NovelToon NovelToon
Sembilan Phoenix Agung : Jalan Kultivasi Terlarang

Sembilan Phoenix Agung : Jalan Kultivasi Terlarang

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Balas Dendam / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:7.4k
Nilai: 5
Nama Author: Nugraha

Lin Chen, seorang pemuda yang dianggap sampah karena memiliki Meridian Spiritual rusak, secara tidak sengaja menyentuh Phoenix bayi yang sedang bereinkarnasi. Pertemuan itu justru memberinya warisan terlarang tertinggi — "Sembilan Ikatan Phoenix Abadi".

Teknik kultivasi ini mengharuskan ia menikahi dan melakukan kultivasi ganda dengan Sembilan Phoenix Agung. Semakin banyak Phoenix yang ia taklukkan, semakin kuat ia. Namun, teknik ini dianggap melanggar tatanan langit, sehingga seluruh dunia kultivasi ingin membunuhnya.

"Dunia bilang aku terlarang? Baiklah… aku akan menikahi semua Phoenix dan membakar langit ini hingga hangus!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8 : Angin yang Berbeda

Hari kelima di Pegunungan Cang Lei membawa perubahan yang tidak biasa.

Sejak pagi, kabut yang biasanya hanya menyelimuti sebagian hutan kini menjadi jauh lebih tebal. Warnanya putih pekat, menutupi pandangan hingga tidak lebih dari sepuluh langkah ke depan.

Udara juga terasa lebih dingin dari biasanya, sampai-sampai napas Lin Chen berubah menjadi uap tipis setiap kali ia mengembuskan nya.

Namun yang paling menarik perhatiannya bukanlah kabut ataupun suhu, melainkan sesuatu yang tidak dapat dijelaskan.

Ada perubahan pada energi alam di sekitarnya.

Biasanya energi alam di Pegunungan Cang Lei terasa tenang dan menyebar merata ke segala arah. Namun hari ini berbeda.

Energi tersebut seolah memiliki tujuan.

Seperti arus sungai yang mengalir diam-diam di bawah permukaan.

Dan arah aliran itu menuju ke utara.

Lin Chen berdiri di depan tempat berlindungnya sambil memejamkan mata.

Ia tidak mencoba memahami semuanya, hanya merasakan.

Semakin lama ia memperhatikan, semakin jelas aliran itu terasa.

Bahkan meridian yang selama ini rusak menunjukkan reaksi yang tidak biasa.

Bukan rasa sakit seperti biasanya, yang ia rasakan hanyalah getaran sangat lemah, seperti senar yang disentuh dari kejauhan.

Sebuah respons yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Karena penasaran, Lin Chen memutuskan mengikuti arah aliran energi tersebut.

Ia berjalan ke utara.

Semakin jauh melangkah, hutan di sekitarnya semakin tua dan semakin sunyi.

Pepohonan raksasa menjulang tinggi, menutupi sebagian besar cahaya matahari. Batang-batang pohon itu begitu besar, akar-akar tua menjalar di atas tanah seperti ular raksasa yang tertidur selama ratusan tahun.

Lumut yang tumbuh di antara bebatuan juga tampak berbeda.

Warnanya lebih gelap, hampir mendekati hitam.

Suasana di tempat itu terasa kuno.

Seolah telah menyimpan rahasia yang tidak diketahui siapa pun selama bertahun-tahun.

Setelah berjalan cukup lama, Lin Chen tiba di sebuah lembah kecil.

Langkahnya tiba tiba terhenti.

Di tengah lembah itu terdapat lingkaran batu besar yang tersusun dengan sangat rapi.

Terlalu rapi untuk disebut sebagai hasil bentukan alam.

Setiap batu berdiri pada posisi yang seolah telah ditentukan dengan sengaja.

Meskipun telah dipenuhi lumut dan tanaman liar, bentuk lingkarannya masih terlihat jelas.

Lin Chen tidak tahu siapa yang membangunnya.

Mungkin seseorang ratusan tahun lalu.

Mungkin ribuan tahun lalu.

Tidak ada yang mengetahuinya.

Namun satu hal dapat ia rasakan dengan pasti. Energi alam di tempat itu jauh lebih padat dibandingkan wilayah lain yang pernah ia lewati.

Bahkan udara terasa lebih berat.

Di tengah lingkaran batu, rumput tumbuh lebih subur dan lebih hijau daripada area sekitarnya.

Seolah seluruh energi di tempat itu berkumpul pada satu titik.

Lin Chen berdiri beberapa saat sambil mengamati.

Kemudian ia berjalan menuju bagian tengah lingkaran dan duduk bersila.

