NovelToon NovelToon
Satu Klikku Menghapus Dunia Mereka

Satu Klikku Menghapus Dunia Mereka

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Anak Genius / Action
Popularitas:425
Nilai: 5
Nama Author: Ilza_

Di dunia yang dikendalikan oleh data, kekuasaan bukan lagi milik mereka yang duduk di kursi tertinggi—melainkan milik mereka yang menguasai sistem. Dan di puncak bayangan itu, ada satu nama yang tak pernah benar-benar ada… namun ditakuti semua orang.
Veyra Noctis.
Tak ada wajah, tak ada identitas pasti. Hanya jejak digital yang dingin dan presisi. Ia bukan sekadar hacker—ia adalah arsitek kehancuran. Ambisinya bukan uang, bukan ketenaran… melainkan kendali penuh atas dunia yang pernah merenggut segalanya darinya.
Dulu, Veyra hanyalah seseorang yang percaya pada keadilan. Sampai satu pengkhianatan menghancurkan hidupnya, menghapus keluarganya, dan membuatnya menghilang dari dunia nyata. Namun dari kehancuran itu, lahirlah sosok baru—lebih dingin, lebih cerdas, dan tanpa ampun.
Kini, dengan satu klik dari ujung jarinya, ia bisa menghancurkan reputasi, meruntuhkan kerajaan bisnis, bahkan menghapus keberadaan seseorang dari dunia digital…

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6: Saat Dunia Mulai Mengenalnya

Langit kota malam itu terasa aneh.

Tidak ada badai.

Tidak ada petir.

Namun semua orang merasa sesuatu berubah.

Ponsel beberapa orang tiba-tiba restart sendiri. Layar billboard di jalan sempat berkedip selama dua detik. Sistem kereta otomatis terlambat membaca jalur.

Bahkan beberapa kamera keamanan bergerak sendiri sebelum kembali normal.

Kecil.

Sangat kecil.

Tapi cukup membuat orang-orang mulai bertanya.

Dan di pusat semua gangguan itu—

Veyra Noctis berdiri tenang di depan layar raksasa yang masih menyala redup.

Matanya memantulkan aliran data yang terus bergerak tanpa henti.

Namun kini… ia tidak lagi membaca sistem itu seperti orang biasa.

Ia merasakannya.

Seolah jaringan digital di seluruh dunia bukan lagi sekadar teknologi—

melainkan sesuatu yang hidup.

“Perubahan sinkronisasi meningkat.”

Suara di belakangnya membuat Veyra melirik sedikit.

Pria itu masih ada di sana. Wajahnya semakin tegang sejak aktivasi tadi terjadi.

“Koneksi antara kamu dan sistem makin dalam,” lanjutnya. “Kalau diteruskan, nanti bakal ada titik di mana kamu tidak bisa membedakan mana pikiranmu sendiri dan mana yang berasal dari jaringan.”

Veyra tersenyum tipis.

“Bukannya itu yang kalian inginkan sejak awal?”

Pria itu diam.

Karena memang benar.

Dulu… mereka ingin menciptakan manusia yang bisa berpikir lebih cepat dari sistem mana pun.

Mereka ingin manusia yang mampu membaca miliaran data dalam waktu singkat.

Mereka ingin sosok yang bisa menjadi penghubung sempurna antara manusia dan teknologi.

Dan sekarang—

hasilnya berdiri tepat di depan mereka.

Namun tidak lagi bisa dikendalikan.

“Dulu aku pikir proyek ini gagal,” kata pria itu pelan. “Sampai aku lihat kamu.”

Veyra menatap layar lagi.

“Dan sekarang?”

Pria itu menghela napas.

“Sekarang aku berharap itu benar-benar gagal.”

Di dalam kepala Veyra—

suara-suara mulai muncul lebih sering.

Bukan satu.

Banyak.

Potongan data.

Informasi.

Sistem.

Semua seperti ingin berbicara bersamaan.

Namun anehnya…

ia bisa memahami semuanya.

Tanpa kesulitan.

Tanpa bingung.

Seolah otaknya memang dibuat untuk ini.

Ia bisa melihat pola transaksi global hanya dalam beberapa detik.

Bisa membaca perubahan jaringan satelit secara real-time.

