NovelToon NovelToon
Nayara'S Story

Nayara'S Story

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mafia / Action
Popularitas:573
Nilai: 5
Nama Author: Aini Nuraini

JUDUL: NAYARA'S STORY: TAWANAN DUA MORETTI

Hanya karena salah melihat eksekusi berdarah, hidup Nayara berubah menjadi neraka.

Dia diseret ke Mansion Moretti untuk dilenyapkan. Namun, saat pistol sang penguasa mafia, Lorenzo Moretti, menempel di dahinya, eksekusi itu batal. Wajah Nayara sangat mirip dengan wanita dari masa lalu Lorenzo.

Alih-alih bebas, Nayara justru terjebak menjadi tawanan sekaligus pemuas obsesi gila sang ayah, dan pelampiasan dendam sang anak—Dante Moretti—yang posesif. Diapit dua iblis mafia, Nayara dihancurkan hingga tak tersisa.

Namun mereka lupa, singa yang terluka akan menggigit lebih mematikan.

"Bagi mereka, tubuhku adalah candu yang memabukkan. Namun mereka lupa, candu ini pulalah yang akan menjadi racun paling mematikan bagi akhir hidup mereka."


Genre: Dark Romance, Mafia, Revenge, Toxic Triangle
⚠️ Peringatan: Mengandung konten dewasa dan konflik emosional yang intens.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aini Nuraini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Intim

"Sedikit lagi selesai, tahan," bisik Nayara pelan, memajukan wajahnya demi menempelkan plester terakhir di bahu kokoh Dante.

"Kau lama sekali, Naya," gumam Dante, suaranya memberat, mengirimkan embusan napas hangat yang langsung menerpa ceruk leher Nayara.

"Jangan banyak protes! Ini karena—ah!" belum sempat kata katanya di lanjutkan keseimbangan kaki Nayara goyah saat ujung sepatunya tersangkut karpet tebal. Tubuhnya limbung, jatuh bebas ke depan.

Bruk!

"Nghh..." Dante melenguh rendah saat tubuh mungil Nayara menghantam pangkuannya dengan telak, menyenggol sedikit luka di punggungnya. Namun, alih-alih menjauh, tangan kiri Dante justru bergerak secepat kilat melingkari pinggang ramping Nayara, menguncinya di sana.

"D-Dante... kau..." Nayara terengah, kedua tangannya refleks mencengkeram bahu polos Dante yang kekar dan hangat. Kulit mereka yang bersentuhan langsung tanpa pembatas seolah mengalirkan perkikan setruman listrik yang membuat bulu kuduk Nayara meremang.

" apa? Kau mau kabur setelah sengaja mencari kesempatan untuk memelukku, hm?" bisik Dante, suaranya terdengar sangat rendah, serak, dan memikat di depan bibir Nayara.

"Siapa yang mencari kesempatan?! Lepaskan aku!" Nayara bergerak gelisah di atas pangkuan pria itu, mencoba menjauhkan dadanya yang kini menempel rapat pada dada bidang Dante yang keras.

"Jangan bergerak, Naya. Atau kau mau jahitanku lepas lagi?" desis Dante, cengkeraman tangannya di pinggang Nayara justru semakin mengetat, mengikis sisa jarak yang ada hingga Nayara bisa merasakan detak jantung Dante yang berdegup kencang secara abnormal—sama gila dengan detak jantungnya sendiri.

Nayara membeku, napasnya tercekat di tenggorokan. Matanya terkunci pada sepasang mata elang Dante yang kini meredup, menggelap dipenuhi kilat intensitas yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Pandangan pria itu perlahan turun, menatap lekat bibir ranum Nayara yang sedikit terbuka.

"Kau... jantungmu berdetak sangat cepat," bisik Dante lagi, memajukan wajahnya hingga ujung hidung mereka nyaris bersentuhan. Aroma maskulin yang pekat bercampur hawa panas dari tubuh Dante seketika memabukkan akal sehat Nayara.

"I-Itu karena kau mengejutkanku, bajingan mesum..." cicit Nayara lirih, suaranya mendadak kehilangan kekuatan, terdengar seperti bisikan pasrah yang justru terdengar sangat seksi di telinga Dante.

"Oh, ya?" Sudut bibir Dante terangkat sedikit, membentuk smirk tipis yang begitu mematikan. Dia mencondongkan tubuhnya lebih dekat, membuat napas panas mereka saling beradu, menciptakan atmosfer panas yang begitu pekat dan menyesakkan di antara mereka. "Lalu kenapa kau tidak melepaskan tanganmu dari bahuku, Kucing Liar?"

Nayara menahan napas, tangannya yang mencengkeram bahu kekar Dante mendadak terasa lemas, namun ia benar-benar tidak bisa bergerak, terhipnotis oleh pesona berbahaya sang Don Mafia yang siap menerkamnya kapan saja dalam keheningan kamar yang kian membara itu.

"Kau tidak mau melepaskannya, Naya?" bisik Dante, suaranya kian merendah, sengaja memajukan wajahnya hingga bibir mereka hampir saling bersentuhan setiap kali dia berbicara.

