"Paksu... Calla janji tobat dan bakal jadi istri yang solehot buat Paksu! Asal... jangan taroh Calla di barak militer, Calla enggak mau merangkak dilumpur!"
Demi wasiat Papa, Callanta (21 tahun) terpaksa menikah dengan pria berbaju kumal yang dikira karyawan biasa. Namun pasca-nikah, pria itu membuka jaketnya dan berubah menjadi Komandan Pasukan Khusus berusia 38 tahun yang kaku, galak, dan seumuran pamannya!
Takut dididik fisik di barak karena sifat manjanya, Calla langsung mengeluarkan mode cegil (cewek gila): merayu sang suami dengan janji jadi "Istri Solehot" (Solehah tapi Hot).
Dimulailah perang domestik yang kocak: disiplin militer vs daster mini, tangisan bombay vs bentakan bariton, hingga aksi sang Komandan yang terpaksa lari maraton tengah malam demi menjaga imannya—sementara Calla asyik ronda di pinggir lapangan sambil bawa raket nyamuk listrik!
Mampukah Komandan kaku menjinakkan istri kecilnya? Atau justru ia yang takluk di bawah kuasa raket nyamuk sang Ismut (Istri Imut)?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 3
"Sersan! Itu... Ibu Komandan yang semalam nangkep nyamuk, kan?"
Kopral Dua Bagas menyenggol lengan seniornya, Sersan Dua joko, dengan gerakan patah-patah. Keduanya sedang berdiri tegap dalam posisi istirahat di tempat di koridor depan kantor markas komando, memegang sapu dan kain pel.
Mata mereka berdua melotot, menatap lurus ke arah halaman depan rumah dinas sang Komandan yang terletak tidak jauh dari lapangan apel.
Di sana, Calla baru saja keluar dari pintu rumah dengan langkah gontai. Gadis itu mengenakan daster longgar berwarna kuning menyala dengan motif bunga matahari besar-besar. Rambut panjangnya dicepol asal-asalan ke atas menggunakan jepitan badai berwarna pink menyala. Di tangan kanannya, raket nyamuk listrik legendaris semalam masih setia digenggam erat, seperti seorang prajurit yang tidak boleh terpisah dari senjatanya.
"Siap, betul, Kopral. Jangan melotot begitu, jaga pandangan! Kalau Komandan Alaric lihat, kita bisa disuruh tiarap di selokan sampai magrib!" bisik Sersan Joko lewat sudut bibirnya tanpa menggerakkan kepala.
"Tapi, Ser... Ibu Komandan kok... bawa raket nyamuknya ke mana-mana ya? Apa pangkalan kita emang darurat malaria?"
"Diam, Bagas! Komandan datang!"
Langkah kaki tegap berirama militer terdengar dari arah dalam kantor. Alaric Vance keluar dengan seragam dinas harian (PDH) yang sangat rapi. Baret merahnya terpasang sempurna di kepala, memancarkan aura mengintimidasi yang membuat siapa pun langsung ciut. Wajahnya yang tampan terlihat sangat datar, rahangnya mengeras saat pandangannya langsung tertuju pada daster kuning menyala di seberang lapangan.
Alaric menghela napas panjang, lalu berjalan cepat menyeberangi lapangan semen, menghampiri istri kecilnya yang sedang menguap lebar di teras rumah.
"Calla," panggil Alaric, menekan suaranya sedalam mungkin agar tidak terdengar sampai ke pos jaga.
"Eh, Paksu!" Calla langsung berbinar, menurunkan raket nyamuknya lalu melambaikan tangan dengan heboh. "Paksu mau ke mana pagi-pagi gini? Kok rapi banget sih? Ganteng deh, kayak om-om pelindung negara di drakor!"
Alaric menegang, matanya melirik ke kiri dan ke kanan secara refleks. "Masuk ke dalam rumah, Calla. Jangan berdiri di luar dengan pakaian seperti itu."
"Kenapa sih? Daster ini nyaman tahu! Adem, semilir anginnya pas banget," sahut Calla santai, sambil mengibaskan bagian bawah dasternya hingga memperlihatkan betis putihnya yang mulus.
Wajah Alaric mendadak memanas. Ia langsung melangkah maju, memosisikan tubuh kekarnya yang lebar tepat di depan Calla untuk menghalangi pandangan para prajurit di sekeliling lapangan. "Ini pangkalan militer, Callanta. Banyak prajurit pria berlalu-lalang. Tidak sopan keluar rumah hanya memakai daster longgar."
Calla cemberut, bibirnya maju beberapa senti. Ia mendongak, menatap mata elang Alaric dengan tatapan cengeng andalannya. "Paksu kok galak banget sih dari kemarin? Calla kan baru bangun tidur! Calla lapar, tahu! Di dapur Paksu nggak ada makanan sama sekali, cuma ada beras mentah sama botol kecap asin. Paksu mau biarin Calla mati kelaparan di sini?!"
Suara Calla mulai bergetar, matanya mulai berkaca-kaca dalam hitungan detik.
Alaric langsung panik. Setengah mati ia berusaha menjaga ekspresi wajahnya agar tetap terlihat berwibawa di depan anak buahnya, padahal di dalam hati ia sudah kelabakan. "Jangan menangis. Saya tidak membentakmu."
"Tapi suara Paksu nge-bass banget kayak mau ngajak berantem! Hikss... Papa... Calla mau pulang ke rumah Papa aja... Di sini suaminya kaku kayak tripleks..." Calla mulai sesenggukan, menutup wajahnya dengan sebelah tangan sementara tangan satunya masih memegang raket nyamuk.
