NovelToon NovelToon
PAK USTADZ JANGAN GODAIN SAYA

PAK USTADZ JANGAN GODAIN SAYA

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: wanudya dahayu

Zahra dijodohin sama Rayan karena wasiat almarhum Ayah Zahra yang sahabatan sama Abah Rayan. Zahra _ngamuk_ karena ngerasa nggak pantes jadi istri ustadz. Rayan juga _shock_ karena harus nikah sama cewek bertato yang nggak bisa baca Al-Fatihah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wanudya dahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28: DANA BANTUAN TURUN - GODAAN PERTAMA

Hari ke-45 di Ndalem. Status Zahra Almira: Bu Nyai Yang Baru Menang Tender Kemenag Tapi Dompet Masih Tipis.

Jam 10.00, HP Rayan bunyi. WA dari Pak Mahmud Kemenag.

Isinya: "Ustadz, SK Pesantren Ramah Anak sudah turun. Dana tahap 1: 75 juta. Cair besok. Mohon disiapkan laporan pertanggungjawaban. Barakallah."

Rayan nunjukin HP-nya ke aku. Dari jarak 1 meter. Sesuai SOP Ndalem.

Aku melongo. "Tadz... 75 juta? Beneran? Nggak typo nol-nya?"

"Beneran, Zahra," jawab Rayan. Senyum. "Allah ganti Ndalem kita. Kemarin fitnah, sekarang amanah."

Aku langsung sujud syukur di lantai. Lagi. "Ya Allah... Alhamdulillah... Bisa benerin genteng. Bisa beli gas. Bisa gaji Mbak Yuni!"

Bunda Aisyah dari dapur teriak. "Nak, Nduk! Kalau sujud syukur terus nanti jidat kapalan! Bangun! Masak dulu!"

Aku ngakak. Bangun. "Siap, Bun!"

---

Jam 14.00, tamu pertama dateng. Nggak diundang. Namanya Mas Burhan. Ngakunya alumni Ndalem. Angkatan 10 tahun lalu. Bawa map. Bawa senyum. Bawa... proposal.

"Ustadz Rayan," katanya. Salaman. Sama Rayan doang. Aku dicuekin. "Saya denger Ndalem dapat bantuan. Alhamdulillah. Saya mau nawarin kerja sama. Saya punya CV. Bisa bantu pengadaan. Sarung, kitab, kasur santri. Harga... harga temen."

Aku bisik ke Mbak Yuni. "Mbak, temen yang mana? Temen nipu?"

Mbak Yuni nyubit. "Sst. Husnudzon."

Rayan baca proposal Mas Burhan. Alisnya naik. "Mas, harga sarung di sini 150 ribu satu. Di pasar 80 ribu."

Mas Burhan ketawa. "Ustadz, ini sarung premium. Ada garansi masuk surga kalau dipake ngaji."

Aku nggak kuat. "Mas, kalau gitu saya pesen 100. Tapi bayarnya nyusul di surga ya. Bisa?"

Satu ruangan diem. Mas Burhan mukanya merah. "Bu Nyai becanda."

"Enggak, Mas," jawabku. Senyum. "Saya mantan barista. Udah biasa ngitung HPP. Margin 100% itu namanya bukan kerja sama. Namanya ngerampok pake peci."

Rayan batuk. Nahan ketawa. "Maaf, Mas Burhan. Untuk pengadaan, Ndalem mau transparan. Kami lelang terbuka. Biar berkah."

Mas Burhan pulang. Banting pintu. Pelan. Takut kualat.

Aku nengok Rayan. "Tadz, itu godaan pertama. Kalau ada duit, lalat pada dateng."

Rayan ngangguk. "Kamu pinter, Zahra. Tadi aku hampir iya-iya aja. Soalnya capek mikir."

Aku senyum. "Makanya Tadz punya aku. Biar ada yang galak kalau Tadz mau polos."

Rayan diem. Terus jawab. "Iya. Untung ada kamu."

