NovelToon NovelToon
SIMFONI TAK BERATURAN

SIMFONI TAK BERATURAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Penyelamat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:542
Nilai: 5
Nama Author: Ghuci Shintara

Novel Ringan ini berlatar tahun 2002 yang menceritakan tentang takdir mempertemukan kembali kedua insan yang berakhir dalam ikatan suci secara paksa atau mungkin dijodohkan karena hutang budi.

Pertemuan tak terduga sore itu di lapangan lari Velodrom Rawamangun Jakarta Timur saat Sandi tengah ikut ujian praktek lari pelajaran penjas kelas 2 semester 2 dari sekolah SMPnya Pejuang Bangsa dengan seorang gadis yang dimana, dia adalah teman sekelasnya dulu di SD Bhayangkara Jakarta.

Saat Sandi berlari estafet untuk mengambil nilai praktek dan memberikan tongkat ke rekannya, dia berhenti dan matanya menatap ke arah seorang gadis yang berpakaian olahraga dari SMP yang berbeda, dia melihat gadis itu bersama 2 rekannya sedang di goda oleh siswa SMA yang sedang melakukan praktek lari di Velodrom Rawamangun Jakarta juga.

Dimulai dari pertemuan tak terduga itu, kehidupan Sandi berubah 180 derajat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ghuci Shintara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

Suara derit gerbang besi SMP Pejuang Bangsa yang dibuka oleh satpam sekolah bergema, memotong gelak tawa Kelompok Sableng yang sedang asyik berkelakar di bawah pohon kersen dekat kantin. Sebuah mobil sedan mengkilap berwarna perak perlahan memasuki pelataran parkir yang mulai lengang.

Sandi, yang sedang menyandarkan punggungnya di tiang kantin, menyipitkan mata. "Sas, itu mobil nyokap lo bukan?"

Saskia ikut menyipitkan mata, menatap lekat-lekat kendaraan yang mendekat itu. Ia terdiam sejenak, dahinya berkerut seolah sedang memecahkan kode sandi negara yang rumit. "Aku... aku lupa mobilnya, San," jawabnya pelan dengan nada tanpa dosa.

Seketika itu juga, Vino, Andra, dan Anggita saling lempar pandang sebelum kompak berseru, "Eeeeehh!"

Anggita menepuk jidatnya sendiri, tak habis pikir. "Bener-bener lo, Sas. Mobil nyokap sendiri masa bisa lupa? Itu mobil jemputan lo tiap hari, kan?"

Saskia membela diri dengan wajah polos yang membuat siapa pun sulit untuk marah. "Ya aku kan nggak pernah lihat dari depan atau samping lama-lama. Biasanya aku langsung buka pintu belakang, duduk, terus sibuk pasang walkman. Aku cuma hafal bagian dalam sama wangi parfum mobilnya doang."

Vino menggeleng-gelengkan kepala. "Nomor platnya? Minimal huruf belakangnya deh, hafal nggak?"

Saskia nyengir kuda sambil menggeleng mantap. "Nggak merhatiin, Vin."

Andra, Vino, dan Anggita serentak menoleh ke arah Sandi. Cowok itu tampak sangat tenang, seolah sudah kebal dengan segala keajaiban logika Saskia. Ia sedang asyik menyesap es jumbo warna hijau di plastik—es andalan kantin yang warnanya mencolok mata. Sandi hanya mengangkat kedua bahunya tinggi-hidup, tatapannya seolah bicara: 'Kenapa liat gue? Emang otaknya dia yang oneng dari pabriknya, jangan tanya gue.'

Anggita memberikan tatapan maut pada Sandi, seolah sedang mengirim pesan batin: 'Lo bener-bener kayak lagi melihara anak ayam yang gampang ilang, San!'

Begitu mobil itu terparkir sempurna di bawah bayangan pohon, seorang wanita paruh baya berpenampilan elegan namun ramah keluar dari pintu kemudi. Melihat sosok familiar itu, wajah Saskia langsung cerah. "Eh, ternyata beneran mobil mamaku!"

"Au'ah!" sahut Anggita, Vino, dan Andra serempak, membuat Saskia hanya bisa cengengesan malu.

