NovelToon NovelToon
Tuan Putri Manja Dan Dua Pangeran Penakluk Hati.

Tuan Putri Manja Dan Dua Pangeran Penakluk Hati.

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat / CEO
Popularitas:142
Nilai: 5
Nama Author: Nakorang

Zinnia, putri cantik yang manja dari keluarga kaya cavendish. Yang jadi kesayangan semua orang, selalu mendapat apa yang ia mau. Di kenal tak suka di kekang dan sudah banyak menolak banyak lamaran lelaki muda kaya raya. Suatu ketika dia mengincar perhiasan dari batu langka di sebuah pelelangan, namun dua perhiasan yang ia incar justru jatuh ke tangan dua pengusaha muda yang langsung membuatnya kesal. Ternyata pertemuan singkat mereka kala itu adalah cerita pembuka untuk cinta segitiga di antara mereka di masa depan. Kecantikannya yang luar biasa memikat kedua pengusaha kaya itu, tanpa ia sadari. Dan perlahan kedua cowok tersebut dapat meruntuhkan tembok pertahanan yang selama ini ia buat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nakorang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27 : Antara dua hati dan perpisahan tak terduga.

Darren dengan cepat menghapus air mata yang mulai membasahi wajah cantik Zinnia. Perlahan dan penuh perhatian, bagaimana pun juga ia tak suka melihat orang yang di cintainya itu menangis apalagi itu karna kesalahannya sendiri.

" Maafkan aku Zinnia.. Semua salahku. " Ucapnya dengan penuh penyesalan.

" Ini akan jadi yang terakhir kalinya untukku mengganggumu. Aku berjanji setelah ini, aku tidak akan lagi mengodamu, memaksamu dan membuatmu jengkel dengan keberadaanku. " Tambah Darren dengan nada serius, tangannya mulai mengusap-usap lembut pundak Zinnia.

Seharusnya Zinnia senang mendengar ucapan Darren barusan, tapi.. Entah kenapa hal itu justru membuatnya kecewa. Perasaannya mulai terbagi, Tak lagi fokus dengan Rion tapi... Dia merasakan sesuatu yang tak seharusnya ia rasakan. Perasaan untuk Darren yang mulai menghancurkan segalanya. Dia bingung dengan semua itu, bersamaan dengan meredanya tangisannya.

" Jangan biarkan Darren melihat ini. "

Darren lalu merogoh saku celananya, mengeluarkan botol kecil berisi cream ajaib yang sama seperti dulu dia pakai untuk menutupi kiss mark yang ia tinggalkan di peher Zinnia. Lalu dengan gerakan terlatih dan lembut dia mengoleskannya di leher Zinnia, menutupi semua bekasnya sampai kulitnya kembali terlihat mulus bersih, seolah tak ada apa-apa yang terjadi.

Belum lama mereka selesai beres-beres, langkah kaki berat terdengar mendekat. Begitu menoleh, mereka melihat Rion sudah berdiri di depan sana, tatapannya langsung mengunci pada Zinnia, lalu melirik sekilas ke Darren dengan pandangan dingin.

Tanpa basa-basi Rion melangkah cepat, menarik pergelangan tangan Zinnia dan menariknya mendekat ke sisi tubuhnya sendiri, seolah tak mau ada celah sedikitpun.

" Katanya kamu mau nunggu di meja makan? kenapa malah kesini? " tanyanya dengan nada rendah, ada nada kesal dan curiga yang tersembunyi di balik suaranya.

Zinnia menelan ludah, berusaha terlihat tenang.

" Aku bosan duduk terus, lalu Darren ngajak aku kemari katanya buat lihat pemandangan, ya aku ikut aja. " jawabnya sambil melirik ke arah Darren.

Rion lalu memutar kepalanya menatap tajam ke arah sahabatnya itu.

" Darren? "

Darren mengangkat kedua tangannya seolah menyerah, senyum tipis terukir di bibirnya, dia tahu posisinya, dia tahu kapan harus mundur.

