“Ayam kecil, berhenti berlari dan kembalikan buah persikku!”
Ladang herbal memenuhi lereng gunung sementara asap putih mengepul dari dapur-dapur besar di berbagai area. Aroma daging panggang memenuhi udara dan di kejauhan ratusan hewan spiritual terlihat berkeliaran bebas di padang rumput pegunungan.
“Mulai hari ini kandang ayam spiritual bagian timur menjadi tanggung jawabmu.”
Di sisi lain, Suara pisau, dentuman panci, dan teriakan para murid dapur bercampur menjadi satu seperti pasar pagi yang kacau. Aroma makanan memenuhi seluruh udara pegunungan.
“Adik kecil! Cepat potong sayuran itu!”
“Siapa yang membakar daging bagian utara?!”
“Tambahkan garam spiritual ke sup nomor tiga!”
Ini adalah kehidupan yang tenang dan penuh kejadian dramatis tak terlupakan dari Sekte Forgotten Blade. Kehidupan beternak ayam Bai Fengxuan sebelum ia tahu kebenaran pahit dari dunia kultivasi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LEVIATHAN_M.S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 16 - Sukses Besar
Suara langkah kaki para murid malam semakin mendekat ke arah kandang utama sementara cahaya lentera mulai bergerak melewati celah pagar kayu. Di balik tumpukan jerami besar, Bai Fengxuan dapat merasakan jantungnya berdetak sangat keras hingga bahkan ia sendiri takut suara detaknya akan terdengar keluar.
Udara di dalam kandang terasa hangat dan berat oleh aroma jerami, tanah lembap, serta qi spiritual liar yang keluar dari tubuh para babi spiritual di sekitar mereka. Dengusan pelan para hewan besar itu bercampur dengan suara kunyahan jerami tepat di belakang kepala Bai Fengxuan, dan sumber suara itu tentu saja babi spiritual hitam mereka. Makhluk sebesar kereta kecil itu masih berdiri sangat dekat sambil terus mengunyah jerami dengan wajah polos seperti sama sekali tidak memahami situasi genting yang sedang terjadi.
Han Gu perlahan menelan ludah sementara Bai Fengxuan bahkan sudah mulai membayangkan bagaimana mereka akan digantung di depan aula disiplin sekte jika tertangkap malam ini.
“Aku mulai merasa makhluk ini sebenarnya ingin membunuh kita,” bisik Han Gu pelan.
Bai Fengxuan buru-buru menarik lengannya ketika bayangan cahaya lentera mulai terlihat semakin jelas di sisi pagar kandang.
“Diam…”
Suara langkah kaki akhirnya berhenti tepat di depan pintu kandang. Beberapa detik berikutnya terasa sangat panjang. Bai Fengxuan bahkan bisa mendengar suara api kecil dari lentera yang bergoyang pelan di luar.
“Kurasa tadi aku mendengar suara dari dalam.”
“Itu cuma babi bergerak.”
“Tidak… serius. Seperti ada orang bicara.”
Jantung Bai Fengxuan langsung semakin menegang sementara Han Gu di sampingnya juga mulai berkeringat dingin sekarang. Namun tepat ketika salah satu penjaga hendak membuka pintu kandang, suara tawa keras tiba-tiba terdengar dari arah gudang belakang.
“WOI! CEPAT KE SINI! AKU DAPAT ENAM ENAM LAGI!”
Suasana luar mendadak ramai oleh suara para penjaga yang sedang berjudi. Murid malam di depan kandang langsung mendecakkan lidah kesal.
“Sial… mereka mulai lagi.”
“Sudahlah. Kalau ada masalah babi-babi ini pasti sudah ribut dari tadi.”
Langkah kaki itu akhirnya perlahan menjauh bersama cahaya lentera yang bergerak meninggalkan kandang.
Bai Fengxuan dan Han Gu langsung menghela napas bersamaan. Untuk beberapa saat mereka hanya duduk diam di balik jerami sambil mencoba menenangkan napas masing-masing. Han Gu bahkan sampai memegangi dadanya sendiri seperti baru lolos dari kematian.
“Kalau terus begini…” gumamnya pelan, “aku mungkin mati duluan sebelum sempat jadi kultivator besar.”
Bai Fengxuan menatapnya datar.
“Kita masih bisa berhenti sekarang.”
