Dari: Renata]
_Malam, Pak. Ini CV calon asisten pengganti saya. Anaknya pinter, cekatan, dan bisa langsung mulai Senin depan. Namanya Harumi Nara. Saya jamin, Bapak nggak akan kecewa.
Devan mengangkat satu alisnya, merasa tidak asing dengan nama yang disebutkan oleh Renata. Tanpa ekspektasi apa pun, ia mengklik lampiran file dan kembali memindahkan pandangannya ke layar laptop.
Detik berikutnya, napasnya tercekat.
Matanya terbelalak, menatap foto 3x4 di pojok kanan CV itu. Jantungnya yang lima tahun ini berdetak datar seperti mesin yang teratur ritmenya, tiba-tiba bergejolak hebat menghantam sampai tulang rusuknya keras-keras.
Tangannya mengepal di atas meja, buku-buku jarinya memutih. Dia mengerjap, sekali, dua kali, mencoba meyakinkan bahwa matanya tidak salah lihat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wanudya dahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pesan terkirim ke nomor yang sudah tidak ada 2 (Arka)
Nama gue Arka. Umur 24. Kerjaan freelance desain. Kos di Depok. Dan tiap malem gue jadi almarhum kakak gue.
HP Samsung lipat warna biru ini udah dua tahun gue pegang. Isinya chat, foto, password semua akun kakak gue, Arga. Dia ninggalin surat sebelum kecelakaan. Isinya singkat: Jagain Kiara, jangan bilang gue sudah gak ada, bilang aja gue pergi ke tempat yang jauh.
Dua tahun gue nurut. Gue biarin nomor Arga aktif. Gue top up pulsa tiap bulan. Awalnya gue kira Kiara bakal move on cepet. Ternyata enggak. Dia nggak pernah chat. Sampai seminggu lalu.
Waktu HP itu bunyi, gue lagi ngedesain logo buat klien. Notif masuk: Kiara: Ga, lo kangen gue nggak?
Gue diem 10 menit. Jantung gue mau copot. Gue tau gue harus diemin. Tapi jari gue ngetik sendiri. Ki, lo kangen gue?
Sejak itu, hidup gue berubah. Jam 9 malem jadi jam paling gue tunggu. Kiara pasti chat. Cerita kerjaannya, marah-marah soal bos, laporan kucingnya Baso pup di karpet. Dan gue bales. Pake gaya Arga. Gue hafal. Kakak gue itu ngeselin tapi kalau ngetik selalu pake titik di akhir kalimat. Selalu manggil Kiara dengan sebutan _Ki_. Selalu nyaranin hal-hal absurd.
Masalahnya, gue mulai nikmatin berperan sebagai Arga.
Kiara itu beda dari yang gue bayangin. Di foto, dia cantik. Di chat, dia cerewet tapi tulus. Dia cerita dia nangis dua tahun tiap tanggal 14 Februari. Dia cerita dia masih simpen gelang karet Arga. Dia cerita dia takut jatuh cinta lagi karena takut ditinggal lagi.
Dan gue, yang nyamar, malah jadi orang yang membujuk dia buat jatuh cinta lagi. Sama Dimas.
Dimas itu temen kantornya. Gue stalking IG-nya. Rapih. Pinter. Suka kucing. Cocok buat Kiara. Cocok buat gue mundur.
Tapi tadi malem Kiara chat: Ga, gue abis ngopi sama Dimas. Dia baik. Tapi gue kok malah kangen lo ya?
Gue nggak tidur semalaman. Gue buka surat Arga lagi. Jagain Kiara. Arga nggak pernah bilang jangan jatuh cinta sama dia.
Paginya gue nekat. Gue pake alasan nganter hardfile desain ke kantor Kiara. Gue tau alamatnya dari invoice yang pernah Kiara sebut. Gue cuma mau liat. Sekilas. Pastiin dia baik-baik aja.
Gue nunggu di lobi. Terus dia turun. Pake kemeja biru, rambut diikat, bawa tumbler. Persis kayak di foto HP Arga. Cuma sekarang dia keliatan lebih capek, tapi matanya lebih hidup.
Kiara lewat depan gue. Nggak ngeh. Wangi parfumnya sama kayak yang Arga suka: soft tapi nempel. Gue mau manggil. Tapi lidah kelu.
Terus Dimas dateng. Njemput Kiara. Mereka jalan bareng. Ketawa bareng. Dimas bukain pintu mobil buat Kiara. Gentle.
