“Jangan harap bisa pergi. Sekali kakimu menginjak rumah ini, selamanya kamu adalah milikku.”
Seorang Juragan yang mempunyai segalanya: kekuasaan, kekayaan, dan wibawa. Hanya satu yang tidak bisa ia miliki yaitu hati anak gadis dari salah satu pekerja buru pabrik miliknya.
Ketika lamaran tulusnya dibalas penolakan, sang Juragan melepaskan topeng kesabarannya. Ia tidak butuh izin untuk memiliki apa yang ia mau. Jika dunia menyebutnya penculik, biarlah. Karena baginya, lebih baik melihat gadis pujaan menangis dalam pelukannya daripada melihat gadis itu tersenyum di pelukan pria lain.
Satu janji suci telah terucap. Ijab kabul telah sah di mata agama. Namun, akankah gadis itu menyerahkan hatinya setelah sang Juragan "mencuri" kebebasannya? lalu bagaimana dengan gadis lain yang ingin menikah dengan sang Juragan tampan itu, akankah ia Terima atau membalaskan dendamnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabia Sky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pinangan Sang Juragan
Semburat jingga di ufuk barat menyambut kepulangan Kinanti. Gadis itu melangkah gontai, menapaki halaman rumahnya dengan sisa tenaga yang ada. Debu jalanan seolah menempel erat di kulit langsatnya, menambah beban pada tubuhnya yang sudah letih setelah seharian bergelut dengan pekerjaan. Kinanti menghempaskan tubuh di kursi rotan teras, tempat favoritnya untuk sekadar melepas penat.
"Lelah sekali hari ini," gumamnya lirih. Tangannya bergerak lincah mengipasi wajah yang mulai dibanjiri peluh. Napasnya teratur, mencoba menghirup udara sore yang mulai mendingin.
Setelah beberapa saat, ia bangkit dan menuju kran air di sudut depan rumah. Air dingin yang menyentuh kulit kakinya seolah menjadi penawar instan bagi rasa lelah yang menggerogoti. Sembari mengeringkan kaki, netranya menatap pintu rumah yang masih tertutup rapat. Pak Wisnu, ayahnya, sepertinya masih tertahan oleh lembur di pabrik.
Kinanti sudah hafal di mana kunci cadangan diletakkan. Ia merogoh kolong keset, mengambil kunci logam yang dingin, lalu membuka pintu kayu yang berderit pelan. Langkahnya langsung menuju dapur, bersiap membersihkan diri sebelum menjalankan tugas rutinnya menyiapkan makan malam.
Aroma harum mulai menyeruak dari dapur sederhana itu. Kinanti, yang kini sudah segar dalam balutan daster berbahan katun di bawah lutut, bergerak lincah di depan kompor. Rasa kantuk dan lelah seolah menguap saat ia mulai memotong bumbu.
"Nah, begini baru segar. Saatnya memasak menu spesial," ucapnya dengan semangat yang kembali penuh.
Di atas talenan kayu, ia menyiapkan potongan ayam untuk menu ayam cili padi yang sedang digemari. Suara desis minyak saat tempe goreng tepung dimasukkan ke penggorengan menjadi musik latar yang menenangkan. Tak lupa, ia memetik pucuk sawi untuk ditumis singkat. Semua ia siapkan dengan penuh cinta, khusus untuk menyambut kepulangan sang bapak yang telah membanting tulang demi dirinya.
♛♜♛ ♛♜♛ ♛♜♛ ♛♜♛ ♛♜♛
🤝 Permintaan Juragan Wijaya
Di tempat lain, di sebuah ruangan pribadi tua yang jauh lebih tertutup namun terasa tegang, Pak Wisnu sedang duduk tertunduk. Di hadapannya, duduk seorang pria berwibawa dengan tatapan teduh namun penuh ketegasan, Pak Wijaya.
"Ada yang bisa saya bantu lagi, Juragan? Apa ada masalah dengan pengiriman beras ke kota?" tanya Pak Wisnu yang nampak sedikit bingung.
Pak Wijaya terkekeh, mencoba mencairkan suasana. "Bukan, Nu. Ini lebih penting dari sekadar beras satu truk."
Ia terdiam sejenak, menatap Pak Wisnu yang sudah menemaninya membangun usaha ini selama belasan tahun. "Ingat obrolan kita kemarin tentang Adi yang menolak banyak perjodohan?"
