NovelToon NovelToon
Enam Tahun Berlalu,Kau Masih Di Sana

Enam Tahun Berlalu,Kau Masih Di Sana

Status: sedang berlangsung
Genre:Anime / Ketos / Teen Angst
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: byyyycaaaa

Sinopsis:

Enam tahun lalu, Azzalia sengaja mendorong Danendra pergi karena merasa dirinya terlalu dingin untuk cinta setulus itu. Ia menghilang tanpa jejak, berharap luka laki-laki itu sembuh.

Namun di kota ini, semesta mempertemukan mereka kembali. Saat Azzalia masih membeku dalam rasa bersalah, Danendra justru masih berdiri di titik yang sama.

"Azzalia, kalau kamu sudah capek berkelana, tolong menoleh ke belakang. Aku masih di sini, menunggu kamu."

Masihkah ada ruang untuk cinta yang pernah dibuang, atau pertemuan ini hanya untuk membuka luka lama yang belum benar-benar kering?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20:(POV DANENDRA ADITAMA) Duri dalam pelarian

Aku memacu mobil menjauhi gerbang kost Azzalia, namun pikiranku masih tertinggal pada isak tangisnya yang membasahi kemejaku tadi. Enam tahun. Ternyata selama itu dia memilih untuk membusuk dalam rasa bersalah dan martabat yang terluka. Aku merasa gagal. Bagaimana bisa aku menyebut diriku mencintainya jika aku membiarkan dia menanggung semua itu sendirian?

Aku butuh jawaban lebih. Aku butuh tahu apa yang sebenarnya terjadi di balik tembok yang dibangun Valerie selama ini.

Malam itu juga, aku sudah berdiri di depan rumah Valerie. Sepupu Azzalia itu tampak tidak terkejut melihatku, namun gurat kelelahan dan rasa waswas terpancar jelas dari wajahnya.

"Nen, gue udah bilang, berhenti cari dia. Lo cuma bakal bikin dia makin hancur," ucap Valerie ketus saat kami duduk di teras.

"Gue udah tahu soal ayahnya, Val. Gue udah nemuin bokapnya di lapas enam bulan lalu," potongku telak.

Valerie tertegun, bahunya merosot seketika. Ia menutup wajah dengan kedua tangannya, lalu mengembuskan napas panjang yang sarat akan beban bertahun-tahun.

"Jadi lo udah tahu semuanya? Kalau gitu lo juga harus tahu kenapa selama enam tahun ini gue bahkan nyokap bokap gue nggak bisa nyentuh dia sama sekali," suara Valerie mulai bergetar. "Azzalia itu keras, Nen. Setelah kejadian ayahnya, dia bener-bener mutus akses dari semua orang. Dia nggak mau dikasihani, dia nggak mau merepotkan. Dia milih hidup luntang-lantung, pindah-pindah kota, kerja serabutan, cuma supaya nggak ada satu pun keluarga yang bisa bantu dia. Pesan dari gue, dari tante, semuanya cuma dibaca atau bahkan nggak dibalas sama sekali, hampir enam tahun dia hanya balas pesan gue tiga kali,setiap nyokap atau bokap nelfon dia enggak pernah angkat telfon itu,sampai telfon Tante pun yang dulu rawat dia waktu kecil di abaikan juga,"

Valerie menatapku dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Lo tahu kenapa dia makin yakin buat pergi dan minta gue bikin lo benci sama dia? Hari itu, saat dia mau nyoba buka hati buat lo, dia lihat lo jalan sama cewek lain di depan gerbang sekolah. Di detik itu, dia ngerasa dunianya yang udah hancur karena ayahnya makin nggak pantes bersanding sama lo yang kelihatan begitu cerah dan bahagia. Dia pikir dia cuma bakal jadi benalu yang ngerusak hidup lo."

Jantungku serasa diremas. Jadi, kejadian sepele enam tahun lalu—saat aku hanya membantu teman sekelas—menjadi paku terakhir di peti mati harapan Azzalia?

"Dia selalu bilang ke gue, 'Bilang sama Danendra aku udah bahagia, biar dia benci aku dan nggak usah nyari lagi'. Dia sengaja bikin dirinya kelihatan jahat supaya lo punya alasan buat mundur," lanjut Valerie pedih. "Gue ngelarang lo selama ini karena gue takut kehadiran lo cuma bakal ngebongkar paksa luka yang dia coba sembunyiin sendirian. Azzalia itu gadis yang dingin karena dia merasa itu satu-satunya cara buat bertahan hidup tanpa perlu bantuan siapa-siapa."

Aku menyandarkan punggung di kursi, menatap langit malam dengan perasaan hancur. Selama enam tahun, aku menganggap penolakannya adalah tanda dia tak lagi cinta. Ternyata, penolakannya adalah cara dia mencintaiku dengan cara yang paling menyiksa dirinya sendiri.

"Gue nggak akan mundur, Val," bisikku mantap. "Kalau dia merasa nggak pantes di cahaya, gue yang bakal masuk ke kegelapannya. Gue nggak butuh dia bahagia dengan orang lain. Gue butuh dia tahu kalau dia punya rumah buat pulang."

Valerie hanya terdiam, namun kali ini ia tidak lagi membantah. Ia tahu, setelah kebenaran ini terungkap, tidak ada lagi tembok yang bisa menghalangiku untuk menjemput Azzalia kembali ke tempat yang seharusnya.

