NovelToon NovelToon
Balas Dendam Nyonya Cha

Balas Dendam Nyonya Cha

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Tamat
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Mayraa Ibnurafa

Han Ji-an rela dicap "mandul" dan dihina mertua demi menutupi aib suaminya, Kang Min-woo, yang tidak subur. Namun, ketulusannya dikhianati. Min-woo berselingkuh dengan sahabat sekaligus dokter kandungan Ji-an, memalsukan rekam medisnya, lalu mendepaknya tanpa sepeser uang pun.

​Di titik hancur, Ji-an dinikahi Cha Jin-wook, CEO nomor satu di Korea. Tiga tahun berlalu, Ji-an membuktikan kebohongannya dengan melahirkan dua anak. Kini, ia kembali ke Seoul sebagai Nyonya Besar Cha Group yang elegan, siap menghancurkan karier, rumah tangga, dan harga diri orang-orang yang telah membuangnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mayraa Ibnurafa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26: Kabut di Lereng Hallasan

​Hujan rintik-rintik menyapu permukaan kaca jendela vila tua di lereng Hallasan, Pulau Jeju. Di dalam ruang tamu yang hanya diterangi satu lampu gantung temaram, seorang pria paruh baya bernama Elias—utusan dari Lineage Bio—sedang berdiri di depan peta topografi wilayah Hannam-dong. Tangannya yang kurus gemetar saat memegang sebatang rokok. Bukan karena dingin, melainkan karena ia tahu bahwa di luar sana, ia sedang diburu oleh predator paling berbahaya di Korea Selatan.

​Elias bukan penjahat kartun. Ia adalah seorang mantan peneliti medis yang kehilangan segalanya setelah yayasannya bangkrut akibat kebijakan restrukturisasi perusahaan dua puluh tahun lalu. Baginya, menyerang Cha Jin-wook bukan hanya soal uang, tapi soal pembuktian bahwa "sains" bisa meruntuhkan warisan keluarga yang angkuh.

​"Tuan Elias," suara serak seorang pengikutnya memecah keheningan. "Akses ke sistem keamanan penthouse Hannam-dong tertutup total. Mereka mengubah protokol enkripsi setiap sepuluh menit."

​Elias mematikan rokoknya di atas meja kayu. Suaranya rendah, nyaris seperti bisikan. "Jangan mencoba menembus pintu depan. Jin-wook tidak akan membiarkan kita sampai di sana. Fokus pada pasokan logistik harian mereka. Jika kita tidak bisa menyentuh mereka, kita akan membuat mereka merasa tidak aman di dalam rumah mereka sendiri."

​Ia meraih sebuah suntikan kecil berisi cairan bening dari tas medisnya. Itu bukan racun biasa, melainkan senyawa penghambat hormon yang bisa menyebabkan keguguran tanpa meninggalkan jejak medis. "Ini adalah misi terakhir kita. Jika gagal, Lineage Bio tidak akan membiarkan kita pulang ke Eropa."

​Di Seoul, Jin-wook tidak sedang duduk diam. Ia berada di ruang kendali bawah tanah kantornya. Tidak ada teriakan, tidak ada kemarahan yang meledak-ledak. Ia hanya duduk menatap monitor, jemarinya mengetuk meja dengan ritme yang lambat.

​"Mereka bergerak di Jeju, Presdir," lapor Sekretaris Kim.

​"Jangan ganggu mereka," jawab Jin-wook singkat. Matanya tertuju pada grafik pergerakan data. "Biarkan mereka percaya bahwa rencana mereka berjalan lancar. Aku ingin tahu siapa saja pihak domestik yang berani memfasilitasi kebutuhan logistik mereka di pulau itu."

​Jin-wook berdiri, berjalan menuju dinding kaca yang menampilkan pemandangan kota. Ia tidak lagi membayangkan balas dendam. Pikirannya saat ini hanya tertuju pada Ji-an yang sedang berada di rumah, mungkin sedang menyiapkan camilan sore atau menulis jurnal. Setiap ancaman yang merayap di luar sana hanyalah debu yang harus ia bersihkan sebelum ia pulang untuk makan malam.

​"Siapkan jet pribadi. Kita berangkat ke Jeju satu jam lagi," ucap Jin-wook. "Tapi pastikan Ji-an tidak tahu. Katakan aku ada pertemuan mendadak di Busan."

