seorang gadis bernama hazia ayini que'en namyesa yang merupakan seorang gadis bar bar, nakal, jahil, dan juga bermulut pedas yang susah di atur oleh orang tua nya sehingga iya dan juga kakak sepupu laki laki nya yang bernama kevin di kirim ke sebuah pondok pesantren yang merupakan milik sahabat keluarga hazian.
apakah ayini si gadis bar bar bisa berbuat baik dan memperbaiki akhlak serta adab nya di pondok pesantren itu?
atau apakah ayini akan berbuat jahil dan mengacaukan pondok itu?
apa yang akan ayini lakukan ketika iya bertemu dengan anak kyai yang bernama Alvaro!
atau kerap di panggil gus alvaro? seorang Gus yang memiliki sifat dingin dengan wajah datar yang ternyata akan menjadi CALON SUAMI nya karena masalah yang iya lakukan sendiri...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RISMA AYINI SAFITRI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6. HUKUMAN.
"Tidak ada alasan! Kamu sudah melanggar aturan berat. Ikut saya ke kantor keamanan!"
Ayini dibawa ke kantor pengurus. Di sana, sudah ada Kevin yang ternyata juga tertangkap karena mencoba menyelundupkan rokok yang ia sembunyikan di dalam sarung.
Keduanya kini berdiri berdampingan dengan wajah yang tidak merasa bersalah sama sekali.
"Kalian berdua benar-benar ya! Baru beberapa hari di sini sudah buat ulah!" bentak pengurus.
Tiba-tiba, pintu kantor terbuka. Gus Alvaro masuk dengan membawa beberapa berkas.
Ia melihat Ayini dan Kevin berdiri di sana. Pandangannya tetap terjaga, ia hanya melihat ke arah meja pengurus.
"Ada masalah apa?" tanya Alvaro singkat.
"Ini Gus, Ayini mencoba kabur lewat pagar, dan Kevin membawa barang terlarang," lapor Ustadzah Maimunah.
Alvaro terdiam sejenak. Ia meletakkan berkas di meja. "Berikan mereka hukuman sesuai aturan. Untuk Ayini, bersihkan seluruh selokan di depan asrama putri. Untuk Kevin, bersihkan area tempat wudhu masjid."
"Eh, Gus! Nggak bisa gitu dong! Selokan itu bau, ntar kulit aku yang mulus ini bisa gatel-gatel!" protes Ayini dengan gaya manjanya.
Alvaro tidak menoleh. "Jika keberatan, hukumannya saya tambah menjadi membersihkan kandang kambing di belakang pondok."
Ayini langsung menutup mulutnya. "Oke, oke! Selokan aja! Puas lu, Gus?"
Alvaro tidak menjawab dan langsung keluar dari ruangan.
Ayini dan Kevin pun akhirnya melaksanakan hukuman mereka. Ayini berdiri di depan selokan dengan memegang sapu lidi dan penggaruk sampah.
Wajahnya ditekuk habis-habisan.
"Gue benci banget sama itu Gus Kulkas! Awas aja ya, gue bakal bikin dia jatuh cinta sama gue, terus kalau dia udah cinta, gue putusin!" gerutu Ayini sambil menggaruk sampah di selokan dengan kasar.
Teman-temannya, Layila, Adinda, dan Zia, datang membawakan minuman. Mereka merasa kasihan tapi juga ingin tertawa melihat Ayini yang biasanya centil kini berlumuran lumpur selokan.
"Ayini, makanya jangan aneh-aneh. Di sini itu aturannya ketat," kata Layila lembut.
"Aturan itu buat dilanggar, Layila! Tapi ya emang sih, si Alvaro itu pinter banget nyiksa orang. Dia tau aja titik lemah gue itu bau selokan," ucap Ayini sambil mengelap keringat di dahinya dengan lengan baju, membuat wajahnya justru semakin kotor.
Malamnya, Ayini duduk di teras asrama, menatap langit Barito Utara yang bertabur bintang.
Ia teringat rumahnya di pusat kota Muara Teweh. Ia teringat papahnya, Hazian Alqin, dan mamahnya, Namyesa.
Walaupun ia sering membangkang, sebenarnya ia rindu mereka.
Tiba-tiba, ia melihat sosok Alvaro berjalan di kejauhan menuju masjid untuk salat Tahajud. Alvaro berjalan sendirian, langkahnya begitu tenang di tengah keheningan malam.
Ayini memperhatikan dari jauh. Ada sesuatu pada diri Alvaro yang membuatnya penasaran.
Kenapa laki-laki itu seolah tidak punya emosi? Kenapa dia begitu teguh pada aturannya?
"Gus..." gumam Ayini tanpa sadar.
Kali ini, kata-kata kasar tidak keluar dari mulutnya. Untuk sesaat, suasana hatinya sedang baik. Ia teringat sebuah ayat Al-Qur'an yang pernah diajarkan ayahnya dulu.
"Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu adalah orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati..." Ayini berbisik pelan.
Suaranya terdengar sangat merdu dan islami, jauh berbeda dari suaranya saat sedang "bar-bar".
Tanpa Ayini ketahui, Alvaro sebenarnya sempat menghentikan langkahnya sejenak karena mendengar suara lantunan ayat atau gumaman halus dari arah asrama putri.
Alvaro tidak menoleh, namun ia mengenali frekuensi suara itu.
"Dia bisa tenang juga ternyata," pikir Alvaro.