" Ya. My bad.. sorry bro, aku yang ngajak. Oke aku pergi dulu. " ucapnya santai, lalu berbalik badan dan melangkah pergi meninggalkan mereka berdua, tak menoleh sedikitpun.

Begitu sosok Darren menghilang di balik pepohonan, suasana jadi hening seketika. Rion masih memegang tangan Zinnia erat-erat, sedangkan gadis itu diam membisu, kepalanya tertunduk, pikirannya kacau balau tak karuan.

Dia menoleh sekilas ke arah kepergian Darren, lalu menoleh lagi melihat wajah Rion yang sedang menatapnya penuh perhatian dan kasih sayang. Dan di detik itulah, satu kesadaran besar muncul di benaknya, menusuk hatinya perlahan tapi pasti.

" Tuhan... apa ini... ? Kenapa aku mulai ragu dengan perasaanku sendiri.. Ini tak boleh terjadi. Kenapa.. Ada celah dalam hubunganku bersama Rion, padahal kupikir ini semua sempurna, tapi ternyata.. Perasaanku mulai terbagi perlahan.. Aku mulai menyukai Darren, tanpa aku sadari.. Aku tahu ini salah.. Hanya saja, Semua ini menyiksaku.. " Batin Zinnia dalam hati, berdebat dengan isi pikirannya sendiri.

Tanpa dia sadari, tanpa dia inginkan, tanpa dia rencanakan dia mulai suka, bahkan mungkin sudah jatuh cinta pada Darren.

Perasaan yang awalnya cuma iba, kasihan, rasa tanggung jawab, perlahan berubah jadi sesuatu yang lain. Dia mulai suka tingkah usilnya, suka cara dia menggoda, suka sisi lemahnya yang cuma dia lihat, suka cara dia memandangnya seolah dia adalah satu-satunya orang di dunia ini.

Dan yang paling membuatnya takut... tadi saat Darren menciumnya, saat tubuh mereka menyatu, dia tak merasa jijik, tak merasa salah, malah dia menikmatinya, bahkan mau membiarkan lelaki itu berbuat lebih banyak lagi kalau saja nama Rion tak terlintas di kepalanya.

Tapi di sisi lain... ada Rion. Lelaki yang sudah ada di hidupnya lebih dulu, yang mencintainya dengan sepenuh hati, yang sudah dia terima sebagai kekasih, yang sudah dia janjikan masa depan dan hidupnya nanti. Lelaki yang rela melakukan apapun demi kebahagiaannya, yang selalu sabar menghadapi segala sifat buruknya.

Zinnia menggigit bibirnya kuat-kuat, matanya kembali berkaca-kaca, dadanya terasa sesak dan sakit sekali. Dia terjebak di tengah, di antara dua perasaan, di antara dua lelaki yang sama-sama berarti, dan dia tak tahu jalan keluarnya dimana.

" Apa yang harus aku lakukan... aku jahat banget ya... aku gak boleh begini... ini jelas salah.. Rion itu pacarku... Sedangkan pada Darren, aku cuma kasihan aja... cuma kasihan... Gak lebih dari itu, dan jangan sampai melebihi itu. "

Tapi kata-kata itu cuma bisa dia ucapkan di dalam hati, karena jauh di dalam lubuk hatinya, dia tahu itu cuma alasan untuk menipu dirinya sendiri.

" Zinnia.. Are you okay? " Tanya Rion cemas, seketika membuat Zinnia tersadar dari lamunannya.

" Ya.. Aku baik-baik saja. "

" Sepertinya kamu bohong, air mata kamu mulai keluar. Kenapa? Apa Darren menyakiti kamu? Atau.. Apa? "

Tangan Rion mulai mengusap wajah Zinnia yang mulai kembali basah karna air matanya yang kembali keluar.