Gue balik ke kos. Buka HP lipat. Ada chat masuk. Ga, hari ini aneh. Rasanya kayak lo ngeliatin gue dari jauh.
Gue ngetik balesan. Jempol gue gemeter. Mungkin iya. Kan gue bilang, gue jagain dari jauh.
Bohong. Gue jagain dari deket. Dan itu salah.
Malamnya Kiara chat lagi. Ga, gue bingung. Dimas ngajakin gue resmi. Tapi gue takut. Gimana kalau dia kayak lo? Pergi juga?
Gue mau ngetik terima aja, Dimas baik. Tapi yang keluar malah: Kalau lo ragu, jangan. Tunggu sampai yakin. Sama siapa aja. Termasuk sama gue.
Kirim. Gue langsung nyesel. Gue itu siapa. Gue Arka. Bukan Arga. Gue nggak berhak bikin dia ragu.
Kiara bales cepet. Lo beda, Ga. Dua tahun nggak ketemu, tapi rasanya lo nggak pernah pergi. Lo bikin gue berani lagi. Tapi juga bikin gue takut. Takut kalau ini cuma khayalan gue.
Gue matiin HP. Gue keluar kos. Hujan. Gue nggak bawa payung. Sama kayak Kiara. Sama kayak Arga dulu.
Di warung kopi, gue duduk berdua sama HP lipat itu. Gue buka galeri. Isinya foto Arga sama Kiara. Banyak. Dari jaman kuliah sampai terakhir mereka ke pantai. Di foto terakhir, Arga rangkul Kiara. _Captionnya: _Kalau gue kenapa-napa, titip Kiara ya, Semesta._
Gue ngakak sendiri. Semesta ternyata nugasin gue.
HP geter. Chat dari Kiara. Ga, lo masih ada kan? Janji jangan ilang.
Gue liat ke langit. Hujan makin gede. Gue ngetik. Gue ada, Ki. Tapi gue nggak bisa janji nggak ilang. Karena gue dari awal emang udah nggak ada.
Gue hapus. Ganti. Gue ada. Tidur ya. Besok cerita lagi.
Kirim: Terus gue uninstall aplikasi chat dari HP gue sendiri. Biar nggak khilaf bales pake nomor asli.
Besoknya gue nggak kerja. Gue ke makam Arga. Pertama kali setelah dua tahun. Gue taro HP lipat itu di atas nisannya. Gue nyalain. Wallpaper Kiara sama Arga nyala.
"Ga," kata gue pelan. "Gue nyerah. Gue nggak bisa jadi lo. Gue suka sama dia. Tapi dia suka sama lo. Dan lo udah nggak ada. Jadi kita semua kalah."
Angin kenceng. Hujan rintik-rintik. HP itu bunyi. Chat masuk. Dari Kiara.
Ga, gue mau jujur. Gue suka Dimas. Tapi gue juga suka chat sama lo. Boleh nggak kalau gue mau dua-duanya? Yang satu di dunia, yang satu di HP?
Gue ngambil HP lipat itu. Mau bales. Tapi gue liat kontak di HP itu. Namanya bukan Kiara, Namanya _Ki Sayang_. Dibikin Arga.
Gue ketik balesan terakhir. Pake nomor Arga. Buat terakhir kalinya.
Ki. Lo nggak bisa punya dua-duanya. Lo harus pilih yang bisa lo peluk. Yang bisa nganterin lo pulang. Yang bisa ke KUA. Gue cuma bisa nganterin lo lewat doa. Maaf ya. Mulai besok, nomor ini udah nggak aktif. Arga beneran pamit. Jaga diri. Jangan lupa payung.
_Kirim_. Terus gue cabut kartu SIM-nya. Gue patahin. Gue kubur di samping makam Arga.
Malamnya, HP gue yang asli bunyi. Nomor nggak dikenal. _Chat_: "Mas, ini Kiara. Boleh minta tolong? HP mantan gue tiba-tiba nggak aktif. Lo tau nggak dia kenapa? Soalnya dia janji nggak ilang."
Gue liat chat itu lama. Terus gue bales. _Ini adiknya Arga. Namaku Arka. Kakak gue udah nggak ada dua tahun lalu. Maaf baru bilang sekarang. Kalau kamu mau tau cerita lengkapnya, besok ngopi yuk. Aku yang traktir. Pake payung._
_Centang dua_. Biru. Tapi nggak dibales.
Gue taro HP. Malam itu gue tidur tanpa jadi Arga. Rasanya kosong. Tapi lega.