Memasuki bangku kuliah dengan penampilan cupunya, membuat Ananda Ayunindia menjadi target empuk perundungan oleh Tristan Bratadikara dan komplotannya. Tak sekadar dibully, Ananda bahkan dijadikan bahan taruhan hingga berujung kehamilan. Hancur dan trauma, ia terpaksa melepas beasiswanya dan pergi menghilang.
Enam tahun berlalu. Ananda yang kini telah lulus kuliah dan menetap di Bandung, berhasil diterima bekerja sebagai sekretaris di sebuah perusahaan raksasa di Jakarta. Demi masa depan putra kecilnya dan sang ibu yang sudah renta, Ananda terpaksa kembali ke kota penuh memori kelam tersebut.
Siapa sangka, pimpinan tertinggi di perusahaan baru tempatnya bekerja adalah Tristan Bratadikara, pria yang dahulu menghancurkan hidupnya. Namun, Ananda yang sekarang bukan lagi gadis cupu yang bisa ditindas, ia telah bermetamorfosis menjadi wanita yang cantik, energik, dan pemberani. Akankah Tristan mengenali korbannya di masa lalu, atau justru bertekuk lutut pada sosok Ananda yang baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 6
Jam pulang kantor pun tiba. Kesibukan di dalam gedung Bratadikara Group perlahan mereda. Di area parkir VIP, sebuah mobil sedan mewah hitam bergerak perlahan membelah jalanan menuju pintu keluar gedung.
Kevin duduk di balik kemudi dengan fokus, sementara Tristan bersandar di kursi belakang dengan mata terpejam, mencoba melepas penat setelah seharian dihantam tumpukan berkas dan emosi yang terkuras.
Saat mobil melintas mendekati pintu gerbang luar, pandangan Kevin tak sengaja menangkap sosok wanita yang berdiri di halte tidak jauh dari sana. Wanita itu adalah Ananda. Ia mengenakan blus kerjanya dengan rapi, penampilannya masih terlihat sangat segar, anggun, dan sama sekali tidak menunjukkan raut wajah tertekan setelah menghadapi amukan sang CEO siang tadi. Mentalnya benar-benar luar biasa.
Tanpa sadar, Kevin menekan klakson mobilnya sekali.
Tin!
Suara klakson itu spontan membuat Tristan membuka mata dan mengernyitkan keningnya tajam. "Kenapa kau membunyikan klakson, Kevin? Kau membuatku kaget," tegur Tristan dengan suara beratnya.
"Eh, m... maaf, Tuan," Kevin meringis, melirik kaca spion tengah. "Itu... Beuh, sekretaris cantik kita pulangnya naik busway, ya? Sayang banget wanita secantik dia harus berdesak-desakan." Kevin menunjuk ke arah Ananda yang sedang berdiri anggun menunggu bus.
Tristan mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Netranya menatap lurus ke arah Ananda. Ada desiran aneh yang kembali menyergap dadanya saat melihat ketenangan wanita itu.
"Kalau kau mau, ajak saja dia masuk," ucap Tristan datar, tanpa ekspresi.
Deg!
Perkataan Tristan yang teramat santai itu seketika membuat bulu kuduk Kevin berdiri meremang. Kevin menelan ludah dengan susah payah. Bagi Kevin yang sudah bertahun-tahun mendampingi pria itu, kalimat Tristan barusan bukanlah sebuah tawaran ramah, melainkan sebuah ancaman terselubung yang bisa berujung pemecatan jika ia berani macam-macam.
"T... tidak usah, Tuan! Hahaha, saya cuma reflek saja tadi," sahut Kevin gugup, buru-buru menginjak gas untuk menjauh dari halte. "Ehem... setelah ini, Tuan ingin pergi ke mana?"
Tristan kembali menyandarkan kepalanya dan memejamkan mata, membiarkan bayangan Ananda memudar di belakang. "Bawa aku ke apartemen. Aku malas pulang ke Mansion."
Tristan menguap kecil, merasakan lelah yang luar biasa menjalar di tubuhnya. Kepulangannya ke Indonesia sudah pasti akan memicu satu hal yang paling ia hindari, yakni kedatangan Bella. Sudah lebih dari enam tahun lamanya wanita itu terus mengejar dan berusaha mendapatkan hatinya. Namun, sejak malam jahanam enam tahun lalu, Tristan seolah telah mengunci rapat pintu hatinya untuk wanita mana pun. Rasa bersalahnya pada si 'itik' telah mematikan seluruh gair4h asmaranya.
Sementara itu, setelah menempuh perjalanan yang cukup padat, Ananda akhirnya tiba di depan rumah sewanya di pinggiran Jakarta. Rumah itu tidak mewah, namun sangat bersih dan sangat layak untuk ditinggali.
Baru saja Ananda membuka pintu pagar, seorang bocah laki-laki tampan berusia lima tahun sudah berlari menghambur ke arahnya sambil memegang sebuah mainan robot.
"Horeee! Mamah pulaaang!" seru Elvano dengan wajah berbinar, langsung memeluk erat kaki ibunya.
Ananda seketika melupakan seluruh rasa lelahnya. Senyum manisnya terkembang sempurna. Ia berlutut, merentangkan kedua tangannya, dan memeluk erat tubuh mungil sang putra, menghirup dalam-dalam aroma tubuh El yang menjadi penyemangat hidupnya.
"Wah, anak pintarnya Mamah sudah mandi, ya? Bau minyak telon nih," goda Ananda sambil mencium gemas pipi putranya. "Coba tebak, Mamah bawa apa untuk El?" Ananda mengangkat sebuah kantong plastik yang menguarkan aroma gurih yang menggugah selera.
