Bagi Winda, menjadi istri Baskara adalah sebuah kepasrahan. Namun, sebuah bisikan miring di pesta malam itu meruntuhkan harga dirinya: Winda hanyalah singgasana sementara sebelum masa lalu suaminya kembali. >
Kecewa, hancur, dan mati rasa, Winda nekat melangkah ke dalam takdir yang kelam. Di bawah guyuran hujan malam itu, ia menyerahkan raganya pada Aryo—suami dari sahabat baiknya sendiri. Sebuah pelarian gila demi membalas rasa sakit hatinya.
Namun, selembar benang rahasia itu perlahan ditarik oleh takdir. Saat kebenaran tentang kesetiaan Baskara terungkap, Winda justru mendapati dirinya terbangun di rumah sakit dengan sebaris kalimat yang meremukkan jiwanya: "Kamu hamil, Sayang."
Di atas dua ranjang yang berbeda, satu rahasia besar kini terkunci rapat. Winda terjebak dalam labirin penyesalannya sendiri, sementara di seberang sana, sang sahabat juga tengah merayakan kehamilan yang sama.
Ketika waktu perlahan membongkar tabir, siapakah yang akan bertahan di atas singgasana yang sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rey.writerid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEBENARAN DI SEBERANG TELEPON
Dua jam berlalu di dalam kafe yang sejuk itu. Perbincangan hangat di antara dua sahabat mendadak terhenti saat wajah Winda kembali berubah pucat pasi. Rasa mual yang teramat dahsyat kembali menghantam ulu hatinya tanpa bisa ditahan.
"Hoeekkk..." Winda membekap mulutnya dengan tubuh bergetar.
Serena tersentak kaget dari duduknya. "Eh, kenapa, Winda?!"
Winda tidak sempat menjawab. Pandangan matanya mendadak gelap gulita, kepalanya terasa sangat pusing hingga sedetik kemudian, kesadarannya hilang total. Winda pingsan di kursi kafe. Suasana berubah menjadi panik luar biasa. Serena yang gemetar langsung berteriak meminta bantuan, menelepon ambulans, lalu dengan cepat menghubungi Baskara. Tidak sampai di situ, dalam kepanikannya, Serena juga mencoba menelepon Aryo berulang kali untuk meminta suaminya segera menyusul ke rumah sakit.
Saat kesadarannya perlahan kembali, bau menyengat khas antiseptik langsung menusuk indra penciuman Winda. Ia membuka matanya yang terasa sangat berat, mendapati dirinya sudah terbaring di atas bangsal rumah sakit.
"Aku... aku kenapa, Mas?" tanya Winda lirih saat melihat sosok Baskara sudah duduk setia di samping tempat tidurnya, menggenggam tangannya erat.
Tepat di saat itu, pintu kamar rawat terbuka. Serena dan Aryo melangkah masuk ke dalam. Wajah Serena tampak sangat ceria, sementara Aryo yang berjalan di belakangnya hanya bisa menatap Winda dengan pandangan yang teramat lirih dan penuh arti.
Baskara menoleh ke arah Winda, lalu sebuah senyuman lebar yang sangat bahagia mengembang di bibirnya. Pria itu mencondongkan tubuhnya, mengecup dahi Winda dengan penuh kasih sayang. "Kamu hamil, Sayang... Kita bakal punya anak."
Deg. Winda tersentak kaget setengah mati di atas bangsalnya. Matanya membelalak kaku, memandang Baskara dengan rasa tidak percaya. Dari sudut matanya, ia bisa melihat Aryo terus menatapnya dengan sorot mata yang sulit diartikan. Di sampingnya, Serena tertawa riang, ikut bahagia atas kabar itu. Winda sekuat tenaga memaksakan sebuah senyuman terpaksa di bibirnya yang pucat. Pikirannya mendadak kosong dan bingung karena sebuah pertanyaan besar menghantam otaknya: Ini... anak siapa?
Setelah kondisinya dinyatakan stabil oleh dokter, Winda akhirnya dibolehkan pulang sore itu. Sesampainya di rumah, Baskara benar-benar berubah menjadi sosok suami yang teramat siaga. Ia menggendong dan membawa Winda dengan hati-hati masuk ke dalam kamar tidur, lalu menyelimutinya.
Baskara bahkan pergi ke dapur untuk menyiapkan semua makanan sehat. Dengan penuh kesabaran, Baskara menyuapi Winda sesendok demi sesendok di atas ranjang hingga makanan itu habis. Setelah memastikan Winda meminum obatnya, mereka berdua pun bersiap-siap untuk tidur.
Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Di larut malam yang sunyi, ponsel Winda yang diletakkan di atas nakas mendadak bergetar kuat di kegelapan. Winda tersentak terbangun. Ia melirik ke samping, melihat Baskara sudah tertidur dengan sangat pulas karena kelelahan menjaga dirinya seharian.
Dengan gerakan mengendap-endap agar tidak menimbulkan suara, Winda menyambar ponselnya lalu berjalan keluar kamar, melangkah turun ke lantai bawah yang sepi. Begitu menekan tombol hijau, suara bariton yang panik langsung menyambar telinganya. Telepon itu ternyata dari Aryo.
