Elfesya terjebak perjodohan paksa dengan Ravion Arshaka, CEO angkuh yang terus menghinanya. Luka semakin dalam saat Elfesya tahu ayah Ravionlah yang menghancurkan bisnis ayahnya. Ia melarikan diri ke pesisir, hidup nestapa sebagai buruh ikan demi harga diri.
Sadar akan dosanya, Ravion melepaskan kemewahan demi menyusul Elfesya ke gubuk reyot. Di tengah bau laut dan kemiskinan, ego sang CEO runtuh demi meraih kembali hati sang sekretaris. Ini adalah kisah tentang pengkhianatan korporasi, penebusan dosa yang perih, dan cinta yang akhirnya berlabuh di dermaga ketulusan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harga diri dan sisa nasi bungkus
Pagi itu, suasana di lantai 45 terasa lebih berat dari biasanya. Ravion tiba dengan setelan jas hitam pekat, seolah sedang menghadiri pemakaman semangat kerja sekretarisnya. Ia berhenti tepat di depan meja Elfesya, meletakkan sebuah map merah dengan dentuman pelan.
"Ini data aset yang harus kamu verifikasi langsung ke lapangan. Hari ini juga," ucap Ravion tanpa salam pembuka.
Elfesya membuka map itu. Matanya membelalak. "Ke pelabuhan, gudang di pinggiran kota, dan pabrik di Tangerang? Pak, ini lokasinya berjauhan. Tidak mungkin selesai hari ini kalau saya harus kembali ke kantor sebelum jam lima."
Ravion menyunggingkan senyum miring, tipe senyum yang tidak sampai ke mata. "Gunakan transportasi umum. Aku ingin laporan efisiensi waktu dari sudut pandang masyarakat biasa. Jangan harap ada fasilitas mobil kantor untuk gadis yang 'katanya' mandiri seperti kamu."
Elfesya tahu ini adalah cara Ravion untuk menyiksanya. Namun, ia hanya menarik napas panjang dan mengangguk. "Baik, Pak. Akan saya selesaikan."
Ravion menatapnya dengan penuh selidik. Ia mencari celah kerapuhan di mata Elfesya, tapi yang ia temukan hanyalah ketenangan yang keras kepala. "Kenapa? Kamu tidak mengadu pada Nenek? Biasanya gadis sepertimu akan langsung menelepon 'pelindungnya' jika diberi tugas sulit."
"Nenek Lastri memberikan saya pekerjaan, bukan untuk menjadi beban. Saya butuh uangnya, Pak, jadi saya akan kerja," jawab Elfesya lugas sambil membereskan tasnya.
Ravion mendengus, lalu masuk ke ruangannya tanpa kata lagi. Ia merasa kesal. Keberanian Elfesya terasa seperti tamparan baginya.
Sepanjang hari, Elfesya benar-benar berjuang. Ia berlari dari satu bus ke bus lain, berdesakan di kereta komuter, dan berjalan kaki di bawah terik matahari untuk mencapai gudang-gudang tua milik Arshaka Group. Kulitnya yang cerah mulai memerah, dan keringat membasahi kemeja putihnya.
Sambil menunggu angkutan umum di pinggir jalan, ia membuka ponselnya. Ada pesan dari adiknya, Elric.
“Kak, uang buku sudah kubayar pakai sisa uang jajan kemarin. Jangan lupa makan siang, Kak El. Aku masak telur dadar buat makan malam nanti.”
Elfesya tersenyum kecil. Matanya sedikit berkaca-kaca. Ia teringat masa kuliahnya dulu. Pagi belajar, siang menjadi pelayan kafe, malam mencuci piring di restoran, dan sisa waktunya digunakan untuk mengejar beasiswa agar tetap bisa kuliah. Ia sudah biasa hidup di bawah tekanan. Baginya, kebencian Ravion hanyalah kerikil kecil dibandingkan rasa lapar yang pernah ia dan adiknya rasakan.
Ia membeli sebungkus roti murah dan sebotol air mineral di toko kelontong, memakannya dengan cepat sambil terus mencatat laporan aset di atas pangkuannya.
Pukul 16.30, Elfesya kembali ke kantor dengan napas tersengal. Rambutnya sedikit berantakan, dan sepatunya tampak kotor terkena debu proyek. Ia segera mengetik laporan hasil kunjungannya agar selesai sebelum waktu 'terlarang' Ravion tiba.
Pukul 16.55, Ravion keluar dari ruangannya, bersiap melakukan ritual tutup gorden. Ia tertegun melihat Elfesya sudah duduk manis di mejanya, meski wajah gadis itu tampak pucat pasi karena kelelahan.
"Sudah selesai?" tanya Ravion, nada suaranya sedikit goyah namun tetap berusaha ketus.
Elfesya menyerahkan map merah itu. "Lengkap dengan foto dan tanda tangan kepala gudang, Pak. Semuanya sesuai."
Ravion menerima map itu, tapi matanya justru tertuju pada tangan Elfesya yang sedikit gemetar karena kelelahan. Di sudut meja Elfesya, ia melihat bungkus roti yang sudah kosong.
"Kamu makan itu untuk makan siang?" tanya Ravion tiba-tiba, menunjuk bungkus roti itu.
Elfesya menoleh sekilas lalu membereskan sampah rotinya. "Itu cukup untuk memberi energi sampai malam, Pak. Saya permisi ke toilet sebentar untuk cuci muka."
Saat Elfesya pergi, Ravion membuka laporan itu. Isinya sangat detail, jauh lebih rapi dari laporan sekretaris seniornya yang lama. Ia terdiam sejenak. Ada rasa tidak nyaman yang menyusup ke hatinya. Ia ingin membenci gadis ini, ia ingin menganggapnya sebagai parasit yang hanya mengincar harta.
Tapi melihat bagaimana Elfesya bekerja sampai mengabaikan makan siang yang layak, Ravion mulai bertanya-tanya. Siapa sebenarnya gadis ini? Dan kenapa dia begitu keras kepala untuk tetap bertahan di sisiku?
Tepat pukul 17.00, Ravion menarik gordennya. Namun kali ini, ia tidak segera kembali ke mejanya. Ia berdiri di balik kain tebal itu, mendengarkan suara langkah kaki Elfesya yang kembali ke mejanya, melanjutkan pekerjaan seolah-olah dunia di luar sana baik-baik saja.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...