​Di penthouse, Ji-an merasakan sesuatu yang berbeda. Ia sedang duduk di ruang santai, mencoba membaca buku, namun fokusnya terus terpecah. Ia menatap ke arah pintu masuk, menunggu langkah kaki yang selalu membuatnya merasa tenang.

​Saat Jin-wook datang berpamitan untuk "perjalanan bisnis ke Busan", Ji-an memperhatikan kemejanya yang tidak serapi biasanya. Bukan karena tidak terurus, tapi ada ketegangan pada cara suaminya mengancingkan lengan kemeja.

​Ji-an berdiri, menghampiri Jin-wook. Ia tidak bertanya, "Apakah ini berbahaya?" karena ia tahu jawabannya pasti "tidak". Sebagai gantinya, ia meraih kerah kemeja Jin-wook, merapikannya dengan sangat teliti, lalu menatap mata suaminya dalam-dalam.

​"Pulanglah dengan selamat," bisik Ji-an. Suaranya tenang, tidak ada nada memohon.

​Jin-wook terdiam. Ia merasakan hatinya mencelos. Untuk pertama kalinya, ia merasa sedikit gentar—bukan karena ancaman musuh, tapi karena ia takut tidak bisa kembali ke rumah untuk melihat Ji-an. Ia membungkuk, menyandarkan dahinya di bahu Ji-an. Ia tidak memeluknya dengan pose posesif, melainkan hanya menempelkan tubuhnya, mencari kekuatan dari istrinya.

​"Aku akan kembali sebelum kau terbangun besok pagi," bisik Jin-wook. Ia melepaskan pelukannya, berbalik, dan melangkah pergi tanpa menoleh lagi. Ia tahu jika ia menoleh, ia mungkin tidak akan sanggup meninggalkan rumah.

​Di luar, hujan mulai turun lebih deras. Jin-wook masuk ke dalam mobil. Di kursi belakang, ia tidak membuka laptop atau berkas. Ia hanya menatap foto Ji-an di layar ponselnya. Tidak ada senyuman sinis, tidak ada tatapan mematikan. Hanya seorang pria yang menyadari bahwa dunianya bukan lagi tentang kekuasaan, melainkan tentang seseorang yang menunggunya di rumah.

​"Mulai eksekusi," perintahnya lewat radio komunikasi.

​Di lereng Hallasan, sebuah kilatan cahaya dari senapan runduk menembus kegelapan malam, menandai dimulainya pertempuran yang tidak akan tercatat di koran mana pun.

Malam Penentuan di Lereng Hallasan

​Suara rintik hujan yang menghantam atap seng vila tua itu mendadak tenggelam oleh bunyi desis halus dari ban mobil yang melindas kerikil basah. Di dalam ruangan, lampu gantung temaram bergoyang pelan. Elias menghentikan gerakannya yang sedang mengemas sisa peralatan medis ke dalam tas jinjing.

​Ia tidak bodoh. Sebagai mantan peneliti yang terbiasa mengamati anomali kecil di bawah mikroskop, ia tahu ritme alam di sekitar lereng Hallasan. Suara burung malam yang mendadak senyap di luar adalah indikator mutlak: perimeter luarnya telah jebol.

​"Tuan Elias, jalur komunikasi ke dermaga bawah tanah terputus," bisik salah satu rekannya, wajahnya yang semula tenang kini tampak pias di bawah pendar lampu.

​Elias tidak berteriak. Ia hanya menarik napas dalam-dalam, merasakan dinginnya udara Jeju yang mulai menyusup melalui celah dinding kayu. "Jin-wook tidak datang untuk bernegosiasi. Hancurkan semua dokumen fisik sekarang."

​Di luar, di balik semak-semak yang basah oleh embun dan hujan, sekelompok pria berpakaian hitam bergerak tanpa suara. Mereka bukan tentara bayaran sembarangan, melainkan unit keamanan komando pusat Cha Group yang telah dilatih untuk operasi senyap.

​Cha Jin-wook berdiri di bawah perlindungan pohon ek besar, beberapa puluh meter dari struktur bangunan vila. Ia tidak mengenakan jas abu-abu mahalnya lagi. Sebuah jaket taktis hitam melekat erat di tubuh tegapnya. Angin malam yang kencang menerpa wajahnya, namun sepasang matanya tetap fokus menatap satu-satunya jendela yang masih memancarkan cahaya di lantai dua.