"Win! Itu anakku, kan?!" tanya Aryo tanpa basa-basi dari seberang telepon, suaranya berbisik namun terdengar sangat mendesak.
Winda meremas ponselnya, napasnya memburu menahan ketakutan. "Aku... aku enggak tahu, Ar! Aku sama Baskara terakhir kali melakukan hubungan itu dua minggu yang lalu. Aku bener-bener gak tahu ini anak siapa!"
Di seberang telepon, Aryo mendengus tegas, mencoba mengklaim. "Berarti itu anakku, Winda! Dua minggu yang lalu itu udah terlalu lama, jelas-jelas itu anak aku!"
Mendengar desakan Aryo, Winda mendadak tersulut emosi. Ia memarahi Aryo dengan nada berbisik yang tajam. "Jangan buru-buru menyimpulkan, Aryo! Aku juga takut malam ini! Aku kaget setengah mati pas dokter bilang begitu di rumah sakit tadi. Aku... aku masih belom mau hamil sekarang!"
"Kamu kayak mana sih?! Jelas-jelas itu anak—"
Krieeett...
Kalimat Aryo mendadak terputus di seberang telepon saat terdengar suara derit langkah kaki menuruni anak tangga rumah mewah Wijaya. Aryo tersentak kaget setengah mati melihat Serena ternyata terbangun dari tidurnya dan berjalan mendekat. Karena panik yang luar biasa, Aryo langsung memasukkan ponselnya ke dalam saku baju tidurnya tanpa sempat mematikan sambungan telepon dengan Winda.
Di seberang telepon, Winda tertegun. Sambungan masih berjalan, membuat Winda bisa mendengar dengan sangat jelas setiap perbualan yang terjadi di rumah Serena.
"Kenapa, Mas? Malam-malam begini nelpon siapa di bawah?" tanya Serena dengan suara khas orang bangun tidur.
Aryo menelan ludah kesat, mencoba bersikap tenang di depan istrinya. "Oh... bukan siapa-siapa, Sayang. Ini tadi teman kantor mas, malam-malam nelpon karena lagi butuh pinjaman uang darurat."
"Oh... gitu," jawab Serena polos.
Langkah kaki Serena terdengar mendekati posisi Aryo yang berdiri kaku di dekat sofa ruang tengah. Tiba-tiba, suara Serena berubah menjadi manja dan sarat akan kerinduan. "Mas... aku mencintaimu," bisik Serena sembari memeluk tubuh suaminya erat.
Di seberang telepon, Aryo terdiam sejenak, melirik ke arah sakunya di mana ponselnya masih aktif terhubung dengan Winda. Namun, demi menjaga rahasianya, Aryo terpaksa menjawab, "Aku... aku juga cinta sama kamu, Ser."
Winda yang menempelkan ponselnya di telinga di rumahnya sendiri, mendengar semua ucapan itu dengan hati yang mendadak terasa aneh dan panas.
Tiba-tiba, atmosfer di ruangan tengah rumah Wijaya yang sunyi itu mendadak memanas. Serena menatap lekat sepasang mata Aryo dengan tatapan yang belum pernah Aryo lihat sebelumnya—tatapan penuh hasrat, dominasi, sekaligus keputusasaan. Tanpa aba-aba, Serena melangkah maju dan mendorong dada bidang Aryo dengan cukup kuat. Aryo yang tidak siap seketika terhempas kaku, jatuh terduduk di atas sofa beludru yang empuk.
Di seberang telepon, Winda menahan napasnya saat mendengar suara deburan tubuh Aryo yang mendarat di sofa.
Serena berdiri di hadapan suaminya yang termangu. Dengan gerakan yang teramat lambat dan sensual, jemari lentik Serena bergerak ke tali simpul baju tidur seksinya. Sepasang matanya tidak lepas mengunci pandangan Aryo. Perlahan, simpul itu terlepas. Kain sutra tipis yang membungkus tubuh molek Serena merosot jatuh, helai demi helai, hingga akhirnya teronggok begitu saja di atas lantai. Malam itu, Serena berdiri sepenuhnya polos, memamerkan lekuk tubuhnya yang indah dan mulus di bawah temaram lampu ruangan.
Aryo tersedak salivanya sendiri. Jakunnya naik turun, matanya menggelap menatap pemandangan luar biasa di depannya. Sudah berminggu minggu—bahkan mungkin semenjak mereka sibuk dengan urusan masing-masing—Aryo tidak pernah lagi melahap raga Serena seliar ini. Gairah kelelakian Aryo yang tadinya sempat padam karena kepanikan, kini mendadak tersulut hebat hingga membakar seluruh akal sehatnya.
Serena melangkah perlahan, lalu merangkak naik ke atas pangkuan Aryo. Tangannya yang hangat bergerak liar membuka satu per satu kancing baju tidur yang dikenakan Aryo, lalu merobeknya pelan hingga mengekspos dada bidang suaminya. Aryo memejamkan mata erat saat Serena mencondongkan tubuh, menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Aryo. Aryo menghirup dalam-dalam aroma wangi vanilla yang menguar dari kulit mulus Serena—aroma yang sangat ia kenali, namun malam ini terasa seribu kali lebih memabukkan.