"Nyokap dan Bokap cuma bisa mantau Azzalia dari jauh," sambung Valerie dengan suara yang semakin berat. "Mereka nggak berani mendekat selama enam tahun itu, Nen. Mereka takut kalau mereka nekat datang atau maksa dia pulang, Azzalia malah akan lari lebih jauh lagi dan benar-benar memutus satu-satunya benang komunikasi yang tersisa."

Valerie menatapku tajam, seolah sedang menitipkan sebuah amanah yang sangat besar di pundakku.

"Kalau dia mulai nyaman dengan kehadiran lo, jangan paksa dia. Jangan tuntut dia untuk langsung jadi Azzalia yang dulu. Biarkan dia dengan kehidupannya yang sekarang, biarkan dia berjalan pelan sesuai ritmenya, asal dia tetap nyaman dan tenang. Itu satu-satunya harapan keluarga kami," ucapnya dengan nada memohon.

Aku terdiam cukup lama. Penjelasan Valerie seperti kepingan puzzle terakhir yang menyempurnakan gambaran tentang penderitaan Azzalia. Gadis itu bukan hanya menjauhiku, dia menjauhi seluruh dunianya agar tidak ada satu pun orang yang bisa melihat kerapuhannya. Dia lebih memilih dicap anak durhaka atau teman yang tidak tahu diri, daripada harus dikasihani.

"Gue paham, Val," jawabku pelan. "Gue nggak akan maksa dia buat balik ke masa lalu. Gue cuma mau dia tahu kalau dia nggak harus berdiri sendirian lagi di masa sekarang."

Aku berpamitan pada Valerie dan kembali ke mobil. Di sepanjang jalan pulang menuju kost-ku sendiri, pikiranku terus berputar. Besok hari Sabtu, hari pertama dalam satu minggu terakhir di mana aku tidak memiliki alasan pekerjaan untuk menemuinya.

Tapi setelah mendengar cerita Valerie, aku sadar satu hal: Aku tidak bisa membiarkan Azzalia sendirian di hari libur pertamanya setelah emosinya terkuras habis di depan gerbang tadi. Dia pasti sedang sibuk menyalahkan diri sendiri, atau mungkin sedang berusaha menambal kembali tembok dinginnya.

Aku melirik jam di dasbor. Sudah hampir tengah malam. Tanganku bergerak mengambil ponsel, mengetik sebuah pesan singkat yang sudah lama tidak aku kirimkan sebagai seorang Danendra—bukan sebagai Pak Danendra dari pusat.

To: Azzalia

"Tidur, Zal. Jangan biarkan pikiran kamu terus menghukum diri sendiri semalaman. Besok Sabtu, aku nggak akan ganggu kalau kamu memang nggak mau. Tapi kalau kamu butuh seseorang buat sekadar makan bubur tanpa bicara, kamu tahu harus cari siapa."

Aku tahu pesan itu mungkin hanya akan dia baca tanpa balasan, tapi setidaknya aku ingin dia tahu bahwa penjaganya masih ada di sana, tidak peduli seberapa tebal tembok yang kembali dia coba bangun malam ini.

Aku meletakkan ponsel di dasbor, membiarkan layar gelap itu menjadi saksi bisu kegelisahanku. Di luar, lampu jalanan Kota J yang temaram seolah ikut merasakan keheningan yang menyesakkan ini. Aku tahu, pesanku mungkin hanya akan berakhir di tumpukan notifikasi yang ia abaikan, tapi ada satu hal yang tak bisa ia abaikan: aku sudah melangkah terlalu jauh ke dalam dunianya yang gelap.

Sambil memutar kunci kontak, sebuah pemikiran melintas di kepalaku—sesuatu yang Valerie katakan tadi tentang "memantau dari jauh". Aku merogoh dompetku, mengeluarkan selembar kartu nama kusam yang selama ini kusimpan di balik foto Azzalia. Kartu nama yang kudapatkan dari seseorang di Lapas enam bulan lalu.

Tanganku bergetar sedikit saat menyentuh nomor telepon yang tertera di sana. Ada satu bagian dari rencana pelarian Azzalia enam tahun lalu yang bahkan Valerie pun tidak tahu. Bagian yang mungkin menjadi alasan sebenarnya mengapa ia begitu ketakutan saat melihatku muncul kembali di kantor itu.

"Besok bukan cuma soal sarapan bubur, Zal," gumamku pelan sambil menatap bayanganku di spion. "Besok adalah hari di mana aku akan membuktikan, bahwa rahasia terbesar yang kamu simpan bukan lagi tentang Ayahmu, tapi tentang apa yang kamu lakukan di malam terakhir sebelum kamu benar-benar menghilang dari hidupku."

Aku pun melaju menembus malam, membawa sebuah rahasia yang mungkin akan menjadi kunci untuk meruntuhkan zirah besinya selamanya—atau justru membuatnya pergi ke tempat yang takkan bisa kujangkau lagi.

1
kokita
ihhb kok jahat banget yang nyebarin🥺 nanti azzalia ngilang lagi thorr😭
kokita
semangat ngejar azzalia🤭
kokita
jangan kaku-kaku zal,
kokita
pepet terus nen🤣
kokita
makan siang bareng mantan🤭
kokita
keren torrr
kokita
kalau saling cinta kenapa pergi zal🤭
kokita
aku malah yang deg-degan thor😄
kokita
balikan zal
langit buku
si Danendra setia banget
Kembang Lombok
kenapa ak yg dek dekan yaaa🤭
falea sezi
zalia ini aneh di. tolak tp kepikiran ywda napa dlu g di. trima jalanin aneh bgt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!