Saskia segera berdiri dan menghampiri Sandi yang masih memegang es plastiknya. "San, aku pamit ya. Makasih banyak ya udah mau nemenin aku nunggu."

Sandi bergumam pelan, "Makasihnya ke mereka juga, bukan cuma ke gue. Kalau gue mah emang udah tugas negara dampingin lo." Ia kemudian bangkit berdiri, melangkah lebih maju sedikit untuk memastikan posisi Saskia aman.

Saskia tersenyum lebar, beralih ke anggota kelompok yang lain. "Teman-teman, aku pamit duluan ya! Makasih banget ya, Anggita, Vino, Andra, udah mau nemenin aku sampai Mama datang. Senang banget hari pertama sekolah langsung punya teman seru."

"Hati-hati, Sas! Jangan nyasar di dalem mobil sendiri ya!" goda Anggita yang disambut lambaian tangan mantap dari Saskia.

Saskia berbalik badan dengan semangat untuk menghampiri ibunya. Namun, dasarnya Saskia, satu tali sepatunya yang tidak terikat sempurna terinjak oleh kakinya sendiri. Tubuhnya limbung ke depan, hampir saja mencium aspal parkiran.

Sandi, yang entah memang sudah memiliki insting tajam atau memang sudah hafal frekuensi jatuh Saskia, dengan sigap menarik kerah belakang seragam Saskia. Gerakannya sangat cepat, seolah sedang menyelamatkan anak kucing yang hampir tercebur ke selokan.

"Liat-liat makanya, Oneng," tegur Sandi pendek.

Tanpa banyak bicara, Sandi berlutut di aspal. Ia mengikat tali sepatu Saskia dengan simpul mati yang kuat agar tidak lepas lagi. Setelah selesai, ia berdiri kembali dan menepuk bahu Saskia pelan. "Hus, hus... sana jalan yang bener. Nyokap lo udah nungguin tuh."

Wajah Saskia memerah sempurna, ia tersipu malu hingga menunduk. "Makasih ya, San... Kamu memang selalu siap kalau aku lagi 'kumat' begini."

Sandi menoleh ke arah rekan-rekannya yang menonton adegan itu dengan mulut setengah menganga. "Lo liat kan? Gimana gaya jalannya si Oneng ini? Kalau nggak dipantau, bisa bonyok itu muka."

Kelompok Sableng tertawa renyah, diikuti Saskia yang ikut tertawa kecil karena rasa canggungnya sudah mencair. Saskia kemudian berlari kecil menghampiri ibunya yang memperhatikan dari kejauhan dengan senyum penuh arti. Mereka berbincang sejenak, dan tiba-tiba Saskia berbalik dan melambai ke arah mereka.

"San! Sini sebentar! Mamaku mau kenalan sama kamu, dan sama Anggita, Vino, Andra juga!" teriak Saskia.

Kelompok Sableng saling melirik, lalu dengan kompak berjalan menghampiri mobil perak tersebut.

"Halo, salam kenal semuanya. Saya mamanya Saskia," sapa Mama Saskia dengan suara yang lembut. Matanya langsung tertuju pada cowok yang berdiri paling depan. "Yang namanya Sandi pasti kamu ya?"

Sandi sedikit terkejut. "Kok Tante bisa tahu?"

Mama Saskia terkekeh pelan. "Soalnya Saskia nggak berhenti ceritain kamu kalau di rumah. Tante juga langsung bisa nebak saat lihat kamu nolongin dia tersandung tadi, bahkan sampai mau benerin tali sepatunya. Makasih banyak ya, San, sudah jagain anak Tante yang ajaib ini."

"Iya Tante, sama-sama. Sudah biasa kok dari dulu," jawab Sandi agak kikuk.

"Maaf ya kalau Saskia ngerepotin kamu mulu, San. Dia memang begitu sifatnya dari lahir. Sepertinya Tante nggak salah setuju sama permintaan dia buat pindah ke sekolah ini supaya bisa sekelas sama kamu lagi," tambah Mama Saskia.

"Nggak apa-apa Tante, jangan dipikirin," sahut Sandi berusaha sopan.

Pandangan Mama Saskia beralih ke Anggita. "Lalu kamu namanya siapa? Kamu... perempuan, kan?" tanyanya ragu melihat penampilan Anggita yang sangat tomboi.

