Merasa kesal karena ada yang mengatakan bahwa dirinya tidak akan laku bahkan akan terus menjomblo seumur hidup, tidak ada satu pun pria yang tertarik padanya.
"Enak aja dia bilang begitu padaku! Awas saja kau! Akan aku buktikan diriku ini bisa memiliki seorang kekasih dan layak untuk dicintai!" geramnya wanita cantik itu.
Ia bersumpah pada dirinya sendiri, setelah mendapatkan kekasih justru ia akan langsung memamerkan kemesraannya terhadap orang yang telah berani berkata seperti itu.
"Tapi tunggu! Dari mana aku akan mendapatkan seorang kekasih!?" ia gelisah dan mondar-mandir.
"Astaga..." dirinya mengusap wajah dengan kasar.
"Hah, semoga dapat ya?" batinnya berdoa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon xeynica_10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode Empat
"Loh, Yia, kamu kok duduk di belakang?" pria itu bingung kenapa Cellsyia memilih duduk di kursi penumpang.
"Aku..um duduk disini saja" jawab Cellsyia.
"Hah..." helaan nafas pria itu terdengar lirih, dengan lembut ia berkata.
"Yia, sini duduk di depan bersamaku" ajaknya pria tersebut.
"Tidak mau!" bantah Cellsyia.
"Yia, aku bilang duduk di depan sekarang juga!" tanpa sadar pria itu membentaknya.
"Huh! Kenapa sih harus di depan segala! Aku kan pengen disini! Duduk di belakang!" batinnya Cellsyia menggerutu kesal.
Melihat wanita itu terdiam ia pun berbicara.
"Yia, kemari dan pindah!" tegasnya pria itu
"Aku tidak mau, Aren!" Cellsyia membantahnya.
"YIA!" bentak pria itu.
"Okay fine" mau tidak mau Cellsyia harus pindah ke depan.
"Iya nih! Aku bakalan pindah kesitu!" ucap Cellsyia dengan tegas.
"Dasar pemaksa!" Cellsyia menggerutu pelan, dan masih terdengar oleh pria itu.
Wanita itu beranjak dari kursi penumpang, beralih ke kursi depan dan menutup pintu mobil dengan kasar sehingga menimbulkan suara nyaring. Pria itu terkejut yang kemudian ia mengelus dadanya.
"Astaga!" batinnya pria itu berkata.
Pria itu menyalakan mesin mobil dan perlahan mulai bergerak.
Dalam perjalanan keduanya saling terdiam, tidak ada pembicaraan apapun, hening suasana saat ini, dan sesekali pria itu melirik ke arah Cellsyia yang sedang menatap pemandangan lewat kaca mobil.
Cellsyia, wanita itu merasa sakit apalagi tadi dirinya dibentak oleh pria di sebelahnya.
"Dia pikir siapa sih menyuruh aku duduk di depan! Lagian bukan siapa-siapa aku, teman sih teman tapi teman Sekolah Menengah Atas! Awas saja kamu, Ren! Kalau pun kamu sudah menyadari kesalahanmu sendiri, jangan harap aku bisa memaafkanmu!" batinnya Cellsyia.
"Yia..." pria itu memanggil dirinya.
"....." Cellsyia tidak menghiraukan pangggilan itu dan lebih memilih memejamkan mata.
"Kenapa Yia diam saja, ya?" pikirnya pria itu.
Pria itu bernama Mitsqwell Aren Winatvra, ia bertanya-tanya pada dirinya sendiri mengapa Cellsyia mendiaminya.
"Apakah aku telah melakukan kesalahan?" tanyanya Aren dalam batinnya.
Sampai telinganya menangkap isakan tangis di sebelahnya, seketika ia pun menepikan mobil.
Aren melepaskan sabuk pengaman, tangan kekarnya akan menyentuh bahu Cellsyia tapi wanita itu malah menghindarinya.
"Yia" Aren memanggilnya.
Tapi wanita itu masih tak menghiraukannya, Cellsyia melepaskan sabuk pengaman lalu ketika akan membuka pintu mobil dengan cepat lengannya ditangkap oleh Aren.
"Lepas!" namun Aren tetap mencekal lengannya.
"AKU BILANG LEPAS AREN! LEPASKAN TANGANKU!" ucap Cellsyia seraya membentak, sorot mata wanita itu menatapnya tajam, dan tampak air mata menetes ke pipi putihnya.
Aren, pria itu baru menyadari satu hal, ia melepaskan cekalan pada pergelangan tangan Cellsyia, dan kemudian membawa tubuh wanita itu ke dekapannya.
"Maafkan aku, Yia. Sungguh aku minta maaf karena tadi telah membentakmu" bisik Aren ke telinga Cellsyia.
"Nggak, lepasin!" Cellsyia memberontak didekapannya dan itu tak membuatnya lepas.
"Maaf, Yia. Aku tanpa sadar bentak kamu, aku terlalu berlebihan dan memaksamu untuk duduk di depan"
"Padahal tadi kamu sudah menolaknya tapi aku terus memaksanya, maaf"
"Berisik! Cepat jalankan mobilnya!" titah Cellsyia setelah lepas dari dekapan Aren, lalu pria itu menurutinya.
Dan perjalanan yang sempat tertunda kini berlanjut lagi, Cellsyia enggan untuk memaafkan Aren dan sepanjang jalan ia terus mengabaikannya.
"Nah sudah sampai..."
"Rumah siapa itu?"