Setelah lima tahun menikah, miliarder Axel Stone yakin bahwa istrinya, Olivia Stone, tidak mencintainya. Olivia juga yakin bahwa suaminya masih mencintai mantannya dan pernikahan mereka hanyalah pernikahan demi kepentingan semata. Axel menyerahkan surat gugatan cerai kepadanya, tetapi segera menyesali keputusan impulsifnya itu. Dalam upaya putus asa untuk memenangkan hatinya kembali, Axel menunda proses perceraian tersebut. Olivia, yang sudah muak dengan pertemuan-pertemuan suaminya dengan mantannya, memutuskan untuk tetap melanjutkan proses perceraian.
Apa yang akan dilakukan Axel ketika ia menyadari bahwa ia telah membuat kesalahan terbesar dalam hidupnya? Akankah Olivia membuatnya membayar atas pengkhianatannya atau justru jatuh cinta padanya lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Minaaida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.6 Kekesalan Alexander
Alexander ......
Aku meninggalkan Olivia sendirian di meja untuk menyapa beberapa teman-teman dan para tamu lainnya. Aku tadi bermaksud pergi sebentar karena aku yakin dia baik - baik saja saat aku melihat dia ada yang menemani.
Aku melihat sahabat dan adiknya sedang duduk bersamanya. Aku menghabiskan waktu beberapa saat lagi dan ketika aku akhirnya memutuskan untuk kembali menemuinya, aku lihat dia berjalan keluar meninggalkan aula bersama Sonya.
Olivia terlihat sangat marah, dan aku benar-benar tidak mengerti apa penyebabnya. Aku mencoba untuk menahannya, tetapi dia mengabaikanku. Aku terpaksa membiarkan Olivia pergi keluar karena aku tidak ingin membuat drama di tempat ini.
Dalam keadaan bingung, aku berjalan kembali ke meja, dan untungnya adiknya, Sarah masih berada di sana. "Apa yang terjadi dengan Olivia?" aku bertanya pada Sarah tetapi dia memilih diam, tidak menjawab. "Apa dia baik-baik saja?" tanyaku lagi.
"Aku rasa tidak," jawab Sarah, aku pun menyipitkan mataku.
"Ada masalah apa?" tanyaku penuh rasa ingin tahu. Olivia sudah sepakat untuk bersikap normal seolah-olah tidak terjadi apa-apa selama pesta berlangsung. Dan dia tampaknya baik-baik saja pada awal kami datang.
"Dia menemukan mantanmu sudah kembali ke kota ini."
"Apa?" Aku bertanya dengan ekspresi yang penuh tanda tanya di wajahku. "Mantan pacarku ada di kota ini? Claudia?"
Sekarang, aku baru faham mengapa Olivia marah. Dia mungkin berpikir aku ingin menceraikan dirinya karena Claudia sudah kembali ke kota ini.
Sejujurnya, aku juga tidak tahu jika Claudia berada di kota ini. Dan dia bahkan tidak berusaha untuk menghubungi aku. "Terima kasih," ucapku pada Sarah dan berjalan ke tempat yang tenang di luar aula.
Aku mengeluarkan ponselku dari saku dan menelpon Olivia beberapa kali tetapi dia tidak menjawab. Aku juga meninggalkan beberapa pesan singkat melalui chat, memintanya agar kembali ke pesta.
Bahkan jika dia ingin pergi, dia harusnya menunggu sampai acara dansa berpasangan selesai. Orang-orang mulai bertanya-tanya mengenai ketidakhadirannya.
Frustasi, aku memasukkan kembali ponselku ke saku dan kembali masuk ke dalam seperti tidak terjadi apa-apa. Sekarang waktunya dansa berpasangan dan aku meminta Carol, adikku, untuk menggantikan Olivia.
"Hadirin sekalian, nyonya Olivia Stone, berhalangan hadir di pesta dansa kali ini karena ada hal mendadak yang harus dia lakukan. Maka, nona Carolina Stone yang mewakilinya." kata pembawa acara memberi pengumuman sesuai dengan instruksiku. Aku harus segera mencari alasan atau media akan membesar-besarkan berita itu.
Aula pun menjadi hening dan musik mulai dimainkan. Carol dan aku berdansa bersama. Kami banyak menerima pujian dari para tamu.
"Mengapa Olivia pergi?" Tanya Carol di tengah-tengah dansa kami. Carol beberapa tahun lebih muda dariku, dia bukan hanya seorang adik tetapi juga seperti sahabat bagiku. Aku bisa dengan mudah terbuka berbicara apa saja padanya tentang semua masalah yang aku hadapi.
