Di balik kelembutan sikap sang suami, ternyata ia menyimpan sejuta duri...
Rengganis tidak pernah menyangka jika di hari ulang tahun pernikahan yang ke sepuluh, ia akan mendapatkan sebuah kado yang sangat spesial. Kado yang menjadi awal petunjuk bahwa ada banyak dusta yang disembunyikan oleh sang suami.
Berawal dari sebuah foto USG yang ia temukan di dalam saku kemeja sang suami, Rengganis berhasil membuka sebuah rahasia yang selama ini disembunyikan. Satu rahasia bahwa ternyata sang suami diam-diam telah menikah sirri dengan wanita lain.
Lantas, jalan apakah yang akan diambil oleh Rengganis di saat pernikahannya sudah dipenuhi dusta oleh sang suami? Apakah ia akan tetap mempertahankan pernikahannya dengan menerima wanita lain untuk menjadi madunya? Atau apakah ia akan mengakhiri biduk rumah tangganya yang sudah berlayar sepuluh tahun dengan melepaskan sang suami?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laviolla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Anniv 7. Memastikan
Harum aroma khas daging sapi menguar memenuhi dapur kediaman Rengganis pagi hari ini. Dengan telaten, wanita berusia tiga puluh lima tahun itu memotong-motong sayuran segar untuk kemudian ia masukkan ke dalam panci yang sudah terisi dengan potongan-potongan daging sapi. Senyum manis tersungging di bibir kala masakannya terasa sempurna dan begitu pas di indera perasa.
Meski di rumahnya sudah ada Maryati, namun untuk perihal memasak tetap dijalankan oleh Rengganis sendiri. Hal itu karena sejak dulu ia memiliki mimpi, sesibuk apapun, sang suami harus makan hasil masakannya. Sedangkan Maryati fokus pada bersih-bersih rumah, mencuci baju, piring, dan menyetrika.
Perihal foto USG sudah lama berlalu. Kini semuanya kembali ke setingan awal. Saling percaya dan saling menjaga kepercayaan. Ganis pun percaya bahwa sang suami bisa menjaga kesetiaan dalam ikatan suci pernikahan ini meski setiap dua minggu sekali ia harus merasakan apa itu long distance marriage.
"Harum sekali masakannya, Sayang. Aku sampai buru-buru kemari untuk bisa segera menikmati masakanmu!"
Mendengar suara sang suami dari balik punggung, membuat Rengganis menghentikan sejenak aktivitasnya. Ia berbalik badan dan Krisna terlihat sudah duduk di kursi makan.
"Aku masak masakan kesukaanmu Mas. Sup daging."
"Benarkah?" tanya Krisna dengan senyum yang mengembang. "Pantas, perutku langsung meronta ingin segera diisi. Ternyata istriku memasak masakan kesukaanku."
Rengganis terkekeh pelan. "Sabar ya Mas. Sebentar lagi masakannya matang."
"Siap Ibu Negara!" seloroh Krisna sembari hormat di kepala.
"Ckkkk ... Kamu ini ada-ada saja Mas!" decak Rengganis seraya kembali berbalik punggung untuk menyelesaikan pekerjaannya.
Hati Rengganis terasa begitu hangat melihat sang suami yang selalu saja bisa mencairkan suasana. Tinggal berdua, bukanlah alasan untuk merasakan rasa sepi karena setiap hari sang suami selalu bisa membuat suasana rumah menjadi ramai. Meski terkadang, Rengganis ingin merasakan suasana rumah yang riuh dengan suara galak tawa dan tangis buah hati yang sampai saat ini masih belum bisa ia dapati. Namun Rengganis tidak ingin kufur. Semua yang ada saat ini masih tetap ia syukuri.
"Oh iya Sayang, hari ini aku berangkat ke Magelang ya."
Krisna menyeruput teh hangatnya seraya memberi kabar kepada Rengganis bahwa hari ini ia akan berangkat ke Magelang lagi meski belum ada dua minggu ia berada di Jogja seperti jadwal-jadwal sebelumnya.
Rengganis mematikan kompor dan mulai menuang sayur sup ke dalam mangkuk sayur dan kemudian ia hidangkan di atas meja.
"Loh sudah mau ke Magelang lagi Mas? Kok tumben belum sampai dua minggu kamu sudah mau ke Magelang lagi?" tanya Rengganis dengan sedikit kernyitan di dahi. Karena memang tidak biasanya Krisna melakukan hal seperti ini.