" Ini bukan apa-apa, hanya debu yang masuk. Mataku agak perih jadi.. Menangis. Tapi aku baik-baik saja. " Tegasnya mencoba tegar sendiri, mencoba meyakinkan Rion bahwa semua baik-baik saja.

Mereka masih berdiri di tempat yang sama, di bawah pohon besar dekat danau, suasana jadi hening sekali, hanya terdengar suara angin berhembus dan kicauan burung dari kejauhan. Rion masih memegang tangan Zinnia, tapi genggamannya sekarang tak lagi hangat dan lembut seperti biasanya, ada rasa berat dan dingin yang menyelimuti.

" Zinnia.. aku mau ngomong sesuatu. " Suara Rion terdengar datar, tapi jelas ada getaran yang tertahan di dalamnya.

" Apa itu? " Tanya Zinnia cemas. Jantungnya mulai berdetak tak karuan. Dia takut, ketakutan terbesarnya akan terjadi.

" Soal hubungan kita.. "

Zinnia mengerutkan keningnya, firasat buruk mulai muncul di hatinya.

" Lalu? "

" Bagaimana kalau kita berhenti saja sampai disini? "

DEG!!!

" WHAT? BUT WHY?!! " teriak Zinnia tak sadar, matanya langsung membelalak kaget, tangannya otomatis mencengkeram lengan Rion. Benar inilah yang ia takutkan.

Rion menarik napas panjang dan berat, matanya menatap lurus ke mata Zinnia, tapi tatapannya sudah tak lagi penuh cinta dan kasih sayang seperti dulu, kini ada rasa lelah, sakit hati dan kekecewaan yang menumpuk jadi satu.

"Aku gak bisa. Gak bisa lagi berpura-pura tak tahu kedekatan kamu sama Darren. Aku tahu semua, aku lihat semua dan.. Itu cukup menyakitkan untukku. Maaf Zinnia, ini adalah batas kesabaranku untukmu. Aku menyerah.. Aku tahu perasaanmu mulai terbagi, dan aku tak suka dengan hal itu, tak suka berbagi. Karna itu, lebih baik hubungan ini cukup sampai disini saja. "

Dia berhenti sejenak, menelan ludah menahan rasa sakit yang menusuk di dadanya, lalu melanjutkan dengan suara parau.

" Maafkan aku Zinnia. Ini bukan salahmu, aku yang terlalu lemah dengan semua ini. "

Zinnia terdiam membeku di tempatnya. Tak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya, tak ada bantahan, tak ada permohonan. Karena dia tahu... Apa yang Rion ucapkan semuanya benar. Dia tahu kesalahannya dimana, dia tahu dia yang membuat kekasihnya menderita, dia tahu dia yang tak bisa menjaga hati dan komitmennya.

Dan karena dia sadar itu, dia tak bisa marah, tak bisa menangis di depannya, tak bisa meminta kesempatan lagi. Dia cuma tersenyum, senyum yang palsu dan getir, senyum yang berusaha menutupi segala rasa bersalah dan sakit di hatinya.

" Ya... aku terima... Maaf, sudah mengecewakan mu.. " jawabnya pelan, suaranya stabil meski hatinya hancur berkeping-keping.

" Terimakasih... terimakasih soal semua hal yang sudah kamu berikan padaku Rion. Semua kenangan, semua perhatian, semua cinta kamu... aku hargai semuanya. Maaf kalau aku cuma bisa bikin kamu kecewa dan sakit hati. "

Rion menatapnya lama sekali, matanya berkaca-kaca tapi dia menahan air matanya agar tak jatuh.

" Kamu pulang sendiri saja Zinnia, aku juga sibuk banyak urusan. Atau... minta Darren buat antar kamu pulang. "

Tanpa berkata apapun lagi, tanpa menoleh kembali, Rion berbalik dan melangkah pergi. Langkahnya cepat dan pasti, seolah dia tak mau menunda sedikitpun lagi, seolah kalau dia tinggal sedetik lebih lama, dia bakal berubah pikiran dan kembali menderita lagi.

***

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!