NovelToon NovelToon
Menikahi Pria Cacat

Menikahi Pria Cacat

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Vanesa Dintiani

Laura Hiraya yang baru berusia 20 tahun harus rela di jodohkan dengan putra konglomerat. Keputusan egois keluarganya menjadikan ia alat tukar di dalam bisnis. Keluarga konglomerat itu menjanjikan sebuah kerjasama bisnis, dan sebagai imbalannya mereka menginginkan calon istri untuk putra mereka, Gaharu Gardapati.

Gaharu, pria cacat yang sialnya sangat tampan. Kecelakaan tragis 2 tahun lalu membuatnya harus terduduk di atas kursi roda. Ia kehilangan kedua fungsi kakinya. Itu, bersifat sementara. Ia masih menjalani perawatan.

Lalu.. bagaimana kisah rumah tangga si gadis ceria dan aktif seperti Laura Hiraya yang di hadapkan dengan Gaharu Gardapati si pria arogan yang pemarah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vanesa Dintiani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

05. Konferensi pers & Asisten baru (1)

Suasana ruang konferensi pers sangat riuh. Mereka saling berbincang dan bergosip tentang Laura si istri konglomerat yang viral di media sosial. Namun kericuhan itu tidak bertahan lama saat semua pasang mata melihat kedatangan si Tuan muda.

Suasana mendadak hening, namun jepretan kamera beberapa kali terdengar saat Gaharu duduk di depan sana. Pria itu menatap dingin, tangannya sedikit mencengkram mic yang ia genggam.

“Saya tahu mengapa kalian semua berkumpul di sini. Video istri saya yang beredar tanpa izin sudah ditonton jutaan kali dalam dua jam terakhir. Silakan, ajukan pertanyaan kalian. Saya hanya punya waktu sepuluh menit.”

Suara riuh kembali terdengar, para wartawan saling berburu mengangkat tangan terlebih dahulu.

Wartawan pertama yang di terpilih mulai mengajukan pertanyaan.

"Tuan Gaharu, publik terkejut melihat istri seorang konglomerat berada di bus umum, bahkan tanpa pengawalan satu pun. Muncul spekulasi bahwa hubungan Anda berdua terjalin untuk membungkam publik, atau Anda membatasi fasilitas untuk istri Anda sendiri. Apa komentar Anda?”

“Hubungan kami tidak diukur dari seberapa mahal kendaraan yang ia tumpangi, tapi dari kebebasan yang saya berikan padanya untuk tetap menjadi dirinya sendiri.”

Selanjutnya, mereka kembali mengangkat tangan untuk mengajukan sebuah pertanyaan.

“Beberapa orang mengomentari tentang pakaian istri Anda di dalam video itu, Tuan. Sangat sederhana, bahkan terlihat seperti warga biasa. Banyak netizen yang menyayangkan hal ini, menyebutnya 'miris' karena istri orang penting terlihat seperti orang tidak punya. Apakah Anda sengaja membiarkan citranya turun?”

Gaharu tersenyum miris, tangannya terkepal erat. “Lucu sekali. Kalian menganggap 'sederhana' sebagai sesuatu yang miris. Bagi saya, itu adalah kemewahan yang tidak bisa kalian beli, kerendahan hati. Istri saya tidak butuh logo merek terkenal di seluruh tubuhnya untuk menunjukkan siapa dia.”

Wartawan selanjutnya kembali mengangkat tangan.

“Ada komentar yang menyarankan orang-orang untuk meminta tanda tangan istri Anda karena nilai jualnya akan tinggi. Apakah Anda tidak khawatir keamanan istri Anda terancam jika ia terus berkeliaran tanpa pengawalan di tempat publik seperti itu?”

“Siapa bilang istri saya tidak di jaga? Jika kamera itu bisa menangkap wajahnya dengan jelas dari seberang kursi, artinya tim keamanan saya sudah memastikan orang yang merekam itu tidak akan pernah berani melangkah lebih dekat dari jarak tersebut.”

“Saya harap untuk kedepannya, jika istri saya berada di publik dengan 'kesederhanaannya', video seperti itu tidak beredar lagi. Jika hal itu terjadi, orang tersebut akan berurusan dengan tim hukum saya. Konferensi pers selesai.”

