NovelToon NovelToon
Dan Ofid

Dan Ofid

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Nyx Morrigan, gadis yang terbuang dari keluarga konglomerat Beckham, Di usia ke-19 tahun Pelariannya membawanya bertemu Knox Lambert Riccardo, mahasiswa teknik sekaligus petarung jalanan.

Di bawah atap apartemen mewah Knox, rahasia Nyx perlahan terkuak, mengubah hubungan menjadi ikatan emosional yang intens.

Saat identitas asli Nyx terungkap, Knox justru menjadi pelindung utama dari kekejaman Dari keluarga nya.
Ketegangan memuncak ketika nama "Morrigan" ternyata menyimpan rahasia darah yang lebih besar dari sekadar skandal keluarga Beckham.

Di tengah konflik identitas, pengkhianatan keluarga, dan dunia yang berbahaya, Nyx harus memilih antara terus bersembunyi atau menyerahkan hatinya sepenuhnya kepada Knox.

Sebuah kisah tentang pencarian rumah, Untuk Rasa Sakit, dan penyembuhan luka.
.
Happy reading dear 🦋

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#17

Lampu-lampu kota Los Angeles tampak seperti taburan berlian yang berserakan di balik jendela kaca besar saat pintu apartemen mewah itu tertutup dengan bunyi klik yang solid. Kesunyian apartemen segera menyelimuti mereka, sebuah kontras yang tajam setelah kebisingan dan kepulan asap di markas The Outcasts.

Tanpa banyak bicara, Knox melepaskan jaket kulitnya dan melemparkannya asal ke atas sofa. Ia berjalan gontai menuju ranjang king size-nya, lalu menjatuhkan tubuh atletisnya di sana. Nyx menyusul, gerakannya jauh lebih pelan. Ia melepas sepatu ketsnya dan merangkak naik ke atas kasur, merebahkan diri di samping pria yang telah menjungkirbalikkan dunianya dalam hitungan hari.

"Lelah?" tanya Knox pelan, suaranya parau karena asap rokok dan teriakan teman-temannya di markas tadi.

Nyx tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya menggeleng pelan, lalu secara alami menggeser tubuhnya hingga merapat pada Knox. Kepalanya menemukan tempat yang pas di ceruk leher pria itu, sementara tangannya melingkar di pinggang Knox yang kokoh.

Bagi seorang gadis berusia sembilan belas tahun yang tumbuh besar dalam kekosongan kasih sayang, kehadiran Knox adalah sebuah anomali yang manis. Nyx yang biasanya dingin dan waspada, kini merasakan sisi manjanya yang selama ini terkunci rapat mulai meronta keluar. Knox bukan hanya pelindung; pria ini adalah satu-satunya orang yang secara konstan menanyakan kenyamanannya, memastikan ia makan, dan menjaganya dari tatapan liar pria lain.

"Terima kasih, Knox," bisik Nyx tulus. Suaranya tenggelam di balik dada bidang pria itu.

Knox terdiam sejenak, merasakan detak jantung Nyx yang beradu dengan detak jantungnya sendiri. Namun, bukan Knox namanya jika ia tidak merusak suasana syahdu itu dengan isi kepalanya yang tidak pernah lurus. Ia menarik napas dalam, mencium aroma rambut Nyx, lalu menyeringai nakal di kegelapan.

"Kenapa harus bilang terima kasih, hm?" tanya Knox, suaranya berubah menjadi bisikan menggoda yang berat. "Aku bahkan belum 'memuaskan mu' hari ini, Sayang. Pelayanan macam apa itu?"

Jika itu terjadi beberapa hari yang lalu, Nyx pasti sudah melayangkan tinju atau setidaknya makian kasar. Namun malam ini, ia hanya tersenyum tipis. Ia sudah mulai terbiasa dengan kegilaan si mesum ini. Ia justru mendongak, menatap mata biru Knox yang berkilat nakal di bawah temaram lampu tidur.

"Siapa bilang kau belum memuaskan ku?" tanya Nyx balik dengan nada menantang yang tenang. "Coba diingat-ingat lagi, Tuan Riccardo. Waktu itu... kau sudah memuaskan ku dengan sangat baik."

Deg.

Knox seolah membeku di tempatnya. Kata-kata Nyx barusan seperti memicu proyektor di otaknya untuk memutar ulang memori "berdosa" di kamar mandi malam itu. Ingatan tentang bagaimana jarinya menari di area bawah Nyx yang sensitif, bagaimana jemarinya merasakan kelembutan gundukan dada Nyx yang tersembunyi, hingga bagaimana bibir mereka bertaut dalam cumbu yang panas.

