NovelToon NovelToon
Penantian 7 Tahun

Penantian 7 Tahun

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:568
Nilai: 5
Nama Author: septian123

Airellia Kaivena hidup dalam penantian yang tak pernah benar-benar ia pahami. Selama tujuh tahun, ia setia menunggu seseorang dari masa kecilnya yang berjanji akan kembali.

Ketika akhirnya sosok itu muncul kembali dalam wujud Zevarion Hale, harapan yang lama terkubur perlahan tumbuh menjadi sesuatu yang lebih dalam.

Namun di balik pertemuan yang seharusnya indah, tersembunyi kebenaran yang mampu menghancurkan segalanya, mengubah penantian menjadi luka yang tak pernah ia bayangkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22 - Kebiasaan Baru

Perubahan kadang tidak datang lewat pengakuan besar. Tidak selalu hadir melalui kalimat yang diucapkan dengan sungguh-sungguh, atau momen dramatis yang membuat orang sadar bahwa segalanya telah berbeda. Sering kali perubahan justru tumbuh diam-diam lewat hal-hal kecil yang berulang, sampai suatu hari seseorang menoleh ke belakang dan menyadari bahwa kebetulan telah berubah menjadi kebiasaan.

Itulah yang perlahan terjadi pada Airel Virellia dan Zevarion Hale.

Tidak ada status yang jelas di antara mereka. Tidak pernah ada pembicaraan tentang kedekatan, tidak ada janji untuk bertemu, bahkan nomor telepon pun belum pernah saling diminta. Jika dilihat dari luar, mereka hanyalah dua orang yang beberapa kali terlihat berada di tempat yang sama.

Namun kenyataannya tidak sesederhana itu.

Zev mulai sering muncul di sekitar hidup Airel. Kadang di waktu yang masuk akal, kadang di tempat yang terlalu spesifik untuk disebut kebetulan. Dan yang lebih aneh, Airel mulai menunggu kemunculan itu tanpa mau mengakuinya pada diri sendiri.

Pagi hari di kampus selalu dimulai dengan langkah cepat mahasiswa yang mengejar kelas pertama. Koridor ramai, lift penuh, suara percakapan bercampur dengan bunyi notifikasi ponsel dan derap sepatu di lantai mengilap. Di tengah keramaian itu, Airel berjalan sambil merapikan tumpukan buku di lengannya.

Satu lembar kertas terselip keluar dan hampir jatuh ke lantai.

Sebelum sempat ia tangkap, seseorang lebih dulu mengambilnya.

Airel menoleh.

Zev berdiri di sampingnya, memegang lembar tugas itu dengan ekspresi setenang biasa. Rambutnya sedikit berantakan seperti orang yang datang terburu-buru, tetapi sorot matanya tetap tenang.

“Kamu jalannya kayak lagi dikejar waktu,” katanya sambil menyerahkan kertas itu.

Airel menerima tanpa banyak ekspresi. “Aku memang telat.”

“Lima menit lagi.”

“Kamu ngitungin?”

Zev melirik jam tangannya. “Kebetulan lihat.”

Airel mengangguk kecil seolah tak peduli, lalu mempercepat langkah menuju kelas. Namun setelah berbelok di ujung koridor dan yakin Zev tak lagi melihat, ia menahan senyum sendiri.

Ia tidak tahu sejak kapan suara Zev di pagi hari terasa seperti pertanda bahwa harinya akan berjalan lebih ringan.

Di kelas, Kalista yang duduk di sebelahnya memperhatikan wajah Airel beberapa kali. Airel pura-pura sibuk membuka catatan, tetapi temannya itu terlalu terbiasa membaca perubahan kecil.

“Kamu kenapa?” bisik Kalista.

“Kenapa apanya?”

“Mulut kamu hampir senyum dari tadi.”

Airel menoleh datar. “Kamu halu.”

Kalista menahan tawa. “Berarti ada orang lewat tadi pagi.”

Airel tidak menjawab. Ia hanya membuka buku lebih lebar, meski isi halaman itu tidak benar-benar masuk ke kepalanya.

Siang berikutnya, Airel bekerja paruh waktu di toko buku kecil dekat kampus. Tempat itu tidak terlalu ramai, lebih sering didatangi mahasiswa yang mencari alat tulis, novel murah, atau sekadar menunggu hujan sambil melihat-lihat rak. Aroma kertas dan pendingin ruangan yang terlalu dingin menjadi ciri khas tempat itu.