Pak Wisnu mengangguk pelan. "Ingat, Juragan. Beliau pasti punya alasan sendiri."
"Alasannya sudah ketemu, Nu," Pak Wijaya mencondongkan tubuhnya ke depan. "Semalam Adi bicara pada saya dan ibunya. Dia sudah menentukan pilihannya. Dan pilihannya jatuh pada putri kamu, Kinanti."
HENING.
Hanya suara putaran kipas angin tua di sudut ruangan yang terdengar. Pak Wisnu terpaku. Tangannya yang kasar karena kerja keras tampak sedikit gemetar. Ia seperti kehilangan napas untuk sejenak.
"Apa benar, Juragan? Maksud saya... Juragan Adi—" Kalimat Pak Wisnu menggantung di udara. Ia tidak sanggup melanjutkan, seolah kata-kata itu terlalu berat untuk diucapkan.
"Iya, Wisnu. Saya harap kamu bisa memberikan pengertian ini kepada Kinanti," jawab Pak Wijaya dengan nada yang sangat tenang, namun tidak menerima penolakan.
Pak Wisnu meremas jemarinya yang kasar karena kerja keras. "Tapi Juragan, apakah putri saya, Kinanti, pantas bersanding dengan Juragan Adi? Kami hanya orang kecil."
Pak Wijaya tersenyum bijak, sebuah senyum yang menenangkan keresahan hati bawahannya itu. "Wisnu, dengar saya. Kami tidak pernah mematok bahwa calon menantu harus dari golongan ningrat atau kaya raya. Sebagai orang tua, kami selalu mendukung apa pun yang menjadi pilihan putra-putra kami asalkan baik dan sopan."
Keheningan sempat merayap di antara mereka sebelum Pak Wisnu akhirnya mengangguk pelan. "Jika memang itu sudah menjadi keputusan Juragan, saya akan mencoba bicara dengan Kinanti."
"Saya sangat berharap jawaban Kinanti adalah jawaban yang baik, Wisnu. Karena sejujurnya, baru kali ini saya melihat Aditya begitu bersemangat dan bersungguh-sungguh saat bicara tentang pernikahan," pungkas Pak Wijaya.
♛♜♛ ♛♜♛ ♛♜♛ ♛♜♛ ♛♜♛
🍛 Makan Malam yang Hening
Malam kian larut saat Pak Wisnu tiba di rumah. Di meja makan kayu yang telah dialasi taplak sederhana, Kinanti sudah menata hidangan dengan rapi. Uap tipis masih mengepul dari nasi jagung yang hangat.
"Pak, mari makan malam. Nasi dan lauknya sudah siap," panggil Kinanti lembut sembari mengayunkan sendok nasi ke piring sang bapak.
Pak Wisnu berjalan mendekat dengan langkah berat. Pikirannya bercabang, hatinya gundah. Bagaimana cara memulai pembicaraan yang mungkin akan mengubah hidup putri semata wayangnya selamanya?
"Ini Pak nasinya. Lauknya diambil sendiri ya, Pak," lanjut Kinanti.
Namun, Pak Wisnu hanya bergeming. Ia menatap piringnya dengan pandangan kosong. Kinanti yang menyadari gelagat aneh itu mulai merasa cemas.
*Ada apa dengan Bapak? Tidak biasanya beliau melamun sedalam ini,* batin Kinanti bertanya-tanya.
"Pak? Bapak?"
Pak Wisnu tersentak dari lamunannya. "Iya, Nak?"
"Bapak kenapa? Apa ada sesuatu yang sedang mengganggu pikiran Bapak?" tanya Kinanti dengan nada penuh perhatian.
Pak Wisnu menggeleng pelan, memaksakan sebuah senyum kecil. "Tidak ada. Mari kita makan, Nak."
Sepanjang makan malam, keheningan menyelimuti ruang makan. Kinanti makan dalam diam, namun sesekali ia melirik ayahnya yang lebih banyak mengaduk nasi daripada menyuapnya. Di sisi lain, batin Pak Wisnu bergejolak. Ia memandang wajah ayu putrinya dengan rasa kasih yang mendalam. Apa pun yang diputuskan Kinanti nanti, ia berjanji akan selalu berdiri di belakang gadis itu.