Selama beberapa hari terakhir, Knox berusaha keras mengubur ingatan itu demi menjaga "kewarasannya" tinggal satu atap dengan Nyx. Tapi sekarang, gadis ini justru menariknya kembali ke permukaan.

Wajah Knox mendadak memerah. Pria yang biasanya sombong soal urusan wanita itu kini tampak salah tingkah. Ia mengangkat tangan kanannya, menatap jari-jemarinya yang panjang di bawah cahaya lampu.

"Oh, shit... jari ini," gumam Knox tanpa sadar. Bayangan tekstur kulit Nyx seolah kembali terasa di ujung-ujung saraf jarinya.

Nyx, yang menyadari kemana arah pikiran Knox, tidak bisa lagi menahan diri. Ia melepaskan pelukannya dan tertawa terbahak-bahak hingga tubuhnya berguncang di atas ranjang. Reaksi Knox yang tampak "trauma sekaligus rindu" itu benar-benar mengocok perutnya.

"Kenapa dengan jarimu, Sayang? Apa dia merindukan sesuatu?" tanya Nyx di sela tawanya, sengaja menggoda Knox dengan sebutan 'sayang' yang biasanya hanya digunakan pria itu untuk merayunya.

Knox mendengus kasar, mencoba menutupi rasa malunya yang meledak. Ia menarik Nyx kembali ke dalam dekapannya, kali ini lebih erat, hingga wajah Nyx terbenam di dadanya.

"Kau benar-benar nakal sekarang, Yah?" gerutu Knox. Ia terdiam sejenak, lalu berbisik dengan nada gila yang membuat Nyx merinding sekaligus ingin tertawa lagi. "Tahu begitu, kenapa tidak ku masukkan semua saja jariku malam itu? Kasihan sekali jari yang lain, mereka merasa dianaktirikan."

PLAK!

Satu tepukan keras mendarat di dada Knox. Nyx tertawa makin keras sambil mencoba menjauhkan wajahnya.

"Dasar gila! Kalau kau masukkan semua, lambungku bisa robek, bodoh!" teriak Nyx di antara tawa dan napas yang terengah.

Knox ikut tertawa, suara tawa baritonnya yang renyah memenuhi kamar itu. Ia membalikkan tubuhnya, menindih separuh tubuh Nyx agar gadis itu berhenti bergerak. Ia menatap Nyx dengan tatapan yang kini jauh lebih dalam, bukan lagi sekadar nafsu, tapi ada sesuatu yang lebih hangat di sana.

"Tapi kau menyukainya, kan? Kau merintih namaku berkali-kali," goda Knox lagi, kini suaranya melembut.

Nyx berhenti tertawa. Ia menatap mata Knox, tangannya bergerak menyentuh rahang pria itu yang ditumbuhi jambang tipis. "Ya... aku menyukainya karena itu kau, Knox. Hanya karena itu kau."

Jawaban jujur Nyx membuat Knox terdiam. Sifat mesumnya mendadak menguap, digantikan oleh rasa protektif yang luar biasa. Ia mengecup hidung Nyx dengan sayang.

"Tidurlah. Besok kita punya banyak hal untuk dilakukan," ucap Knox.

"Kau tidak ingin melakukan hal 'aneh' malam ini?" tanya Nyx sambil tersenyum menggoda.

"Jika kau terus bicara, aku tidak menjamin tanganku akan tetap diam," ancam Knox pura-pura galak.

Nyx terkekeh, lalu kembali merapatkan tubuhnya ke dada Knox. Di bawah selimut yang sama, di apartemen yang tenang itu, kedua jiwa yang asing ini perlahan-lahan menyadari bahwa kepuasan yang mereka cari bukan hanya soal fisik, tapi soal kehadiran satu sama lain yang mampu meredam badai di dalam kepala masing-masing.

Malam itu, Knox tidak melakukan hal gila lagi, tapi tangannya tidak sedetik pun melepaskan pelukannya pada pinggang Nyx, seolah takut jika ia lengah sedikit saja, "keluarga" barunya ini akan menghilang ditiup angin malam Los Angeles.

1
ren_iren
lanjutkan.... 🤗
Ros🍂: okay kak🥰🙏
total 1 replies
ren_iren
dapatttt aja visual yg bening2 🤭😂
Ros🍂: biar halu kita lancar jaya kak 😍🤣🤣
total 1 replies
ren_iren
Nyx Knox....
gasss baca sampai habis.... 🤭😁😂
Ros🍂: Ma'aciww kak 🥰🫶
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!