Note: alur nya gak terlalu cepat, jadi buat yg enjoy ama alur yang meningkat sedikit demi sedikit aja ya guys
Hidup sebatang kara semenjak ia duduk di bangku sekolah menengah membuat Alvaro mau tak mau harus bisa terbiasa dengan yang namanya usaha dan kerja keras walaupun sering mengalami kegagalan.
karena ia tahu jika ia menyerah untuk berjuang maka itu berarti mengucapkan selamat tinggal bagi masa depannya dan berakhir hidup di bawah bayang bayang jembatan.
satu hal yang menjadi alasan mengapa dia tetap tak menyerah adalah karena ucapan almarhum ibunya ketika di ujung maut dahulu bahwa dirinya harus tetap berusaha dan tidak menyerah.
namun entah takdir mempermainkan dirinya atau apa, ia harus mengalami kejadian tragis ketika dalam perjalanan pulang selepas kerja..
bagaimana kelanjutan nya?, tetap ikuti cerita nya tak lain dan tak bukan hanya di novel saya "Sistem Kekayaan dan Kekuasaan"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Scorpion's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Rahasia Alvaro
"Apakah bapak boleh tahu apa yang sebenarnya terjadi padamu Alvaro?" Tanya dokter Tirta sambil menatap Alvaro yang nampak ragu ragu.
Namun melihat Alvaro yang masih ragu ragu pada akhirnya dokter Tirta pun hanya menggeleng pelan lalu beralih ke luka lebam yang memenuhi tubuh Alvaro.
Luka lebam itu pun ia bersihkan dan ia oles salep si atasnya dengan perlahan, proses itu cukup lama karena luka itu juga ada di bagian kaki dan punggung Alvaro.
"Baiklah kalau begitu, kamu istirahat saja dahulu untuk memulihkan kondisimu. Jangan risaukan hal lain dulu." Ucap dokter Tirta lalu ia pun berbalik dan berjalan menuju pintu keluar.
Alvaro yang melihat itu mengangkat tangannya seperti ingin memanggil dokter Tirta, namun ia menariknya kembali.
Setelah itu ia pun menatap bekas luka yang cukup panjang di dadanya itu, sebuah luka yang meninggalkan banyak cerita dan kenangan bagi Alvaro.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩflash backΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"tringgg.... Suara dering alarm memecah keheningan pagi di sebuah rumah sederhana.
Seorang remaja terlihat baru saja bangun dari tidurnya, ia menggeliat perlahan meregangkan bagian bagian tubuhnya yang cukup kaku sebangun tidur itu.
"tok.. Tok.. Tok.. Nak udah bangun belum?" tanya sebuah suara wanita dari balik kamar yang membuat remaja itu sepenuhnya sadar dari tidurnya dan ia pun bangun dari kasurnya dan berjalan gontai ke arah pintu.
"Ya ibu, aku udah bangung.. Hooahhmm..." Ucap remaja itu sambil menguap.
Setelah itu si remaja pun membuka pintu kamarnya dan berjalan menuju dapur, disana nampak seorang wanita paruh baya yang sedang mencuci peralatan dapur.
Ia pun hanya melewatinya dan berjalan menuju kamar mandi.
Beberapa menit berlalu, setelah membersihkan dirinya remaja itupun keluar dari kamar mandi dan berjalan menuju kursi makan.
Setelah duduk ia memandang sang ibu yang menyiapkan sarapan untuknya, pandangannya beralih ke arah meja tempat beberapa lauk berada.
"Wah masak ikan apa ini Bu?" tanya si remaja dengan wajah cukup senang melihat ikan goreng di salah satu piring.
"ikan nila kesukaan mu, kemarin malam ibu dapet dari tetangga sebelah." balas sang ibu sambil tersenyum melihat mata anaknya yang berbinar binar melihat lauk ikan yang ia masak.
Keduanya pun memakan sarapan dengan tenang, dentingan antara sendok dan piring beradu bergantian terdengar.
Setelah keduanya selesai sang ibu pun membawa beberapa piring kotor menuju tempat cuci piring, ia pun mulai mencucinya perlahan.
"Alvaro." panggil sang ibu pada remaja itu yang ternyata adalah Alvaro kecil.
"Iya Bu?" Tanya Alvaro sambil berjalan mendekat ke arah ibunya.
"Ibu tiba tiba pingin tahu kira kira cita cita kamu apa?" Tanya sang ibu pada Alvaro.
Alvaro yang ditanya secara tiba tiba pun nampak berfikir keras, beberapa saat ia pun melihat ke arah sang ibu yang masih menunggu jawaban nya.
"Pastinya membahagiakan ibu lah, aku gak masalah jadi apapun nanti." Ucap Alvaro polos sambil tersenyum.
Mendengar itu sang ibu tiba tiba terdiam sambil menatap Alvaro, setelah itu ia pun kembali beralih ke arah cucian nya sembari tersenyum hangat.
"begitu ya?" ucapnya lirih..
