TELAHIR SAKTI: "Pencarian Pusaka Primordial"
Dunia yang damai ternyata hanyalah lembaran kertas di mata para dewa.
Pahlawan legendaris bernama Raka mengorbankan jiwa dan raganya yang merupakan tetesan "Tinta Primordial" untuk membebaskan dunia dari belenggu Naskah Takdir. Pengorbanannya memberikan kehendak bebas bagi seluruh penduduk fana. Namun, di dimensi kosmik yang jauh lebih tinggi, sebuah tempat bernama Ruang Redaksi, kebebasan ini dianggap sebagai "Kecacatan Cerita" yang harus segera dihapus."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abas Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
B 22: Istana Berahi
Pengaruh aroma di ruangan itu mulai membakar darahnya. Ia adalah pria dewasa, dan instingnya bereaksi hebat terhadap provokasi Dewi.
Raka mulai membalikkan posisi, kini menindih Dewi yang tertawa nakal. Tangan Raka mencengkeram pinggul Dewi dengan sangat kuat hingga meninggalkan bekas kemerahan. "Suara yang beradu saat Raka menyentuh tubuh Dewi dengan liar."
"Berikan aku semuanya, Raka!" teriak Dewi dengan suara yang mengodan, dan memburu.
Mereka bergumul dalam penyatuan yang sangat intens. Dewi bergerak dengan liar, mencoba menghisap energi Matahari Chaos Raka melalui puncak kenikmatan jasmani. Dan tubuh yang berkeringat memenuhi istana.
Namun, di saat Dewi mengira ia telah memenangkan jiwa Raka, tetapi mata Raka tiba-tiba terbuka lebar dan berkilat hitam pekat."
"Kau pikir kau bisa menguras sukmaku dengan nafsu murahan ini?" geram Raka.
ZINGGGGG!
Raka menggunakan momen puncak itu untuk membalikkan aliran energi. Ia melepaskan ledakan energi "Matahari Chaos" langsung ke dalam inti sukma Dewi.
BOOOOOOMMMMM!
"TIDAAAAAAKKKK!" jerit Dewi.
Tubuh Dewi mulai retak dari dalam, mengeluarkan cahaya hitam yang menghancurkan. Dan Suara jeritannya yang melengking."
AAAAAAKKKKHHHH!
Berakhir saat tubuhnya meledak menjadi ribuan kepingan kristal hitam yang tajam.
Setelah ledakan itu, Raka berdiri di tengah reruntuhan ranjang yang kini bersimbah darah hitam.
Tubuhnya masih berkeringat, otot-ototnya menonjol, dan napasnya memburu. Ia tidak merasa lemas, sebaliknya, menyerap sebagian energi Dewi membuatnya merasa lebih haus akan darah.
Dari balik tirai-tirai istana yang terbakar, muncul enam sosok wanita lainnya. Mereka adalah saudari-saudari Dewi, masing-masing membawa senjata yang mengerikan." cambuk saraf, pedang tulang, dan belati beracun.
"Dewi adalah yang tercantik, tapi kami adalah yang paling mematikan!" teriak Selir Kedua sambil mengayunkan cambuknya kepada Raka.
Wusss
Cambuk itu mengenai bahu Raka, merobek kulitnya hingga darah emas segar mengalir. Raka hanya tersenyum dingin. Ia menjilat darah di bahunya sendiri.
"Hanya itu yang kamu punya?" tanya Raka. "Kalau begitu giliran saya, jangan salahkan saya kalau kau mau tiada di sini."
SYUUUUUTTTTT!
Raka melesat secepat kilat. Ia muncul di hadapan Selir Ketiga dan langsung mencengkeram kepalanya.
Krakkk! Suara tengkorak yang hancur terdengar sangat jelas."
Raka menghantamkan kepala itu ke lantai hingga hancur berkeping-keping.
Dua selir lainnya menyerang dari belakang.
Sring!
Raka memutar tubuhnya, melepaskan tendangan yang mengandung energi pemusnah.
Bugh!
Salah satu selir terjatuh terlempar, di pinggangnya yang berwarna hitam keluar di lantai kristal."
Darah mereka membasahi wajah Raka, membuatnya tampak seperti iblis dari neraka terdalam.
"Maju kalian semua!" raung Raka.
Duar!
Raka mengamuk. Ia menggunakan tangan kosong untuk menghancurkan zirah mereka.
Suara pukulan yang menghantam tubuhnya Bugh!," dan bersahutan dengan teriakan kesakitan para selir tersebut.
Selir Terakhir, yang paling muda, mencoba melarikan diri.
Raka melemparkan pedang tulang yang ia ambil dari selir sebelumnya.
Siuuuut...
Pedang itu menembus punggungnya hingga tembus ke jantung, memakukannya ke dinding istana."
Hening kembali melanda istana.
Raka berdiri di tengah tumpukan mayat selir-selir kaisar yang kini tumpang tindih dalam genangan darah hitam. Ia mengatur napasnya.
