Di Lembah Shrouded yang selalu dikepung oleh kabut magis beracun, Mayang, seorang gadis desa dengan kecantikan memikat namun menyimpan rahasia darah kuno, terpaksa melanggar aturan malam demi mencari obat untuk ibunya. Di tengah pekatnya kabut, ia tersesat dan diselamatkan oleh Dion, seorang pemburu bayaran tangguh yang ditakuti karena memiliki kekuatan mengendalikan kabut.
Pertemuan di pondok terisolasi malam itu menyalakan api gairah yang tak tertahankan di antara keduanya. Namun, hubungan mereka bukan sekadar romansa biasa. Ada misteri besar yang menyelimuti asal-usul mereka: kutukan kabut yang perlahan mulai memakan korban di lembah ternyata berkaitan erat dengan masa lalu Dion yang kelam dan kekuatan tersembunyi di dalam tubuh Mayang.
Unsur-Unsur Utama dalam Cerita:
Sisi Fantasi: Keberadaan Lembah Shrouded, makhluk-makhluk mistis yang bersembunyi di balik kabut, klan kabut kuno, serta sihir elemental yang dimiliki oleh Dion dan kekuatan penyembuhan/mistis dari Mayang.
Sisi Misteri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nazla bibah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6: EMBUN FAJAR DAN PENAWAR YANG TERSEMBUNYI
Cahaya biru pucat fajar menyelinap masuk melalui celah-celah papan pintu baru yang kokoh, menandakan malam yang panjang dan penuh gairah telah usai. Di atas ranjang bulu serigala, Mayang perlahan membuka matanya. Rasa hangat masih membekas di kulitnya, dan ketika ia menoleh, ia mendapati Dion sudah terjaga, duduk di tepi ranjang sambil mengenakan kembali rompi kulit hitamnya. Sisa-sisa keintiman semalam masih terasa pekat di udara, menyisakan rona merah di pipi Mayang saat mata mereka saling bertumbukan.
Dion berbalik, mendekati Mayang lalu mendaratkan satu kecupan lembut di dahi gadis itu—sebuah kecupan yang terasa jauh lebih protektif dan penuh komitmen setelah penyatuan raga mereka.
"Pakai jubahmu kembali, Cantik," kata Dion, suaranya rendah dan penuh perhatian. "Kabut pagi ini mulai menipis karena fajar. Ini adalah waktu terbaik dan paling aman bagi kita untuk mencari tanaman Lunaria sebelum matahari naik dan menyembunyikan khasiatnya."
Mendengar kata Lunaria, kesadaran Mayang langsung pulih sepenuhnya. Ingatannya kembali pada sosok ibunya yang sedang terbaring lemah di rumah desa. "Ya, kita harus bergegas, Dion. Aku tidak tahu berapa lama lagi tubuh ibuku bisa bertahan melawan racun kabut itu."
Mayang segera bangkit, merapikan gaun tipisnya dan mengenakan kembali jubah beludru merah tuanya. Meskipun tubuhnya masih terasa sedikit lelah setelah pergulatan emosi dan fisik semalam, tekad untuk menyelamatkan ibunya memberikan kekuatan baru pada kakinya.
Dion membuka pintu pondok yang baru diperbaiki. Di luar, kabut kelabu keperakan tidak lagi sepekat semalam, melainkan melayang rendah di atas tanah seperti karpet sutra. Dion menggenggam erat jemari tangan Mayang, menuntunnya menuruni jalan setapak berbatu yang licin menuju area terdalam dari hutan lembah. Genggaman tangan Dion yang besar dan hangat memberikan rasa aman yang luar biasa bagi Mayang, seolah tidak akan ada satu pun bahaya yang mampu menembus perlindungan pria itu.
Setelah berjalan sekitar setengah jam menembus keheningan hutan pinus yang berkabut, mereka tiba di sebuah tebing batu yang dialiri mata air kecil. Di sela-sela lumut basah yang menempel pada dinding tebing, tampak beberapa kuntum bunga kecil berbentuk corong dengan kelopak berwarna putih transparan yang memancarkan pendaran cahaya keperakan yang redup.
"Itu bunga Lunaria," bisik Mayang dengan mata yang berbinar gembira. Ia hendak melangkah maju untuk memetiknya, namun tangan Dion dengan cepat menahannya.
"Tunggu, Mayang," ujar Dion, matanya menyipit waspada memperhatikan sekitar tebing. "Tanaman ini tidak tumbuh di sembarang tempat. Kelopaknya yang memancarkan cahaya adalah tanda bahwa ia menyerap energi murni alam. Dan biasanya, tetua desa memasang sesuatu untuk mencegah orang biasa mengambilnya."
Dion benar. Ketika ia melemparkan sebuah kerikil kecil ke arah tanaman tersebut, sebuah riak energi magis berwarna merah darah mendadak muncul di udara, menghancurkan kerikil itu menjadi debu. Itu adalah segel sihir pelindung yang sengaja dipasang oleh para tetua desa.
"Mereka benar-benar berniat membiarkan ibuku mati," desis Mayang, giginya terkatuk rapat menahan amarah yang membakar dadanya. "Sihir ini... aku tidak bisa menembusnya."
Dion melangkah maju, memosisikan dirinya di depan segel merah tersebut. "Kau mungkin tidak bisa, tapi darah klan kabutku bisa menetralkan sihir busuk para tetua."
Dion menarik belati kunonya, lalu dengan sengaja menyayat sedikit telapak tangan kirinya sendiri. Darah segar yang mengandung energi magis hitam-perak menetes dari tangannya. Dion menempelkan telapak tangannya yang berdarah langsung ke udara tempat segel merah itu berada.
ZZZZTTTT!
Suara desisan keras terdengar saat darah Dion mulai mengikis energi segel merah milik tetua desa. Cahaya merah itu berkedip-kedip hebat, mencoba bertahan, namun kekuatan darah murni klan kabut kuno jauh lebih superior. Dengan satu hentakan kuat dari energi Dion, segel magis itu pecah di udara bagai kaca yang retak, menyisakan kepulan asap tipis yang langsung disapu angin.
Dion terengah kecil, wajahnya agak pucat karena memaksakan energinya keluar. Sebelum ia sempat berbalik, Mayang sudah berada di sampingnya, dengan cepat merobek sedikit kain jubahnya untuk membalut luka di telapak tangan Dion. "Kau selalu mengorbankan dirimu untukku," bisik Mayang dengan mata berkaca-kaca.
Dion tersenyum tipis, menggunakan tangan kanannya yang bebas untuk mengusap lembut pipi Mayang. "Bagi keturunan klan kabut, sekali kami memilih pasangan, seluruh hidup dan darah kami adalah milik wanita itu. Sekarang, petiklah bunga itu untuk ibumu."
Mayang mengangguk. Dengan hati-hati, ia memetik tiga kuntum bunga Lunaria yang bercahaya tersebut dan menyimpannya di dalam kantung kain di balik jubahnya. Rasa lega yang luar biasa membuncah di dadanya. Penawar itu akhirnya ada di tangannya.
"Kita harus segera kembali ke desamu sebelum para tetua menyadari bahwa segel ini telah hancur," kata Dion, matanya kembali menatap ke arah jalan pulang dengan serius. "Dan aku akan menemanimu sampai ke dalam rumahmu. Aku tidak akan membiarkanmu menghadapi mereka sendirian."
Dengan penawar yang berhasil didapatkan, mereka berdua segera berbalik arah, berjalan cepat menembus kabut pagi yang kian menipis, bersiap untuk menghadapi konspirasi dan bahaya yang mungkin sudah menunggu mereka di batas desa.