Deg. Kok jawabannya gitu? Aku langsung sibuk ngipas-ngipas pake buku. Padahal AC nyala.

---

Sore, jam 16.00. Humairah sowan ke kamarku. Bawa HP.

"Bu Nyai! Liat! TikTok kita FYP!"

Aku intip. Video "Sehari Jadi Santri Ndalem". View: 200 rb. Komen: 3.502.

Top komen: "@BuNyainyaGemes. Ustadznya ganteng, Bu Nyai-nya lucu. Kapan collab?"

Aku salting. "Humairah! Hapus komen itu!"

"Nggak mau! Ini biar Ustadz Rayan baca!" jawab Humairah. Lari.

Lah. Anak kecil kok malah jadi mak comblang.

Nggak lama, pintu diketok. "Zahra," suara Rayan. "Boleh masuk? Mau diskusi soal TikTok."

"Videonya rame," kata Rayan. Nunjuk HP. "Katanya... kita disuruh collab."

Aku pura-pura baca komen. Padahal kuping udah panas. "Ih, netizen. Ngatur aja. Emang kita artis?"

"Kalau buat Ndalem, kenapa nggak?" jawab Rayan. Santai. "Tapi... kamu mau?"

Aku nengok. Dia natap aku. Nggak ngeledek. Nanya beneran.

"Eh... ya... kalau konsepnya jelas," jawabku. Gugup. "Jangan yang... yang aneh-aneh."

"Aneh gimana?" Rayan tanya. Polos. Atau pura-pura polos.

"Ya... yang... yang tren suami-istri itu lho, Tadz," kataku. Makin salting. "Yang... Pegang-pegangan tangan, peluk-pelukan, terus ... ."

Rayan diem. Terus senyum. "Oh. Ya nggak lah. Kan kontrak kita belum... kamu belum siap."

Iya. Belum siap. Tapi kenapa pas dia bilang gitu, aku malah... nyesel dikit?

Gila. Zahra, sadar.

"Bagus, Tadz," jawabku. Cepet. "Kontrak nomor satu."

---

Malam, jam 20.00. Aku di teras. Ngitung bintang. Ngitung duit juga.

Rayan keluar. Bawa dua gelas. "Kopi Ndalem. Tanpa gula. Biar melek bikin LPJ."

Dia taruh gelas di meja. Jarak kami 40 cm. Deket. Tapi nggak nyenggol.

"Zahra," katanya. "Makasih ya. Hari ini. Kamu jagain Ndalem dari Mas Burhan. Kamu juga... jagain aku."

Aku seruput kopi. Pahit. Tapi anget. "Sama-sama, Tadz. Kan janji. Aku jadi tameng."

Rayan ketawa kecil. "Tamengnya galak. Tapi... aku suka."

Plak. Gelasku hampir jatuh.

"Suka... suka yang galak?" tanyaku. Bodoh. Kenapa nanya gitu.

Rayan natap aku. Malam-malam, lampu teras temaram. Matanya... nggak keliatan bercanda.

"Iya," jawabnya. Pelan. "Suka. Soalnya yang galak itu... jujur."

Satu detik. Dua detik. Tiga detik.

Suara Bunda Aisyah dari dalem. "Nak, Nduk! Nah gitu deket-deketan! Biar Bunda cepet gendong cucu?!"

"ASTAGFIRULLAH, BUNDA!" Aku sama Rayan kompak kaget. Malu.

Dari kamar, Humairah ngintip. Bisik-bisik: "Cieee... cieeee."

1
hasatsk
setelah di baca terus menerus ternyata ceritanya seru.....💪💪
wanudya dahayu: makasi kak 🙏. lagi nyari ide lagi, biar bisa menuhi syarat kontrak. doain ya kak. 🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Di Dia
tokoh aryanya cpt"di singkirin ...
Titik Sofiah
awal yang menarik ya Thor moga konfliknya nggak trllau berat 😍😍😍
wanudya dahayu: iya kak, semoga suka, mohon dukungannya 😍🙏🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!