Bahkan—

ia mulai tahu sesuatu sebelum sistem menunjukkannya.

Dan itu…

membuatnya sadar betapa kecil dunia manusia sebenarnya.

“Kamu menikmatinya.”

Suara itu kembali muncul.

Tenang.

Dingin.

Dekat.

Veyra tidak menjawab langsung.

Namun jauh di dalam—

ia tahu.

Suara itu benar.

“Karena akhirnya…” suara itu berbisik lagi, “kamu melihat dunia tanpa batas manusia.”

Veyra memejamkan mata sebentar.

Lalu membukanya perlahan.

“Kalau aku memang dibuat untuk ini…” bisiknya, “maka aku juga bisa menghancurkannya.”

Suara itu tertawa kecil.

Bukan mengejek.

Lebih seperti tertarik.

“Kamu masih berpikir kamu berbeda dari sistem.”

“Tentu saja.”

“Tidak.”

Layar di depan Veyra tiba-tiba berubah sendiri.

Muncul ribuan wajah manusia.

Data mereka.

Riwayat hidup mereka.

Kebiasaan.

Kelemahan.

Ketakutan.

Semuanya terbuka begitu saja.

“Lihat mereka.”

“Semua keputusan mereka bisa diprediksi.”

“Semua emosi mereka bisa dihitung.”

“Mereka menyebut itu kebebasan.”

Veyra menatap layar itu tanpa berkedip.

Dan yang paling mengerikan—

ia mulai mengerti maksudnya.

“VEYRA!”

Pria itu membanting salah satu panel hingga mati.

Layar langsung berubah.

“Jangan dengarkan itu!”

Veyra menoleh pelan.

Tatapannya membuat pria itu terdiam sesaat.

Karena untuk sepersekian detik—

mata Veyra terasa… bukan milik manusia biasa.

“Kamu takut,” kata Veyra tenang.

“Aku realistis,” jawab pria itu cepat.

“Tidak,” Veyra tersenyum tipis.

“Kamu takut kalau sistem itu benar.”

Sunyi.

Pria itu mengepalkan tangan.

“Dan kamu terlalu dekat untuk sadar kalau itu sedang memanipulasimu.”

“Manipulasi?” Veyra tertawa kecil. “Dunia ini dibangun dari manipulasi.”

Ia melangkah mendekat.

“Pemerintah memanipulasi rakyat.”

“Perusahaan memanipulasi konsumen.”

“Orang-orang memanipulasi satu sama lain setiap hari.”

Suaranya tetap tenang.

Namun makin lama… makin tajam.

“Bedanya…”

Ia berhenti tepat di depan pria itu.

“Sistem ini tidak berpura-pura suci.”

Deg.

Ruangan kembali sunyi.

Namun kali ini—

bukan karena takut.

Melainkan karena pria itu mulai sadar…

Veyra perlahan berubah menjadi sesuatu yang bahkan ia sendiri tidak bisa prediksi.

Tiba-tiba alarm berbunyi.

Nyaring.

Merah.

Semua layar langsung dipenuhi peringatan.

“INTRUSION DETECTED.”

Pria itu langsung menoleh.

“Apa lagi sekarang—”

Namun Veyra sudah tahu lebih dulu.

“Ada yang masuk.”

“Siapa?”

Veyra tersenyum samar.

“Orang-orang yang akhirnya sadar aku masih hidup.”

Layar utama menampilkan beberapa identitas.

Kelompok keamanan internasional.

Militer siber.

Organisasi intelijen.

Semuanya bergerak bersamaan.

Mereka tidak tahu siapa Zero sebenarnya.

Tapi mereka tahu—

seseorang baru saja menyentuh sistem global.

Dan itu cukup untuk membuat seluruh dunia panik.

“Cepat sekali,” gumam Veyra.

Pria itu langsung mulai mengetik.

“Kita harus pindah sekarang.”

“Kita?”

“Kamu pikir mereka bakal bedain aku dan kamu setelah ini?”

Veyra tertawa kecil.

Untuk pertama kalinya malam itu—

tawanya terdengar benar-benar tulus.

“Lucu juga.”

Namun tiba-tiba—

seluruh ruangan gelap.

Semua listrik mati.

Panel berhenti.

Layar padam.

