NovelToon NovelToon
Cincin Di Balik Almamater

Cincin Di Balik Almamater

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Ketos / Nikahmuda
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: iinayah

Di SMA Garuda, Arkananta Dewa adalah personifikasi dari aturan itu sendiri. Sebagai Ketua OSIS yang perfeksionis, ia adalah matahari yang ditakuti sekaligus dikagumi. Di sisi lain, Ziva Clarissa adalah anomali; siswi jurnalisme yang vokal, ceroboh, dan pembenci birokrasi. Mereka adalah dua kutub yang seharusnya tidak pernah bertemu dalam satu garis takdir.
​Namun, sebuah perjodohan bisnis yang dipaksakan oleh kedua orang tua mereka mengubah segalanya dalam semalam. Tanpa cinta, tanpa persiapan, mereka diikat dalam pernikahan siri yang sah di mata agama dan keluarga, namun terlarang di mata sekolah.
​Keduanya sepakat pada satu hal: Rahasia ini harus mati bersama mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon iinayah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sumpah di Balik Kelambu Putih

Pagi itu tidak ada lonceng sekolah, tidak ada suara bising knalpot di parkiran, dan tidak ada teriakan Sisil yang mencari gosip terbaru. Yang ada hanyalah aroma melati yang menusuk dan kesunyian yang mencekam di ruang tamu keluarga Clarissa yang telah disulap menjadi ruang akad sederhana.

​Ziva duduk di depan cermin besar di kamarnya. Kebaya putih brokat melekat pas di tubuhnya, kontras dengan raut wajahnya yang seabu-abu langit mendung. Di pipinya, bekas kemerahan dari tamparan Clarissa kemarin lusa sudah hilang tertutup riasan tipis, namun rasa perih di hatinya justru semakin menganga.

​"Ziva, ayo turun. Penghulu sudah datang," panggil ibunya lembut, sambil mengusap bahu Ziva.

​Ziva tidak menjawab. Ia hanya menatap pantulan dirinya sendiri. Hari ini, kebebasannya sebagai remaja berakhir. Ia akan menjadi istri dari laki-laki yang dua hari lalu membiarkannya dihina di lorong sekolah.

Di bawah, Arkan sudah duduk berhadapan dengan Pak Surya. Ia mengenakan beskap putih bersih dengan peci hitam. Wajahnya setenang air di sumur tua—tak terbaca, tak beriak. Namun, jika ada yang memperhatikan jemarinya, mereka akan melihat betapa eratnya Arkan menggenggam buku nikah yang masih kosong itu.

​"Saya terima nikahnya dan kawinnya Ziva Clarissa binti Surya dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."

​Kalimat itu meluncur lancar dari bibir Arkan. Satu tarikan napas, dan status mereka berubah selamanya. Saat Ziva turun untuk mencium tangan suaminya, ia melakukannya dengan mekanis. Tidak ada binar di matanya. Saat jemari mereka bersentuhan, Ziva segera menariknya kembali seolah-olah kulit Arkan adalah bara api yang menyengat.

Perjalanan Menuju Pengasingan

​Sore harinya, mereka sudah berada di dalam mobil menuju Apartemen 402. Koper-koper mereka menumpuk di bagasi. Pak Surya dan Pak Wijaya melepas mereka dengan senyum puas, seolah baru saja memenangkan tender proyek besar.

​Di dalam mobil, sunyi itu kembali bertahta.

Arkan yang menyetir sesekali melirik ke arah Ziva lewat spion tengah. Ziva hanya menatap ke luar jendela, telinganya disumbat dengan earphone yang volumenya dikeraskan, meski sebenarnya tidak ada musik yang diputar. Ia hanya ingin membangun tembok.

​"Ziva, soal di apartemen nanti—" Arkan mencoba membuka suara.

​Ziva tidak bergeming. Ia bahkan tidak menoleh.

​"Ziva, aku bicara denganmu. Lepas benda itu dari telingamu," nada suara Arkan mulai naik, kembali ke mode Ketua OSIS yang tidak suka diabaikan.

Ziva melepas sebelah earphone-nya, tapi matanya tetap terpaku pada jalanan.

"Ada apa, Kak Ketua?

Mau kasih jadwal piket?

Atau mau kasih poin pelanggaran karena gue nggak dengerin lo?"

​Arkan menghela napas, mencoba meredam emosinya.

"Aku mau bilang kalau besok kita berangkat lebih pagi. Aku tidak mau kejadian kemarin terulang. Dan soal Clarissa—"

​"Stop," potong Ziva tajam.

"Jangan sebut nama itu. Dan jangan sebut-sebut soal kemarin. Gue udah paham posisi gue sekarang. Di sekolah gue target bully, di sini gue tawanan lo. Jadi tolong, jangan ajak gue ngobrol kalau nggak penting-penting amat."

