NovelToon NovelToon
Matahari Untuk Erlan

Matahari Untuk Erlan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Penyesalan Suami
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad Robby Ido Wardanny

Erlan Pratama, seorang direktur muda yang ambisius, berhasil memenangkan sengketa hukum atas sebidang tanah strategis yang ditempati rumah susun tua. Dengan rencana besar di kepalanya, ia memutuskan melakukan penggusuran demi proyek pembangunan yang diyakininya akan membawa keuntungan besar. Namun, hari eksekusi yang seharusnya berjalan lancar justru menjadi titik balik dalam hidupnya.

Di tengah kericuhan warga yang menolak digusur, Erlan dikejutkan oleh kehadiran Linda Sari, mantan kekasihnya yang pernah menghilang tanpa kabar. Linda terlihat berbeda, lebih rapuh, namun tetap tegar. Di pelukannya, seorang bayi perempuan berusia tiga tahun menangis ketakutan melihat situasi di sekitarnya. Tatapan Erlan terpaku pada anak itu, memunculkan pertanyaan yang tak bisa ia abaikan.

Pertemuan tak terduga itu membangkitkan kembali kenangan lama, sekaligus membuka luka yang belum sembuh. Erlan mulai meragukan keputusannya, sementara Linda menyimpan rahasia besar yang bisa mengubah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 6

Pagi itu datang dengan tenang, seolah memberi jeda singkat sebelum kesibukan kembali menelan hari. Di dapur kecil yang sederhana, Linda sudah berdiri sejak subuh. Rambutnya diikat seadanya, wajahnya masih menyisakan lelah, tetapi gerakannya cekatan. Ia membuka freezer, mengambil beberapa frozen food, lalu mulai memasaknya dengan hati-hati.

Aroma makanan hangat perlahan memenuhi ruangan.

“Sebentar ya, sayang…” gumam Linda pelan, seolah Kirana sudah bisa memahami semuanya.

Tak lama kemudian, terdengar langkah kecil dari arah kamar. Pintu terbuka perlahan, dan Kirana muncul dengan mata setengah terbuka, rambutnya sedikit berantakan. Ia berjalan dengan langkah kecil yang masih belum stabil.

Linda langsung menoleh, wajahnya seketika melunak.

“Kirana sudah bangun?” katanya lembut.

Ia segera menghampiri, mengangkat putrinya ke dalam pelukan. Kirana bersandar manja di bahunya, mengeluarkan suara kecil yang tidak jelas artinya.

“Iya, iya… Mama tahu, kamu lapar.”

Linda duduk, mengambil sendok kecil, lalu mulai menyuapi Kirana dengan sabar. Setiap suapan diberikan perlahan, memastikan anak itu nyaman.

“Pelan-pelan… tidak usah buru-buru.”

Kirana sesekali tersenyum, meskipun sebagian makanannya masih berantakan di sekitar mulutnya. Linda hanya tertawa kecil, lalu membersihkannya dengan lembut.

Setelah selesai makan, Linda membawa Kirana ke kamar mandi. Air hangat sudah disiapkan. Ia memandikan anak itu dengan penuh perhatian, memastikan setiap bagian tubuhnya bersih.

“Kamu harus cantik hari ini,” ucap Linda sambil tersenyum tipis.

Kirana menepuk-nepuk air dengan tangannya, menciptakan cipratan kecil yang membuat Linda sedikit basah.

“Eh, nakal…” Linda menggeleng pelan, tapi jelas tidak benar-benar marah.

Setelah mandi, Kirana dipakaikan baju bersih. Rambutnya dirapikan, dan sedikit hiasan kecil dipasangkan agar terlihat lebih manis.

Saat Linda sedang bersiap mengenakan pakaiannya sendiri, pintu kamar terbuka.

Anita muncul dengan wajah masih mengantuk.

“Pagi…” katanya sambil menguap.

“Pagi,” jawab Linda. “Bisa temani Kirana sebentar? Aku harus berangkat.”

Anita mengangguk, lalu berjalan mendekat dan langsung menggendong Kirana.

“Anak cantik, hari ini sama Tante ya?”