"L-Lepaskan dulu tanganmu, Dante..." cicit Nayara dengan napas yang mulai memburu. Kulitnya terasa panas dingin di bawah cengkeraman tangan kokoh Dante yang semakin posesif di pinggangnya.

"Bagaimana kalau saya ngga mau?" Dante justru sengaja menarik pinggang Nayara lebih rapat, membuat tubuh mereka tidak menyisakan jarak sama sekali. Mata elangnya meredup, menatap lekat bibir ranum Nayara yang bergetar.

"Dante, kau—"

Kalimat Nayara terputus saat Dante semakin mencondongkan wajahnya, menghirup aroma manis dari ceruk leher gadis itu sebelum mengunci pandangan mereka kembali. Atmosfer di dalam kamar berganti menjadi begitu pekat, panas, dan sarat akan ketegangan yang mendebarkan. Nayara sampai harus memejamkan matanya, mencengkeram bahu polos Dante semakin kuat karena merasa dunianya mendadak berputar.

"Khemm!"

tiba tiba sebuah deheman berat yang disengaja tiba-tiba memecah keheningan yang intim tersebut.

"Ah!" Nayara tersentak kaget, seolah baru saja disiram air es. Wajahnya seketika memerah padam sampai ke telinga karena rasa malu yang luar biasa. Dia buru-buru mendorong dada bidang Dante dan langsung berdiri dengan kikuk, merapikan bajunya yang berantakan tanpa berani menatap siapa pun.

Di atas ranjang, Dante mengembuskan napas berat yang terdengar sangat kesal. Tanpa disadarinya, seulas senyuman tipis sempat terukir di sudut bibirnya sebelum dia memutar tubuhnya perlahan dan melemparkan tatapan maut yang luar biasa tajam ke arah pintu.

Lucas yang berdiri di sana langsung tertegun, membeku di tempat dengan wajah kaku.

Sorot mata Lucas yang biasanya dingin tanpa ekspresi, mendadak berubah menjadi tatapan bingung dan bersalah yang seolah-olah berkata, 'Hey, apa salahku, Bung? Aku hanya menjalankan tugasku sebagai obat nyamuk di sini.'

"Ada apa, Lucas?" tanya Dante dengan nada suara yang sangat dingin dan menusuk, jelas-jelas tidak terima karena momen panasnya baru saja dibuyarkan.

"Maaf mengganggu, Tuan Muda," ucap Lucas, buru-buru membuang muka dan berdehem canggung lagi untuk menutupi rasa salah tingkahnya melihat tuannya yang hobi menyiksa orang itu ternyata bisa menatap wanita seperti tadi. "Berkas operasional pelabuhan yang harus Anda tanda tangani malam ini sudah siap di ruang kerja."

"Tinggalkan di meja. Aku akan ke sana sepuluh menit lagi," titip Dante pendek, suaranya sarat akan perintah yang mengusir.

"Baik, Tuan Muda. Saya permisi keluar dulu," sahut Lucas cepat-cepat, langsung berbalik dan menutup pintu kamar dengan rapat seolah nyawanya sedang diujung tanduk jika berada di sana sedetik lebih lama.

Nayara yang masih berdiri mematung di sudut kamar langsung menyambar kotak obatnya dengan gerakan panik. "A-Aku juga mau keluar! Perbanmu sudah selesai diganti!"

"Siapa yang menyuruhmu pergi, Kucing Liar?" tanya Dante tenang, kembali memakai kemeja hitamnya perlahan sambil terus memperhatikan gerak-gerik panik gadis yang sukses membuat jantungnya berdegup tidak karuan malam ini.

"Aku tidak butuh izinmu, Dante Moretti!" ketus Nayara, wajahnya masih terasa membara hebat sampai ke leher.

Tanpa menunggu balasan dari pria itu, Nayara langsung berbalik dan melangkah lebar-lebar menuju pintu kamar. Jantungnya masih berdegup gila-gilaan, berkejaran dengan rasa malu yang membuat seluruh pasokan oksigen di sekitarnya mendadak terasa menipis.

"Berengsek! Mafia mesum, gila, sakit jiwa!" gerutu Nayara sepanjang lorong mansion yang sepi, melangkahkan kakinya dengan sentakan kesal demi menjauh dari kamar Dante. "Bisa-bisanya dia tersenyum seperti itu? Geli-geli katanya? Menyiksa orang dibilang enak! Benar-benar iblis!"

Nayara terus mengomel di dalam hati, memaki ketampanan berbahaya Dante yang baru saja menyihir akal sehatnya. Kepalanya yang masih sedikit pening karena kelelahan membuatnya berjalan terburu-buru sambil menunduk dalam, mengabaikan anak tangga dan belokan lorong di depannya.

"Awas saja kalau dia berani mendekat lagi, akan kupastikan—"

Brukhh!

1
𝘚𝘦𝘯𝘵𝘶𝘩𝘢𝘯_𝘧𝘪𝘬𝘴𝘪 🥀
😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!