Seri Cinta Tak Perna Salah dengan menceritakan dilema dari kisah cinta seorang dokter Riana Yang terhalang oleh perbedaan. kisah ini mengisahkan tentang perjodohan, perselingkuhan dan cinta beda usia yang menjadi permasalahan orangtua. Dan juga rahasia lama yang tersimpan. yang menjadi pengahalang Riana untuk bahagia bersama pilihannya.
Apakah dokter Riana akan bisa bertahan dalam masalah yang dia hadapi untuk mempertahankan cinta sejatinya???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wisye Titiheru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ria Hamil
Pagi itu Davin membuat Dokter Riana Timothy lemas dalam pelukannya tanpa berbusana. Davin mencium kening kekasihnya itu.
"Aku suka kamu manja seperti ini sayang."
"Davin apa kita berdua siap menghadapai keluarga kita???"
"I love you."
"Davin karier kamu bagus, masih muda ganteng lagi. Pasti banyak cewek yang pantas buat kamu."
"Ria, kamu suka dapat hukuman dariku??"
"Stop Davin. Aku harus bekerja pagi ini."
Davin tersenyum. Dia sudah menyiapkan air hangat buat Riana kekasihnya.
"Berendam sebentar lima menit."
Selesai berendam, dia merasa sedikit enakan otot- otot pada tubuhnya. Riana pun mandi dan bersiap - siap ke rumah sakit. Di dapur, Davin sudah menyiapkan sarapan buat mereka.
"Kamu pintar masak, apa pun yang dibuat pasti enak."
"Buat kamu pasti aku siapkan yang terbaik."
Selesai sarapan Davin mengantar kekasihnya ke rumah sakit. Riana meminta agar Davin menurunkannya di depan jalan saja. Semula Davin tidak setuju, terjadi pertengkaran kecil. Namun dapat diselesaikan dengan ciuman mesra dokter Riana.
Davin Andreas adalah dosen fakultas teknik di salah satu universitas negeri yang ada di Jakarta. Masih muda namun sudah gelar akademiknya sudah pada tingkat doktor alias strata tiga. Bahkan dia diberi kesempatan mengambilnya di Harvard universitas di Amerika dengan bantuan beasiswa.
Di Fakultas Teknik, Davin adalah idola bagi mahasiswinya dari tingkat satu sampai tingkat akhir. Bahkan tak jarang mahasiswi ini berkelahi karena dia. Karismanya membuat mereka suka padanya. Namun dia juga tegas jika kedapatan mahasiswa dan mahasiswinya masa bodoh kepada mata kuliah yang dia ajarkan atau tugas yang dia berikan.
Davin tidak tahu bahwa Lidya mahasiswi teknik di Jurusannya ada menaruh hati kepadanya. Lidya mahasiswi yang pintar dan berprestasi, semua dosen di fakultas ini tahu akan kepintarannya. Karena dia adalah mahasiswi berprestasi. Lidya sudah ada di semester akhir, dia sedang membuat skripsi dan dosen pembimbingnya Doktor Davin Andreas, M.T.
"Selamat siang pak."
"Eeee Lidya mari masuk, silahkan duduk. Bagaimana skripsi kamu, yang saya koreksi sudah diperbaiki."
Lidya memperlihatkan Skripsinya. Dan Davin menyarankan untuk lebih melihat variabel - variabel yang di pilih olehnya. Dia memberikan contoh skripsinya kepada Lidya.
"Ini arsip punya saya. Kamu bisa fotokopi atau kamu baca. Kemudian kembalikan kepada saya."
"Siap pak. Pak Davin tidak mau ikut kegiatan dies natalis di puncak???"
"Ooooo iya. Aku sampai lupa??? Kapan itu???"
"Lusa pak, pas tanggal merah."
"Semua dosen ikut??"
"Seperti semua pak, hanya banyak yang berangkat sendiri - sendiri sama keluarga. Hanya pak Lukman dan Ibu Devina yang ikut bus kampus."
"Aku berangkat sendiri saja."
"Oke pak terima kasih."
Davin semenjak sibuk mengurus kisah cintanya, yang dia tidak mau ada kegagalan, dia sampai lupa tentang kegiatan kampus. Davin sedang bucin - bucinnya kepada dokter Riana Timothy spesialis bedah jantung dan pembulu. Perempuan yang lebih tua dua tahun darinya. Sahabat dari kakak perempuannya.
Riana ternyata mulai merasa nyaman dengan cinta dan perhatian yang diberikan oleh Davin. Malam ini, Riana mendapat pasien darurat yang membutuhkan penanganan segera. Sehingga malam ini selesai melakukan tindakan operasi, dia tidak pulang melainkan bermalam di rumah sakit.
Davin sedang mengikuti kegiatan bersama kampusnya di puncak. Dia berjanji kepada Riana bahwa hanya sehari, besok dia sudah kembali ke Jakarta. Tidak ada kewajiban yang mengharuskan mengikuti kegiatan ini. Hanya demi kebersamaan Davin ikut sebagai bagian dari civitas fakultas teknik.