Ia sedang menyusun buku di rak depan saat lonceng pintu berbunyi.

“Selamat datang,” ucapnya otomatis tanpa menoleh.

Beberapa detik tidak ada jawaban.

Saat ia menoleh, Zev berdiri di dekat pintu sambil melihat sekeliling ruangan seolah sedang menilai tempat baru. Tangannya masuk ke saku celana, dan ekspresinya sama datarnya seperti biasa.

Airel berkedip. “Ngapain kamu di sini?”

“Masuk toko.”

“Maksudku, kenapa ke sini?”

Zev berjalan pelan ke rak terdekat. “Mau beli pulpen.”

Airel menatap seluruh ruangan, lalu ke luar jendela. Di seberang jalan ada minimarket, dua toko alat tulis, dan kios fotokopi yang menjual barang serupa dengan harga lebih murah.

“Di luar banyak tempat lain.”

“Di sini ada kamu.”

Kalimat itu keluar datar, seolah hanya menyebut fakta sederhana. Justru karena cara mengatakannya terlalu biasa, Airel butuh beberapa detik untuk memproses arti kalimat itu.

Ia buru-buru memalingkan wajah.

“Kamu mau pulpen atau ganggu pegawai?”

“Kalau dua-duanya?”

Airel mengambil satu pulpen dari etalase dan meletakkannya di meja kasir.

“Ini. Bayar lalu pergi.”

Zev mengeluarkan dompet tanpa protes. Saat menyerahkan uang, pandangannya jatuh ke name tag kecil di dada Airel. Di bawah nama, ada stiker kecil berisi jadwal shift yang ditempel pemilik toko.

“Jadi kamu kerja tiap Selasa dan Kamis.”

Airel mengangkat kepala cepat. “Kamu baca jadwalku?”

“Name tag kamu yang kasih tahu.”

Airel baru sadar stiker itu belum ia lepas sejak minggu lalu. Ia mendecih pelan sambil merobeknya dari name tag.

Zev menyimpan pulpennya ke saku.

“Bagus,” katanya santai. “Jadi gampang nyari kamu.”

Ia pergi begitu saja setelah mengatakan itu.

Lonceng pintu berbunyi saat daun pintu menutup kembali. Airel menatap ke arah sana beberapa saat sebelum menghela napas panjang.

“Orang aneh,” gumamnya.

Namun pipinya terasa hangat.

Hari lain, Zev muncul di kafe langganan Airel. Tempat itu tersembunyi di ujung jalan kecil, dengan lampu kuning hangat dan musik pelan yang nyaris selalu sama. Airel biasa datang ke sana sore hari untuk membaca atau mengerjakan tugas karena suasananya tenang.

Ia baru duduk lima menit ketika kursi di depannya ditarik.

Zev duduk tanpa bertanya.

Airel menatapnya datar. “Ini kursi umum, ya?”

“Kayaknya.”

“Kamu ngikutin aku?”

“Enggak.”

“Terus?”

Zev membuka menu yang sudah tersedia di meja. “Aku lapar.”

Airel menyandarkan punggung ke kursi. “Dan dari semua tempat makan di kota ini, kamu pilih yang sama denganku?”

“Berarti selera kita bagus.”

Airel menahan tawa kecil. Pelayan datang, lalu Zev memesan kopi hitam dan roti panggang. Setelah itu ia menatap buku yang sedang dibaca Airel.

“Kamu suka baca cerita sedih?”

Airel menutup sebagian sampul buku. “Kamu tahu dari mana ini sedih?”

“Sampulnya hujan.”

“Itu analisis buruk.”

“Tapi benar, kan?”

Airel menatapnya beberapa detik sebelum mengangguk kecil.

“Sedikit.”

Zev bersandar santai. “Berarti instingku bagus.”

Obrolan mereka mengalir seperti itu. Ringan, tidak penting, kadang berisi ejekan kecil yang tidak benar-benar menyakiti. Kadang mereka diam sambil menikmati minuman masing-masing, tetapi diam itu tidak lagi canggung.

Justru terasa nyaman.

Beberapa minggu berlalu, dan pola itu terus berulang.

Zev muncul di kampus membawa dua botol air lalu meletakkan satu di meja Airel sebelum kelas dimulai. Zev datang ke toko buku hanya untuk membeli penghapus satuan, lalu menghabiskan sepuluh menit bertanya hal-hal tidak perlu. Zev duduk di kafe dengan alasan “kebetulan lewat”, meski jalur menuju tempat itu jelas memutar jauh dari arah rumahnya.