Ia sendiri tidak tahu alasan pastinya.

Hanya saja, ada perasaan aneh yang mengatakan bahwa itulah hal yang harus ia lakukan.

Perasaan yang sulit dijelaskan, namun terasa sangat kuat.

Lin Chen memejamkan matanya.

Seperti biasa, ia mulai mencoba menyerap energi alam.

Tetapi kali ini ia tidak memaksa.

Selama bertahun-tahun ia selalu berusaha mendorong energi masuk ke dalam meridian yang rusak, dan hasilnya hanya rasa sakit serta kegagalan.

Karena itu, ia mencoba cara yang berbeda.

Ia membiarkan dirinya rileks sepenuhnya, dan tidak berusaha mengendalikan apa pun.

Ia hanya membuka dirinya terhadap lingkungan sekitar.

Awalnya tidak terjadi apa-apa.

Lalu perlahan, sesuatu mulai berubah.

Energi alam di sekitarnya bergerak.

Bukan dalam jumlah besar.

Bahkan sangat sedikit, namun untuk pertama kalinya, energi itu berhasil masuk ke dalam tubuhnya tanpa menimbulkan rasa sakit.

Bukan melalui jalur meridian yang rusak, melainkan melalui cara yang jauh lebih halus.

Seperti kabut yang meresap perlahan ke dalam tanah.

Atau embun yang menyentuh daun tanpa menimbulkan suara.

Jumlahnya memang kecil.

Sangat kecil.

Namun bagi Lin Chen, itu sudah cukup untuk membuat jantungnya berdebar.

Karena selama bertahun-tahun, hasil yang ia dapatkan selalu nol.

Sekarang, untuk pertama kalinya, hasilnya bukan lagi nol.

Lin Chen tetap duduk di sana tanpa bergerak.

Waktu berlalu tanpa ia sadari.

Ketika akhirnya membuka mata, langit sudah berubah warna.

Cahaya keemasan senja menyinari puncak-puncak pohon, sementara awan di kejauhan berubah menjadi merah dan jingga seperti kobaran api.

Sore telah tiba.

Lin Chen perlahan berdiri, dan tubuhnya terasa lebih hangat daripada biasanya.

Di dalam dadanya, ada sesuatu yang sulit dijelaskan.

Perubahannya sangat kecil.

Hampir tidak berarti jika dibandingkan dengan para kultivator berbakat.

Namun ia dapat merasakannya dengan jelas.

Sesuatu telah bergerak, dan yang terpenting, perubahan itu nyata.

Lin Chen menatap langit senja yang membentang di atas hutan.

Untuk pertama kalinya sejak meninggalkan Klan Lin, senyum tipis muncul di wajahnya.

"Jadi memang ada jalan lain."

Suaranya pelan, hampir tenggelam oleh desir angin sore.

Ia belum mengetahui apa sebenarnya tempat itu.

Ia juga tidak tahu mengapa energi alam di sana begitu berbeda.

Namun untuk saat ini, semua itu tidak penting.

Yang penting adalah satu hal.

Hari ini ia berhasil melangkah maju.

Mungkin hanya satu langkah kecil.

Mungkin langkah yang bahkan tidak akan diperhatikan orang lain.

Tetapi tetap saja sebuah langkah.

Dan bagi seseorang yang selama bertahun-tahun terjebak di tempat yang sama, satu langkah kecil sudah cukup untuk mengubah segalanya.

Tanpa disadarinya, penemuan sederhana di lembah ini hanyalah awal dari rahasia besar yang tersembunyi jauh di dalam Pegunungan Cang Lei.

Rahasia yang akan mengubah nasibnya selamanya.

1
Green Boy
ayo lanjut lagi thor🙏🙏
Daryus Effendi
bosan bacanya terlalu lambat alzrnya.bertele tele
Hadi Hadi
up up 👍
Hadi Hadi
up up 😍😍
Anonymous
lanjut thor seru ceritanya🙏
Si Suka Baca
Vote meluncur
Ihwan12
mantap lanjut lagi thor💪💪👍👍
Xiao Lin—Gold Author
satu mawar 🌹
Xiao Lin—Gold Author
niceeeee👍👍👍
Xiao Lin—Gold Author
Mantap👍👍👍
Xiao Lin—Gold Author
Suyin mungkin udah ketagihan sama pedang ajaib Wei Hao🤔/Sly//Doge/
Celestial Quill: /Facepalm/
total 1 replies
Xiao Lin—Gold Author
Mantap👍
Shu Qing
Luar biasa
Fatih Al
awal yang bagus👍👍
Green Boy
Bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!