​"Tawanan? Kamu pikir aku menikmati ini?" Arkan mengerem mobilnya sedikit mendadak karena lampu merah.

"Aku juga kehilangan masa mudaku, Ziva!"

Ziva menoleh, matanya berkaca-kaca namun penuh amarah.

"Lo kehilangan masa muda, tapi lo tetep aman! Lo tetep Ketos kebanggaan! Sedangkan gue? Gue harus nanggung sakitnya ditampar dan dihina karena mereka pikir gue gatel sama lo, padahal kenyataannya gue kejebak sama lo! Dekat sama lo itu bahaya, Arkan. Jadi mulai sekarang, anggap aja gue nggak ada."

​Ziva memasang kembali earphone-nya. Arkan terdiam, mencengkeram kemudi hingga buku jarinya memutih.

Kalimat Ziva benar: Dekat dengannya adalah bahaya. Dan itu adalah kenyataan pahit yang harus ia telan bulat-bulat.

​Apartemen 402: Wilayah Tak Bertuan

​Sesampainya di apartemen, Ziva langsung menyeret kopernya menuju kamar kedua. Ia tidak menunggu Arkan membantu, bahkan tidak menoleh saat Arkan meletakkan kunci cadangan di meja makan.

​Cklek.

Pintu kamar Ziva dikunci dari dalam.

Arkan berdiri di ruang tamu yang masih berantakan dengan kardus-kardus. Ia melihat ke arah dapur. Ibunya sudah mengisi kulkas dengan berbagai bahan makanan. Ada catatan kecil di sana: "Belajarlah menjadi imam yang baik, Arkan."

​Arkan meremas catatan itu. Ia berjalan ke pintu kamar Ziva dan mengetuknya pelan.

"Ziva, kamu belum makan malam. Aku akan pesan sesuatu."

​Tidak ada jawaban.

​"Ziva?"

​Hening. Hanya terdengar suara samar TV dari kamar sebelah. Ziva sengaja mengeraskan suara TV agar tidak perlu mendengar suara suaminya. Bagi Ziva, berinteraksi dengan Arkan hanya akan membawa luka baru. Ia lelah menjadi korban dari sistem yang dibuat Arkan dan orang tua mereka.

​Arkan menyerah. Ia duduk di kursi meja makan sendirian, menatap dua pasang alat makan yang tertata rapi.

Malam pertama mereka sebagai suami istri dilewati tanpa satu pun kata "selamat" atau "terima kasih".

Di Sekolah: Kabar Burung yang Menyengat

​Keesokan paginya, Ziva benar-benar menjalankan rencananya. Ia berangkat sangat pagi, bahkan sebelum Arkan bangun. Ia naik ojek daring dan turun tiga blok sebelum sekolah agar tidak ada yang curiga.

​Saat memasuki kelas, Sisil langsung menyergapnya. "Ziv! Lo ke mana aja kemarin? Izin sakit kok HP mati total? Gue khawatir tahu!"

​Ziva berusaha tersenyum natural. "Cuma demam biasa, Sil. Butuh tidur seharian makanya gue matiin HP."

​"Eh, lo tahu nggak?" Sisil berbisik, matanya berkilat penuh gosip. "Kemarin pas lo nggak masuk, Clarissa makin menjadi-jadi. Dia pamer di kantin kalau bokapnya dan bokap Arkan baru aja ketemuan buat ngerencanain 'sesuatu yang besar'. Anak-anak mikirnya mereka bakal tunangan pas kelulusan nanti."

​Ziva merasakan perutnya mual. Sesuatu yang besar? Ya, mereka baru saja menikahkan anaknya secara paksa, Sil, teriak Ziva dalam hati.

​"Terus Arkan gimana?" tanya Ziva pura-pura tidak peduli.

Ya gitu, si Es Balok mah tetep aja kaku. Tapi dia nggak ngebantah pas Clarissa ngomong gitu di depannya. Gila ya, makin panas aja nih persaingan."

​Di ambang pintu kelas, Arkan berdiri. Ia baru saja lewat untuk patroli rutin. Matanya sempat bertemu dengan mata Ziva. Arkan berhenti sejenak, berharap melihat sedikit respon dari Ziva—mungkin tatapan marah atau kesal.

Namun, Ziva langsung membuang muka dan tertawa keras menanggapi cerita Sisil, seolah-olah Arkan hanyalah udara kosong yang tidak berarti.

​Arkan merasakan denyut aneh di dadanya. Perasaan diabaikan ternyata jauh lebih menyakitkan daripada diprotes atau dimaki. Ia melanjutkan langkahnya, menyadari bahwa mulai hari ini, hukuman terberatnya bukan lagi poin pelanggaran dari sekolah, melainkan keheningan dari perempuan yang kini menyandang nama belakangnya di dokumen negara.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!