Airel selalu bersikap biasa.

Ia akan mengangkat alis, bertanya singkat, atau pura-pura terganggu. Kadang ia menatap Zev seolah kehadirannya merepotkan. Kadang ia menjawab dingin agar tidak terlalu terlihat senang.

Namun di dalam hati, ia mulai mengenali kebiasaan baru yang tidak bisa dipungkiri.

Ia menoleh ke pintu setiap kali lonceng toko berbunyi. Ia melirik koridor sebelum kelas dimulai. Ia memilih duduk di kursi yang menghadap pintu kafe.

Dan saat Zev benar-benar datang, ia berpura-pura terkejut.

Kalista menangkap semuanya lebih cepat dari siapa pun.

“Kamu nungguin dia, kan?”

Mereka sedang makan siang di kantin ketika pertanyaan itu dilontarkan. Airel yang sedang mengaduk minumannya berhenti sebentar.

“Siapa?”

Kalista mendesah panjang. “Kalau kamu jawab begini, berarti iya.”

“Aku enggak nungguin siapa-siapa.”

“Tadi dari sepuluh menit lalu kamu lihat pintu tiga kali.”

Airel hendak membalas ketika seseorang meletakkan kotak susu di depan mejanya.

“Empat kali,” suara Zev terdengar tenang.

Kalista menahan tawa sambil menutup mulut. Airel menoleh tajam pada Zev yang baru datang dengan ekspresi seolah tidak merasa bersalah.

“Kamu nguping?”

“Kalian ngomong keras.”

Padahal mereka berbicara biasa saja.

Zev duduk di kursi kosong sebelah Airel tanpa diminta. Kalista menatap mereka bergantian, lalu perlahan berdiri sambil membawa nampannya.

“Aku mendadak punya urusan.”

Airel langsung menahan lengannya. “Duduk.”

Kalista tersenyum manis. “Enggak enak ganggu rutinitas kecil kalian.”

Ia pergi sebelum Airel sempat menariknya lagi.

Zev membuka sedotan susu kotak satunya dan menyerahkannya pada Airel.

“Kamu terkenal gampang dibaca.”

“Aku?”

“Iya.”

“Apa yang kebaca?”

Zev menatapnya sebentar. “Kamu nyariin aku tadi.”

Airel hampir tersedak udara.

“Percaya diri banget.”

“Aku cuma observasi.”

Ia memakai kata yang pernah Airel ucapkan dulu. Gadis itu menatapnya sebal, sementara Zev justru tersenyum tipis.

Ekspresi kecil itu selalu cepat hilang. Namun kini Airel semakin sering melihatnya, dan setiap kali senyum itu muncul, hatinya selalu bergerak aneh.

Sore harinya, mereka berjalan keluar kampus bersama. Langit mulai berubah jingga, dan jalanan dipenuhi mahasiswa yang pulang sambil bercanda keras. Di antara keramaian itu, langkah mereka terasa punya ritme sendiri.

Airel memandang lurus ke depan sambil berkata santai, “Besok kamu ke mana?”

Zev menoleh. “Kenapa?”

“Biar aku tahu harus menghindar.”

Zev memasukkan tangan ke saku. “Kampus pagi. Kafe sore. Toko buku kalau bosan.”

Airel menatapnya.

Ia baru sadar apa yang baru saja mereka lakukan. Mereka sedang membicarakan jadwal bertemu seolah itu hal biasa, seolah kehadiran satu sama lain memang sudah masuk ke rutinitas harian.

Zev melihat ekspresinya dan bertanya, “Kenapa?”

“Enggak apa-apa.”

Namun langkah Airel terasa lebih ringan setelah itu.

Karena hubungan mereka memang belum punya nama. Belum ada kepastian, belum ada pengakuan, belum ada kalimat yang bisa menjelaskan apa arti semua ini. Jika orang lain bertanya, mungkin Airel pun tak akan tahu harus menjawab apa.

Tetapi di antara rutinitas kecil yang terus terulang, keduanya sedang saling masuk ke hidup satu sama lain perlahan.

Dan diam-diam, Airel tahu satu hal.

Jika suatu hari Zev tidak muncul, harinya akan terasa kurang lengkap.

1
𝐀⃝🥀Weny
wah jangan² itu orang yang ditunggu selama ini.. tapi mereka sudah lupa dengan wajahnya😅
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!