Han Gu langsung menggeleng keras. Tatapannya perlahan kembali jatuh pada babi spiritual hitam di depan mereka.
“Setelah melihat makhluk seindah ini,” suaranya berubah sangat serius, “aku tidak bisa mundur lagi.”
Bai Fengxuan mulai merasa Han Gu benar-benar memiliki hubungan emosional yang aneh dengan makanan. Atau mungkin dengan hewan…?
Mereka tetap harus bergerak cepat sekarang. Semakin lama berada di kandang, semakin besar kemungkinan mereka tertangkap. Han Gu akhirnya mengambil keputusan nekat.
“Kita bawa sekarang.”
“Bagaimana caranya?!”
Han Gu menunjuk sisa roti kukus di tangannya.
“Kita pancing dia keluar.”
Dan entah kenapa, rencana bodoh itu benar-benar berhasil. Babi spiritual hitam tersebut mengikuti Han Gu perlahan keluar dari balik jerami sambil terus menatap roti kukus di tangannya dengan mata penuh harapan. Makhluk itu bahkan berjalan cukup tenang selama Han Gu sesekali memberinya potongan makanan kecil.
Namun masalah baru segera muncul begitu mereka berhasil keluar kandang.
Langkah babi spiritual itu terlalu berat. Setiap kali makhluk tersebut berjalan di atas jalan berbatu lereng gunung, tanah akan bergetar pelan dan suara langkahnya terdengar cukup jelas dalam keheningan malam.
“Pelan sedikit…” bisik Bai Fengxuan sambil panik melihat lentera penjaga di kejauhan.
Han Gu justru sibuk menyuapi roti lagi. “Kalau dia kenyang mungkin jalannya lebih sopan.”
“Itu bukan cara kerja babi!”
Malam itu mereka benar-benar terlihat seperti dua pencuri gila yang sedang berjalan-jalan membawa babi spiritual di tengah kabut gunung. Beberapa kali mereka harus bersembunyi di balik pohon bambu ketika murid malam lewat membawa lentera. Bahkan sekali waktu babi spiritual itu hampir mengeluarkan dengusan keras karena Han Gu terlambat memberinya makanan. Untungnya Bai Fengxuan dengan cepat menutup mulut makhluk tersebut menggunakan kedua tangannya.
Dan itu mungkin keputusan paling bodoh yang pernah ia lakukan dalam hidupnya karena mulut babi spiritual itu hampir sebesar kepalanya sendiri.
“Kau gila…” bisik Han Gu sambil menahan tawa panik.
“Aku tidak mau mati dikeluarkan dari sekte gara-gara babi!”
Namun tepat ketika mereka hampir berhasil melewati lereng bambu terakhir menuju jalan kecil di belakang gubuk Bai Fengxuan, bencana benar-benar terjadi.
Seekor babi spiritual lain di kandang tiba-tiba mengeluarkan dengusan keras dari kejauhan. Babi spiritual hitam mereka langsung membalas dengan suara yang jauh lebih besar hingga seluruh lereng gunung bergetar pelan.
*BWOOOOOOHHH!!
Suara itu menggema ke seluruh area kandang.Lentera para penjaga langsung bergerak kacau.
“Ada sesuatu di sana!”
“CEPAT LIHAT KE LERENG BAWAH!”
Wajah Han Gu langsung pucat.
“Lari!”
Namun masalahnya babi spiritual hitam itu mendadak panik begitu melihat cahaya lentera bergerak cepat mendekat dari kejauhan. Makhluk besar tersebut langsung berlari liar ke arah jalan pegunungan sambil menyeruduk pohon bambu di depannya.
Dan tanpa sempat berpikir panjang, Bai Fengxuan langsung melompat ke atas punggungnya.
“ADIK BAI?!”
“Kalau dia kabur kita tamat!”
Tubuh Bai Fengxuan hampir terpental ketika babi spiritual itu mulai berlari menuruni lereng gunung seperti banteng gila. Tangannya mati-matian mencengkeram bulu kasar di leher makhluk tersebut sementara jubah hitamnya berkibar liar tertiup angin malam.
Han Gu yang melihat pemandangan itu langsung membeku beberapa detik sebelum ikut mengejar dari belakang sambil membawa karung roti kosong.
“KAU SUDAH GILA?!”
“Aku tahu!”
