NovelToon NovelToon
THE HIDDEN TEARS OF DIRGANTARA

THE HIDDEN TEARS OF DIRGANTARA

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Keluarga & Kasih Sayang
Popularitas:687
Nilai: 5
Nama Author: Amanda Shakira

Bagi Revanza, rumah bukanlah tempat untuk pulang, melainkan tempat di mana ia selalu menjadi figuran yang terlupakan. Di saat ia pulang dengan tubuh penuh luka akibat jatuh dari motor, pandangan ibunya justru tertuju penuh pada sang kakak, Arkael—si anak emas yang selalu sempurna. Namun, di balik senyuman tenang Arka yang merebut segalanya, ada sebuah rahasia berdarah yang perlahan mulai menggerogoti nyawanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amanda Shakira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6: TOPENG DI SEKOLAH

Bab 6: Topeng di Sekolah

Matahari pagi yang terbit di balik awan mendung tidak mampu menghangatkan tubuh Revan yang terasa kaku. Setelah menghabiskan malam sendirian di rumah yang dingin tanpa makan malam yang layak, ia terpaksa mengganjal perutnya dengan sepotong roti tawar kering yang hampir berjamur sebelum berangkat sekolah. Sisa-sisa amarah dari telepon Ibu semalam masih membekas jelas di lipatan dahinya, membuat aura di sekitar cowok itu tampak begitu mencekam dan berbahaya.

Begitu ia melangkahkan kaki melewati gerbang SMA Pelita Bangsa, suasana riuh pagi itu mendadak terasa berbeda. Di mading utama sekolah, kerumunan siswa tampak sedang berbisik-bisik sembari menunjuk-nunjuk selembar pengumuman baru.

Revan berjalan melewati mereka dengan langkah tegap, memasang wajah sedingin es. Namun, sayup-sayup suara obrolan dari siswi-siswi yang berdiri di dekat mading terdengar jelas di telinganya.

"Eh, lo udah denger kabar tentang Kak Arka belum? Katanya dia dilarikan ke rumah sakit semalam."

"Serius? Ya ampun, pasti gara-gara dia terlalu stres nyiapin Olimpiade Fisika ya? Kasihan banget. Dia tuh emang ambisius banget kalau urusan nilai, sampai lupa sama kesehatan sendiri."

"Iya, bokap gue yang kerja di rumah sakit yang sama bilang, Kak Arka sampai harus dirawat intensif. Keren banget ya, berjuang sampai segitunya demi bawa nama baik sekolah kita."

Revan mengepalkan tangannya di dalam saku jaket denim yang ia kenakan untuk menutupi seragamnya yang kusut. Sebuah tawa sinis hampir saja lolos dari mulutnya. Keren? Berjuang? batin Revan bergejolak. Di mata orang-orang bodoh ini, Arka yang pingsan karena fisik manjanya dianggap sebagai pahlawan yang tragis. Mereka tidak tahu betapa muaknya Revan melihat satu dunia berputar hanya untuk mengasihani satu orang yang sama.

"Van! Akhirnya lo dateng juga," panggil Miko, setengah berlari menghampiri Revan di koridor kelas XI. Wajah Miko tampak panik, melirik ke kanan dan ke kiri sebelum berbisik pelan. "Lo udah dengar gosip di ruang guru?"

"Gak peduli," sahut Revan pendek, terus berjalan menuju kelasnya.

"Ih, dengerin dulu! Ini soal abang lo, Kak Arka," paksa Miko, menyamakan langkah kakinya yang pendek dengan langkah lebar Revan. "Tadi gue lewat ruang guru mau ngumpul tugas. Guru-guru lagi pada heboh. Katanya, pihak sekolah mau bikin gerakan penggalangan dana atau doa bersama gitu buat Kak Arka. Kepala sekolah bahkan berencana mau jenguk langsung ke rumah sakit siang ini."

Langkah kaki Revan mendadak terhenti di depan pintu kelas XI MIPA 3. Ia menoleh perlahan, menatap Miko dengan sepasang mata yang menyalang tajam, membuat temannya itu langsung tersedak ludahnya sendiri karena ngeri.

"Doa bersama? Jenguk langsung?" desis Revan, suaranya rendah namun sarat akan racun kebencian. "Dia cuma pingsan karena kecapekan belajar, Mik. Bukan mau mati. Lebay banget semuanya."

Miko menelan ludah, tidak berani membantah. Ia tahu betul kalau urusan Arka sudah disentuh, Revan bisa berubah menjadi monster yang siap menghajar siapa saja.