Mata El langsung berbinar bulat. "Pasti ayam goreng DFC, kan?!"
"Betul sekali, Sayang! El sudah makan belum?" tanya Ananda lembut sambil menuntun tangan kecil putranya masuk ke dalam rumah.
"Kebetulan belum, Mah. El nungguin Mamah," jawab bocah itu polos. "Oh iya, Nenek ke mana?" tanya Ananda saat tidak melihat ibunya di ruang tengah.
"Ada di belakang, lagi beresin baju-baju di kamar," sahut El sambil melompat kecil kegirangan memikirkan menu makan malam mereka.
Ananda tersenyum hangat. Ia melangkah masuk ke dalam rumah, menutup pintu rapat-rapat, mengunci seluruh kepenatan dan ancaman dunia luar. Malam ini, di dalam rumah kecil ini, ia hanya ingin menjadi seorang ibu yang bahagia bersama keluarga kecilnya, bersiap untuk menikmati makan malam yang penuh dengan kehangatan.
*
*
Setibanya di apartemen mewah miliknya, Tristan langsung merebahkan tubuh lelahnya di atas ranjang berukuran king size. Ia melonggarkan beberapa kancing kemeja atasnya dan melepas dasi yang seharian ini mencekik lehernya, lalu melemparkannya ke sembarang arah. Pria itu mendesah kasar, menatap kosong ke langit-langit kamar yang sunyi.
Heningnya malam justru membuat pikirannya kembali mengembara ke masa lalu. Mengingat sesuatu, Tristan bangkit dari posisinya dan berjalan perlahan menuju nakas di sudut tempat tidur. Ia membuka laci nakas tersebut, tempat di mana ia menyimpan sebuah benda berharga semenjak kepulangannya dari Kanada lima tahun yang lalu untuk mencari si Itik, namun tak membuahkan hasil sehingga membuatnya kembali ke sana dan selama ini Tristan lebih memilih menyendiri di apartemen ini.
Dari dalam laci, Tristan mengeluarkan sebuah bingkai foto usang. Netranya menatap lurus pada gambar di dalamnya, seketika rasa rindu yang teramat sangat membuncah di dadanya.
Itu adalah foto masa kuliahnya enam tahun lalu. Di dalam foto itu, Tristan tampak merangkul paksa bahu seorang gadis cupu yang menunduk malu. Foto itu diambil saat ia terlibat taruhan gila dengan Andre untuk membuktikan seberapa mudahnya si gadis cupu itu dirayu. Namun, Tristan ingat betul, di balik sikap jaim dan ketakutan gadis itu saat digodanya, ada binar ketulusan di bola matanya. Gadis itu benar-benar menyukainya kala itu, dan Tristan bisa merasakannya.
Tristan mengusap permukaan kaca bingkai foto tersebut dengan ibu jarinya yang gemetar.
"Itik... kenapa aku selalu merindukanmu?" bisik Tristan, suaranya tercekat menahan sesak. "Ini pasti karma karena dulu aku terlalu fatal merundung mu selama di kampus. Bahkan, nama panggilan 'si itik buruk rupa' itu adalah pemberianku..."
Setetes air mata penyesalan jatuh di sudut matanya. "Tapi aku sudah tidak peduli dengan semua itu sekarang. Aku... aku menyukaimu, Itik. Aku mencintaimu..."
Tristan membawa bingkai foto itu ke dalam dekapannya, memeluknya erat-erat seolah sedang memeluk sosok gadis yang dirindukannya. Dengan rasa bersalah yang masih merajai hatinya, Tristan akhirnya tertidur pulas dalam posisi memeluk foto tersebut.
Sementara itu, di kediaman megah keluarga Bratadikara, suasana tampak berbanding terbalik. Bella duduk di sofa ruang tamu dengan raut wajah gusar. Ia sudah menunggu kepulangan Tristan sejak sore tadi. Berkali-kali ia menghubungi ponsel pria itu, namun jangankan diangkat, dijawab pun sama sekali tidak.
Nyonya Mutia, ibu Tristan, yang duduk di samping Bella mencoba mengusap lembut bahu wanita cantik itu untuk menenangkannya.
"Mungkin Tristan sedang tidak mau diganggu, Bella. Kau tahu sendiri kan betapa sibuknya dia setelah Papahnya jatuh sakit akibat kecelakaan enam tahun yang lalu?" ujar Nyonya Mutia dengan suara lembut penuh pengertian. "Tristan dipaksa meninggalkan dunia mudanya dan pindah ke Kanada untuk mengurus semua perusahaan Papahnya di sana. Dan sekarang, setelah perusahaan di Kanada kembali berjaya, dia diperintahkan pulang ke Jakarta untuk memimpin perusahaan utama milik keluarga Bratadikara."
Mendengar penjelasan dari calon mertuanya, Bella mendesah kasar. Ia menyandarkan punggungnya dengan lemas. Rasa rindu yang sudah bertahun-tahun ia pendam dan ia harapkan bisa tumpas malam ini, terpaksa harus ia simpan kembali dalam-dalam. Kesibukan Tristan selalu menjadi dinding pembatas di antara mereka.
Bella melirik jam dinding yang sudah menunjukkan larut malam. Dengan berat hati, ia akhirnya bangkit dan berpamitan.
"Baiklah, Tante. Kalau begitu Bella pulang dulu, ya. Ini juga sudah semakin larut, takut Papah mencari ku di rumah."
"Iya, hati-hati di jalan ya, Bella. Nanti Tante akan beri tahu Tristan kalau kamu datang mencarinya," ucap Nyonya Mutia mengantar Bella sampai ke depan pintu. Bella hanya tersenyum tipis, melangkah pergi dengan rasa kecewa yang mengganjal di hatinya.
Bersambung...