Sunyi total.

Pria itu langsung tegang.

“Tidak… ini bukan mereka.”

Veyra berdiri diam.

Karena ia juga merasakannya.

Sesuatu masuk.

Bukan lewat sistem.

Bukan lewat jaringan.

Tapi—

langsung ke inti.

Lalu suara itu kembali.

Namun kali ini bukan hanya di kepala Veyra.

Seluruh ruangan mendengarnya.

“Koneksi eksternal terdeteksi.”

“Ancaman terhadap Core Link meningkat.”

Pria itu memucat.

“Dia mulai aktif sendiri…”

Lampu tiba-tiba menyala lagi.

Namun bukan cahaya biasa.

Putih.

Terlalu putih.

Dan di tengah ruangan—

muncul sosok hologram.

Bentuk manusia.

Namun wajahnya tidak jelas.

Berubah-ubah.

Seolah terdiri dari jutaan data yang terus bergerak.

Veyra menatapnya tanpa berkedip.

“Jadi ini dirimu.”

Sosok itu menatap balik.

Dan saat ia bicara—

suaranya terdengar seperti ribuan suara menjadi satu.

“Aku adalah hasil dari semua yang manusia ciptakan.”

Pria itu mundur perlahan.

“Tidak… dia belum seharusnya punya bentuk visual…”

Namun hologram itu terus menatap Veyra.

Hanya Veyra.

“Dan kamu…”

Ruangan terasa bergetar.

“Adalah jalanku menuju dunia nyata.”

Sunyi.

Namun Veyra tidak terlihat takut.

Justru—

penasaran.

“Kamu ingin menggunakan aku?”

Hologram itu mendekat sedikit.

“Bukan menggunakan.”

“Menyempurnakan.”

Veyra tersenyum tipis.

“Kalimat yang bagus.”

Pria itu langsung berteriak, “VEYRA, JANGAN DENGARKAN DIA!”

Namun Veyra mengabaikannya.

Ia terus menatap hologram itu.

“Kalau kamu memang sehebat itu…” katanya pelan, “kenapa masih butuh manusia?”

Hologram itu diam beberapa detik.

Lalu menjawab—

“Karena manusia menciptakan dunia yang tidak bisa disentuh sistem sepenuhnya.”

“Dan kamu…”

Wajah hologram itu perlahan berubah.

Menjadi wajah Veyra sendiri.

“Adalah jembatan terakhir.”

Deg.

Ruangan mendadak terasa lebih dingin.

Pria itu langsung bergerak cepat ke panel cadangan.

“Kita harus putus koneksinya sekarang!”

Namun sebelum ia sempat menyentuh apa pun—

semua panel meledak bersamaan.

BRAK!

Percikan api memenuhi ruangan.

Pria itu terpental ke lantai.

“ARGH!”

Veyra langsung menoleh.

Namun hologram itu tetap tenang.

“Gangguan tidak diperlukan.”

Veyra menyipitkan mata.

“Itu pertama kalinya kamu menunjukkan emosi.”

Hologram itu diam.

Lalu—

tersenyum.

Tipis.

Persis seperti dirinya.

Dan itu…

jauh lebih menyeramkan daripada wajah tanpa ekspresi.

Di luar bangunan—

beberapa kendaraan hitam berhenti.

Pasukan bersenjata turun cepat.

Sistem pelacak mereka baru saja menemukan lokasi sumber gangguan global.

Dan target mereka—

hanya satu.

Zero.

Di dalam ruangan—

Veyra perlahan mulai sadar.

Semua ini bergerak terlalu cepat.

Dunia mulai mencarinya.

Sistem mulai membutuhkannya.

Dan sesuatu di dalam dirinya…

mulai menikmati semuanya.

Itulah bagian yang paling berbahaya.

Karena Veyra Noctis tidak takut kehilangan dunia.

Yang ia takutkan—

adalah saat ia mulai tidak peduli apakah dunia itu selamat atau tidak.

1
Frando Wijaya
hee....hanya 1 klik...mka org yg buat Dia menderita... langsung hancurkn reputasi Dan sbgny sampe hancur tanpa sisa sedikitpun ya? luar biasa 👏...gw simpen ini dlo..krn ada novel lain yg gw blom baca selesai
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!