Suasana di dalam kelas pun tidak jauh berbeda. Saat bel masuk berbunyi, Bu Ratna masuk kelas dengan wajah yang tampak muram. Sebelum memulai pelajaran sejarah, wanita paruh baya itu berdiri di depan meja guru, menatap seluruh siswa dengan pandangan serius.

"Anak-anak, sebelum kita memulai pelajaran hari ini, mari kita menundukkan kepala sejenak untuk mendoakan kakak kelas kalian, Arkael Dirgantara dari kelas XII MIPA 1, yang saat ini sedang terbaring di rumah sakit karena kondisi fisiknya yang drop akibat terlalu keras mempersiapkan kompetisi sekolah kita," ucap Bu Ratna dengan nada penuh keharuan.

Seluruh siswa langsung menundukkan kepala mereka, merapalkan doa dengan khidmat. Di pojok belakang, Revan justru tetap menegakkan kepalanya. Ia menatap lurus ke papan tulis hitam di depan dengan mata yang melotot tajam, menolak untuk menunduk. Dadanya terasa seperti mau meledak oleh rasa muak yang tak tertahankan.

Doain dia? Revan mengutuk dalam hati. Terus siapa yang mau doain gue yang semalam kelaparan di rumah kosong? Siapa yang mau peduli sama luka memar di badan gue? Gak ada!

"Revanza Dirgantara!" teguran keras dari Bu Ratna memecah keheningan doa. Guru wanita itu menatap Revan dengan pandangan sangat kecewa. "Ibu perhatikan dari tadi kamu tidak mau menundukkan kepala. Itu kakak kandung kamu sendiri yang sedang sakit di rumah sakit! Bisa-bisanya kamu bersikap acuh tak acuh dan tidak punya empati seperti itu?"

Bisik-bisik langsung terdengar dari barisan bangku depan. Teman-teman sekelasnya mulai melirik Revan dengan pandangan menghakimi, menganggap Revan sebagai adik yang durhaka dan berhati batu.

Revan berdiri dari kursinya, membuat kaki kursi kayu itu berdecit nyaring menghantam lantai. "Dia cuma kurang tidur karena ambisinya sendiri, Bu. Gak usah didramatisir seolah-olah dia lagi kritis," jawab Revan dengan suara lantang dan dingin, menantang tatapan gurunya tanpa rasa takut sedikit pun.

"REVAN! Jaga ucapan kamu!" bentak Bu Ratna, wajahnya memerah karena marah. "Kakak kamu itu berjuang sampai mengorbankan kesehatannya sendiri demi masa depan! Kamu yang kerjaannya cuma berantem dan bikin masalah di sekolah harusnya malu bersikap seperti ini!"

"Saya gak pernah minta punya kakak kayak dia, Bu," sahut Revan datar. Tanpa memedulikan teriakan Bu Ratna yang memanggil namanya, Revan langsung menyambar tasnya, berbalik badan, dan melangkah lebar-lebar keluar dari kelas, meninggalkan ruang kelas yang gempar karena kelakuannya yang dianggap keterlaluan.

Revan berjalan cepat menuju area atap sekolah, tempat sepi yang biasa ia gunakan untuk membolos. Ia mengempaskan tubuhnya di balik tangki air besar, menyembunyikan wajahnya di antara kedua lutut yang ditekuk. Napasnya memburu, dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, setitik air mata kemarahan yang sedari tadi ia tahan perlahan jatuh membasahi celana abu-abunya.

Ia benci rumahnya. Ia benci sekolahnya. Dan yang paling penting, ia membenci Arkael Dirgantara yang selalu berhasil memakai topeng sebagai "korban yang jenius", sementara dirinya selalu dipaksa memakai topeng sebagai "bajingan yang tidak tahu diri".

Di atas atap sekolah yang sepi, di bawah langit Jakarta yang semakin mendung, Revan bersumpah tidak akan pernah mau menginjakkan kakinya ke rumah sakit untuk menjenguk Arka. Kesalahpahaman yang terjadi di sekolah hari ini membuat dinding pembatas di hati Revan semakin tebal dan tak tertembus, mengunci rapat rahasia besar tentang penyakit gagal ginjal stadium akhir Arka yang sebenarnya sudah mulai menggerogoti sisa waktu hidup kakaknya tanpa ada satu orang pun yang tahu.

Bersambung.....

.

.

.

.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

1
tri Harianti
tetep ibunya yang salah
tri Harianti
salah orang tuanya sih ini
tri Harianti
yang salah orang tuanya sih
tri Harianti
kasian
tri Harianti
kasian
awesome moment
arahnya. arka dan ayahnya sm2 meninggoy dan...revan nyesel bin nyesek. smua klo udh lewat batas kemampuan dijamin tumbang.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!