Krisna menghela napas dalam dan ia hembuskan pelan. "Ada sedikit masalah Sayang. Ada satu armada yang mengalami kecelakaan di tol Semarang, sehingga membuat pengantaran kita terlambat, ada beberapa customer yang komplain."
"Innalillahi... Tapi tidak sampai ada korban jiwa kan Mas?"
"Menurut info yang aku dapat tidak ada sih Sayang. Hanya saja paket-paket yang diangkut berserakan semua, mungkin ada yang hilang juga."
Rengganis hanya mengangguk-anggukkan kepala seraya tersenyum tipis. Meskipun ada sedikit perasaan tidak rela karena belum ada dua minggu Krisna ada di rumah namun Rengganis mencoba untuk mengerti jika ini adalah satu musibah yang menimpa kantor cabang milik suaminya sehingga mungkin kehadiran Krisna benar-benar dibutuhkan di sana.
"Baiklah kalau begitu Mas. Yang terpenting kamu hati-hati dan semoga semua permasalahan bisa segera diatasi." Rengganis mulai mengambil nasi, sayur, dan lauk untuk kemudian ia sajikan di depan Krisna. "Ayo Mas, silakan dimakan. Katanya sudah tidak sabar untuk mencicipinya?"
"Itu sudah pasti Sayang. Masakanmu selalu jadi juara satu di hatiku!" puji Krisna yang seketika membuat pipi Rengganis merona.
"Ah kamu ini bisa saja kalau memuji Mas!" sahut Rengganis seraya tersipu malu. Meski ini bukan untuk pertama kali Krisna memuji hasil masakannya, namun tetap saja membuat hati wanita itu berbunga-bunga.
"Itu kenyataan Sayang. Aku tidak bohong."
"Iya Mas, iya," ucap Ganis seraya terkekeh kecil. "Oh iya Mas, hari ini aku mau bertemu dengan teman lama waktu SMA. Dia beberapa waktu yang lalu sempat mampir ke tokoku katanya dia memiliki satu konsep untuk membuat toko kueku lebih baik lagi."
"Siapa Sayang?" tanya Krisna sembari melahap sup iga buatan sang istri.
"Namanya Rangga, Mas."
"Mau ketemuan di mana memang?"
"Hanya di toko kue kok Mas, tidak ada rencana ke tempat khusus untuk bertemu. Rencananya aku ingin ngajak kamu untuk bertemu dia, tapi ternyata kamu harus balik lagi ke Magelang."
"Oke Sayang, aku izinkan. Tapi ingat ya, kamu harus jaga jarak dan jaga sikap. Ingat, kamu adalah istriku, aku tidak rela jika istriku terlalu akrab dengan lelaki lain," ucap Krisna penuh dengan peringatan.
"Ckkkkckkk.. Apaan sih Mas? Aku pasti juga tahu batasan dalam berinteraksi dengan lawan jenis. Tidak mungkin aku melakukan sesuatu yang di luar batas," decak Ganis.
"Hmmmm... Kamu mungkin bisa jaga sikap tapi bagaimana dengan temanmu itu? Belum tentu ia bisa untuk tidak terpesona sama kamu. Kamu kan terlalu mempesona Sayang," ucap Krisna dibumbui dengan gombalannya.
Pipi Ganis memanas. Hingga memunculkan rona merah di sana. Layaknya buah tomat, wanita itu tersipu malu mendengar gombalan sang suami.
"Issshhhh, jangan seperti itu kenapa? Aku kan jadi malu, Mas."
"Hahahaha.... Aku suka kalau kamu sedang tersipu malu seperti ini Sayang. Terlihat jauh lebih cantik."
Sepasang suami istri itu larut dalam kehangatan sembari menyantap sarapan pagi. Kebahagiaan nampak begitu nyata kendati rumah tangga keduanya masih diuji dengan buah hati yang sampai saat ini belum hadir mewarnai hari. Namun dalam sampulnya mereka tetap terlihat begitu harmonis seperti tiada beban yang menghampiri. Padahal isi di dalamnya ada satu bom waktu yang bisa meledak sewaktu-waktu.
****
Krisna melajukan mobilnya dengan kecepatan lumayan tinggi. Membelah jalanan Jogja-Magelang yang nampak ramai dipenuhi oleh kuda-kuda besi. Satu pemandangan yang wajar, mengingat banyak orang yang beraktivitas di siang hari ini.