Anggita terkekeh kecil, sama sekali tidak tersinggung. "Iya Tante, saya perempuan tulen, cuma emang lebih nyaman begini gayanya. Nama saya Anggita. Kami berempat satu kelas, Tante. Dan ini Vino sama Andra."

Mama Saskia mengangguk ramah pada mereka semua. "Tante minta maaf ya kalau di hari pertama sekolah saja Saskia sudah bikin repot kalian semua."

"Woles aja, Tante!" sahut Anggita santai. "Kita justru seneng kok punya teman baru yang unik kayak Saskia."

Mama Saskia tersenyum lega. "Terima kasih banyak ya. Kalau begitu, Tante pamit dulu. Sampai ketemu besok ya, anak-anak."

Kelompok Sableng melambaikan tangan saat mobil Saskia perlahan meninggalkan gerbang sekolah. Suasana mendadak hening sejenak, hanya ada suara angin siang yang menggoyang dedaunan.

"Dia emang unik banget, San," gumam Vino memecah keheningan.

"Iya, kayak kartu Yu-Gi-Oh yang Special Edition. Langka bener spesies kayak dia," timpal Andra sambil geleng-geleng kepala.

Anggita melangkah ke depan, membuat posisi mereka berempat sejajar menatap gerbang sekolah yang kini tertutup kembali. "Kali ini gue beneran ngerti kenapa lo sampe panik setengah mati waktu dia ilang di Ancol dulu. Dia emang butuh 'penjaga' khusus."

Sandi menghela napas panjang, menatap sisa es hijaunya yang sudah mencair. "Kelakuannya memang nggak beraturan, sering bikin pusing, tapi entah kenapa... itu yang bikin suasana jadi punya irama. Kayak simfoni yang meski nadanya lompat-lompat, tetep enak didenger."

Ketiga sahabatnya mengangguk serempak, mengakui bahwa kehadiran si "Oneng" memang memberikan warna baru yang tak terduga dalam persahabatan mereka di tahun terakhir SMP ini.

Anggita menepuk bahu Sandi dengan cukup keras, membuyarkan sisa lamunan cowok itu yang masih menatap jejak debu dari mobil Saskia yang kian menjauh. "Daripada kita bengong di sini kayak patung selamat datang, mending kita cabut juga dah. Matahari sudah mulai galak nih," seru Anggita sambil menyeka keringat di pelipisnya.

Vino merenggangkan otot-otot lengannya hingga terdengar bunyi gemertak yang renyah. "Iya, gue sudah nggak sabar mau refreshing. Tangan gue sudah gatal mau pegang stik PS (Playstation) di rumah. Ada Winning Eleven seri terbaru yang belum gue tamatin liganya."

Mendengar kata PS, mata Andra seketika berbinar. "Oh iya, Vin! Ide bagus tuh. Kapan-kapan kita semua ngumpul di rumah lo dong. Kalau ada tugas kelompok dari Bu Wulan atau Pak Gunawan, kita bisa ngerjain bareng-bareng di sana. Habis pusing mikir rumus, langsung hajar main PS. Gimana?"

Anggita menjentikkan jarinya ke udara. "Gue setuju banget! Daripada ngerjain di perpustakaan yang hawanya bikin ngantuk, mending di rumah Vino. Gimana, Vin? Boleh nggak kita invasi rumah lo?"

Vino sempat terdiam sejenak, menimbang-nimbang sebelum akhirnya menyeringai lebar. "Boleh-boleh saja, pintu rumah gue selalu terbuka buat kalian. Tapi masalahnya, lo pada yakin mau main ke rumah gue? Rumah gue itu yang paling jauh dari sekolah dibandingkan kalian semua. Lo berdua kan tinggalnya nggak seberapa jauh, apalagi Sandi, cuma butuh waktu 20 menit paling lama buat sampai ke sekolah."

Sandi yang sedang merapikan tali helmnya menyahut pendek, "Masih lebih jauh rumahnya Saskia kali, Vin. Dia dari Pondok Indah ke Jatinegara itu perjuangan lintas zona."

Vino langsung tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Sandi. "Iya juga ya! Buset, kok gue jadi ketularan 'oneng' begini sekarang. Gue lupa kalau si bidadari nyasar itu sekarang sudah resmi jadi satu kelompok sama kita."

