NovelToon NovelToon
Eifel Dalam Genggaman Cinta Yang Lain

Eifel Dalam Genggaman Cinta Yang Lain

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand
Popularitas:518
Nilai: 5
Nama Author: de banyantree

Semakin hari Alan terus melukai Xarena dengan semua keangkuhannya. Namun Xarena memilih diam. Karena sakit yang sangat begitu dalam, lima tahun Alan meninggalkannya tanpa kabar. Kini dia kembali membawa Luka.
Bagi Alan, Xarena telah bahagia dengan pilihan orang tuanya. Bagi Xarena, Alan masih memiliki utang penjelasan untuknya.
Bagaimana dia tega meninggalkan Xarena sendirian, hingga Ciara Hadir di dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon de banyantree, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ancaman

Xarena mengunci diri di dalam bilik toilet, membiarkan tubuhnya bersandar pada pintu yang tertutup rapat. Di sana, di ruang sempit yang hanya diterangi lampu temaram, pertahanannya runtuh total. Ia menutup mulutnya dengan telapak tangan, meredam isak tangis yang meledak hebat. Setiap kata-kata Alan terasa seperti sembilu yang diiriskan ke luka lama yang belum sembuh.

​"Pelacur? Murahan?" bisiknya dengan suara gemetar. "Sebegitu rendahnya aku di matamu, Lan?"

​Dada Xarena terasa sesak, seolah pasokan oksigen di ruangan itu mendadak habis. Ia teringat bagaimana Rian mencengkeramnya tadi—rasa jijik itu masih membekas di kulitnya. Dan ironisnya, pria yang dulu berjanji melindunginya justru menjadi orang pertama yang melemparkan kotoran ke wajahnya.

​Setelah beberapa menit yang menyiksa, Xarena mencoba menguasai diri. Ia keluar dari bilik dan melangkah menuju wastafel. Di depan cermin besar berbingkai emas itu, ia melihat bayangannya sendiri. Matanya sembab, maskara di sudut matanya sedikit luntur, dan wajahnya sepucat kertas.

​Ia menyalakan keran, membasuh wajahnya dengan air dingin berkali-kali, berharap rasa dingin itu bisa membekukan rasa sakit di hatinya. Namun, tepat saat ia mendongak untuk mengambil tisu, sebuah siluet muncul di pantulan cermin.

​Nyonya Monique sudah berdiri di belakangnya, menatapnya dengan pandangan dingin yang mematikan. Wanita itu melangkah maju, sepatu hak tingginya berdenting tajam di atas lantai marmer, lalu ia berhenti tepat di belakang bahu Xarena.

​Monique sedikit membungkuk, mendekatkan bibirnya yang berwarna merah darah ke telinga Xarena.

​"Cantik juga ya, kalau sedang menderita begini," bisik Monique, suaranya halus namun penuh racun. "Tapi dengar baik-baik, Xarena. Aku bukan tipe wanita yang suka berbagi, apalagi dengan sampah sepertimu."

​Xarena mematung, jemarinya mencengkeram pinggiran wastafel dengan erat.

​"Aku akan terus mengawasimu. Gerak-gerikmu, napasmu, semuanya," lanjut Monique dengan nada mengancam. "Anggap ini peringatan pertama dan terakhir. Jika kau berani sedikit saja mengganggu suamiku, atau bahkan hanya sekadar menatapnya dengan mata jalangmu itu... aku nggak akan segan untuk mencabik semua isi dalam tubuhmu. Aku punya uang dan kuasa untuk membuatmu hilang tanpa jejak. Paham?"

​Rasa sakit di dada Xarena kian menghimpit. Ancaman itu terasa begitu nyata. Ia tidak punya kekuatan untuk melawan, tidak punya sandaran untuk berlindung. Dengan sisa-sisa keberaniannya, Xarena hanya bisa mengangguk pelan, memberikan tanda bahwa ia mengerti posisinya yang sudah berada di titik nadir.

​"Pintar," ucap Monique singkat sembari menepuk pelan bahu Xarena, lalu berbalik dan melenggang pergi seolah baru saja menyelesaikan percakapan cuaca yang ringan.

​Begitu pintu toilet tertutup, kekuatan di kaki Xarena seolah menguap. Tubuhnya luruh ke lantai. Ia terduduk lemas, menyembunyikan wajah di antara kedua lututnya. Bahunya terguncang hebat oleh isak tangis yang kini tak lagi ia bendung.

​"Ren? Xarena! Kamu di dalam?"

​Suara panik itu milik Kinan. Sahabatnya itu masuk dengan tergesa-gesa dan langsung menghampiri Xarena yang meringkuk di lantai.