Gaharu meninggalkan tempat di ikuti Juna yang mengekor di belakang. Para wartawan yang belum kebagian sesi tanya jawab berjalan mengejar Gaharu. Namun belum sampai mendekat, petugas keamanan sudah membuat formasi agar mereka (wartawan) tidak dapat mendekati Gaharu.

Sedangkan di kediaman pribadi Gaharu, Laura sedang duduk diam di depan televisi yang terpajang di kamarnya. Ia menonton konferensi pers dadakan itu dari awal sampai akhir. Dan itu di sebabkan karena videonya yang viral berada di dalam bus.

“Pencitraan sekali,” komentar Laura sinis. Ia melempar pop corn yang berada di tangannya ke depan televisi.

“Pakainku tidak sejelek itu, mulut netizen benar-benar tajam.”

“Aku bukan artis, untuk apa tanda tangan? Gila!”

“Cih, memang tidak di jaga, ya! Sekretaris dan pegawaimu saja kecolongan.”

Laura meraih remot televisi, menekan tombol volume hingga suara Gaharu yang sedang berargumen di depan mikrofon memenuhi seisi kamar.

“Lihat wajah sok sucinya itu,” gumam Laura lagi, matanya menyipit menatap layar. “Bisa-bisanya dia bicara soal 'hukum dan kenyamanan' seolah dia sendiri tidak pernah memaksa orang lain. Dasar munafik, cih!”

Ia meraih ponsel baru yang di berikan suaminya itu, mencari pada kolom pencarian tentang berita kecil ini. Sial! Berita tentangnya berada di urutan paling atas, paling trending!

“Sial! Apa-apaan ini? Aku hanya tidur dan lansung viral? Netizen ini tidak punya kerjaan selain mencampuri urusan orang lain?”

“Hihhh! Jika aku sampai tau orang yang menyebarkan ini, aku akan mencabik-cabik wajahnya dan menendang kemaluannya. Cih! Setelah menikah dengan pria arogan itu hidupku benar-benar tidak tenang!”

Ia meraih segelas jus jeruk di nakas, meminumnya sedikit sebelum kembali mengomel pada layar ponselnya yang masih banyak menayangkan video tentangnya.

“Hidupku sudah tidak ada privasi lagi jika seperti ini,” Laura meratapi nasibnya. Ia menghela nafas panjang, mencoba meredam amarah yang meluap-luap. Bayangan Gaharu yang berbicara dengan lembut dan tegas, bayangan Gaharu yang bersandiwara seolah-olah hubungan mereka memang manis, membuat Laura mual.

“Jadi, bukan hanya aku yang pandai bersandiwara. Dia bahkan lebih pandai dariku. Dasar pembohong publik!”

Terus mengomel tidak jelas, sampai-sampai ia tidak sadar jika pelayan Kim sudah berada di dalam kamar. Pelayan pria itu sudah mengetuk beberapa kali, namun tidak ada sahutan. Takut terjadi hal buruk dan memperkeruh suasana hati Gaharu nanti, ia menerobos masuk.

“Nyonya...” panggilnya pelan.

Laura masih diam fokus dengan ponsel dan terus mengeluarkan omelan dan sumpah serapah kepada layar persegi tersebut.

Kepala pelayan Kim menghela nafas panjang. Ia berjalan dengan perlahan dan mencabut kabel televisi, hal itu sukses membuat Laura terdiam. Ia mendongak dengan perlahan dan terkejut dengan kehadian pelayan Kim di depan sana.

“A-ah! Pelayan Kim!”

Laura sontak meloncat dari atas kasur. Ponsel yang berada di tangannya saja terlempar pelan saking terkejutnya.

“Maaf mengganggu waktu istirahat Anda, Nyonya,” ucap pelayan Kim tenang. “Tuan Gaharu baru saja berpesan agar Anda segera turun ke ruang makan. Makan malam sudah disiapkan, dan beliau meminta Anda untuk tidak terlambat. Beliau sedang dalam perjalanan pulang.”

“Eh? Tapi kemarin aku makan di sini, tidak makan malam di meja makan. Apa harus?”

“Tentu saja, Nyonya. Beliau berpesan agar Anda makan malam bersamanya,” jelas pelayan Kim.

Tanpa sadar Laura merenggut tidak senang. Wajahnya tertekuk seperti wajah anak kecil yang tidak di belikan mainan, dan pelayan Kim menangkap ekspresi tersebut.