Sejak di rumah, Krisna mencoba menutupi kecemasan yang membalut hati kala mendapati sebuah kabar jika Dinda jatuh di kamar mandi. Meskipun panik, Krisna mencoba untuk menutupi agar aroma panik dan cemas itu tidak sampai terendus oleh sang istri pertama. Hal itulah yang menjadi alasan ia mengarang cerita bahwa salah satu armadanya mengalami kecelakaan di salah satu ruas jalan Tol Semarang.
Tak berselang lama, mobil yang dikemudikan oleh Krisna memasuki sebuah pelataran yang cukup luas. Ia matikan mesin mobil dan bergegas masuk ke dalam rumah.
"Sayang... Kamu di mana?" teriak Krisna sembari melempar jaket yang ia kenakan ke atas sofa.
Dengan langkah kaki lebar, ia menaiki anak tangga dan masuk ke dalam kamar pribadinya. Bola mata Krisna membulat kala melihat sang istri yang menyenderkan punggungnya di head board ranjang. Tubuh wanita itu nampak lemah sekali dan wajahnya pucat pasi.
"Sayang, gimana? Apa yang kamu rasakan? Anak kita baik-baik saja kan?" tanya Krisna dengan nada cemas yang begitu kentara. Ia mengusap-usap perut Dinda yang sudah membuncit itu.
"Pinggangku rasanya panas seperti terbakar Mas. Sakit sekali," keluh Dinda.
"Hanya itu Sayang? Apa ada keluar darah atau flek?"
Dinda menggelengkan kepala. "Tidak Mas, sejauh ini tidak ada keluar darah atau flek. Hanya saja pinggangku terasa panas."
"Baiklah Sayang, kita langsung ke rumah sakit saja ya. Untuk memastikan semua baik-baik saja."
"Iya Mas, aku nurut apa kata kamu saja. Yang terpenting kamu sudah ada di sini. Aku jadi tenang dan lega."
Krisna tersenyum simpul seraya mengacak sedikit rambut Dinda. "Akan aku pastikan semuanya baik-baik saja Sayang. Aku tidak ingin jika sampai terjadi apapun terhadap calon anak kita."
"Iya Mas, terima kasih banyak kamu sudah sangat sayang sama calon anak kita. Dia pasti akan sangat bangga dan bersyukur memiliki sosok ayah sepertimu."
"Bagaimana aku tidak menyayangi anakku Sayang? Dia adalah anak yang aku nantikan selama ini, jadi akan aku berikan semua yang aku miliki untuknya."
Senyum lebar mengembang di bibir Dinda. Dengan keberadaan sang anak di dalam perutnya ia yakin bisa menjadi prioritas meskipun ia adalah istri kedua.
"Terima kasih banyak Mas, terima kasih."
"Sama-sama Sayang. Sekarang kamu siap-siap ya, kita berangkat ke rumah sakit."
"Iya Mas."
****
"Bagaimana keadaan anak saya setelah istri saya jatuh di kamar mandi, Dok? Baik-baik saja kan?"
Di sebuah rumah sakit yang ada di Magelang, Krisna membawa sang istri untuk periksa. Lelaki itu tidak ingin berspekulasi apapun, sehingga ia cepat-cepat ke rumah sakit untuk memastikan bahwa semua baik-baik saja.
Dokter muda itu tersenyum simpul. "Tidak perlu khawatir, Pak. Anak Bapak baik-baik saja. Selama tidak ada darah atau flek yang keluar, semua aman."
Krisna membuang napas lega. "Hah.... Syukurlah kalau begitu Dok. Dengan seperti ini saya benar-benar lega. Ini anak pertama saya, jadi saya tidak mau jika sampai terjadi sesuatu kepadanya."
"Iya Pak, saya mengerti. Tapi sekarang Bapak dan ibu bisa sama-sama bisa tenang karena kondisi anak di dalam rahim bu Dinda semuanya baik-baik saja."
Sepasang suami-istri sama-sama tersenyum lega. Tangannya saling menggenggam sebagai satu isyarat untuk saling menguatkan. Karena bagaimanapun juga keberadaan anak itu adalah satu anugerah yang tidak ternilai harganya. Meskipun cara untuk mendapatkannya mereka harus melukai hati istri pertama.
.
.