♛♜♛ ♛♜♛ ♛♜♛ ♛♜♛ ♛♜♛
💍 Pinangan di Ruang Tengah
Selesai merapikan meja makan, Kinanti berniat menuju kamar untuk beristirahat. Namun, langkah kakinya terhenti ketika suara berat ayahnya memanggil dari ruang tengah.
"Kinanti, kemari sebentar."
Kinanti berbalik, melangkah menuju sumber suara. Ia mendapati ayahnya duduk di atas karpet tipis di depan televisi yang tidak menyala. Suasana tiba-tiba terasa sangat tegang dan serius.
"Ada apa, Pak?" tanya Kinanti pelan sembari duduk di samping ayahnya sesuai isyarat tangan pria itu.
Pak Wisnu menatap wajah Kinanti dengan tatapan yang sangat lembut, seolah ingin merekam setiap inci wajah putrinya. "Bapak ingin bicara serius denganmu, Nak."
Kinanti mengangguk, jantungnya mulai berdegup kencang secara tidak teratur.
"Bapak mohon, kamu jangan kaget, ya," ucap Pak Wisnu mengawali. Ia mengambil napas panjang, seolah sedang mengumpulkan keberanian yang tersisa. "Tadi sore, Juragan Jaya memanggil Bapak. Beliau menyampaikan bahwa kamu... ingin dijadikan menantu untuk putra mereka, Juragan Adi."
DEG!
Dunia seolah berhenti berputar bagi Kinanti. Rasa dingin tiba-tiba menjalar ke seluruh ujung jemarinya. Matanya membelalak, mulutnya sedikit terbuka karena syok yang teramat sangat.
"Pa... Pak... maksudnya?" suara Kinanti bergetar, nyaris tidak terdengar.
"Kamu sudah tahu siapa Juragan Adi, kan?" Pak Wisnu memastikan.
"Iya, Kinan tahu. Tapi kenapa tiba-tiba? Kenapa harus Kinan, Pak? Ada banyak gadis lain yang lebih pantas," tanya Kinanti bertubi-tubi dengan nada bingung yang tidak bisa disembunyikan.
Pak Wisnu menghela napas panjang. "Bapak juga tidak tahu pasti, Nak. Juragan Jaya hanya bilang kalau Juragan Adi secara pribadi yang meminta untuk melamarmu. Dia ingin meminangmu menjadi istrinya."
Kinanti merasa kepalanya mendadak pening. Bayangan wajah Aditya pria dengan tatapan tajam yang selalu terlihat dingin dan berwibawa langsung melintas di pikirannya. Aditya adalah sosok yang dikagumi sekaligus disegani di desa ini.
"Juragan Jaya terlihat sangat senang, Nak. Beliau bilang, Aditya sangat bersemangat saat membicarakan rencana pernikahan ini," tambah Pak Wisnu lagi.
"Dengan Kinan?" lirihnya, seolah meyakinkan dirinya sendiri bahwa ini bukan mimpi.
"Iya, Nak. Denganmu."
Kinanti terdiam seribu bahasa. Napasnya memburu ringan. Ia teringat beberapa momen ketika ia tak sengaja berpapasan dengan Aditya. Apakah tatapan tajam pria itu selama ini bukanlah sebuah intimidasi, melainkan sebuah pertanda?
"Lalu bagaimana, Nak?" tanya Pak Wisnu hati-hati, memecah keheningan.
Kinanti menggeleng pelan. "Kinan tidak tahu, Pak. Kinan sangat bingung. Rasanya semua ini terlalu mendadak."
Pak Wisnu mengusap bahu putrinya, mencoba memberikan ketenangan. "Tidak apa-apa. Bapak paham. Bapak akan minta waktu kepada Juragan Jaya agar kamu bisa berpikir terlebih dahulu."
Kinanti menatap ayahnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Apa pun keputusan Kinan nanti, Bapak akan menerimanya, kan? Bapak tidak akan kecewa?"
Pak Wisnu tersenyum tulus, air mata keharuman hampir jatuh dari sudut matanya. "Tentu, Nak. Pasti itu. Apa pun keputusanmu, Bapak akan selalu mendukungmu. Kebahagiaanmu adalah yang utama bagi Bapak."
Hati Kinanti terasa sedikit lega mendengarnya. Meski badai kebingungan masih melanda pikirannya, setidaknya ia tahu bahwa ia memiliki tempat untuk bersandar.
Bersambung__
___