Andra menyikut lengan Vino dengan ekspresi mengejek. "Halah, lo itu! Kemarin saja waktu di Ancol lo ngeluh setengah mati pas dibilang 'Kelompok Sableng' sama Pak Gunawan, mukanya ditekuk kayak cucian belum disetrika. Sekarang malah lo sendiri yang paling semangat ngakuinnya."

Gelak tawa mereka berempat pecah, memenuhi area parkir yang mulai sepi. Suasana yang tadinya sedikit tegang karena drama kepindahan Saskia kini berganti menjadi kehangatan persahabatan yang solid.

"Ya sudah, ayo kita cabut sebelum beneran jadi penghuni tetap parkiran," ujar Sandi sambil menyalakan mesin motornya. Suara knalpot Ninja 2-tak itu meraung merdu, memecah kesunyian siang.

Anggita tiba-tiba teringat sesuatu dan menatap ketiga temannya secara bergantian. "Eh, tunggu! Gue pulang sama siapa nih? Tadi pagi kan gue nebeng bokap."

Sandi menoleh dari balik kaca helmnya yang terbuka sedikit. "Bebas! Mau naik sama Vino boleh, sama Andra atau sama gue juga boleh. Pilih saja maskapai mana yang paling nyaman buat lo."

Andra segera menawarkan diri, "Bareng gue saja, Nggi. Gue kan searah sama rumah lo. Nggak perlu muter-muter, langsung sampai depan gang."

Vino menimpali sambil memakai sarung tangannya. "Iya, Nggi. Kalau lo mau cepat sampai rumah dan istirahat, mending sama Andra yang satu jalur. Kalau sama Sandi, jalur rumah lo malah jadi makin jauh. Kasihan Sandi, dia harus putar balik lagi jauh-jauh habis nganterin lo, padahal dia pasti capek."

Sandi mengangkat jempolnya dengan santai. "Woles saja kalau sama gue mah. Terserah lo saja, Nggi, mau ikut yang mana. Gue nggak keberatan kalau harus muter dikit."

Anggita tidak langsung menjawab. Ia justru berjalan mendekati motor-motor temannya dan melirik indikator bensin mereka dengan tatapan menyelidik. "Gue tanya deh, yang bensinnya masih banyak siapa?"

Vino melirik tangki motornya. "Gue masih ada setengah, amanlah sampai rumah."

Andra menepuk tangkinya dengan bangga. "Gue full nih, baru isi tadi pagi pas berangkat. Siap menjelajah Jakarta."

Sandi melirik jarum indikatornya yang sudah menunjukkan posisi di bawah garis tengah. "Jarum gue sudah di bawah setengah. Kenapa emang, Nggi? Takut mogok di jalan?"

Anggita tersenyum penuh arti dan langsung melangkah menuju motor Sandi. "Berarti gue sama Sandi saja kalau gitu. Pas banget, nanti sekalian mampir di SPBU biar bensin lo gue isiin sampai penuh."

Sandi tersentak, alisnya bertaut. "Dih, nggak perlu kali, Nggi. Gue masih punya duit buat isi bensin sendiri. Jangan kayak gitu lah."

Vino dan Andra mengangguk setuju dengan Sandi. "Iya, Nggi. Sandi mah harga dirinya tinggi, masa diisiin bensin sama cewek," goda Vino.

Anggita tidak peduli, ia justru sudah duduk dengan nyaman di jok belakang motor Ninja Sandi. "Dih, biarin kenapa sih! Gue kan nggak mau sekadar numpang doang secara cuma-cuma. Ini namanya subsidi silang persahabatan. Lagian, lo sudah capek jagain si Oneng seharian, anggep saja ini upahnya."

Sandi hanya bisa menghela napas panjang, sadar bahwa kalau Anggita sudah keras kepala, tidak ada gunanya membantah. "Ya sudah, terserah lo deh. Kalau maksa ya gue nggak nolak."

Anggita tersenyum puas, membetulkan posisi duduknya yang tomboi. Mereka berempat kemudian saling berpamitan, melambaikan tangan, dan satu per satu motor mereka menderu meninggalkan gerbang sekolah, membelah kemacetan Jakarta siang itu menuju arah yang berbeda-beda.