Babi spiritual itu terus mengamuk menembus kabut malam. Jalan setapak pegunungan yang sempit langsung berubah kacau ketika makhluk sebesar kereta kecil itu berlari sambil menghancurkan pagar bambu dan menendang ember kayu milik murid luar yang sedang ditinggalkan di pinggir jalan.
Suara teriakan mulai terdengar dari berbagai arah.
“APA ITU?!”
“MONSTER?!”
“LARI!!”
Dan di tengah kekacauan itulah bencana kedua terjadi.
Salah satu lentera penjaga terjatuh ke arah lereng bambu dan api kecilnya menyambar jerami yang sejak tadi menempel di jubah Bai Fengxuan sebagai kamuflase.
*WHOOSHH!!
Api langsung menyala di punggungnya.
“AAAAKHHH!!”
Bai Fengxuan hampir jatuh dari atas babi spiritual ketika merasakan panas membakar bagian belakang jubahnya. Namun karena babi spiritual itu terus berlari liar, api justru semakin membesar tertiup angin malam.
Dalam beberapa detik Bai Fengxuan berubah menjadi sosok aneh yang menunggangi babi spiritual sambil diselimuti api dan jerami terbakar.
Kabut malam bergerak liar di sekitar mereka sementara cahaya api merah menari di lereng gunung seperti roh jahat dari legenda kuno.
Para murid malam yang melihat dari kejauhan langsung membeku ketakutan. Salah satu penjaga bahkan sampai menjatuhkan lentera di tangannya.
“HH-HANTU?!”
“Itu… itu penunggang api?!”
“ADA ROH GUNUNG MENUNGGANG BABI!!”
Suasana seluruh lereng utara langsung berubah kacau. Beberapa murid malam mundur dengan wajah pucat sementara yang lain mulai meneriakkan nama para tetua dengan suara gemetar.
Han Gu sendiri hampir mati menahan tawa saat berlari di belakang. “ADIK BAI!” teriaknya sambil terengah-engah. “KAU TERLIHAT SEPERTI RAJA IBLIS!”
“BANTU AKU MEMADAMKAN API DULU BODOH!!”
Namun justru karena kekacauan itulah tak seorang pun menyadari mereka sebenarnya hanya dua murid luar yang sedang mencuri babi spiritual.
Semua perhatian para penjaga tertuju pada “makhluk api misterius” yang sedang melesat menuruni lereng gunung sambil menunggangi babi spiritual hitam raksasa.
Dan malam itu, rumor baru akhirnya lahir di Puncak Awan Pengembara.
Hantu Api Penunggang Babi.
Butuh waktu cukup lama sampai Bai Fengxuan akhirnya berhasil menghentikan babi spiritual tersebut di dekat sungai kecil belakang gubuknya. Dengan panik ia langsung menceburkan diri ke air sambil memadamkan api di jubahnya.
Han Gu yang tiba beberapa saat kemudian langsung jatuh terduduk di tanah sambil tertawa keras tanpa ampun.
“Aku bersumpah…” katanya di sela tawanya, “aku belum pernah melihat hal seindah itu seumur hidupku!”
Wajah Bai Fengxuan hitam penuh jelaga sementara sisa jerami terbakar masih menempel di rambutnya.
“Kalau kau tertawa lagi,” geramnya sambil keluar dari sungai, “aku akan melemparmu jadi makanan babi.”
Namun meskipun penuh kekacauan, operasi mereka tetap sukses besar.
Beberapa saat kemudian mereka akhirnya berhasil membawa babi spiritual itu masuk ke gubuk kayu Bai Fengxuan. Begitu pintu tertutup rapat, keduanya langsung terdiam cukup lama sambil mencoba menenangkan napas.
Tubuh mereka penuh lumpur dan jubah Bai Fengxuan setengah hangus.
Dan dari kejauhan suara keributan para murid malam masih terdengar samar di lereng utara. Han Gu perlahan menatap Bai Fengxuan sebelum akhirnya kembali tertawa pelan.
“Besok seluruh puncak pasti membicarakanmu.”
Bai Fengxuan hanya memegangi wajahnya sendiri dengan putus asa. Dan entah kenapa ia mulai merasa hidupnya di Forgotten Blade perlahan berubah semakin aneh.
…
ok Lanjut bagi hasiL Panen....dan unduj afik Bai sukses dgn teknik pedang tak terlihat yg akan menjadi senjata andaLan untuk jarak yg sangat dekat dgn Lawan....