menjebakku.” bentak Alvaro, emosinya kembali meledak ...

...“Selalu merasa terjebak… padahal kamu lupa, selama enam bulan ini kamu menikmati semuanya,” balas Viona tajam, penuh sindiran....

...“Aku peringatkan kamu…” suara Alvaro rendah, dingin, mengancam. “Jika kamu berani mengusik hidup Zhara sekali lagi, kamu akan menyesal.”...

...“Alvaro… apa kamu buta? Kamu tidak bisa melihat aku yang paling tulus mencintaimu? Selama ini aku yang selalu ada untukmu!” suara Viona meninggi, bercampur putus asa. “Lihat Zhara yang kamu anggap tulus… baru beberapa bulan putus denganmu, dia sudah punya penggantimu,” lanjutnya....

...Kalimat itu menghantam titik paling rapuh dalam diri Alvaro....

...Ia terdiam. Rahangnya mengeras. Tangannya mengepal. Bayangan Zhara bersama pria lain kembali muncul, membuat dadanya sesak....

...Viona melangkah cepat mencari kesempatan, dan memeluknya erat....

...“Alvaro… aku sedang mengandung anakmu… tubuhku lemah, sepanjang hari aku mual mual…” suaranya melembut, mencoba memohon. “Kalau kamu membenciku, tolong jangan benci bayi ini juga, dia sungguh tidak bersalah…”...

...“Aku akan bertanggung jawab. Aku akan menikahimu, walau orang tuamu tidak merestui hubungan ini” desis Alvaro pelan, lebih seperti keputusan dingin daripada perasaan. “Tapi aku tidak bisa mencintaimu seperti harapanmu dalam pernikahan kita.”...

...Ia melepaskan pelukan itu perlahan, tanpa menoleh. Lalu berjalan pergi....

...Setiap langkahnya terasa dingin dan kosong....

...“Alvaro… cintamu akan datang padaku, tunggu dan lihat saja. Jika gadis sialan itu lenyap dari hidupmu, maka pelan pelan kamu akan datang padaku” suara Viona terdengar pelan, tapi penuh obsesi....

...◦•●◉✿✿◉●•◦...

1
Rahayu
singkat, padat, plenger🤭
Luh Belong: plenger nggak tuh😄
total 1 replies
Rahayu
Semangat Thor, ceritanya mulai seru.
Luh Belong: Terimakasih😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!