"Salah klik jurusan saat kuliah adalah bencana, tapi bangun dari koma dan bisa melihat hantu adalah petaka!"
Arini, dokter forensik yang aslinya clumsy dan penakut, harus menerima kenyataan pahit: ia terbangun dari koma dengan "bonus" mata batin terbuka. Kini, ruang otopsinya jadi ramai! Ia harus membedah mayat sambil mendengarkan curhat para arwah yang menuntut keadilan (dan permintaan konyol lainnya).
Untungnya, ada Mika—hantu gadis Tionghoa yang centil dan bar-bar—yang setia membantu Arini mengungkap fakta medis lewat "jalur gaib".
Masalahnya satu: Tunangan Arini, Baskara, adalah Jaksa kaku yang skeptis dan hanya percaya logika. Baskara memang bucin parah, tapi bagaimana jadinya jika sang Jaksa tahu bahwa bukti-bukti kemenangan kasusnya berasal dari bisikan makhluk halus?
Di tengah konspirasi maut yang mengancam nyawa, Arini harus memilih: Tetap waras di antara para hantu, atau terjebak dalam pelukan posesif sang Jaksa yang benci takhayul?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6: Hutan Bisikan dan Pelindung Nyata
Mobil SUV hitam milik Baskara membelah kegelapan malam, menuju pinggiran desa terpencil yang bahkan tidak terdeteksi oleh GPS. Jalanan tanah yang mereka lalui semakin menyempit, diapit oleh pepohonan tua yang dahan-dahannya tampak seperti tangan kerempeng yang ingin menggapai mobil mereka.
"Masih jauh, Bas?" suara Arini bergetar. Ia duduk sangat merapat ke arah Baskara, tangannya menggenggam erat lengan kemeja pria itu yang digulung hingga siku.
Baskara melirik Arini sekilas, lalu sebelah tangannya melepas kemudi dan menggenggam jemari Arini yang sedingin es. "Sedikit lagi. Jangan dilepas, Arini. Aku di sini."
Namun, di mata Arini, perjalanan ini bukan sekadar perjalanan biasa. Di luar jendela mobil, ia melihat ratusan pasang mata merah mengintip dari balik pohon. Ada sosok hantu tinggi besar tanpa kepala yang berdiri tegak di tengah jalan, membuat Arini menjerit kecil.
"Bas! Berhenti! Eh, maksudku... jangan lihat ke depan!" Arini langsung menghambur ke arah Baskara, memeluk lengan pria itu dengan sangat erat hingga kepalanya bersandar di bahu Baskara.
Baskara menginjak rem perlahan. Ia tidak melihat hantu itu, tapi ia bisa merasakan tubuh Arini yang bergetar hebat di pelukannya. Ia mematikan mesin mobil, suasana mendadak sunyi senyap, hanya terdengar suara napas Arini yang memburu.
"Arini, lihat aku," suara Baskara rendah dan sangat menenangkan.
Arini mendongak dengan mata berkaca-kaca. Di kursi pengemudi yang sempit itu, Baskara menarik Arini lebih dekat hingga Arini nyaris duduk di pangkuannya. Baskara tidak peduli lagi dengan logika. Ia hanya tahu, tunangannya sedang diteror oleh sesuatu yang tidak bisa ia lawan dengan hukum.
Baskara menangkup wajah Arini dengan kedua tangannya, lalu mencium kening Arini dengan lama dan dalam. "Tenanglah. Fokus pada detak jantungku. Jangan lihat ke luar."
"T-tapi mereka banyak, Bas... mereka mengikuti kita," bisik Arini.
Baskara menghela napas, lalu ia mendaratkan sebuah kecupan lembut di puncak hidung Arini, berpindah ke pipinya, dan berakhir dengan bisikan di telinga Arini. "Aku tidak takut pada mereka. Jika mereka ingin menyentuhmu, mereka harus melewatiku. Ingat itu."
Mika, yang duduk di kursi belakang, biasanya akan berkomentar konyol. Tapi kali ini, ia hanya terdiam sambil memandangi luar jendela dengan waspada. "Rin, Mas Jaksa benar. Energinya sangat kuat untuk melindungimu. Tetaplah nempel padanya, karena orang yang punya niat lurus dan berani seperti Baskara itu punya 'pagar' alami yang ditakuti hantu kecil."
Mereka akhirnya sampai di sebuah gubuk tua yang dikelilingi pagar bambu kuning. Bau kemenyan dan darah ayam menyeruak tajam. Saat pintu mobil dibuka, Arini langsung memeluk pinggang Baskara dari belakang, menyembunyikan wajahnya di punggung lebar pria itu.
"Bas, aku takut... ada hantu anak kecil yang merangkak di atas pagar itu, mukanya rata..." bisik Arini dengan suara terisak.
Baskara berhenti melangkah. Ia berbalik, merangkul bahu Arini dan menariknya ke depan dada. Ia melingkarkan jasnya ke tubuh Arini, lalu mencium pelipis Arini berkali-kali seolah itu adalah jimat pelindung.
"Jangan lepas pelukanmu, Arini. Tutup matamu jika perlu, biarkan aku yang jadi matamu di dunia ini," ucap Baskara posesif.
Saat mereka melangkah masuk ke halaman, angin kencang bertiup, membawa suara tawa melengking yang memekakkan telinga Arini. Arini semakin erat memeluk leher Baskara, menyatukan tubuh mereka tanpa celah. Ketakutan itu membuatnya tidak mau lepas sedikit pun dari kehangatan tubuh Baskara.
Baskara yang biasanya sangat menjaga jarak di depan publik, kini justru semakin erat mendekap Arini. Ia bahkan sempat berhenti di depan pintu gubuk, menunduk untuk mencium bibir Arini singkat—sebuah kecupan penenang yang membuat jantung Arini berdesir, mengalahkan rasa takutnya sejenak.
"Jangan menangis. Aku tidak akan membiarkan dukun itu menyentuh seujung rambutmu pun," tegas Baskara dengan mata yang berkilat penuh amarah kepada siapa pun penghuni gubuk itu.
Di ambang pintu, seorang lelaki tua dengan sarung hitam dan mata yang tampak buta sebelah keluar sambil menyeringai. "Selamat datang, Tuan Jaksa... dan Nona Dokter yang punya mata 'istimewa'."
Arini semakin mengeratkan pelukannya pada Baskara, sementara Baskara berdiri tegak seperti tameng baja, siap menghadapi perang yang melibatkan hukum manusia dan hukum kegelapan.
lanjut thorr
lagian botol parfum taro diluar dulu deh rin kalo mau bikin anak. hantu lu resek🤭🤣🤣🤣