NovelToon NovelToon
Mantan Suami Mengganggu Hidupku

Mantan Suami Mengganggu Hidupku

Status: sedang berlangsung
Genre:Naik Kelas / Selingkuh / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Elena Prasetyo

Dikala aku sudah memulai hidup baruku tanpamu, kenapa kau kembali lagi. Beredar terus di sekitar, membuatku kesal.

Pergilah kau, pergi dari hidupku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elena Prasetyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

"Lepaskan!" kata Luna tapi Arya tidak menggubris perkataan istrinya. Dia tetap saja memeluk erat tubuh yang lama dia rindukan itu. Seakan tak ingin berpisah lagi.

"Banyak orang masuk ke bus. Begini saja dulu" jawab Arya menikmati apa yang sedang terjadi. Meski berada di keramaian, ini pertama kalinya setelah tiga tahun dia merasa intim kembali dengan Luna. Dan itu membuatnya sangat senang.

Tapi tak bertahan lama karena Luna mendorongnya untuk turun dari bus. Tentu saja Arya terus mengikuti istrinya itu kemanapun pergi.

"Apa yang kau lakukan?" tanya Luna yang mulai merasa terganggu dengan kehadirannya.

"Aku mengikuti istriku, tidak ada yang salah dengan itu"

"Istri? Apa kau lupa kalau kita sudah berpisah? Jangan pernah mengikutiku lagi. Pergi!!"

Tentu saja Arya tidak menurut. Dia tetap mengikuti langkah Luna menuju toko kecilnya. Membantu istrinya mendorong rolling door yang lumayan berat dan masuk ke dalam toko yang masih pengap.

"Kau harus memberi minyak pada rolling door itu. Pasti berat untuk mendorong dan menariknya setiap hari" katanya.

Luna seakan tak mendengarnya dan mulai sibuk mempersiapkan toko untuk buka. Dengan sigap, Arya membantu istrinya.

Ketika Luna membersihkan kaca, dia menggunakan lengan baju untuk mengelap kaca. Saat istrinya menata display barang, dia juga tidak tinggal diam. Memeriksa display yang berantakan dan membetulkannya. Lalu Luna mengepel lantai. Dengan berani, dia ikut memegang gagang pel. Tapi segera mendapatkan bentakan karena sengaja memegang tangan istrinya.

"Lepas!!"

Terpaksa Arya melepaskan tangan tapi tak meninggalkan sisi istrinya. Terus menempel sampai akhirnya Luna tak bisa menahan diri. Membawa semua peralatan bebersih ke belakang dan duduk di belakang meja kasir.

"Kapan kau membeli toko ini? Kenapa aku tidak tahu ternyata kau memiliki ide membuka toko alat tulis kantor dan aksesoris seperti ini? Padahal aku pikir kau akan kembali ke rumah sakit untuk menjadi perawat"

Tidak ada tanggapan dari Luna. Istrinya itu hanya pura-pura sibuk di belakang meja kasir. Arya lalu memperhatikan istrinya dari ujung rambut sampai kaki. Nampak sekali perbedaan ukuran tubuh Luna dari tiga tahun lalu.

"Apa kau diet? Berat badanmu turun banyak. Berapa sekarang berat badanmu? 45? 50? Badanmu terasa ringan sekali tadi saat aku menangkapnya. Apa kau tidak terlalu keras pada dirimu sendiri? Atau kau kesulitan mengurus toko sampai lupa makan? Kenapa tidak mempekerjakan seseorang untuk menjaga toko? Kau bisa duduk di rumah menunggu penghasilan saja daripada harus sibuk tiap hari"

Percakapan satu arah itu terganggu dengan bunyi ponsel Arya. Dia melihat layar ponsel dan mengangkat panggilan.

"Tuan, saya menemukan properti menarik. Apa Anda ingin melihatnya?" tanya pengacara Herman di telepon.

"Bentuknya?"

"Sebuah rumah tinggal. Luas 1000 meter, bangunan 500 meter. Sangat sesuai dengan konsep rumah yang Anda inginkan untuk tinggal bersama Nyonya. Ada halaman luas dengan padang rumput yang terawat. Di bagian selatan ada hutan kecil dengan banyak bunga. Sangat sesuai dengan deskripsi yang Anda katakan tentang rumah yang akan disukai oleh Nyonya"

"Benarkah?"

"Iya"

"Jemput aku di lokasi yang kukirimkan!"

"Baik"

Arya mengirim lokasinya pada pengacara Herman dan kembali melihat istrinya yang masih memilih untuk diam.

"Jam berapa tokomu tutup? Aku akan menjemputmu nanti dan kita bisa makan malam bersama. Sekarang, ada yang harus aku kerjakan lebih dulu. Oke?"