Aku menghela nafas berat, suaraku nyaris tenggelam oleh suara musik yang keras. "Kemarin aku memberinya surat cerai," kataku sambil memutar tubuhnya. Carol tampak bingung saat dia menoleh kembali kepadaku.
"Tapi kenapa kamu memberinya surat cerai?"
"Seperti yang sudah ku bilang padamu beberapa kali, aku rasa dia tidak mencintaiku," jawabku.
Olivia selalu menuduhku tak bisa melupakan cintaku pada Claudia, meskipun aku sudah berusaha sekuat tenaga meyakinkannya bahwa aku tidak seperti itu.
"Apakah terjadi sesuatu yang memicu terjadinya hal itu?" tanya Carol, aku langsung menautkan alis.
"Sebelumnya aku sudah memikirkan mengenai hal itu beberapa kali, namun saat dia tidak mengatakan apapun mengenai Anniversary pernikahan kami beberapa hari lalu, aku pun sadar bahwa aku tidak bisa lagi hidup bersamanya."
Carol mengangguk. "Jadi, sekarang kamu bujangan, nih?" tanya Carol, dan aku pun menganggukkan kepala.
"Dia sudah ingin membubuhkan tandatangan nya tapi aku memintanya untuk menunggu sampai pesta ini selesai." jawabku. "Dia bahkan tidak berdebat denganku mengenai perceraian ini setelah semua yang kami lalui bersama."
Aku tidak memungkiri, aku sangat terluka. Aku merasa sakit hati karena dia bahkan tidak berusaha keras untuk menentang keputusanku. Seolah-olah dia memang sudah menginginkan perceraian itu sejak awal. Aku tidak bahagia bercerai dengannya, tapi kami merasa seperti orang asing meskipun tinggal di bawah atap yang sama.
Ekspresi wajah Carol mendadak berubah cerah, "Oh, jadi kamu marah karena dia setuju bercerai denganmu? tanya Carol seraya menepuk pundakku.
"Ya, begitulah," aku mengangguk. "Jika dia benar-benar mencintaiku, atau sayang padaku, dia seharusnya tidak semudah itu menyetujuinya."
"Tunggu, jika dia setuju menunggu sampai pesta selesai, kenapa dia tiba-tiba pergi di tengah-tengah pesta?" tanya Carol, dan aku pun menjelaskan padanya semua tentang Claudia.
Carol ingin mengatakan sesuatu ketika musik yang mengalun di aula dansa berhenti. Acara dansa itu pun berakhir, dan setiap orang memberi ucapan selamat pada kami.
Kami melambaikan tangan pada mereka dan setelah itu kembali ke meja kami. Sarah masih berada di sana. Dia dan Carol saling menyapa dan berpelukan.
Meskipun aku dan Olivia tidak memiliki hubungan yang baik, tapi keluarga kami masih menghormati dan menjaga hubungan baik dengan keluarga Olivia. "Bisakah kamu menghubungi kakakmu?" pintaku pada Sarah dan dia mengangguk.
Olivia pasti akan mengangkat telepon dari adiknya, meskipun dia mengabaikan teleponku. Tapi sayangnya, telepon itu hanya terhubung dengan voice mail.
Aku frustrasi. Aku harus menjelaskan pada Olivia bahwa aku benar-benar tidak tahu bahwa Claudia sudah kembali ke kota ini. Namun, karena Olivia tidak merespon, aku tidak punya pilihan selain menikmati pesta dan bersikap seolah-olah semuanya baik-baik saja untuk menghindari kecurigaan orang - orang terhadap hubungan kami.
"Hei, brother, apakah kamu baik-baik saja, ?" sahabatku, Dave, bertanya saat melihat aku meninggalkan para gadis-gadis itu untuk berbaur dengan tamu-tamu lain. Dia pasti menyadari betapa cemasnya aku.
Aku memang sudah menceritakan pada Dave mengenai seluruh masalah perceraianku dengan Olivia saat aku berkunjung ke rumahnya tadi pagi. Jadi aku hanya memberi tahunya sedikit mengenai bagian yang berkaitan dengan Claudia.
"Apakah kamu sudah mencoba menelpon Sonya?" saran Dave.
Astaga, .....
Aku menepuk jidat karena kesal. Kenapa aku tidak pernah berpikir sampai ke sana, ya?
Aku buru-buru mengeluarkan ponselku dari saku dan segera menelpon Sonya. Telepon itu terhubung namun sama sekali tidak di angkat. Pasti Olivia sudah memberitahunya agar mengabaikan telepon dariku.
Karena kesal, aku pun mengirimi Olivia pesan lagi, mengatakan kekecewaanku padanya.
Setelah itu, aku kembali menikmati pesta. Masalah ini akan aku selesaikan dengan Olivia besok saja.