"Uweek, uwek, uwek."
Sudah hampir tiga kali Riana mengeluarkan apa yang ada di dalam perutnya. Yang ketiga, Ria menjadi lemas. Karena mengingat dia sering sekali berhubungan badan dengan Davin. Dan dia tidak mau Ria meminum obat pencegah hamil.
Setelah Ria merasa sedikit baik. Dia menuju ke mini market yang ada disebelah rumah sakit untuk membeli tespack dan beberapa cemilan. Karena masih pagi, Riana pun menggunakan alat itu. Dan hasilnya Ria hamil.
Ria sengaja membohongi orang rumah bahwa dia masih ada operasi. Namun Ria malah kepingin ada di dekat Davin. Dia memutuskan untuk ke apartemen Davin laki - laki yang sudah menemani hari - harinya. Dan sekarang Riana sudah tertidur di kamar.
Pukul sebelas malam, Davin baru sampe di Jakarta. Betapa bahagianya dia melihat perempuan yang dia sayang sudah tertidur, dia ingin sekali mencium kekasihnya namun dia memutuskan untuk membersihkan dirinya karena baru pulang dari luar. Waktu hendak mau ke kamar mandi, dia tidak sengaja menyenggol tas yang ada di atas meja wastafel. Semua isi di tas itu meluber kelaur. Davin langsung membereskan barang - barangnya. Karena dia tahu, bahwa itu adalah barang kepunyaan Ria. Betapa kagetnya dia waktu melihat ada tespack tiga buah yang ikut jatuh bersama barang - barang itu. Dia memperhatikan dengan saksama.
"Ria hamil???"
Davin langsung cepat - cepat mandi membersihkan dirinya dan bergabung tidur dengan kekasihnya. Davin langsung mengangkat tubuh kekasihnya merapat ke arahnya dan dia memeluknya kemudian tertidur bersama.
Pukul lima pagi, Davin di kagetkan dengan suara Ria yang sedang muntah di kamar mandi. Dengan cepat dia bangun langsung ke kamar mandi. Membantu Ria dengan memijit lembut belakangnya.
"Aku hamil Davin."
Davin langsung memeluk Ria dan mencium kening dan bibir pacarnya itu.
"Sudah sayang."
Ria hanya mengangguk kepalanya. Davin mengendong tubuh lemah itu. Dibawa kembali ke tempat tidur. Dibaringkan dan diselimuti.
"Sayang mau aku buatkan susu hangat atau teh hangat."
"Aku mau kamu disini sayang."
"iya, lima menit ya. Aku harus buat sesuatu buat isi perutmu. Karena ada anak kita disini."
"Kita harus membicarakannya."
"Iya."
"Ini baru satu bulan usia kandunganku. Apakah kita gugurkan saja."
"RIANA TIMOTHY, TEGA SEKALI KAMU.!!!!"
"Davin kamu tahu, keadaan kita berdua kan. Kamu sudah siap menghadapi semua masalah di depan???"
"Saya siap. Materi saya cukup, meskipun tidak sebanyak punya kamu dan orangtuamu. Tetapi saya siap."
"Bagaimana kita menghadapi orangtua kita, Stella dan Rian???"
"Kita akan pikirkan bersama. Riana Timothy aku mencintaimu. Rasa ini dari dulu sampai sekarang tidak berubah. I love you."
Riana langsung memeluk Davin dan menangis dalam pelukannya. Davin sudah mengendong Ria ke dapur. Dia membuat sarapan buat kekasihnya ini yang sebentar lagi menjadi ibu.
Hari ini Riana dan Davin akan menyampaikan keberadaan mereka. Pukul sepuluh pagi Rian sudah ada di apartemen Davin. Karena hari ini libur dia pun tidak bekerja. Rian begitu kaget melihat kakaknya ada di apartemen itu. Melihat kedatangan Rian, air mata Riana jatuh.
"Kakak kenapa???"
"Maafkan kakak dek. Maafkan kakak."
"Ria, hamil anakku."
Rian kaget, dia langsung memukul sahabatnya itu. Riana langsung melerai adiknya, namun naas tangan Rian mengenai muka kakaknya. Akhirnya Ria jatuh. Davin langsung memeluk kekasihnya.
"Kenapa harus melerai, aku sudah katakan biar aku hadapi Rian."
Ria duduk di kursi, Rain cepat mengambil alat kompres di isi es dan di kompres muka kakaknya. Meskipun dia marah, namun rasa sayang kepada kakaknya sangat besar.
"Sudah berapa bulan??"
"Baru sebulan??"
"Kalian tahu, bahwa akan ada masalah besar dalam hubungan kalian. Berpikir tidak??"
"Kakak tahu, Davin itu pantas jadi adik kamu kak, dia sahabat aku."
"Jangan marah kakakmu, marah aku. Aku yang memulainya."
"Kamu terlalu berani Davin, ekspetasi mamaku itu tinggi. Kamu tahu kan???"