​"Presdir, tim satu sudah mengamankan pintu belakang. Jalur pelarian mereka ke arah pantai sudah diblokir," Sekretaris Kim melaporkan melalui earphone nirkabel.

​Jin-wook tidak langsung memberi perintah menyerbu. Ia mengangkat tangan kirinya, melihat jam taktis digital yang melingkar di pergelangan tangannya. Pukul 23.45 KST. Di Seoul, Ji-an mungkin sudah mulai tertidur, atau mungkin sedang membolak-balik halaman buku jurnal kehamilannya dengan gelisah. Pikiran itu membuat dadanya terasa sedikit sesak. Ia ingin menyelesaikan kekacauan ini secepat mungkin.

​"Masuk," perintah Jin-wook. Suaranya rendah, nyaris menyatu dengan deru angin malam. "Tangkap Elias hidup-hidup. Aku butuh nama-nama jaringan mereka di Swiss."

​Brak!

​Pintu depan vila hancur dalam satu hentakan kapak taktis. Detik berikutnya, suasana di dalam vila berubah menjadi kekacauan yang sunyi. Tidak ada baku tembak yang bising; tim keamanan Jin-wook bergerak dengan efisiensi yang menakutkan, melumpuhkan para pengikut Elias menggunakan peluru kejut elektrik dalam hitungan detik.

​Ketika Jin-wook melangkah masuk melewati ambang pintu yang rusak, lantai kayu di bawah sepatunya berderit pelan. Ia berjalan menaiki tangga menuju lantai dua, tempat Elias berada.

​Di ruang tamu atas, Elias sudah terduduk di lantai dengan tangan terikat ke belakang kursi kayu. Di depannya, sebuah gawai tablet menampilkan proses penghancuran data yang terhenti di angka 74%. Di atas meja marmer kecil di sampingnya, terletak botol suntikan berisi cairan bening yang menjadi target operasi malam ini.

​Jin-wook berhenti tepat di depan Elias. Ia tidak memandang pria tua itu dengan tatapan meremehkan yang teatrikal. Ia hanya menatapnya dengan pandangan dingin seorang pengusaha yang sedang memeriksa aset yang rusak.

​"Elias," ucap Jin-wook, menyebut nama itu dengan pelafalan yang bersih. "Kau menghabiskan dua puluh tahun di Eropa hanya untuk kembali ke tanah ini sebagai seorang kriminal?"

​Elias mendongak. Rambutnya yang memutih tampak berantakan, dan sudut bibirnya berdarah akibat benturan saat ditangkap tadi. Namun, ada tawa kecil yang lolos dari tenggorokannya. "Kau pikir kau sudah menang, Anak Muda? Lineage Bio bukan sekadar nama yayasan. Kami adalah ide yang ditanamkan oleh nenek buyutmu. Selama darah keluarga Cha mengalir di tubuh anak yang dikandung istrimu, kalian tidak akan pernah aman."

​Jin-wook berjalan mendekati meja, mengambil botol suntikan bening itu, lalu memutarnya perlahan di bawah pendar lampu. "Sains yang kau banggakan ini tidak akan pernah menyentuh rumahku, Elias. Dan mengenai Lineage Bio..."

​Jin-wook meletakkan kembali botol itu dengan ketukan pelan yang konstan. "...rekening utama mereka di Zurich telah dibekukan total oleh otoritas Swiss atas dugaan pendanaan aktivitas ilegal satu jam yang lalu. Yayasanmu sudah mati sebelum kau sempat menyuntikkan cairan ini ke mana pun."

​Mendengar hal itu, sisa-sisa keberanian di wajah Elias runtuh. Matanya melebar, menatap Jin-wook dengan kesadaran baru bahwa pria di hadapannya ini tidak hanya menggunakan kekuatan fisik, melainkan telah memotong seluruh urat nadi finansialnya dari jarak ribuan mil.

​"Bawa dia pergi," ujar Jin-wook pada Sekretaris Kim. "Pastikan dia dipindahkan ke fasilitas interogasi privat di Incheon. Aku tidak ingin ada satu pun berkas kasus ini yang bocor ke kejaksaan umum sebelum kita mendapatkan semua nama di Swiss."