Raungan mesin Ninja 2-tak Sandi membelah kemacetan Jakarta Timur dengan lincah. Sandi menarik tuas gasnya, melakukan manuver-manuver halus di sela-sela mobil dan bus kota yang merayap. Meski Anggita dikenal sebagai gadis paling tangguh di kelas, kecepatan motor Sandi yang tiba-tiba melesat membuatnya ciut juga. Tanpa sadar, kedua tangan Anggita melingkar erat di pinggang Sandi, sementara keningnya ia tempelkan ke punggung atletis Sandi sembari memejamkan mata rapat-rapat.

Sandi merasakan sentuhan di punggungnya dan getaran kecil dari tubuh Anggita. Ia segera tersadar, lalu mengendurkan tarikan gasnya hingga kecepatan motor kembali stabil dan tenang.

Merasa motor tidak lagi melaju seperti kesetanan, Anggita perlahan melepaskan pegangannya dan mendongak dengan napas sedikit memburu. "Gila lo, San! Bawa motor kayak lagi dikejar malaikat maut!" serunya kesal dari balik helm.

Sandi sedikit menoleh ke belakang, menyeringai tipis. "Lah, gue kira lo tipe cewek yang doyan nembus adrenalin gitu, Nggi."

"Tampilan gue doang yang tomboi, pe'a! Gue ini tetep cewek tulen!" balas Anggita sembari memukul bahu Sandi gemas.

Sandi tertawa renyah, suaranya beradu dengan angin siang. "Iya, iya, sori, Nggi. Gue lupa kalau lo juga bisa takut."

Baru saja suasana mencair, Anggita tiba-tiba menepuk-nepuk bahu Sandi dengan keras berulangkali. "San! San! Itu SPBU! Kenapa lo bablas aja tadi?!" teriaknya sambil menunjuk pom bensin yang baru saja mereka lewati.

"Masih ada bensinnya, Nggi. Nggak usah diisi, aman sampai rumah," sahut Sandi santai tanpa berniat memutar balik.

Tanpa peringatan, Anggita langsung mendaratkan cubitan maut di pinggang Sandi. "Aduh! Aduh! Sakit, Nggi!" Sandi meringis kesakitan, motornya sempat oleng sedikit karena ia refleks menghindar.

"Kalau lo nggak putar balik ke SPBU sekarang, gue nggak bakal lepasin cubitan ini sampai pinggang lo biru!" ancam Anggita, masih terus mempererat cubitannya.

"Iya, iya! Gue putar balik! Lepasin dulu tangan lo, perih banget ini!" seru Sandi menyerah kalah.

Begitu Anggita melepaskan cubitannya, Sandi segera mencari celah untuk putar balik. Dengan wajah cemberut namun tak berdaya, ia mengarahkan motor Ninjanya masuk ke antrean pengisian bahan bakar.

Antrean di SPBU siang itu cukup padat, namun Anggita dengan sigap langsung melompat turun dari jok belakang bahkan sebelum Sandi mematikan mesin.

"Ngapain lo turun? Tanki Ninja di depan, Nggi, bukan di bawah jok kayak bebeknya Andra," tegur Sandi bingung.

Anggita tidak menggubris, ia malah melangkah maju mendekati petugas. "Gue tahu! Gue mau bayar langsung ke abangnya," sahutnya pendek. Sandi hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah sahabatnya yang satu ini—keras kepala, persis seperti dirinya.

Sandi melihat Anggita membisikkan sesuatu kepada petugas SPBU dengan suara sangat pelan, hingga deru mesin kendaraan lain menenggelamkan ucapannya. Ketika nosel bensin dimasukkan ke tangki, mata Sandi terbelalak melihat angka di dispenser digital.

"Woi, Bang! Op, Bang! Op!" teriak Sandi panik. Ia kaget karena yang diisikan bukan Premium, melainkan Pertamax, dan angkanya terus berlari melewati kapasitas yang biasa ia isi.

Petugas itu hanya tersenyum simpul dan tetap memencet tuas nosel hingga bensin biru itu nyaris luber di bibir tangki. Sandi segera menutup tangkinya dengan wajah syok, lalu menoleh tajam ke arah Anggita. "Gila lo, Nggi! Itu Pertamax, mana lo isi sampai full tank lagi! Mahal itu, bego!"