Kirana tertawa kecil.

Linda mengambil tasnya, memastikan semuanya sudah siap. Ia menatap Kirana sejenak, lalu mendekat.

“Jangan nakal, ya.”

Ia melambaikan tangan.

Anita tersenyum, lalu membantu menggerakkan tangan kecil Kirana.

“Nih, Kirana bilang bye.”

Linda tersenyum tipis. Ada rasa hangat sekaligus berat di hatinya. Namun ia tidak punya pilihan.

Ia berbalik dan keluar rumah.

Perjalanan menuju tempat kerja tidak mudah. Angkutan umum pagi itu penuh, orang-orang berdesakan, udara terasa panas dan pengap. Linda berdiri sambil berpegangan, berusaha menjaga keseimbangan.

Ia menghela napas pelan.

Hari pertama kerja.

Restoran milik Pak Rahman ternyata jauh lebih sibuk dari yang ia bayangkan. Begitu tiba, ia langsung diarahkan untuk bekerja tanpa banyak penjelasan.

“Cepat ya, pelanggan banyak,” kata salah satu karyawan senior.

Linda hanya mengangguk.

Ia bergerak cepat, mengantar pesanan, membersihkan meja, membantu di dapur. Waktu terasa berjalan begitu cepat, bahkan tanpa sempat memberinya kesempatan untuk duduk.

“Kiri! Panas!” teriak seseorang dari dapur.

Linda segera menyingkir.

Tangannya beberapa kali hampir tersenggol piring panas, tapi ia berhasil menghindar. Keringat mulai membasahi dahinya.

Namun ia tidak berhenti.

“Aku harus bisa…” gumamnya pelan.

Meski lelah, ia tetap bekerja dengan serius. Ia tahu, ini bukan sekadar pekerjaan. Ini adalah satu-satunya cara untuk bertahan.

Sementara itu, di rumah…

Anita duduk di lantai bersama Kirana. Di depan mereka, beberapa mainan karet berbentuk hewan tersebar.

“Ayo, ini apa?” tanya Anita sambil mengangkat mainan berbentuk bebek.

Kirana menatap, lalu mengeluarkan suara yang tidak jelas.

“Bebek,” ulang Anita pelan.

Kirana tertawa, lalu mengambil mainan lain.

Suasana terasa hangat.

Namun ketenangan itu tidak bertahan lama.

Tok tok tok.

Suara ketukan pintu terdengar.

Anita mengernyit.

“Siapa ya, pagi-pagi begini…”

Ia berdiri, berjalan menuju pintu, lalu membukanya.

Seorang pria berdiri di sana.

“Selamat pagi,” katanya dengan senyum ramah. “Saya Adi.”

Anita sedikit ragu.

“Ada perlu apa?”

“Saya ingin menawarkan kerja sama,” jawab Adi. “Untuk live streaming produk.”

Anita mengangkat alis.

“Produk apa?”

“Produk kesehatan,” jawab Adi santai. “Brand besar. Sudah terkenal.”

Anita terlihat berpikir.

“Saya biasanya terima produk kecantikan.”

“Saya tahu,” kata Adi cepat. “Tapi justru itu. Pasarnya bisa lebih luas. Dan komisinya… cukup tinggi.”

Anita terdiam sejenak.

“Seberapa tinggi?”

Adi menyebutkan angka.

Mata Anita langsung sedikit berbinar.

“Masuk dulu,” katanya.

Adi tersenyum tipis, lalu masuk ke dalam.

Kirana masih duduk di lantai, bermain dengan mainannya. Adi melirik sekilas, lalu mendekat perlahan.

“Lucu sekali,” gumamnya.

Ia jongkok, memperhatikan anak itu.

Sementara itu, Anita berjalan ke dapur.

“Tunggu sebentar, saya ambil minum.”

“Silakan,” jawab Adi.

Begitu Anita menghilang dari pandangan, ekspresi Adi berubah sedikit.

Ia memasukkan tangannya ke dalam saku, lalu mengeluarkan sesuatu.

Sebuah gunting kecil.

Gerakannya cepat, tapi hati-hati.

