Jutaan tahun lalu, Ras Dewa Naga Primordial dimusnahkan oleh Aliansi Sembilan Penguasa Surga karena kekuatan mereka yang terlalu menentang takdir. Sejarah mereka dihapus, meninggalkan abu dan kutukan.
Di Benua Azure yang terpencil, Chu Chen hidup dalam kehinaan sebagai pemuda dengan "Akar Roh Cacat". Namun, nasibnya berputar tragis ketika desanya dibantai tanpa ampun oleh Sekte Serigala Darah demi sebuah gulungan usang peninggalan leluhurnya.
Dalam genangan darah dan keputusasaan, kutukan di dalam tubuh Chu Chen hancur. Ia membangkitkan garis keturunan Dewa Naga Primordial terakhir dan mewarisi teknik terlarang. Teknik ini memungkinkannya melahap segala energi di semesta—racun mematikan, pusaka suci, hingga Api Ilahi—untuk memperkuat dirinya.
Membawa dendam lautan darah, Chu Chen merangkak dari jurang kematian, bersumpah untuk membelah sembilan cakrawala dan menarik para Penguasa Surga dari takhta agung mereka!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Titik Buta Formasi
Tengah malam di Puncak Luar Sekte Awan Suci dihiasi oleh lolongan angin gunung yang menusuk tulang. Di saat puluhan ribu Murid Luar sedang tertidur pulas atau bersemedi menyerap Qi yang tipis, sesosok bayangan hitam menyelinap keluar dari gubuk reyot di kawasan bawah.
Chu Chen melesat membelah kegelapan. Langkahnya seringan bulu, tubuhnya seolah menyatu dengan pekatnya malam.
Tujuannya bukan puncak utama yang dipenuhi kemewahan, melainkan kawasan lembah tertutup yang terletak tepat di dasar fondasi gunung raksasa tersebut. Tempat itu ditandai dengan warna merah pudar di Peta Kulit Domba miliknya: Tanah Terlarang Tungku Pil.
Setelah menempuh jarak sekitar lima mil menghindari berbagai pos penjagaan Murid Dalam, Chu Chen akhirnya bersembunyi di balik sebuah batu besar berlumut.
Di depan matanya, terhampar sebuah ngarai dalam yang tertutup oleh kabut putih tebal. Namun, Niat Spiritual naga Chu Chen bisa melihat apa yang tersembunyi di balik kabut itu: sebuah kubah energi setengah lingkaran raksasa yang memancarkan pendaran cahaya merah keemasan yang menakutkan.
Itu adalah Formasi Pengunci Langit Pembakar Bumi, susunan pertahanan tingkat tinggi yang menyerap energi langsung dari inti lahar bumi di bawahnya.
Di luar kubah tersebut, terlihat dua orang Penatua berpakaian jubah putih sedang berpatroli di udara, menginjak pedang terbang mereka. Aura mereka tenang, namun padat dan mematikan.
"Keduanya berada di Alam Inti Emas tingkat menengah," bisik Chu Chen menakar kekuatan mereka. "Bahkan dengan kekuatan fisikku di Lapis Kesembilan Puncak, satu benturan langsung dengan mereka akan meremukkan tulang nagaku. Aku tidak boleh tertangkap mata."
Menyusup melalui dua ahli Inti Emas dan sebuah formasi yang bisa memanggang ahli Alam Istana Jiwa menjadi abu terdengar seperti tindakan bunuh diri bagi seorang fana. Namun Chu Chen tidak panik. Ia memusatkan pandangannya pada aliran Qi di permukaan kubah energi tersebut.
Seni Kaisar Naga Penelan Semesta bukan hanya teknik untuk melahap musuh, tetapi juga memberikan pemahaman mutlak terhadap aliran energi semesta.
Chu Chen memejamkan matanya, merasakan getaran udara di sekitarnya.
"Energi Yang dari lahar di bawah sana sangat liar... sementara malam ini bulan berada di puncaknya, membawa energi Yin yang sangat dingin." Chu Chen mengamati pola benturan dua energi tersebut pada dinding formasi.
Pencipta formasi ini tentu sangat cerdas. Untuk mencegah batu giok pembentuk formasi retak akibat benturan suhu yang teramat tajam antara luar dan dalam, susunan itu dirancang untuk melakukan penyeimbangan kembali. Tepat pada pertengahan malam, saat Yin dan Yang berbenturan pada titik tertinggi, formasi akan membuka satu pori-pori seukuran kepalan tangan selama tepat tiga tarikan napas untuk membuang uap panas yang berlebih.
"Tiga tarikan napas. Titik lemahnya ada di sisi utara tebing, tepat di bawah sudut buta patroli para Penatua," simpul Chu Chen dengan akal sehat sedingin dewa kematian.
Chu Chen menunggu. Setengah jam berlalu, waktu seakan merayap seperti siput.
Tiba-tiba, suhu udara di sekitar lembah mendadak turun seketika, disusul oleh riak kecil di permukaan kubah formasi raksasa tersebut.
Sekarang!
Chu Chen melesat dari balik batu. Ia tidak berlari, melainkan meminjam kekuatan ledakan otot Lapis Kesembilannya untuk melontarkan diri bagaikan anak panah hitam menembus udara, meluncur tepat di atas tanah untuk menghindari pandangan Penatua di atas.