'Apa Nyonya salah makan? Saat pertama kali pindah wajah Nyonya terlihat muram, tapi sekarang Nyonya menunjukan raut wajah merajuk, Anda benar-benar lucu, Nyonya.'

“Bagaimana jika aku tidak turun?”

Pelayan Kim tersenyum tipis, jenis senyum profesional. “Maka Tuan Gaharu sendiri yang akan datang menjemput Anda.”

Laura mendengus pelan. Ia bangkit dari kasur dan bejalan gontai menuju kamar mandi. “Aku akan bersiap sebentar pelayan Kim.”

***

Atmosfir di ruang makan terasa dingin, hanya ada dentingan sendok garpu yang saling bersahutan mengisi keheningan area meja makan.

Gaharu makan dengan tenang, tapi tidak dengan Laura. Gadis itu terlihat merengut dan tidak berselera makan. Hal yang tidak di sadari Laura adalah, kelakuannya di perhatikan oleh mata pria di seberang sana. Dari awal ia duduk di meja makan, ekspresi merengutnya bahkan saat bibir gadis itu mengerucut karena kesal, Gaharu memperhatikannya.

'Apa otaknya bermasalah, dia sangat berbeda saat pertama kali ditemui.'

Merasa jengkel melihat makanan di depan istrinya yang terus-terusan di mainkan, Gaharu angkat bicara.

“Apa makanannya bermasalah?”

Pertanyaan dingin itu sukses membuat Laura berjengit kaget. Ia menatap netra suaminya yang menatapnya dalam diam. Ia tersenyum canggung.

“A-ah.. haha, tidak. Hanya tidak berselera,” sahutnya pelan.

Gaharu meletakkan sendoknya perlahan, menimbulkan denting halus yang memecah kesunyian. Tatapannya masih terkunci pada Laura, dingin namun penuh selidik.

“Jika tidak berselera, berhenti menyiksa makananmu. Suara dentingan itu mengganggu," ucap Gaharu datar.

Tanpa sadar Laura mendengus sebal, bahkan mulut kecilnya itu berdecih pelan. Gaharu mendengar itu, sedikit melebarkan matanya karena tidak percaya. Orang-orang di luaran sana banyak yang menahan nafas karena aura yang ia keluarkan, tapi di hadapan gadis yang menjadi istrinya ini, ia seperti manusia biasa yang tidak ada apa-apanya.

“Jika bukan karena terpaksa, aku juga tidak mau makan di sini.”

Gerutuan itu jelas terdengar oleh telinga tajam Gaharu. Ia makin-makin menatap istrinya tidak percaya saat mendengar kalimat yang penuh akan kejujuran itu. Ia meraih gelas air putih di sampingnya lalu menegak isinya dengan rakus, mengisinya lagi lalu menegaknya lagi hingga tandas.

“Kau terlalu jujur, istri.”

Laura kembali mengangkat pandangannya. Melihat perubahan wajah suaminya yang tadi datar sekarang tambah datar seperti tembok. Bahkan sepertinya tembok saja kalah datar dengan ekspresi wajah datar suaminya.

“Apa?”

Entah Laura yang tidak peka, atau memang gadis itu yang sengaja memancing emosi Gaharu, ia bertanya tanpa dosa. Wajahnya saja menunjukkan raut polos tanpa dosa, seakan-akan itu memang reflek yang ia lakukan.

Gaharu memegangi pelipisnya yang tiba-tiba berdenyut pelan, perubahan istrinya membuat emosinya tidak stabil.

“Bereskan makananmu dan temui aku sepuluh menit setelahnya.”

Tanpa mendengar jawaban Laura, Gaharu melenggang pergi dengan kursi rodanya, masuk ke dalam lift dan hilang begitu saja.

“Dih! Dia yang memaksa mengajak, dia yang marah? Memang sinting!”

***

Halo, jangan lupa untuk memberikan dukungan kepada author. Silahkan beritakan like dan komen agar author semakin semangat menulis.

Terimakasih.

Kamis, 26 Maret 2026

Published : Selasa, 31 Maret 2026

1
aku
tembok batu makax klo gmg kaku 🙄 untung ada 5 antek, jd lau gk kesepian 😁
Wawan
Hadir
Bagus Effendik
hai kak semangat ya seru ceritanya mampir juga punyaku yuk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!