Anggita membayar dengan santai, seolah baru saja membeli permen. "Suka-suka gue lah. Motor lo butuh nutrisi bagus biar nggak batuk-batuk kayak orang asma," balasnya enteng.

"Ya sudah, nanti gue ganti duit lo ya. Gue nggak enak," ujar Sandi sambil menyalakan mesin.

Anggita kembali naik ke jok belakang dengan lincah. "Nggak usah, San. Tapi kalau lo emang maksa mau bayar, mending bayarnya pakai jasa aja. Ajari gue naik motor kopling, gimana?"

Sandi sedikit terkejut, ia memacu motornya perlahan keluar dari SPBU. "Lo mau beli motor kopling juga kayak gue sama Vino?"

Anggita mengangguk mantap di belakang bahu Sandi. "Iya, kemarin gue sempat lihat-lihat di showroom sama bokap. Tadinya gue naksir Satria kayak punya Vino, tapi pas tadi gue bonceng lo... kayaknya gue malah jatuh hati sama Ninja deh. Gagah gitu."

Sandi terkekeh, "Yaudah, nanti pas masuk jalan perumahan lo yang sepi, lo yang bawa motor gue."

Mata Anggita seketika berbinar di balik kaca helmnya. "Serius lo, San? Tapi lo tetap di belakang gue, kan? Jagain gue?"

"Ya kagaklah! Gue turun, gue tunggu di pinggir jalan," jawab Sandi tegas. "Gengsi gue kalau dibonceng cewek. Lagian, agak 'gimana' gitu kalau gue duduk di belakang lo."

Anggita tertawa renyah, suaranya nyaring menembus angin. "Ngapa? Takut dibilang lo mau nyari kesempatan dalam kesempitan ya?"

Sandi mengangguk jujur. "Iya, nggak enak aja. Ntar dikira gue sengaja."

"Woles aja, San! Mau lo grepe-grepe dari belakang juga kalau tujuannya ngajarin gue mah, gue santai. Apalagi lo yang grepe, gue ikhlas lahir batin!" seru Anggita sambil tertawa menggoda.

Sandi hampir saja tersedak ludah sendiri. Ia menoleh sedikit dengan wajah kecut. "Alah, si pe’a! Ngaco aja kalau ngomong!"

"Kenapa emang? Nggak mau lo grepe-grepe gue?" tantang Anggita lagi, semakin menjadi-jadi.

Sandi tertawa lepas, kepalanya menggeleng heran. "Apa yang mau gue grepe, Nggi? Dada lo sama dada gue malah gedean dada gue!"

Tawa Anggita pecah, ia memukul punggung Sandi dengan sisa tawanya. "Justru karena dada gue rata, kalau lo yang grepe-grepe kan bisa tumbuh gede, pe’a! Itu namanya stimulasi!"

"Lo yang pe’a! Kalau tumbuh gede, lo nggak bisa jadi tomboi lagi, nggak cocok!" balas Sandi sambil terus tertawa.

"Eh, kalau sudah tumbuh gede dan itu hasil karya lo, ya gue bisa ubah penampilan jadi cewek tulen kayak Saskia. Biar lo kesemsem sama gue, nggak cuma jagain si Oneng terus!" ucap Anggita dengan nada bercanda yang entah kenapa terasa sedikit ada bumbu kesungguhan.

Sandi merasa telinganya memanas, tawa gelinya berubah jadi sedikit canggung. "Udah ah! Nanti punya gue 'ngaceng' ngebayanginnya!"

Anggita tertawa penuh kemenangan melihat Sandi yang mulai salah tingkah. "Tapi jadi kan nanti gue pinjam motor lo?"

"Iya, nanti kalau sudah sampai perumahan lo," jawab Sandi menutup perdebatan absurd itu.

Anggita mengangguk puas, tangannya berpegangan pada behel motor saat Ninja biru itu melaju stabil menuju kawasan pemukiman Anggita. Di bawah terik matahari Jakarta, obrolan "ngaco" itu justru membuat perjalanan mereka terasa jauh lebih singkat.

1
Shintara
Yuk di baca yuk
Shin Nara
Next thor
Shintara: update setiap jam 9 pagi ya kak.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!