Saat ia tiba di depan dinding formasi, sebuah lubang cahaya sebesar telapak tangan baru saja terbuka, menyemburkan uap panas yang setara dengan lelehan baja.
Panas itu cukup untuk melelehkan wajah manusia biasa hingga ke tengkoraknya. Namun Chu Chen tidak menghindar. Ia menempelkan telapak tangan kanannya tepat di depan lubang tersebut dan mengaktifkan pusarannya.
Pusaran Ketiadaan!
Alih-alih membiarkan uap panas itu meledak keluar dan memicu gejolak yang bisa dirasakan Penatua, Chu Chen melahap seluruh uap panas lahar itu langsung ke dalam tubuhnya. Meridian emasnya menjerit saat energi murni yang luar biasa panas itu masuk, tetapi darah naganya dengan cepat meredamnya.
Semburan uap itu berfungsi sebagai pelindung sementaranya. Memanfaatkan daya hisap dari tangannya sendiri, Chu Chen menggunakan lubang kecil itu sebagai titik tumpu, mengubah tubuhnya menjadi bayangan tak berwujud, dan menyusup masuk melalui celah tiga detik itu tepat sebelum formasi kembali menutup rapat.
Swush.
Tidak ada genta bahaya yang berbunyi. Tidak ada Penatua yang menoleh. Chu Chen telah berhasil melewati pertahanan mutlak Sekte Awan Suci bagaikan hantu.
Namun, begitu kakinya menyentuh tanah di dalam kubah, Chu Chen hampir jatuh berlutut.
"Sial... panas sekali!"
Udara di dalam Tanah Terlarang ini puluhan kali lipat lebih membakar daripada Hutan Jarum Beracun. Udara untuk bernapas di sini sangat tipis, digantikan oleh hawa belerang murni. Jika Meng Fan ada di sini, darahnya sudah mendidih dalam waktu sepuluh detik.
Chu Chen memaksakan diri berdiri, mengalirkan kekuatan Lapis Kesembilan ke kulitnya untuk menahan suhu. Ia berada di sebuah lorong batu alami yang melandai turun ke perut bumi. Dinding batunya memancarkan pendaran merah redup.
Ia melangkah turun perlahan-lahan. Semakin dalam ia berjalan, suhu semakin gila. Namun pada saat yang sama, Dantian naganya yang kosong mulai berdenyut kegirangan. Energi murni yang memancar dari kedalaman tempat ini persis seperti yang digambarkan oleh peta: kemurnian mutlak dari Api Surgawi.
Setelah menuruni ribuan anak tangga batu, lorong itu berujung pada sebuah tebing terbuka.
Chu Chen mengintip ke bawah tebing, dan napasnya tertahan.
Di bawahnya terhampar sebuah gua raksasa yang besarnya bisa memuat setengah dari Kota Gerbang Besi. Seluruh dasar gua itu adalah danau lahar yang bergejolak liar. Dan di tengah-tengah lautan lahar itu, di atas sebuah pilar batu hitam, mekar sekuntum bunga teratai raksasa yang seluruh kelopaknya terbuat dari jilatan api berwarna merah darah yang sangat pekat.
Api Teratai Merah! Pusaka alam yang lahir di awal penciptaan. Makanan mutlak yang dibutuhkan Chu Chen untuk merobek kebuntuannya dan membentuk Lautan Qi.
Hanya dengan menatapnya saja, Chu Chen merasa kekuatan fisiknya bergetar selaras. Jika ia bisa memakan seluruh api itu... ia mungkin tidak hanya mencapai Alam Lautan Qi, tetapi bisa langsung melesat menuju batas tertingginya.
Namun, senyum haus darah yang baru saja terbentuk di wajah Chu Chen mendadak membeku. Nalurinya sebagai naga menjeritkan peringatan mematikan.
Ia bukan satu-satunya makhluk bernapas di gua lahar tersebut.
Sekitar seratus tombak dari pilar Api Teratai Merah, ada sebuah pilar batu giok lain yang menjulur dari dinding tebing. Di atas pilar giok itu, terpasang sebuah tungku perunggu raksasa berukuran sebesar rumah.
Dan duduk bersila di depan tungku itu adalah seorang lelaki tua berambut putih panjang. Pakaiannya sangat sederhana, namun aura yang ia pancarkan sama sekali tidak ada. Benar-benar tidak ada gejolak Qi sama sekali, seolah-olah ia sudah menyatu sepenuhnya dengan udara, lahar, dan api di sekitarnya.
Penyatuan Langit... Alam Penyatuan Langit! Jantung Chu Chen berdetak tak terkendali.
Ini adalah pendekar tingkat puncak di ranah fana. Jauh melampaui Inti Emas atau Istana Jiwa. Lelaki tua itu hanya duduk diam, menggunakan benang-benang Niat Spiritualnya untuk menarik sebagian kecil aura dari Api Teratai Merah dan memasukannya ke bawah tungku perunggunya untuk meracik pil.
Keringat dingin bercucuran di pelipis Chu Chen, langsung menguap karena hawa panas.
Ia telah berhasil masuk ke dalam ruang pusaka utama... tetapi ia baru saja mengunci dirinya sendiri bersama naga penjaga yang bisa menghapus keberadaannya hanya dengan satu kedipan mata.