​Pukul 04.15 KST.

​Jet pribadi Cha Group mendarat kembali di Bandara Gimpo. Jin-wook melangkah keluar dari kabin pesawat dengan gumpalan lelah yang mulai menggelayuti pundaknya. Perjalanan singkat ke Jeju ini menguras energinya, bukan karena fisiknya yang lemah, melainkan karena tekanan mental untuk menjaga agar semuanya tetap rapi dan tidak terendus oleh Ji-an.

​Begitu mobil Bentley hitamnya memasuki gerbang kompleks penthouse Hannam-dong, langit timur mulai menampakkan semburat warna biru keunguan yang samar.

​Jin-wook membuka pintu utama rumah dengan sangat perlahan, melepas sepatu taktisnya, dan berjalan menaiki tangga tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Atmosfer di dalam rumah begitu hangat dan tenang, sangat kontras dengan ketegangan di lereng Hallasan beberapa jam lalu.

​Ia mendorong pintu kamar tidur utama. Di atas ranjang, Han Ji-an tertidur dengan posisi miring, memeluk salah satu bantal panjang dengan selimut sutra yang melorot hingga ke pinggang. Sinar lampu tidur yang temaram menerpa wajah cantiknya yang tampak begitu damai.

​Jin-wook menghela napas panjang, seolah seluruh beban dunia yang ia pikul sejak kemarin luruh begitu saja saat melihat sosok istrinya. Ia berjalan ke kamar mandi, membersihkan diri dengan cepat, lalu mengganti pakaiannya dengan kaus katun longgar berwarna hitam.

​Dengan gerakan yang sangat hati-hati, Jin-wook merangkak naik ke atas ranjang. Ia menyelipkan tubuh tegapnya di belakang Ji-an, melingkarkan lengan besarnya di pinggang wanita itu, dan menarik tubuh ramping Ji-an ke dalam dekapannya. Kepala Jin-wook bersandar di ceruk leher Ji-an, menghirup dalam-dalam aroma terapi lavender yang menenangkan.

​Ji-an bergerak sedikit, rupanya tidurnya terusik oleh perubahan suhu di sampingnya. Ia membuka mata perlahan, menemukan wajah tampan suaminya yang tampak lelah namun menatapnya dengan kelembutan yang utuh.

​"Kau sudah pulang?" suara Ji-an parau khas orang baru bangun tidur.

​"Hmm. Aku menang," bisik Jin-wook lirih, kalimatnya memiliki makna ganda yang hanya dipahami oleh dirinya sendiri. Ia mengecup pelipis Ji-an, menikmati kehangatan kulit istrinya.

​Ji-an tidak bertanya lebih jauh. Ia membalikkan tubuhnya perlahan di dalam dekapan Jin-wook, mengulurkan tangan lentiknya untuk mengusap pipi suaminya yang terasa agak kasar karena belum bercukur. "Kau bau angin malam dan hujan, sayang. Tidurlah."

​"Tetaplah seperti ini," jawab Jin-wook, mempererat pelukannya tanpa menyakiti perut Ji-an.

​Di bawah selimut sutra yang hangat, di tengah keheningan subuh kota Seoul, Jin-wook akhirnya memejamkan mata. Badai dari seberang samudra telah berhasil dipatahkan, dan untuk sementara waktu, takhta Hannam-dong kembali berada dalam kedamaian yang mutlak.

​Ancaman Lineage Bio berhasil dilumpuhkan di akar domestiknya! Namun, dengan hancurnya faksi Eropa, kapankah waktu yang tepat bagi Han Ji-an untuk melangkah keluar dari zona perlindungan dan mengambil alih perannya di dunia bisnis Cha Group?

1
Mutia Kim🍑
Seneng banget deh Ji-An dapat pengganti yg jauh lebih baik🥰
Mutia Kim🍑
Memang lebih baik kamu pergi saja dari keluarga toxic itu Ji-an😌
Mayraa_Tapaa: makasih ka udah mampir
total 1 replies
Mayraa_Tapaa
Mampir ya readers readers yg baik dan keren-keren, udah up banyak episode loh jadi enak bacanya...setiap hari juga bakal up min 4 episode sehari ya....
kutunggu kehadiran kaliam🤗✨️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!