"Calla, berhenti. Iya, maaf," potong Alaric cepat, nadanya melunak drastis. Pria 38 tahun itu menyerah kalah. "Saya tidak bermaksud galak. Sekarang masuk dulu, ya? Nanti saya pesankan makanan di kantin markas."
Tangisan Calla mendadak berhenti seketika. Ia menurunkan tangannya, menampilkan mata kucingnya yang bersih tanpa air mata. "Beneran? Calla mau nasi goreng yang pakai sosis, bakso, telur ceploknya setengah matang, terus kerupuknya harus banyak! Oh, sama es teh manisnya yang manis banget kayak Calla!"
Alaric mengerjapkan matanya, sedikit syok dengan perubahan suasana hati istrinya yang secepat kilat. "Iya, nanti saya pesankan. Sekarang, masuk dan ganti bajumu."
"Oke, Paksu! Tapi panggil dulu dong!" Calla menahan pintu rumah dinas, menatap Alaric penuh tuntutan.
"Panggil apa?" Alaric mengernyit.
"Panggil 'Ismut'! Kan udah sepakat kemarin, Calla itu Ismut, Istri Imut! Kalau Paksu panggil 'Calla' terus, rasanya kayak lagi diabsen guru sekolah tahu!"
Alaric membeku. Ia melirik ke arah koridor kantor, di mana Joko dan Bagas berpura-pura sangat sibuk mengelap kaca yang sebenarnya sudah sangat bersih. Tenggorokan Alaric mendadak kering. Membayangkan dirinya, seorang Komandan Pasukan Khusus, mengucapkan kata se-infantil itu di tengah pangkalan terbuka benar-benar merusak harga dirinya.
"Tidak di sini, Calla. Masuklah," bisik Alaric kaku.
"Nggak mau! Kalau Paksu nggak panggil Ismut, Calla bakal berdiri di sini seharian pakai daster kuning ini sambil goyang-goyang raket nyamuk! Biar temen-temen tentara Paksu lihat semua!" ancam Calla dengan mode cegil-nya yang mulai aktif. Ia bahkan bersiap mengambil posisi siap berjoget.
Alaric memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut nyeri. Sisa-sisa kesabarannya sebagai tentara benar-benar diuji oleh gadis 21 tahun ini. Sambil menahan malu yang luar biasa hingga seluruh permukaan telinganya berubah menjadi merah padam, Alaric mendekatkan wajahnya ke arah Calla, lalu berbisik dengan sangat kaku.
"Iya... masuklah... Ismut..."
Calla langsung tertawa cekikikan, merasa menang telak. "Aww, gemes banget sih Paksu kalau lagi tegang gitu wajahnya! Ya udah, Ismut masuk dulu ya, dadah Paksu ganteng!"
BRAK.
Pintu rumah ditutup rapat dari dalam. Alaric menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya perlahan untuk menetralkan detak jantungnya yang mendadak berantakan. Ia membetulkan posisi baret merahnya dengan gerakan tegas, lalu berbalik badan dengan wajah yang kembali dingin dan sangar seperti semula.
Alaric berjalan tegap menuju koridor kantor markas komando, tempat Joko dan Bagas berdiri tegak seperti patung lilin.
"Sersan Joko, Kopral Bagas," panggil Alaric, suaranya menggelegar dingin.
"Siap, Komandan!" jawab keduanya serentak, membusungkan dada dengan pandangan lurus ke depan.
"Kaca itu sudah bersih. Sekarang jalankan hukuman disiplin. Push-up lima puluh kali di pangkalan sekarang juga," perintah Alaric tanpa ekspresi.
"Siap, laksanakan, Komandan!" tanpa banyak tanya, kedua prajurit malang itu langsung mengambil posisi tiarap di semen panas, merutuki nasib mereka yang tidak sengaja menyaksikan sisi lemah sang macan pangkalan.
Alaric melangkah melewati mereka menuju ruang kerjanya, sambil diam-diam memikirkan bagaimana caranya memberi tahu juru masak kantin markas untuk membuat nasi goreng pakai sosis dan telur ceplok setengah matang yang sesuai dengan standar "Istri Imut"-nya. Hidupnya benar-benar sudah bergeser haluan.
resepsi tinggal menghituung hariii detik demi detiik ,,
aseeek aseeek ,, 💃💃💃💃💃
pak komandan udh mulai mencair niiih 🤭🤭🤭🤭😁😁😁
pengaman tingkat tinggi pak su ,,
jgn lupa kolam air di isi penuhh ,,
sypa tau nnti mlm mau jdi pangeran duyung lgii🤭🤭🤭🤣🤣🤣
kak mksiih buat up ny ,,
sehat selalu
sabar yx pak suu ,,
meski menghadapi calla tu membuat kesabaran setipis tissue 🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
Perbedaan usia, kepribadian yang bertolak belakang, serta tingkah kocak sang istri menciptakan banyak momen lucu, menggemaskan, sekaligus romantis. Di balik segala kekacauan yang dibuat istrinya, sang komandan perlahan menunjukkan sisi lembut dan posesif yang hanya ia tunjukkan untuk wanita yang dicintainya.
Cocok untuk pembaca yang menyukai romcom penuh tawa, kemesraan pasangan suami istri, dan kisah cinta yang hangat tanpa terlalu banyak drama berat. Selamat membaca dan semoga terhibur!" 💕✨