​"Ya ampun, Ren! Kamu kenapa? Ada yang lukain kamu?" tanya Karin panik sembari berlutut dan merangkul bahu Xarena.

​Xarena hanya menggeleng lemah, suaranya hilang ditelan isak. "Aku... aku cuma capek, Nan. Aku mau pulang."

​Kinan yang melihat kondisi sahabatnya yang berantakan tidak tega untuk bertanya lebih lanjut. Ia membantu Xarena berdiri, membersihkan bekas air mata di pipi Xarena dengan tisu, dan merapikan rambutnya yang sedikit kusut.

​"Iya, kita pulang sekarang. Acara juga sudah hampir selesai. Masa bodoh sama bos galak itu, aku yang akan bilang kalau kamu sakit," ucap Kinan tegas.

​Dengan perlahan, Kinan membimbing Xarena keluar dari gedung hotel melalui pintu samping agar tidak terlalu menarik perhatian. Udara malam yang dingin menusuk tulang menyambut mereka saat mereka berdiri di lobi luar, menunggu taksi daring yang sudah dipesan Karin.

​Xarena menyilangkan tangan di dada, mencoba menghalau dingin dan rasa hampa yang menyelimutinya. Di kejauhan, ia melihat mobil-mobil mewah mulai meninggalkan pelataran hotel.

​Lalu, sebuah Rolls-Royce hitam berhenti tepat di depan lobi utama. Pintu terbuka, dan Alan keluar bersama Monique yang menggandeng lengannya dengan mesra. Mereka berjalan anggun, tampak seperti pasangan paling bahagia dan berkuasa di dunia.

​Alan melintas hanya beberapa meter dari tempat Xarena dan Kinan berdiri. Xarena sempat menahan napas, berharap pria itu setidaknya menoleh atau memberikan tatapan—bahkan jika itu tatapan benci. Namun, Alan terus berjalan lurus. Ia tidak menoleh sedikit pun, seolah-olah Xarena hanyalah debu yang tak sengaja lewat di hadapannya.

​"Sabar ya, Ren. Dunia emang kadang nggak adil buat orang baik kayak kamu," gumam Kinan pelan sambil menggenggam tangan Xarena yang sedingin es.

​Xarena tersenyum miris menatap punggung Alan yang perlahan menghilang di balik pintu mobil. "Bukan nggak adil, Nan. Aku cuma sedang membayar harga dari masa lalu."

​Taksi mereka akhirnya datang. Saat mobil itu bergerak membelah jalanan kota yang masih ramai, Xarena menyandarkan kepalanya di kaca jendela. Ia tahu, mulai besok, hidupnya akan jauh lebih berat. Tapi satu hal yang ia yakini, demi Ciara, ia akan menelan semua duri ini, meski kerongkongannya harus berdarah.

​Di dalam mobil Rolls-Royce...

​Alan menatap kosong ke arah jendela luar. Pikirannya tidak sedang bersama Monique yang sedari tadi mengoceh tentang koleksi perhiasan terbaru. Bayangan Xarena yang berlari keluar dari lorong dapur dengan mata sembab terus terngiang-ngiang di kepalanya.

​"Lan, kamu dengerin aku nggak sih?" tanya Monique manja sambil menyentuh lengan Alan.

​"Hm? Iya, aku dengar," jawab Alan singkat, suaranya datar.

​"Tadi itu asisten baru kamu, kan? Siapa namanya? Xarena? Dia kelihatannya nggak kompeten ya. Masa asisten direktur malah sibuk mojok sama tamu?" Monique memancing dengan nada sinis.

​Alan mengepalkan tangannya di bawah paha. "Dia cuma pekerja rendahan, Monique. Jangan buang-buang energimu untuk membahasnya."

​Alan memejamkan mata, mencoba mengusir rasa sesak yang tiba-tiba muncul di dadanya. Ia terus meyakinkan dirinya bahwa apa yang ia lakukan adalah benar. Bahwa Xarena pantas mendapatkan semua ini. Namun, jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, ada sebuah suara kecil yang berbisik bahwa ia baru saja menghancurkan sesuatu yang sebenarnya ingin ia selamatkan.

​"Permainan ini akan membuatmu hancur, Xarena. Sebagaimana kamu menghancurkanku dulu," batin Alan, meski hatinya terasa perih saat mengucapkannya.

1
mama
alan ny goblok bin tololl.. mau2 nikah sm mak Lampir cm demi kekuasaan🤣..
mama
CEO terbodoh🤣,..org kaya gk mampu nyari detektif buat nyari kebenarannya nih cerita ny, gitu aj bingung😄..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!