Aryo merasa ada yang aneh, tidak biasanya Serena bersikap se-agresif dan se-liar ini, namun ia sudah terlanjur buta oleh syahwat. Serena perlahan melepaskan ikat rambutnya, membiarkan rambut hitam legamnya yang panjang tergerai jatuh menyentuh dada telanjang Aryo. Ia bergerak turun ke bawah, jemarinya dengan cekatan membuka celana tidur yang dikenakan Aryo, membebaskan ketegangan yang sudah tak lagi bisa dibendung.
Tanpa basa-basi, Serena kembali merangkak naik. Ia menangkup rahang Aryo dengan kedua tangannya, lalu mengunci bibir pria itu dalam sebuah ciuman yang sangat dalam, basah, dan menuntut. Serena menekan dada polosnya erat-erat ke bibir Aryo, bergerak bergesekan dengan ritme yang mematikan.
"Ahhh... Mas...hh...hh," desahan hebat Serena seketika pecah, melengking dengan sangat jelas dan menggema di speaker ponsel Winda yang berada di belahan kota lain. Suara decapan basah dari tautan bibir mereka terdengar begitu intim dan kotor.
Gairah Aryo bener-bener meledak total. Kehilangan seluruh kendali dirinya, Aryo mencengkeram erat pinggul polos Serena dengan kedua tangan kekarnya. Pria itu membalikkan posisi mereka, mengukung tubuh Serena di bawahnya, lalu mulai menggerakkan pinggulnya dengan hantaman yang sangat ganas, dalam, dan bertubi-tubi. Aryo menghantam Serena layaknya seekor kuda liar yang tak terkendali di atas sofa.
Suara gesekan kulit yang basah oleh peluh, deru napas yang memburu bersahutan, serta jeritan desahan kepuasan dari mulut Serena memenuhi ruangan sepi itu.
"Ohhh mmas... mmas Aryo... hh... lebih dalam, Mas... ahhh!" rintih Serena dengan suara serak, mencakar kuat punggung Aryo hingga meninggalkan bekas kemerahan.
Aryo semakin mempercepat temponya, mendesah berat di dekat telinga Serena sembari terus menghujani tubuh istrinya dengan penyatuan yang teramat panas dan menggebu-gebu. Mereka berdua bener-bener larut dan hanyut dalam badai gairah yang puncaknya meledak bersama, menyisakan lenguhan panjang yang saling bersahutan di seberang telepon Winda.
Winda yang duduk di kegelapan rumahnya mendengarkan semua adegan panas itu dengan perasaan campur aduk. Ada rasa geli, cemburu, sekaligus gairah yang mendadak ikut tersulut hebat di dalam dirinya seolah-olah ia bisa merasakan sentuhan raga Aryo di tubuhnya saat ini.
Sambil meremas ponselnya yang masih menyiarkan desahan ranjang itu, Winda buru-buru berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya. Di balik remang lampu tidur, ia menatap tubuh kekar Baskara yang masih pulas.
Pikiran Winda berputar cepat. Ia mendadak sadar, perubahan sikap Serena yang mendadak liar malam ini pasti karena Serena teringat ucapan Winda tadi pagi di kafe—bahwasanya Serena terlalu sibuk dan kurang memberikan waktu intim bersama Aryo. Itulah kenapa Serena nekat menyerang Aryo malam ini.
Melihat Baskara di depannya, gairah Winda yang sudah memuncak akibat mendengarkan telepon tadi bener-bener tidak bisa ditahan lagi. Winda merangkak naik ke atas kasur, lalu memeluk tubuh Baskara dari belakang dengan sangat erat, mencoba melampiaskan hasrat liarnya malam ini.
Merasa ada pergerakan hangat, Baskara perlahan membuka matanya. Merasakan pelukan intim dari istrinya, Baskara tersenyum. Ia membalikkan badannya, menatap wajah cantik Winda yang tampak penuh gairah di bawah temaram lampu. Tanpa banyak kata, Baskara langsung menyambutnya dengan menarik tengkuk Winda, mencium bibir istrinya dengan sangat dalam dan penuh perasaan.
Namun, alih-alih melanjutkan permainan mereka ke tingkat yang lebih panas, Baskara tiba-tiba menghentikan ciumannya. Pria itu menyandarkan kepalanya, lalu perlahan menurunkan telapak tangan hangatnya ke atas perut rata Winda, mengelusnya dengan sangat lembut dan penuh rasa syukur.
Baskara memejamkan matanya, lalu berbisik lirih sebelum mereka kembali terlelap tidur, "Sehat-sehat ya, Nak... di dalam sana."
Winda membeku di tempatnya. Kalimat tulus dari Baskara itu seketika memadamkan seluruh gairahnya, menyisakan rasa bersalah dan ketakutan yang teramat besar di dalam dadanya menatap perutnya sendiri.