Ia mendekat ke Kirana, pura-pura bermain. Tangannya bergerak perlahan ke rambut anak itu.

Cek.

Sehelai kecil rambut terpotong.

Kirana tidak bereaksi. Ia terlalu sibuk dengan mainannya.

Adi segera memasukkan rambut itu ke dalam plastik kecil yang sudah ia siapkan, lalu menyembunyikannya kembali ke dalam saku.

“Maaf ya…” gumamnya pelan.

Ia menarik napas.

“Ini cuma pekerjaan.”

Namun saat ia kembali menatap Kirana, ekspresinya berubah.

Anak itu benar-benar menggemaskan.

Mata bulat, pipi lembut, senyum polos.

“Serius…” gumam Adi. “Bagaimana mungkin…”

Ia menggeleng pelan.

“Bos benar-benar tidak masuk akal.”

Ia menyentuh pipi Kirana dengan ringan.

“Anak siapa kamu, sebenarnya…”

Kirana menatapnya, lalu mengeluarkan suara aneh.

Adi tertawa kecil.

“Aku tidak mengerti, tapi sepertinya kamu sedang cerita banyak.”

Ia tampak menikmati momen itu lebih dari yang seharusnya.

Tak lama kemudian, Anita kembali dengan dua gelas minuman.

“Maaf lama.”

“Tidak apa-apa,” jawab Adi, langsung berdiri dan kembali bersikap profesional.

Mereka mulai membahas kerja sama.

“Durasi live berapa lama?” tanya Anita.

“Satu sampai dua jam,” jawab Adi. “Kami juga akan kirim produk dalam jumlah cukup banyak.”

“Script ada?”

“Ada, tapi fleksibel.”

Anita mengangguk.

“Baik. Saya coba dulu satu sesi.”

Adi tersenyum.

“Kami yakin hasilnya bagus.”

Setelah beberapa detail disepakati, mereka akhirnya mencapai kesepakatan.

“Saya tunggu produknya,” kata Anita.

“Akan segera kami kirim.”

Adi berdiri, bersiap pergi.

Sebelum keluar, ia melirik Kirana sekali lagi.

Ada sesuatu di matanya.

Campuran rasa penasaran dan… mungkin sedikit rasa bersalah.

Namun ia tetap melangkah keluar.

Pintu tertutup.

Anita kembali duduk di dekat Kirana, wajahnya penuh semangat.

“Lumayan…” gumamnya. “Kalau ini lancar, bisa tambah penghasilan.”

Ia tersenyum, sudah membayangkan hasilnya.

Sementara itu…

Adi tidak langsung pulang.

Ia menuju rumah sakit.

Langkahnya cepat, wajahnya kembali serius.

Di dalam sakunya, plastik kecil berisi rambut Kirana terasa lebih berat dari seharusnya.

Ia berhenti sejenak di depan pintu laboratorium.

“Ini keputusan yang aneh,” gumamnya.

Namun ia tetap masuk.

Ia menyerahkan sampel itu bersama satu lagi yang sudah ia miliki sebelumnya.

“Saya ingin tes DNA,” katanya singkat.

Petugas mengangguk.

“Silakan tunggu hasilnya beberapa hari.”

Adi menghela napas.

“Beberapa hari…”

Ia keluar dari ruangan itu dengan pikiran penuh.

“Kalau benar…” gumamnya.

Ia membayangkan wajah dingin bosnya, Erlan.

Pria yang hampir tidak pernah menunjukkan emosi.

“Tidak mungkin…”

Ia menggeleng.

“Tapi kalau iya…”

Ia menghela napas panjang.

“Dunia benar-benar aneh.”

Ia menatap langit sejenak sebelum berjalan pergi.

“Semoga saja setelah ini, semua berhenti,” katanya pelan. “Bos juga berhenti dengan obsesinya.”

Namun jauh di dalam pikirannya, ia tahu…

Jawaban dari tes itu justru bisa menjadi awal dari sesuatu yang jauh lebih rumit.

1
Nessa
udalah balikan aja kalean
onimaru rascall: bapaknya ga bolehin karena pengen menantu yang setara keluarganya dari segi kekayaan 🤫🤫🤫
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!