Tiba-tiba, dari ujung aula, sebuah pintu raksasa terbuka.
KREEEEEETTTTTT...
Muncul seorang pria dengan tinggi tiga meter, mengenakan zirah emas yang dipenuhi simbol-simbol kuno. Di tangannya, ia memegang Nama Pak Darman, ayah angkat Raka, yang sudah tidak bernyawa.
"Aku punya Hadiah kecil untukmu, Raka," ucap pria itu, yang ternyata adalah Kaisar Kekacauan sendiri. Ia melemparkan Pak Darman ke kaki Raka."
Raka melihat Pak Darman dengan kesedihan tak terbendung, Dunia seolah berhenti berputar bagi Raka. Seluruh matahari di dalam jiwanya, dari yang ke-1 hingga ke-13, mendadak berhenti berputar.
Kemudian, mereka semua melebur menjadi satu pusaran energi berwarna merah gelap yang sangat mengerikan.
"Kau..." suara Raka bergetar, namun bukan karena takut. "Kau telah melakukan kesalahan terbesar dalam hidupmu, Kaisar."
BOOOOOOMMMMMMMM!
Ledakan energi dari tubuh Raka menghancurkan seluruh Istana Tujuh Dosa hingga rata dengan tanah.
Raka meratakan semua, tak ada yang bisa berkutik melawannya."
Raka kini bukan lagi seorang pelindung. Ia telah menjadi Dewa Kematian yang haus akan pembalasan dendam."
Setelahnya semua di hancurkan, Raka melangkah keluar dari gerbang dimensi menuju Lembah Wening. Ia membawa kemenangan, tapi tubuhnya terasa aneh. Energi merah kristal dari Matahari ke-14 tidak mau padam, energi itu justru mulai menggerogoti urat syarafnya dari dalam.
Uhuk!
Raka terbatuk, dan yang keluar bukan darah merah, melainkan cairan hitam pekat yang bergerak seperti hidup.
"Ayah!" Bumi berlari menyongsong, tapi Raka mengangkat tangannya, memberi isyarat agar putranya jangan mendekat.
"Jangan... Energi ini beracun," bisik Raka dengan napas yang berat.
Tiba-tiba, dari arah bukit, muncul sekelompok ksatria berbaju zirah putih. Mereka bukan musuh dari dimensi lain, melainkan Orde Cahaya Suci, faksi pendekar dari benua seberang yang selama ini bersembunyi.
Pemimpin mereka, seorang pria tua bernama Kardinal Silas, menatap Raka dengan tatapan menghakimi.
"Raka! Kau telah membawa kutukan Kekacauan ke dunia ini!" teriak Silas.
"Lihatlah tanah yang kau injak! Rumputnya mati, airnya menjadi hitam. Kau bukan lagi pelindung, kau adalah wabah!"
Raka menatap ke bawah. Benar. Di mana pun kakinya berpijak, kehidupan di sekitarnya layu seketika.
Efek samping dari Matahari ke-14 adalah menghisap kehidupan untuk mempertahankan eksistensinya.
Pelarian ke Lembah Terlarang.
Situasi menjadi kacau. Penduduk desa yang tadinya memuja Raka, kini mulai ketakutan. Silas memprovokasi massa, mengatakan bahwa Raka harus dikurung atau dibunuh demi keselamatan bumi.
"Pergi, Raka! Cari tempat tersembunyi untuk menstabilkan energimu!" seru Vanya.
Raka, ditemani Sekar dan Vanya, terpaksa melarikan diri ke Lembah Kabut Abadi, sebuah tempat yang dipenuhi aura mistis kuno yang bisa menekan energi matahari. Di sana, mereka menemukan sebuah gua tersembunyi yang dialiri air terjun energi murni.
Namun, kondisi Raka semakin memburuk. Kulitnya mulai retak, mengeluarkan cahaya merah yang menyakitkan.
"Satu-satunya cara adalah Penyucian Darah." bisik Vanya dengan wajah cemas. "Raka harus mengeluarkan seluruh racun itu melalui penyatuan fisik yang mendalam dengan kita berdua, "seru Vanya, tapi risikonya... energi itu bisa membunuh kita juga."
Di dalam gua yang lembap, suara gemericik air terjun." Dan bersatu dengan suara napas Raka yang terengah-engah.
Sekar dan Vanya memutuskan untuk mengambil risiko tersebut. Mereka tidak akan membiarkan pria yang mereka cintai menderita sendirian.
"Lakukan, Raka. Ambil kehidupan kami buat kami puas, jika itu bisa menyelamatkanmu," ucap Sekar lembut.
Kain-kain sutra dilepaskan. Di bawah cahaya kristal gua yang biru, tubuh ketiga manusia itu bertemu.
Raka merasakan kulit Sekar yang hangat dan kulit Vanya yang sejuk menempel di tubuhnya yang membara."
Bersambung....