Luna masih membisu dan pura-pura sibuk dengan pekerjaannya. Arya tersenyum melihat hal itu. Sedetik kemudian ponselnya berdering lagi dan Arya mendekati istrinya.

"Ingat! Jangan pulang sendirian, tunggu aku menjemputmu!" ucapnya lalu keluar dari toko Luna dan masuk ke dalam mobil pengacara Herman yang berhenti di pinggir jalan.

"Kenapa Anda di tempat seperti ini?" tanya pengacara Herman segera setelah Arya naik ke mobil.

"Istriku membuka toko alat tulis dan aksesoris disana" jelasnya kemudian tersenyum karena masih bisa melihat Luna yang pura-pura sibuk.

"Nyonya membuka toko di tempat ini? Sungguh pemikiran yang unik"

"Kenapa? Bukankah jalan ini ramai dengan pelajar dan mahasiswa karena dekat dengan sekolah dan Universitas?"

"Eh iya. Benar"

Saat mobil bergerak, bayangan Luna mulai memudar dan Arya mulai fokus dengan urusannya sendiri.

"Rumah yang kau temukan, milik siapa sebelumnya?" tanyanya serius.

Pengacara Herman menyerahkan dokumen yang ada di atas dashbor padanya dan mulai menjelaskan.

"Milik seorang pengusaha garmen yang bangkrut. Dia membangun rumah ini lima tahun lalu. Tapi setelah rampung, perusahaannya gulung tikar"

"Jadi rumah ini dibangun dengan baik?"

"Iya. Saya sudah menghubungi beberapa penilai properti kesana untuk memeriksa"

"Dan harganya?"

"Dibawah harga pasar, 50 milyar"

Arya tidak berkomentar setelah mengetahui harga rumah. Dia harus melihat dulu barangnya sebelum mengatakan pendapatnya. Dan setelah benar-benar melihat kondisi rumah itu, Arya dapat membayangkan anak-anaknya nanti akan senang berlarian di padang rumput luas belakang rumah. Juga terlintas gambaran Luna yang sedang menyiapkan makan siang di dapur. Sedangkan dia? Dia memeluk Luna sembari menggoda istrinya itu untuk memiliki anak berikutnya.

"Aku menyukainya" katanya segera lalu mendapati pengacara Herman tersenyum lebar.

"Segera setelah penilai properti menyerahkan laporan mereka, saya akan menghubungi Anda"

"Hemm, baiklah. Aku akan kembali sekarang"

"Tuan Arya!! Ada sesuatu yang harus saya bicarakan dengan Anda sebelum pergi" ucap pengacara Herman menahannya untuk pergi.

Keduanya pergi ke sebuah restoran untuk berbincang.

"Apa? Kakak keduaku akhirnya menginginkan perusahaan?" tanya Arya kemudian menyesap kopi yang ada di depannya.

"Benar. Kakak kedua Anda yang selama ini diam saja akhirnya menunjukkan gerakan untuk mengambil alih perusahaan"

"Biarkan saja. Tidak ada hubungannya denganku"

"Tapi Tuan Arya, walau Anda putra ketiga dan bungsu keluarga Santoso dan tidak berencana ikut dalam perebutan kekuasaan perusahaan. Kakak pertama dan kedua Anda pasti akan mencari Anda"

"Aku sudah melepas semua saham yang kumiliki. Mereka ingin mencariku untuk apa?"

"Tapi Tuan ... "

Arya melihat keluar dan menyadari ini sudah malam. Bukan waktunya dia duduk di restoran.

"Aku tidak peduli dengan perdebatan kakak pertama dan keduaku. Biar saja mereka berdebat tentang perusahaan. Toh ayah dan ibu sekarang sedang bersantai di kapal pesiar menuju Antartika. Untuk apa bertikai untuk perusahaan? Aku pergi, menjemput istriku"

"Tapi Tuan Arya ... Kakak Anda ... "

"Telpon aku kalau ada sesuatu yang sangat penting saja. Aku akan sibuk beberapa hari ke depan!"

Arya segera berlari, menghentikan taksi dan pergi ke toko istrinya. Untung saja toko istrinya belum tutup.

"Selamat datang!!" sapa istrinya tidak tahu kalau yang datang adalah dirinya.

"Selamat malam istriku, untung aku tidak terlambat menjemputmu"

Segera saja ekspresi wajah Luna berubah drastis. Dari yang penuh senyum menjadi datar.

1
🌻🇲🇾Lili Suriani Shahari
heran aku dengan arya...thor jangan bagi mereka berbaik kembali... dia dah celup orang lain tu...
tahi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!