Kalau begitu setelah kamu lulus SD ini kamu pingin ke sekolah mana?" Lanjut sang ibu yang menyudahi pekerjaan nya dan duduk di kursi.
"memangnya harus ya Bu lanjut sekolah?, aku sih pingin nya bantu ibu jualan aja biar dapet uang." Tanya Alvaro bingung, sedangkan sang ibu hanya tersenyum mendengar pertanyaan nya.
"Alvaro.." Ucap sang ibu sambil memegang pundak dan kepala Alvaro.
"Alvaro harus lanjut sekolah setinggi mungkin, biar Alvaro pintar tidak seperti ibu dan bisa bekerja ke kota." Ucap sang ibu sedangkan Alvaro hanya terdiam.
Ia menimbang nimbang ucapan sang ibu, ia sebenarnya faham bahwa kerja di kota itu berarti punya banyak uang seperti ayah dari teman nya yang bahkan memiliki mobil dan rumah bagus.
Namun, jika ia bekerja ke kota itu berarti ia harus meninggalkan sang ibu dan paling cepat ia pulang hanya seminggu sekali saja.
Ia yang dibesarkan hanya oleh sang ibu saja mana mau meninggalkan ibunya, apalagi ia juga tahu bahwa beberapa kali ada orang orang dewasa dengan wajah seram mendatangi rumahnya dan berbicara dengan kasar kepada ibunya.
Waktu itu ia berpura pura tidur, padahal ia mendengar nya bahwa para orang dewasa itu menyebut nyebut kata hutang dan uang pada ibunya.
Malam itu Alvaro tak bisa tidur, ia bingung apa yang akan ia lakukan. Apakah lanjut ke jenjang selanjutnya atau memilih bekerja saja membantu ibunya yang sudah lama bekerja sendiri.
Pada akhirnya ia pun ketiduran tanpa tahu solusi yang akan ia pilih ke depannya.
...----------------...
Pagi datang dengan cepat, Alvaro pun kembali ke rutinitas nya setelah bangun ia sarapan lalu membantu ibunya membawakan barang dagangan menuju pasar tempat sang ibu berjualan.
Setelah itu ia pun berangkat ke sekolah dan melakukan kegiatan belajar dengan tenang, bahkan ia sempat bermain main bersama teman teman nya sebelum ia pulang ke rumah setelah matahari sudah mulai condong ke barat.
Ia berjalan santai sembari bersenandung pelan bersama sahabatnya.
ia adalah Bobi, seorang remaja dengan perawakan cukup tinggi dan berbadan besar. Keduanya berjalan beriringan di pinggir jalan raya.
Setelah itu keduanya pun berpisah di persimpangan jalan karena arah rumah keduanya berbeda, Alvaro pun kembali berjalan sembari bersenandung pelan menuju rumah nya.
Setelah ia cukup dekat dengan rumah nya ia mendengar keributan yang membuatnya terkejut, itu karena ia mendengar suara jeritan ibunya juga di sela sela keributan di arah rumahnya.
Alvaro pun tanpa fikir panjang segera berlari ke arah rumah nya dengan cepat, disana ia melihat barang dagangan ibunya yang sisa sedikit nampak berserakan di halaman rumah.
Ia merasakan rasa khawatir yang teramat kelita melihat pintu rumah nampak terbuka lebar, padahal ibunya tidak pernah membiarkan pintu terbuka lebar seperti itu.
"Tidakk.. Tolongg..." Suara jeritan itu terdengar ke sekian kalinya yang membuat Alvaro langsung berlari ke dalam rumah.
"Ibuu.. Ada ap..." Teriakan Alvaro terhenti ketika melihat seorang laki laki dewasa nampak menarik narik tangan sang ibu.
Wajah Alvaro pun langsung menggelap melihat ibu nya, satu satunya orang yang paling ia sayangi diperlakukan secara kasar seperti itu.
Bahkan ia melihat beberapa sudut pakaian sang ibu robek seperti ditarik paksa.
"LEPASKAN IBUKUUU...!!!" Teriak Alvaro sambil menerjang ke arah pria itu dengan brutal, pukulan demi pukulan ia hujamkan ke arah tubuh pria itu dengan kekuatan penuh.
Namun tiba tiba sebuah hantaman keras ia rasakan dari sampingnya yang membuatnya terpental jauh.
"ALVAROO...ANAKKUUU..." Jerit sang ibu saat melihat Alvaro terlempar dan menghantam ke dinding batu bata dengan keras, ia pun makin berusaha melepaskan genggaman tangan pria itu.
"ukhuukkhh..." Alvaro nampak terbatuk darah, namun melihat kondisi ibunya yang semakin gawat ia pun melirik ke arah samping di atas meja makan.
Ia melihat pisau dapur tergeletak disana, ia pun tanpa ragu ragu langsung meraihnya dan menatap pria itu dengan kemarahan yang memuncak.
kritik dan saran boleh kokk